
Di Bayan, Kita Kira Sedang Memotret Tradisi. Padahal Sedang Memotret Diri Sendiri.
Mungkin masalah terbesar sebenarnya bukan Mulud Adat Bayan. Mungkin masalahnya adalah kita. Kita yang datang.

Mungkin masalah terbesar sebenarnya bukan Mulud Adat Bayan. Mungkin masalahnya adalah kita. Kita yang datang.

Yang jauh lebih panjang adalah perjalanan setelahnya: memastikan bahwa pengetahuan yang sudah diselamatkan itu tidak berhenti di lemari arsip atau sertifikat penetapan, melainkan terus berjalan kembali ke kampung, kembali ke mata air, kembali ke tangan orang-orang yang mewarisinya.

Masa depan sebuah tradisi ditentukan oleh ada atau tidaknya orang-orang yang bersedia menjadi jembatan. Yang mau berjalan bolak-balik antara ingatan dan masa depan. Yang mendengarkan yang lama tanpa memusuhi yang baru. Yang memahami yang baru tanpa melupakan yang lama.

Ketanpaintian atau ketiadaan inti adalah kritik terhadap kebiasaan kita mencari pusat baru setiap kali berhasil mengkritik pusat lama.

Kita tidak perlu menunggu izin dari mana pun untuk mulai memperlakukan tempat kita sendiri sebagai pusat.

Saya mulai membayangkan, jangan-jangan yang paling dibutuhkan dunia seni hari ini bukan lebih banyak kurator. Tapi lebih banyak orang yang benar-benar bersedia tinggal, mendengar, dan merawat. Orang yang tidak perlu namanya ada di poster.

Yang perlu diperkuat bukan semangatnya. Tapi kesadarannya. Kesadaran bahwa kerja seni tidak cukup berhenti pada membuat sesuatu yang indah. Ia juga harus mampu menjaga hubungan manusia dengan pengetahuan yang membuat mereka tetap merasa punya akar.

Mahardhika Yudha bicara tentang arsip kolonial yang kini berserakan di internet. Tapi saya justru terus memikirkan arsip-arsip yang belum sempat berserakan, karena masih hidup di kepala orang-orang yang sedang menua.

Yang saya bawa pulang dari kelas Gintani akhirnya bukan rumus teknis atau panduan langkah demi langkah. Yang saya bawa pulang adalah kesadaran sederhana: selama ini Erkaem sebenarnya sudah punya fondasi. Kami saja yang tidak pernah menyadarinya sebagai fondasi.

Buku Molang Maliq Mualan Benyer telah pulang ke rumahnya sendiri. Dan dari rumah itulah, jalan menuju Molang Maliq 2026 mulai dibuka.