Yagna Semesta Initiative

Dunia Tanpa Pusat

Ketanpaintian atau ketiadaan inti adalah kritik terhadap kebiasaan kita mencari pusat baru setiap kali berhasil mengkritik pusat lama.

Malam sebelum kelas dimulai, Lombok baru saja diguncang gempa.

Tidak besar. Tidak sampai membuat orang berlarian keluar. Tapi cukup untuk membuat beberapa grup WhatsApp kembali ramai oleh pesan-pesan pendek yang isinya kurang lebih sama: “Kerasa?” Saya membalasnya dengan emoji jempol, lalu tidur lagi.

Keesokan harinya, ketika Muhammad Sibawaihi membuka presentasi tentang Wallacea, gempa itu kembali muncul dalam pembicaraan. Bukan sebagai berita darurat, melainkan sebagai pengingat bahwa kawasan yang sedang kami bicarakan memang lahir dari guncangan. Wallacea, dalam penjelasan malam itu, terasa seperti kawasan yang sejak awal memang dibentuk oleh pergerakan. Lempeng-lempeng bumi bergerak. Pulau-pulau bergeser. Laut mempertemukan pulau-pulau yang terpisah daratan. Lalu manusia datang, singgah, berlayar, berdagang, menetap, membawa bahasa dan kepercayaannya masing-masing. Mungkin karena itulah Wallacea tidak pernah benar-benar cocok dipahami sebagai wilayah yang tunggal. Ia lebih mirip perjumpaan yang berlangsung sangat lama.

Saya menyukai cara memulai seperti itu. Memulai dari bumi sebelum bicara soal manusia.

Karena sering kali kita membicarakan kebudayaan seolah-olah ia lahir dari ruang seminar, dari proposal hibah, dari rekomendasi mentor. Padahal kebudayaan jauh lebih tua daripada gedung pertemuan mana pun. Ia lahir dari laut, gunung, migrasi, perdagangan, perang, bencana, dan ribuan peristiwa yang bahkan tidak sempat dicatat. Wallacea tidak pernah tenang. Dan mungkin karena itu pula kawasan ini sulit dijinakkan menjadi satu definisi yang rapi.

Poster Akademi Isin Angsat. (Dok. Instagram @mediapasirputih)

Sepanjang presentasi, Sibawaihi menunjukkan berbagai lapisan yang membentuk Wallacea hari ini. Lapisan geologi. Lapisan kolonialisme. Lapisan pembangunan. Lapisan kebudayaan.

Kolonialisme datang mengambil rempah-rempah, kekayaan laut, dan tenaga manusia. Tetapi bukan hanya itu yang diambil. Ia juga mengambil pengetahuan. Spesimen biologis dibawa pergi ke laboratorium. Artefak dikumpulkan ke dalam peti kapal. Cerita dicatat, disusun ulang, lalu dipajang di museum-museum Eropa sebagai “ilmu” tentang orang-orang yang tidak pernah diminta pendapatnya. Teringat juga bahwa beberapa tetua adat di Lombok yang tidak pernah menulis buku, tapi jika kamu duduk bersama mereka dua jam saja, kamu akan pulang dengan kepala penuh. Masalahnya, sejarah modern kerapkali hanya percaya pada yang tertulis. Dan tulisan biasanya milik yang berkuasa.

Malam itu Sibawaihi bergerak ke masa sekarang. Kolonialisme formal sudah pergi, tapi pola ekstraksinya tidak ikut angkat kaki. Hanya berganti baju. Nikel, emas, batubara, minyak, gas, pasir laut, sawit. Daftar komoditas yang dikeruk dari bumi Wallacea terasa seperti menu restoran yang tidak pernah ganti sajian, hanya berganti nama.

Dan menariknya, pola serupa kadang juga muncul dalam dunia seni dan kebudayaan. Di sinilah presentasi mulai terasa mengganggu. Dengan sengaja.

Sibawaihi melempar pertanyaan yang tidak nyaman satu per satu. Siapa sebenarnya pusat dalam jaringan kebudayaan? Apakah Indonesia Timur menjadi subjek atau objek? Apakah jejaring selalu berarti keberlanjutan? Apakah residensi benar-benar setara? Siapa yang menentukan nilai seni dari kawasan ini?

Saya mencatat semuanya. Bukan karena punya jawaban. Justru karena saya merasa ikut dituduh.

Sebab saya sadar, kerja yang saya lakukan selama ini juga bergerak dalam jaringan yang sama. Saya menulis tentang Lombok. Menyelenggarakan perhelatan. Merekam cerita. Membangun jejaring dengan keyakinan bahwa jejaring adalah sesuatu yang secara otomatis baik, seperti vitamin C yang selalu bermanfaat tanpa efek samping.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Jejaring yang kelihatannya setara kadang sebenarnya hanya punya satu pintu keluar: ke atas. Ia bisa menjadi jalan pertemuan yang setara, tapi bisa juga menjadi pipa yang mengalirkan cerita dari daerah ke pusat tanpa ada yang mengalir balik. Saya punya bayangan yang mengganggu tentang hal ini: sebuah kampung yang penuh cerita, penuh tradisi, penuh pengetahuan turun-temurun. Lalu datanglah peneliti, kurator, seniman, dokumenteris, masing-masing membawa pulang sesuatu. Saat mereka pergi, kampung itu tetap di tempat yang sama. Ceritanya sudah beredar ke mana-mana. Tapi apakah kuasanya ikut beredar? Apakah kampung itu kini lebih berdaulat dari sebelum semua orang datang berkunjung?

Saya tidak yakin.

Bagian yang paling saya tunggu muncul ketika Sibawaihi mulai bicara soal istilah yang terdengar aneh di telinga pertama: ketanpaintian.

Istilah itu bukan dari buku filsafat Frankfurt School, bukan pula dari teori poskolonial Oxford yang tebalnya bisa mematahkan semangat siapa saja yang membukanya. Ia lahir dari percakapan dengan seorang tokoh masyarakat bernama Metawadi di Dusun Tebango, Lombok Utara, dalam sebuah obrolan tentang meditasi. Tentang bagaimana seseorang bisa lepas dari beban bukan dengan cara fokus lebih keras, tapi justru dengan melepaskan. Situasi total tanpa hierarki, tanpa inti, di mana semua titik berdiri sejajar.

Awalnya saya mengira ini mirip desentralisasi yang sedang naik daun itu.

Ternyata beda. Desentralisasi masih mengakui adanya pusat. Ia hanya meminta pusat itu berbagi sedikit kewenangan ke daerah, seperti bos yang mau rapat di luar kantor sesekali agar terlihat egaliter. Ketanpaintian melangkah lebih jauh dengan mempertanyakan kebutuhan akan pusat itu sendiri. Mengapa harus ada satu titik yang mengatur arus? Mengapa tidak semua titik berdiri sejajar dan saling terhubung secara langsung?

Di sinilah saya mulai merasa sesuatu berjalan di kepala saya.

Beberapa jam sebelum kelas Sibawaihi, saya sempat mendengar kalimat yang berbunyi kurang lebih: “Lombok sudah harus jadi pusat.”

Kalimat itu masih terngiang, dan malam itu tiba-tiba terasa seperti pertanyaan yang belum selesai. Mengapa harus menjadi pusat? Mengapa bukan menjadi salah satu titik yang berdiri setara bersama titik-titik lain? Mengapa kita selalu membayangkan dunia sebagai lingkaran dengan satu pusat di tengahnya yang harus diperebutkan?

Mungkin karena sejak kecil kita dibesarkan oleh peta yang seperti itu. Ada kota utama dan kota kecil. Ada pusat dan daerah. Ada maju dan tertinggal. Lalu tanpa kita sadari, logika itu merembes masuk ke dalam cara kita berkesenian, ke dalam cara kita menilai karya, ke dalam cara kita bertanya apakah sebuah perhelatan lokal sudah cukup bergengsi atau belum.

Padahal Wallacea sendiri tidak pernah bekerja dengan logika tunggal itu. Kawasan ini tumbuh dari perjumpaan, dari lintasan, dari manusia-manusia yang saling terhubung tanpa perlu menunggu izin dari satu pusat tertentu. Jalur rempah bukan dikelola oleh satu kantor pusat dengan jam kerja delapan pagi sampai empat sore.

Karena itu ketanpaintian bukan tawaran romantis untuk kembali ke masa lalu yang tidak pernah benar-benar ada. Ia juga bukan sekadar upaya memindahkan pusat dari Jakarta ke Makassar, dari Jawa ke Wallacea, atau dari Barat ke Timur. Bahkan saya diam-diam tergoda untuk mendorong gagasan itu sedikit lebih jauh: bukan lagi ketanpaintian, melainkan ketiadaan inti. Sebab selama kita masih membicarakan inti, bahkan dalam bentuk ketiadaannya, bayangan tentang pusat itu masih terus menghantui. Mungkin yang perlu dibayangkan adalah dunia yang sejak awal memang tidak membutuhkan pusat.

Ketanpaintian atau ketiadaan inti adalah kritik. Kritik terhadap kebiasaan kita mencari pusat baru setiap kali berhasil mengkritik pusat lama. Kritik terhadap kecenderungan mengganti penguasa tanpa mengubah logika kekuasaan. Kritik terhadap dunia seni yang fasih bicara tentang kesetaraan, tapi diam-diam masih mengirimkan WhatsApp ke kurator Jakarta untuk minta validasi.

Dan kalau saya jujur, kritik itu juga tertuju ke diri saya sendiri.

Ada banyak hal yang saya lakukan selama ini yang lahir dari keinginan agar Lombok lebih terlihat, agar cerita-cerita dari sini lebih didengar, agar pengetahuan lokal tidak terus-menerus dimaknai dari kacamata orang luar yang datang tiga hari lalu naik pesawat. Keinginan itu masih saya anggap penting dan saya tidak akan pura-pura sebaliknya.

Tapi malam itu saya mulai berpikir bahwa mungkin tujuannya bukan agar Lombok menjadi pusat baru yang menggantikan pusat lama dengan wajah yang lebih ramah. Tujuannya lebih sederhana, dan justru karena itu lebih sulit: membuat kita cukup percaya diri untuk tidak lagi membutuhkan pusat.

Laut tidak memiliki pusat. Angin tidak memiliki pusat. Pengetahuan yang hidup dalam tubuh dan percakapan sehari-hari masyarakat Wallacea juga tidak memiliki pusat. Mereka bergerak, bertemu, saling mempengaruhi, lalu terus berubah tanpa pernah meminta sertifikat pengakuan dari siapa pun.

Mungkin Wallacea sudah lama mengajarkan itu kepada kita. Hanya saja kita terlalu sibuk mengurus peta untuk sempat menengok ke laut.

Tangkapan layar aktivitas kelas Zoom, 2026.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *