Yagna Semesta Initiative

Penerjemah yang Hilang

Masa depan sebuah tradisi ditentukan oleh ada atau tidaknya orang-orang yang bersedia menjadi jembatan. Yang mau berjalan bolak-balik antara ingatan dan masa depan. Yang mendengarkan yang lama tanpa memusuhi yang baru. Yang memahami yang baru tanpa melupakan yang lama.

Tulisan Agus K. Saputra tentang Genggong di Lombok Barat itu tidak sedang membicarakan sesuatu yang baru. Jumlah pemain semakin sedikit. Anak-anak muda semakin jarang belajar. Jalur pewarisan yang dulu berjalan sendiri kini mulai tersumbat. Kita sudah sering mendengar cerita seperti ini.

Langkah pikiran saya seperti melambat di sana

Mungkin karena saya pernah merekam suara-suara yang sedang dikhawatirkan hilang itu. Setelah selesai membaca, saya membuka kembali arsip lama: video dokumentasi Genggong Gelangsar, catatan lapangan yang sudah menguning di folder lama, rekaman percakapan yang belum pernah saya dengarkan lagi.

Kalau seluruh arsip ini hilang besok pagi, apa sebenarnya yang ikut hilang?

Awalnya jawaban itu terasa jelas: musik, dokumentasi, memori. Tetapi semakin lama saya memikirkannya, semakin terasa bahwa yang paling berharga justru bukan semua itu.

Yang paling berharga adalah pengetahuan yang hidup di dalamnya. Cara membuat alat. Cara memainkannya. Cara mendengar bunyinya bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai sesuatu yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang memainkannya.

Dan semua itu tidak tinggal di dalam kamera. Tidak tinggal di hard disk. Tidak tinggal di kanal YouTube.

Ia tinggal di dalam manusia.

Di situlah saya mulai curiga bahwa persoalan kebudayaan hari ini mungkin bukan terutama soal dokumentasi.

Kita hidup di zaman yang nyaris mengarsipkan segala hal. Ada ribuan video. Puluhan film dokumenter. Ratusan jurnal. Festival demi festival. Seminar demi seminar. Tetapi pada saat yang sama, keluhan yang paling sering terdengar tetap sama: tidak ada penerus, tidak ada yang belajar, tidak ada yang melanjutkan.

Semakin banyak arsip yang kita kumpulkan, semakin sering pula kita mendengar kabar tentang putusnya regenerasi.

Lama-lama saya menyadari bahwa mungkin memang tidak ada paradoks di sana. Karena arsip tidak bisa mewariskan dirinya sendiri. Sebuah video tentang Genggong tidak otomatis melahirkan pemain Genggong. Film dokumenter tentang ritual tidak otomatis melahirkan pewaris ritual. Pengetahuan selalu membutuhkan sesuatu yang lebih rumit daripada penyimpanan. Ia membutuhkan perpindahan. Ia membutuhkan hubungan. Ia membutuhkan manusia yang mau menjadi perantara.

Dalam banyak komunitas yang saya masuki, persoalannya hampir selalu sama bentuknya. Pengetahuan tradisional masih ada. Para penjaganya juga masih ada. Tapi jalur yang seharusnya menghubungkan mereka dengan generasi berikutnya mulai retak di tengah.

Para penjaga pengetahuan itu tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mereka belajar dengan cara mengikuti, melihat, mendengar, dan mengalami bertahun-tahun. Sementara generasi hari ini terbiasa dengan informasi yang langsung menuju inti, narasi yang padat, bahasa visual yang bergerak cepat.

Sering kali kedua dunia ini saling berhadapan tanpa benar-benar saling memahami. Yang satu merasa tidak didengarkan. Yang lain merasa tidak diajak masuk. Lalu kita terburu-buru menyimpulkan bahwa generasi muda tidak peduli terhadap budaya.

Saya tidak sepenuhnya yakin dengan kesimpulan itu.

Karena saya juga melihat anak-anak muda menghabiskan berjam-jam mendengarkan podcast sejarah, menonton dokumenter panjang, mengikuti kanal yang membahas identitas lokal. Mereka mengonsumsi berbagai bentuk pengetahuan yang sebelumnya dianggap terlalu berat. Masalahnya mungkin bukan pada ketidakpedulian. Masalahnya mungkin pada bahasa yang digunakan untuk menyampaikan.

Di titik inilah saya mulai tertarik pada satu gagasan sederhana: bahwa setiap kebudayaan membutuhkan penerjemah.

Bukan penerjemah bahasa. Melainkan penerjemah zaman. Orang-orang yang mampu berdiri dengan satu kaki di masa lalu dan satu kaki di masa kini. Yang memahami cara berpikir para penjaga pengetahuan sekaligus memahami dunia yang dihuni generasi baru.

Semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa sebagian besar pekerjaan saya selama ini mungkin berada di wilayah itu, meski saya tidak selalu menyebutnya demikian.

Saya pernah mengkaji Ritus Kebangru’an, lalu mengubahnya menjadi film dokumenter, kemudian mengembangkannya menjadi seni pertunjukan yang dimainkan generasi muda. Saya pernah mendokumentasikan Genggong Gelangsar, lalu mencoba mempertemukannya dengan musik yang lebih akrab bagi telinga sekarang. Saya pernah menelusuri ingatan kolektif masyarakat Bayan tentang Bale Mengina dan Wariga, lalu menggubahnya menjadi lagu yang beredar di platform digital.

Selama ini saya mengira saya sedang mendokumentasikan.

Sekarang saya mulai curiga bahwa saya sebenarnya sedang menerjemahkan.

Perbedaannya ternyata cukup besar, dan saya tidak yakin saya selalu melakukannya dengan sadar.

Dokumentasi berusaha menyimpan sesuatu. Penerjemahan berusaha memindahkannya. Dokumentasi menjaga pengetahuan tetap ada. Penerjemahan menjaga pengetahuan tetap hidup, meski dalam perjalanan itu selalu ada yang berubah, selalu ada yang tidak terbawa.

Saya tidak pernah sampai pada keyakinan bahwa seluruh bentuk tradisi harus dibekukan. Tapi saya juga tidak sampai pada keyakinan bahwa seluruh bentuk itu boleh diubah sesuka hati. Mungkin karena ada tradisi yang menjadikan bentuk sebagai wadah nilai, sementara ada pula tradisi yang menjadikan bentuk itu sendiri sebagai nilai. Dan sebelum tahu yang mana, kita belum punya hak untuk memutuskan apa yang boleh berubah.

Dan justru di situlah tegangan yang sering saya hindari untuk dipikirkan terlalu dalam: penerjemah tidak pernah benar-benar netral. Setiap pilihan bentuk, setiap keputusan tentang apa yang ditonjolkan dan apa yang disingkirkan, membawa konsekuensi. Ketika sebuah ritual diubah menjadi pertunjukan, ada sesuatu yang berpindah, tapi ada juga sesuatu yang tertinggal. Saya belum selalu jujur pada diri sendiri tentang apa yang tertinggal itu.

Mungkin itulah yang paling mendesak sekarang. Bukan sekadar menyelamatkan bentuk-bentuk tradisi, melainkan menyelamatkan kemungkinan agar tradisi itu terus dipahami oleh orang-orang yang tidak pernah hidup di dalamnya.

Sebab sebuah tradisi tidak mati ketika ia berhenti dipentaskan. Ia mati ketika tidak ada lagi yang memahami mengapa ia pernah dipentaskan. Ia tidak mati ketika alat musik berhenti dimainkan. Ia mati ketika tidak ada lagi yang tahu cara mendengar maknanya.

Karena itu yang paling perlu dibangun mungkin bukan lebih banyak arsip. Yang perlu dibangun adalah orang-orang yang mau membaca kembali pengetahuan lokal itu, mengkajinya, memahami nilai dan kearifannya, lalu menerjemahkannya ke dalam bentuk yang dapat dipahami zamannya, apapun medianya, dengan kejujuran tentang apa yang terbawa dan apa yang tidak.

Saya kembali pada tulisan Agus tentang Genggong.

Ada kekhawatiran di sana tentang masa depan sebuah tradisi. Kekhawatiran itu penting dan perlu didengar. Tapi setelah memikirkannya lebih jauh, saya merasa bahwa masa depan sebuah tradisi tidak pernah ditentukan oleh jumlah arsip yang berhasil kita kumpulkan, atau seberapa sering kita membicarakannya dalam seminar.

Masa depan sebuah tradisi ditentukan oleh ada atau tidaknya orang-orang yang bersedia menjadi jembatan. Yang mau berjalan bolak-balik antara ingatan dan masa depan. Yang mendengarkan yang lama tanpa memusuhi yang baru. Yang memahami yang baru tanpa melupakan yang lama.

Kebudayaan tidak pernah benar-benar berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya secara langsung. Ia selalu melewati seseorang terlebih dahulu.

Seseorang yang mau mendengar. Yang mau memahami. Yang mau menerjemahkan, dengan segala risikonya.

Seperti bambu Genggong yang hanya berbunyi ketika ada napas yang mengalir melaluinya, pengetahuan tradisional juga hanya hidup selama ada orang yang bersedia menjadi perantaranya.

Dan perantara yang baik, saya kira, selalu tahu bahwa ia tidak bisa memindahkan segalanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *