Yagna Semesta Initiative

Arsip yang Belum Sempat Berserakan

Mahardhika Yudha bicara tentang arsip kolonial yang kini berserakan di internet. Tapi saya justru terus memikirkan arsip-arsip yang belum sempat berserakan, karena masih hidup di kepala orang-orang yang sedang menua.

Kelas Mahardhika Yudha dimulai dengan sebuah film.

Di layar muncul kumpulan foto dari album tahun 1880-an: Deli, Langkat, Johor. Potret kehidupan orang-orang Eropa di perkebunan Hindia Belanda. Jalan tanah, rel kereta api, jembatan kayu, hamparan tembakau, hutan yang ditebang perlahan seperti tubuh yang dicukur paksa. Gambar-gambar yang usianya lebih dari satu abad itu kini bisa dilihat siapa saja, termasuk saya dari kamar di Mataram, lewat layar laptop yang untungnya malam itu lebih bersahabat dibanding kelas sebelumnya.

Tangkapan layar aktivitas kelas Zoom, 2026.

Pada awalnya saya tidak benar-benar mengerti apa yang sedang saya lihat.

Foto-foto itu menarik dengan cara yang tidak menyenangkan. Semakin lama saya memperhatikan, semakin terasa ada sesuatu yang hilang. Bukan hilang karena tidak terekam, tapi karena memang tidak dianggap penting untuk direkam. Wajah-wajah orang Eropa dan bumiputera ada di sana, tapi bukan sebagai subjek. Mereka hadir seperti pohon, seperti rel, seperti bagian dari lanskap yang membantu memperindah komposisi kolonial.

Mahardhika Yudha menjelaskan bahwa arsip-arsip semacam ini sebelumnya tersimpan jauh di Leiden, di museum-museum Eropa, di ruang penyimpanan yang hanya bisa diakses orang-orang tertentu. Lalu pandemi datang. Dunia berhenti. Dan di tengah keberhentian itu digitalisasi bergerak cepat. Arsip-arsip yang tadinya jauh mendadak berserakan di internet. Bisa diakses siapa saja. Bahkan mungkin oleh anak SMP yang awalnya cuma berniat mencari meme sejarah buat tugas sekolah.

Lalu Mahardhika Yudha bertanya: publik siap atau tidak?

Saya tidak langsung punya jawaban. Pertanyaan itu cuma menempel, dan kemudian saya bawa ke sesi tanya jawab dalam bentuk yang sedikit berbeda. Saya tanyakan ke Mahardhika Yudha di mana batas antara aktivasi arsip dan banalitas sejarah.

Kegelisahan itu sebenarnya sudah lama saya pikirkan. Saya sudah melihat apa yang terjadi ketika tradisi, ingatan kolektif, atau sesuatu yang sebenarnya bekerja seperti arsip budaya, bertemu dengan algoritma media sosial.

Peresean misalnya. Seni ketangkasan masyarakat Sasak itu sering muncul di FYP dalam bentuk potongan pendek yang cuma menampilkan bagian paling dramatis. Rotan menghantam tubuh lawan. Teriakan penonton. Musik latar yang dibuat tegang seolah sedang trailer film gladiator. Orang luar melihatnya sebagai tontonan kekerasan yang eksotis.

Padahal yang sering tidak ikut terekam justru bagian paling pentingnya. Setelah pertarungan selesai, kedua pepadu saling memeluk dan menari bersama. Tidak ada dendam yang dibawa pulang. Arena jadi ruang untuk menyelesaikan ketegangan, bukan memperpanjang permusuhan. Tapi algoritma rupanya memang lebih menyukai pukulan daripada rekonsiliasi.

Nyongkolan juga begitu. Yang viral biasanya kemacetan jalan, suara musik yang terlalu keras, atau keributan antar pemuda. Yang jarang dibicarakan adalah bagaimana tradisi itu sebenarnya bekerja sebagai ruang integrasi sosial. Cara masyarakat menyambung kembali hubungan antar keluarga, antar kampung, antar orang-orang yang sebelumnya mungkin saling jauh.

Saya sampaikan semua itu kepada Mahardhika Yudha. Ia menjawab dengan tenang. Viralitas bisa jadi pintu masuk. Semua tergantung bagaimana pengkarya dan penonton memaknainya.

Saya paham maksudnya. Tapi setelah kelas selesai, ada satu pikiran yang tetap tertinggal. Pintu masuk tanpa ruang yang dituju cuma jadi ambang yang menggantung di udara.

Sekitar pukul 22.45 kelas selesai. Saya duduk cukup lama di kamar.

Aneh memang. Tiap selesai mengikuti kelas seni atau kebudayaan, kepala saya jarang bergerak ke teori. Ia langsung lari ke karya. Ke pertanyaan paling praktis. Kalau begitu, apa yang bisa dibuat?

Malam itu saya baru sadar bahwa sebenarnya saya pernah melakukan apa yang disebut Mahardhika Yudha sebagai aktivasi arsip. Jauh sebelum saya mengenal istilahnya.

Saya teringat pada proses penciptaan lagu Bale Mengina.

Pada 2023 saya bersama Pamela Paganini merilis lagu itu sebagai bagian dari upaya memperkenalkan rumah adat Bayan kepada generasi muda. Waktu itu saya cuma menganggapnya sebagai proses riset artistik biasa. Saya datang, mengamati, mendengar cerita, mencatat detail-detail kecil, lalu mencoba menerjemahkannya jadi lagu.

Tapi setelah kelas Mahardhika Yudha, saya mulai melihat proses itu dengan cara yang berbeda.

Ternyata yang saya hadapi sejak awal bukan sekadar rumah adat. Bale Mengina adalah arsip hidup.

Ia menyimpan pengetahuan tentang gempa, tentang arah matahari, tentang bahan bangunan, tentang relasi manusia dengan alam, tentang perempuan, tentang pangan, bahkan tentang cara masyarakat menjaga hubungan sosial antarwilayah adat. Semua pengetahuan itu tidak ditulis dalam buku manual. Ia hidup dalam praktik, dalam kebiasaan, dalam tubuh orang-orang yang masih mengingatnya.

Saya masih ingat pertama kali mendengar cerita tentang Inan Bale. Ruang kecil di dalam Bale Mengina yang hanya boleh dimasuki perempuan. Tempat menyimpan hasil bumi sekaligus pusaka leluhur. Waktu itu saya tidak langsung berpikir tentang arsitektur. Yang muncul justru pertanyaan sederhana: bagaimana sebuah rumah bisa menyimpan cara pandang masyarakat terhadap perempuan?

Lalu saya mulai menyadari bahwa hampir semua bagian Bale Mengina sebenarnya bekerja seperti teks. Kayu, bambu, alang-alang, arah bangunan, tangga, ruang penyimpanan, sampai hari baik untuk menebang pohon, semuanya mengandung pengetahuan yang diwariskan terus-menerus.

Tapi pengetahuan itu pelan-pelan berada di situasi yang rapuh.

Gempa Lombok 2018 memperlihatkan bahwa Bale Mengina lebih tahan dibanding banyak rumah modern. Tapi ironi sering bekerja dengan cara yang aneh. Di saat rumah tradisional terbukti lebih mampu bertahan terhadap bencana, rumah-rumah semacam itu justru semakin sedikit dibangun.

Di situlah kegelisahan Sekolah Adat Bayan muncul. Bagaimana membuat generasi muda tetap mengenali pengetahuan mereka sendiri ketika dunia di sekitar mereka bergerak semakin cepat dan semakin seragam?

Saya dan beberapa teman waktu itu memilih mendekatinya lewat seni. Dan sekarang saya baru sadar bahwa lagu Bale Mengina sebenarnya adalah upaya aktivasi arsip.

Bukan arsip dalam bentuk dokumen tua yang tersimpan di museum. Tapi arsip yang hidup di kepala para tetua, di ruang-ruang adat, di percakapan sehari-hari, di cara orang membangun rumah, di cara seorang ibu menaiki tangga Inan Bale sambil membawa hasil panen.

Itu sebabnya saya cukup berhati-hati ketika membuat lagu tersebut.

Saya memilih bahasa Bayan karena saya ingin ada kedekatan emosional antara lagu dan masyarakat yang mendengarnya. Saya memilih tangga nada pentatonis nyalendro karena rasanya akrab di telinga masyarakat Nusantara, termasuk Sasak, tapi tetap bisa diterima pendengar muda yang terbiasa dengan musik populer. Yang paling lama saya pikirkan justru pembagian suara laki-laki dan perempuan.

Suara perempuan saya letakkan lebih dominan di bagian verse. Sebab Bale Mengina bagi saya identik dengan Inan Bale, ruang ibu yang jadi pusat rumah sekaligus pusat kehidupan. Di bagian chorus, suara laki-laki dibuat lebih menonjol sebagai simbol tanggung jawab menjaga dan merawat. Waktu itu saya menganggap semua itu sekadar keputusan artistik. Sekarang saya sadar bahwa saya sebenarnya sedang menjaga sesuatu agar tidak tercerabut dari akarnya ketika dipindahkan jadi karya.

Dari situ pikiran saya bergerak ke Gawe Alip. Sejak itu belum bisa berhenti..

Ritual besar masyarakat Bayan yang hanya berlangsung sekali dalam delapan tahun itu bukan sekadar perayaan adat. Ia adalah peristiwa ketika pengetahuan kolektif diaktifkan kembali. Mantra-mantra diingat. Tata ritual dijalankan. Hubungan manusia dengan alam dipulihkan lewat simbol, gerak, dan keyakinan yang diwariskan turun-temurun.

Masalahnya, sebagian besar pengetahuan itu masih tersimpan dalam tubuh manusia. Dalam ingatan para tetua. Dan tubuh manusia tidak abadi.

Saya kadang membayangkan apa yang terjadi kalau seorang tetua meninggal sebelum sempat menurunkan apa yang ia tahu. Bukan kehilangan satu orang. Kehilangan satu perpustakaan. Dan perpustakaan itu tidak punya cadangan di rak lain. Tidak ada salinannya di kota sebelah. Tidak ada server yang otomatis menyimpannya sebelum lampu padam.

Mahardhika Yudha bicara tentang arsip kolonial yang kini berserakan di internet. Tapi saya justru terus memikirkan arsip-arsip yang belum sempat berserakan, karena masih hidup di kepala orang-orang yang sedang menua.

Tidak ada algoritma yang tiba-tiba akan mengarsipkan semuanya sebelum hilang. Kecuali ada orang yang hadir, mendengarkan, lalu mencoba menerjemahkan ingatan itu ke bentuk-bentuk baru yang bisa bertahan lebih lama.

Mungkin itu sebabnya saya merasa kelas Mahardhika Yudha bukan sekadar kelas tentang arsip. Ia seperti memberi nama pada sesuatu yang selama ini sudah dan masih saya kerjakan.

Suasana kelas daring melalui Zoom Meeting. (Dok. Pribadi/2026)

Dan mungkin itu juga alasan kenapa saya belum bisa berhenti memikirkan Bayan. Karena di sana masih terlalu banyak pengetahuan yang belum sempat diberi bentuk baru. Terlalu banyak ingatan yang masih menggantung di tubuh orang-orang tua. Menunggu seseorang datang, duduk, mendengarkan, lalu membawanya pulang sebelum semuanya benar-benar ikut menua bersama mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *