Yagna Semesta Initiative

Lombok Sudah Harus Jadi Pusat

Kita tidak perlu menunggu izin dari mana pun untuk mulai memperlakukan tempat kita sendiri sebagai pusat.

Mira Asriningtyas hadir di kelas dengan kamera mati.

Saya tidak tahu pasti mengapa. Tapi dari cara presentasinya berlangsung, saya menduga ia agak tidak nyaman. Slide ditampilkan, naskah dibacakan, suara mengalir rapi dan terukur. Rasanya seperti menghadiri sidang tugas akhir yang disampaikan oleh seorang mahasiswa yang sangat menguasai materinya tapi memilih menyembunyikan wajahnya di balik layar yang gelap.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan itu. Mempersiapkan naskah adalah tanda keseriusan, bukan kelemahan. Tapi saya yang terbiasa membaca orang dari ekspresi dan gerak tubuh jadi sedikit kehilangan pegangan. Obrolan langsung, tatapan yang terlihat, jeda yang tertangkap kamera, bagi saya hal-hal kecil seperti itu sering kali lebih nempel di ingatan daripada konten presentasi itu sendiri.

Untungnya, begitu sesi presentasi selesai dan diskusi dibuka, kamera Mira menyala. Dan dari situ sesuatu yang berbeda mulai terasa. Ia berbicara lebih cair. Lebih langsung. Lebih seperti dirinya sendiri. Ada ironi kecil yang saya catat dalam hati: seorang kurator yang sepanjang kariernya bicara tentang pentingnya hadir, tentang seni yang hidup dalam tubuh dan percakapan, justru paling hidup ketika naskahnya sudah ditutup.

Menjelang akhir sesi, Mira melontarkan satu kalimat yang bagi saya, yang sudah menetap di Lombok selama satu dekade, terdengar seperti doa:

“Lombok sudah harus jadi pusat, jangan cuma Jawa.”

Saya mendengarnya sambil setengah ingin mengaminkan, setengah ingin mengangkat tangan, lalu bertepuk tangan dan bertanya.

Bukan karena kalimat itu salah. Kalimat itu terdengar benar. Bahkan sangat benar. Tapi justru karena terlalu benar, ia menyimpan beban yang tidak kecil. Dan beban itu, saya rasa, tidak cukup kalau hanya disimpan dalam tepuk tangan.

Poster Akademi Isin Angsat. (Dok. Instagram @mediapasirputih)

Mira Asriningtyas adalah kurator dan Direktur Cemeti, Institute for Art and Society di Yogyakarta. Latar belakangnya mencakup De Appel Curatorial Programme di Amsterdam, RAW Académie di Dakar, dan gelar master dari Utrecht University. Namanya ada di berbagai proyek bersama institusi seni internasional yang sebagian besar hanya pernah saya dengar dari kejauhan.

Tapi yang paling menarik perhatian saya bukan daftar institusinya. Melainkan fakta bahwa di tengah semua mobilitas internasional itu, ia memilih membangun proyek bernama 900mdpl di lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Sebuah biennale berbasis situs yang mengundang seniman untuk menjalani residensi, membangun arsip sosial kawasan, dan mempresentasikan hasilnya dari tempat itu sendiri.

Dan ia berkata dalam kelas: “Saya lebih bangga menggelar pameran di Kaliurang. Tanpa itu, tidak akan ada Paris, Taipei, New York.”

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang bisa diucapkan hanya oleh seseorang yang sudah pernah ke Paris, Taipei, dan New York. Dan saya pikir memang begitulah cara kalimat itu bekerja. Ia bukan nasihat untuk tidak pergi. Ia adalah kesaksian dari seseorang yang sudah pergi dan memilih pulang dengan cara yang berbeda.

Sepanjang presentasi, Mira berkali-kali kembali pada satu gagasan yang ia sebut dengan dua nama berbeda: gelandangan kosmopolit dan pengembara seni.

Maksudnya: pelaku seni yang terus berpindah dari satu konteks ke konteks lain, mengikuti residensi, pameran, festival, mengumpulkan pengalaman lintas negara, tapi kehilangan pijakan. Memahami isu-isu global dengan fasih, tapi asing dengan lingkungan sosial dan budaya di tempat asalnya sendiri.

Ia menyebut mobilitas internasional tanpa akar yang kuat bisa menjadi semacam candu. Dan dalam konteks media sosial, candu itu punya wajah tertentu: residensi di luar negeri yang difoto dari sudut terbaik, pameran internasional yang diceritakan ulang dengan diksi yang tepat, perjalanan lintas negara yang terlihat seperti hidup yang diinginkan semua orang.

Saya mendengarnya sambil diam-diam memeriksa diri sendiri. Apakah saya pernah berpikir seperti itu? Apakah ada bagian dari saya yang mengukur nilai sebuah karya dari seberapa jauh ia bisa dibawa keluar dari Lombok?

Saya tidak berani menjawab dengan cepat.

Ada satu bagian yang membuat saya tertawa kecil sekaligus tidak nyaman. Mira menceritakan bagaimana konsep gotong royong sering kali mengalami apa yang ia sebut lost in translation ketika dibawa ke forum internasional.

Pelaku seni Barat tertarik pada konsep itu, tapi kemudian ia diekstrak, disederhanakan, didefinisikan ulang, lalu dipresentasikan kembali dalam bahasa yang ringkas dan mudah dikonsumsi. Sementara gotong royong yang sesungguhnya tidak bekerja dengan cara seperti itu. Ia hidup dalam praktik, dalam gerak bersama, dalam hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dipindahkan ke dalam definisi.

Saya langsung teringat pengalaman menjelaskan tentang Peresean kepada karib saya di Tasikmalaya. Atau menjelaskan Gawe Alip. Atau bahkan Molang Maliq. Selalu ada momen ketika kata-kata mulai terasa tidak cukup, ketika penjelasan yang sudah rapi justru membuat yang dijelaskan jadi lebih kecil dari aslinya.

Mira juga menyampaikan sesuatu yang terdengar sederhana tapi meninggalkan bekas. Tulisan adalah kekuasaan. Saya berpikir tentang berapa banyak pengetahuan dari Bayan, dari mata air di Lombok Timur, dari ritual-ritual yang saya kenal, yang belum pernah dituliskan oleh orang-orang yang paling tahu tentangnya. Dan berapa banyak dari pengetahuan itu yang sudah dituliskan oleh orang lain, dari jarak yang jauh, dengan cara pandang yang berbeda.

Tapi ada satu hal yang terus mengganjal dan saya tidak bisa pura-pura tidak merasakannya.

Mira mengkritik mobilitas internasional yang dangkal, gelandangan kosmopolit, romantisme pengakuan dari pusat global. Ia menyebut lebih bangga berpameran di Kaliurang daripada di Paris. Dan semua itu terdengar sangat meyakinkan justru karena ia pernah ke Paris.

Ada paradoks di sana yang tidak kecil. Legitimasi untuk menyerukan agar kita tidak terlalu memuja pengakuan internasional datang dari seseorang yang sudah memiliki pengakuan internasional tersebut. Dan secara tidak sadar, bahkan dalam kalimatnya sendiri, Paris dan New York masih disebut sebagai penanda: bukan sebagai tujuan, tapi sebagai bukti bahwa kerja lokal itu berhasil.

Saya tidak menyampaikan ini sebagai tuduhan. Saya menyampaikannya karena saya juga merasakan tarikan yang sama. Ada bagian dari diri saya yang ingin Molang Maliq, lagu-lagu tentang Bayan, catatan-catatan tentang Lombok, suatu hari dikenal lebih luas. Bukan karena saya butuh validasi, tapi karena saya percaya isu-isu yang saya bawa perlu menjangkau lebih banyak orang.

Tapi saya juga tahu bahwa keinginan itu mudah sekali bergeser arahnya tanpa terasa.

Maka saya kembali ke kalimat itu. Lombok sudah harus jadi pusat.

Saya setuju. Tapi saya juga tahu bahwa menjadi pusat bukan sekadar soal semangat. Skena seni di Jawa menjadi apa yang ia sekarang karena akumulasi panjang: kampus seni, kolektor, galeri, media, komunitas, infrastruktur yang dibangun selama puluhan tahun. Menyerukan Lombok jadi pusat tanpa membongkar ketimpangan struktural yang membuatnya selama ini bukan pusat, terasa seperti menyuruh seseorang berlari tanpa bertanya apakah sepatunya cukup.

Dan pada saat yang sama, saya tahu bahwa menunggu struktur berubah sebelum bergerak juga bukan jawaban. Erkaem tidak menunggu. Molang Maliq tidak menunggu. Bale Mengina tidak menunggu. Mereka bergerak dari apa yang ada, dengan cara yang mungkin.

Mungkin itulah yang sebenarnya dimaksud Mira. Bukan bahwa Lombok akan menjadi pusat dengan sendirinya. Tapi bahwa kita tidak perlu menunggu izin dari mana pun untuk mulai memperlakukan tempat kita sendiri sebagai pusat. Dalam cara kita bekerja, dalam cara kita mendokumentasikan, dalam cara kita bercerita.

Kelas berakhir. Kamera Mira sudah menyala sejak tadi, dan saya bisa melihat wajahnya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta. Lebih seperti dirinya sendiri.

Saya menutup laptop dengan satu pertanyaan yang tidak saya ajukan dalam sesi tanya jawab: kalau tulisan adalah kekuasaan, dan kalau Lombok memang sudah harus jadi pusat, maka siapa yang akan menulis dari sini?

Ia harus ditulis.

Tangkapan layar aktivitas kelas Zoom, 2026.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *