
Kotak Seng Ini Lebih Serius dari Rapat Kami
Bunyi Gula Gending bagi masyarakat Lombok pasti memanggil sesuatu—masa kecil, kampung halaman, atau wajah-wajah yang kini tinggal kenangan.

Bunyi Gula Gending bagi masyarakat Lombok pasti memanggil sesuatu—masa kecil, kampung halaman, atau wajah-wajah yang kini tinggal kenangan.

Pemajuan kebudayaan tidak harus elitis. Ia bisa tumbuh dari desa, dari obrolan warung, dari kerja gotong royong, dari musik, dari dapur, dari ritual yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Saya datang dengan harapan muncul rumusan tata kelola kebudayaan ke depan—sekecil apa pun. Tapi diskusi ini, seperti kebanyakan sarasehan budaya lainnya, bergeser menjadi ruang curhat tentang betapa ruwetnya urusan kebudayaan di tangan pemerintah.

Jika riset akademik masih jauh dari masyarakat, biarkan karya artistik yang lahir dari riset itu menjadi jembatannya.

Melalui program Road to Lingkar Seni Wallacea 2025, para seniman, peneliti, dan pegiat komunitas dari berbagai daerah di Indonesia Timur berkumpul dalam ruang diskusi daring untuk menelusuri hubungan antara ekologi, spiritualitas, dan produksi pengetahuan lokal.

Saya membayangkan sebuah negeri di mana setiap penanaman pohon diiringi lagu. Lagu yang mengandung harapan dan doa — agar pohon tumbuh, air kembali jernih, dan bumi bergetar dalam nada yang selaras.

Dari tanah NTB yang kaya warisan, lahir masa depan kebudayaan Indonesia yang makmur, mendunia, dan berjiwa manusia

“Tanpa antropologi,” katanya, “pembangunan cuma menara beton di atas lumpur.”

Kebudayaan tidak boleh hanya menjadi jargon pembangunan, tetapi harus menjadi napas yang menghidupi kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat NTB

Di tengah kehidupan kota yang tampak santai, ada banyak orang yang sedang diam-diam berjuang melawan kesunyian batinnya. Kota ini sedang belajar menjadi manusiawi. Dan barangkali, Kampus Indie hanyalah salah satu pintu kecil yang membuka arah ke sana.