Yagna Semesta Initiative

Seniman sebagai Masyarakat Biasa Saja

Yang perlu diperkuat bukan semangatnya. Tapi kesadarannya. Kesadaran bahwa kerja seni tidak cukup berhenti pada membuat sesuatu yang indah. Ia juga harus mampu menjaga hubungan manusia dengan pengetahuan yang membuat mereka tetap merasa punya akar.

Saya sudah terlalu sering duduk di depan layar menonton narasumber yang gugup di depan kameranya sendiri. Kaku, tergagap, seperti orang yang baru pertama kali melihat wajahnya di cermin. Hafiz Rancajale tidak seperti itu. Ia terbiasa dengan wajah-wajah yang hanya separuh terlihat di kotak-kotak kecil Zoom. Dan karena itu, saya benar-benar menyimak.

Poster Akademi Isin Angsat. (Dok. Instagram @mediapasirputih)

Bukan berarti sesi sebelumnya tidak penting. Tapi ada sesuatu dari cara Hafiz berbicara yang membuat saya tidak sibuk mencatat. Kalimat-kalimatnya tidak berputar-putar. Tidak terdengar seperti orang yang sedang berusaha terlihat pintar. Ia bicara dengan tenang tapi tepat sasaran. Mungkin karena itu beberapa kalimatnya terasa masuk lebih dalam dibanding materi presentasi yang penuh istilah rumit.

Ia tidak sedang mengajarkan teknik membuat karya. Ia sedang berbicara tentang mengapa seseorang sampai perlu membuat karya. Dan pertanyaan “mengapa” memang selalu lebih berbahaya daripada “bagaimana”, karena ia tidak bisa dijawab dengan langkah-langkah.

Saya tidak mengajukan pertanyaan malam itu. Bukan karena tidak ada yang ingin saya tanyakan, tapi karena sebagian besar yang ia katakan sudah terasa seperti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya simpan sendiri.

Hafiz membuka pembahasan tentang Global South. Tentang negara-negara yang hidup dalam warisan kolonialisme, eksploitasi sumber daya, ketimpangan sosial, dan marginalisasi budaya yang berlangsung panjang bahkan setelah penjajahan selesai secara administratif.

Saya pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Di kepala saya, Global South adalah negara-negara berkembang yang baru saja merdeka dari kekangan negara-negara Global North. Biasanya muncul di seminar, jurnal, atau diskusi yang membuat orang mendadak suka memakai kata “diskursus”. Tapi baru malam itu saya benar-benar merasa memahami maksudnya.

Yang lebih aneh, saya merasa sedang dibicarakan.

Bukan sebagai korban yang pasif. Tapi sebagai seseorang yang ternyata sudah lama bekerja di wilayah yang dimaksud Hafiz, meski tanpa istilah-istilah besar itu.

Album Di Mana Desa berisi lagu-lagu tentang lingkungan dan kegelisahan sosial. Bale Mengina dan Wariga lahir dari pengetahuan lokal masyarakat adat Bayan. Waktu membuatnya saya tidak pernah berpikir sedang membuat “seni aktivisme”. Saya cuma merasa ada sesuatu yang penting dan pelan-pelan mulai hilang, lalu musik jadi cara paling masuk akal yang saya punya untuk menjaganya tetap hidup.

Hafiz seperti memberi nama pada sesuatu yang selama ini saya kerjakan secara naluriah. Rasanya agak aneh ketika tiba-tiba ada peta untuk wilayah yang selama ini saya jelajahi cuma dengan modal perasaan dan nekat.

Tapi justru karena itu, ada satu bagian dari pernyataan Hafiz yang membuat saya berhenti cukup lama.

“Jangan merasa jadi seniman saat turun ke masyarakat. Jadi anggota masyarakat biasa saja.”

Saya mengerti maksudnya. Dan saya setuju dengan semangat di balik kalimat itu.

Sebagai seseorang yang cukup sering masuk ke komunitas untuk mendengar cerita, mengamati ritual, atau melakukan kerja dokumentasi, saya tahu betapa pentingnya menanggalkan posisi. Terlalu merasa diri sebagai seniman atau peneliti cuma akan menciptakan jarak. Orang jadi hati-hati bicara. Cerita berubah jadi formal. Kadang kita tanpa sadar lebih sibuk mencari bahan karya daripada benar-benar hadir mendengarkan.

Hafiz juga menyinggung soal seniman yang haus popularitas. Tentang bagaimana keinginan untuk dikenal bisa menggeser orientasi kerja kebudayaan. Saya mendengarnya sambil jujur pada diri sendiri: ada bagian dari diri saya yang memang ingin karya-karya itu didengar lebih luas. Bukan semata soal pengakuan pribadi, tapi karena saya percaya isu-isu yang saya bawa perlu menjangkau lebih banyak orang. Dan di zaman sekarang, jangkauan sering datang bersama popularitas.

Kalimat ini agak tidak nyaman diucapkan keras-keras, apalagi di ruang seni yang sering curiga pada ketenaran. Tapi saya tidak mau pura-pura suci. Kalau suatu hari karya saya didengar lebih banyak orang, saya akan senang. Karena semakin luas suara itu bergerak, semakin besar kemungkinan pengetahuan-pengetahuan kecil dari tempat seperti Bayan ikut bergerak bersamanya.

Saya juga sadar bahwa tarikan itu berbahaya. Sudah beberapa kali saya menangkap diri sendiri sedang memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak terlalu saya pikirkan. Bagaimana sebuah lagu akan terdengar di kuping pendengar di luar Lombok. Apakah judulnya cukup menarik. Apakah ada bagian yang bisa dipotong jadi video pendek. Pikiran-pikiran seperti itu masuk diam-diam, dan kalau tidak hati-hati ia bisa pelan-pelan menggeser orientasi. Yang awalnya bergerak dari kegelisahan sosial, berubah jadi sibuk mempertahankan citra.

Mungkin itulah sebabnya saya terus memikirkan Molang Maliq Mualan Benyer setelah sesi selesai. Perhelatan itu terasa seperti ujian paling konkret atas pertanyaan yang Hafiz lemparkan dengan tenang: sejauh mana karya seni bisa jadi pengabdian tanpa kehilangan ketulusannya?

Perhelatan itu pada awalnya lahir dari sesuatu yang sangat sederhana: kegelisahan terhadap mata air yang mulai kehilangan makna sosialnya.

Tidak terdengar seperti ide festival besar. Tidak ada kesan megah sama sekali. Cuma mata air. Cuma sumber air yang mulai jarang dibicarakan kecuali ketika orang butuh air untuk mandi, mencuci, atau mengairi sawah.

Tapi semakin lama saya terlibat, semakin saya sadar bahwa mata air itu sebenarnya menyimpan banyak hal. Ingatan. Ritual. Cerita lama. Hubungan manusia dengan alam. Bahkan hubungan antarwarga yang perlahan renggang.

Dan mungkin untuk pertama kalinya saya merasa tidak sedang membuat karya tentang masyarakat. Saya cuma ikut berada di dalam situasi ketika masyarakat mencoba mengingat kembali dirinya sendiri.

Itu berbeda.

Dalam Bale Mengina dan Wariga, posisi saya masih sangat dekat dengan peran seniman. Saya datang, mendengar cerita, melakukan riset kecil, lalu menerjemahkan pengetahuan itu jadi lagu. Saya tetap jadi pengolah utama dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Sedangkan dalam Molang Maliq, saya justru mulai merasa bahwa karya terbaik bukanlah sesuatu yang saya ciptakan sendirian. Karya terbaik mungkin adalah situasi ketika warga kembali datang ke mata air bersama-sama. Anak-anak muda mulai mendengar cerita dari para tetua. Ritual kembali dijalankan. Orang-orang duduk bersama tanpa merasa sedang menjadi bagian dari proyek kebudayaan.

Saya ingat satu momen ketika beberapa warga membersihkan area mata air menjelang perhelatan. Tidak ada suasana artistik yang dramatis seperti di film dokumenter. Orang-orang berkeringat, bercanda, merokok, sesekali mengeluh capek. Ada yang datang terlambat. Ada yang lebih sibuk bikin kopi daripada mengangkat batu. Semuanya terasa sangat biasa.

Tapi justru di situ saya merasa sedang melihat sesuatu yang penting. Pengetahuan ternyata tidak selalu hidup di seminar atau panggung diskusi. Kadang ia hidup di tubuh orang-orang yang bekerja bersama sambil tertawa.

Malam itu saya tiba-tiba teringat pertanyaan Mashur Khalid di kelas Hafiz: bagaimana agar karya seni tidak mengeksploitasi komunitas lokal?

Saya belum punya jawaban yang sempurna untuk itu. Tapi Molang Maliq membuat saya mulai memahami satu hal kecil. Mungkin jawabannya bukan terletak pada seberapa representatif karya yang kita buat, melainkan pada apakah masyarakat tetap punya ruang untuk jadi subjek di dalamnya. Bukan sekadar ditampilkan. Tapi ikut menentukan arah.

Karena selama ini saya sering berada di posisi yang agak problematis. Masuk ke komunitas, mendengar cerita, mendokumentasikan sesuatu, lalu pulang membawa bahan karya. Semakin lama saya berkarya, semakin saya sadar bahwa proses semacam itu selalu punya risiko: menjadikan masyarakat cuma sebagai sumber inspirasi, padahal mereka adalah pemilik pengetahuan itu sendiri.

Itu sebabnya Molang Maliq terasa penting bagi saya secara personal. Bukan karena perhelatannya berhasil. Tapi karena untuk pertama kali saya merasa bukan saya yang membuat sesuatu, melainkan ikut di dalam sesuatu yang sudah ingin terjadi.

Dan anehnya, semakin saya bergerak ke sana, semakin saya merasa dekat dengan apa yang dikatakan Hafiz tentang seni sebagai produksi pengetahuan. Orang-orang yang masih mau datang membersihkan mata air bersama sebelum matahari terlalu tinggi. Lagu yang masih dinyanyikan. Percakapan larut malam. Tubuh para tetua yang masih ingat urutan mantra dengan kepala yang sudah mulai dipenuhi uban. Itu juga pengetahuan.

Saya tutup laptop dari sesi Hafiz malam itu bukan dengan keinginan membuat proyek besar yang spektakuler. Justru sebaliknya. Saya pulang dengan keyakinan yang lebih tenang: bahwa arah yang selama ini saya tempuh mungkin memang sudah benar.

Yang perlu diperkuat bukan semangatnya. Tapi kesadarannya. Kesadaran bahwa kerja seni tidak cukup berhenti pada membuat sesuatu yang indah. Ia juga harus mampu menjaga hubungan manusia dengan pengetahuan yang membuat mereka tetap merasa punya akar.

Dan mungkin itu sebabnya saya masih sering terbayang adegan paling biasa dari Molang Maliq. Bukan pertunjukannya. Bukan ritualnya. Tapi pagi ketika orang-orang datang ke mata air dengan cangkul dan sabit di tangan, lalu seseorang dari pinggir berseru menawarkan kopi, dan tidak ada satu pun di antara mereka yang merasa sedang melakukan sesuatu yang penting.

Padahal sebenarnya iya.

Suasana kelas daring melalui Zoom Meeting. (Dok. Pribadi/2026)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *