Catatan dari Mulud Adat Bayan 2026 | oleh: Yuga Anggana
Saya menulis catatan ini pada 29 Agustus 2026, ketika rangkaian Mulud Adat Bayan masih berlangsung dan pengalaman sejak kemarin masih cukup segar di kepala. Sejak kemarin saya berada di Bayan, mengikuti Mulud Adat Bayan 2026 bersama beberapa kawan. Kami datang bukan benar-benar sebagai wisatawan. Ada urusan penelitian yang sedang kami kerjakan tentang Padi Bulu, dan beberapa bagian dari rangkaian Mulud kami anggap penting untuk didokumentasikan, kelak menjadi lampiran buku hasil penelitian yang mudah-mudahan berguna bagi generasi berikutnya.
Kami membawa kamera.
Ini penting saya katakan sejak awal, sebab tulisan ini akan cukup banyak membicarakan orang-orang yang membawa kamera. Akan agak lucu kalau nanti saya mengomel tentang orang yang sibuk memotret, sementara di antara kami sendiri tergantung kamera dengan lensa yang kurang lebih sama, dan di tangan saya ada ponsel pintar dengan kualitas kamera yang juga tidak bisa dibilang buruk. Jadi, sebelum telunjuk saya terlalu jauh menunjuk orang lain, sebaiknya saya mengaku lebih dulu: kami pun datang membawa kamera.
Tapi nanti kita sampai ke sana.
Bayan bukan tempat yang asing bagi saya. Saya sudah cukup sering datang ke sana. Beberapa orang bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Setiap kali memasuki Bayan, selalu ada perasaan aneh yang sulit saya jelaskan: seperti pulang ke sebuah tempat yang sebenarnya bukan kampung halaman saya.
Entah karena lanskapnya, suasananya, atau keramahtamahan orang-orangnya, Bayan selalu membawa saya kembali pada ingatan masa kecil di kampung tempat saya tumbuh di Jawa Barat. Ada sesuatu yang plek ketiplek sama. Bukan bentuk rumahnya, bukan pula adatnya, tentu saja, melainkan rasa yang muncul ketika berada di tengah orang-orangnya. Rasa akrab yang membuat saya tidak pernah benar-benar merasa sedang datang sebagai orang asing.
Mulud Adat Bayan pun bukan pertama kali saya hadiri. Beberapa tahun sebelumnya, sejauh ingatan saya, hampir setiap tahun saya menyempatkan datang. Hanya dua tahun terakhir saya absen. Karena itu, kedatangan kali ini sebenarnya lebih mirip kembali menjumpai sesuatu yang sudah cukup saya kenal daripada mendatangi sebuah peristiwa untuk pertama kalinya.
Mungkin justru karena itulah saya segera merasa ada yang berbeda.
Memasuki Bayan kali ini, suasana yang saya ingat dari kedatangan-kedatangan sebelumnya terasa lebih sulit saya temukan. Bukan berarti Bayan tiba-tiba kehilangan keramahannya. Orang-orang yang saya kenal tetap menyambut seperti biasa. Kampungnya tetap membuat saya merasa dekat. Tetapi semakin mendekati kawasan Masjid Kuno Bayan Beleq, lapisan lain terasa semakin tebal menutupi suasana yang selama ini saya kenal.
Ternyata dua tahun absen dari Mulud Adat cukup untuk membuat saya sedikit pangling.
Bahkan sebelum sampai ke Masjid Kuno Bayan Beleq, umbul-umbul sudah berkibar sepanjang jalan. Baliho muncul di sana-sini. Tepat di seberang masjid, keadaan sudah menyerupai pasar. Segala macam barang dijual, dan sebagian harganya tampaknya ikut merayakan Mulud, naik sedikit dari hari biasa. Saya tidak tahu apakah kenaikan harga juga termasuk bagian dari tradisi. Mudah-mudahan tidak.
• • •
Memasuki kampung adat Karang Bajo, keramaian semakin terasa. Wisatawan asing hilir mudik. Sebagian mudah dikenali dari cara berpakaian, mulai dari yang sangat fashionable sampai yang berusaha menyesuaikan diri dengan suasana adat memakai kain-kain yang entah berasal dari mana. Tidak masalah sebenarnya, orang boleh memakai apa saja.
Yang menarik justru terjadi ketika masyarakat adat mulai menjalankan aktivitasnya. Tangan-tangan mendadak terangkat. Ponsel keluar. Kamera diarahkan.
Klik. Klik. Klik.
Seseorang berjalan menarik domba, tubuhnya telanjang dada. Seketika beberapa kamera mengarah kepadanya. Saya melihat pemandangan itu dan tiba-tiba berpikir, apakah dia tidak risih? Saya tidak tahu. Mungkin tidak. Mungkin sudah biasa. Mungkin malah senang. Saya tidak berhak menentukan perasaannya.
Tetapi saya mencoba membalik keadaan. Bagaimana kalau saya sedang berjalan di kampung sendiri, melakukan sesuatu yang biasa saya lakukan, lalu belasan orang asing tiba-tiba mengangkat kamera dan memotret saya dari berbagai sudut, bahkan ada yang jongkok sedikit untuk mendapatkan low angle? Saya rasa saya akan berhenti dan bertanya, “Mas, memangnya saya kenapa?”
Saat itu saya jadi merasa bahwa manusia yang berada di depan kami bukan lagi seseorang yang sedang menjalani kehidupannya, melainkan sesuatu yang harus segera direkam karena dianggap unik. Eksotis. Autentik. Kuno. Semakin jauh dari penampilan kita sehari-hari, semakin menarik ia bagi kamera. Dan mungkin tanpa sadar, kita sedang memperlakukan manusia seperti makhluk dari masa yang lain.
• • •
Perasaan itu semakin kuat ketika saya melihat para inaq menutu pare. Beberapa perempuan berdiri berderet dan bekerja, alu naik turun, padi ditumbuk, ada ritme yang sebenarnya sangat menarik untuk didengar. Tetapi di sekelilingnya puluhan orang berdiri, kamera mengarah dari berbagai sisi, dan tiba-tiba aktivitas itu terasa seperti pertunjukan. Para inaq menjadi performer. Halaman menjadi panggung. Kami menjadi penonton. Bedanya, hampir tidak ada yang benar-benar menonton.
Orang-orang mengangkat kamera. Memotret. Melihat layar. Memperbesar gambar. Sepertinya kurang bagus. Diulang. Klik. Bagus. Selesai. Lalu pergi mencari objek berikutnya.
Sebenarnya tadi dia melihat orang menutu pare atau melihat foto orang menutu pare? Keduanya berbeda bukan?. Di depan kita berlangsung sebuah peristiwa, tetapi perhatian kita justru berada di layar enam inci. Yang penting bukan lagi mengalami peristiwa, yang penting berhasil membawanya pulang dalam bentuk gambar.
Saya membayangkan percakapan setelah pulang. “Bagaimana Mulud Bayan?” “Keren.” “Apa yang paling berkesan?” “Nih lihat fotonya.” Mungkin kita memang semakin aneh. Kita pergi jauh-jauh untuk melihat sesuatu secara langsung, lalu ketika sudah berada tepat di depannya, kita memilih melihatnya melalui layar.
• • •

Tentu tidak semua orang seperti itu, dan saya harus mengatakan ini supaya tulisan ini tidak berubah menjadi pengadilan bagi siapa pun yang membawa kamera ke Bayan. Ada yang datang untuk belajar. Ada yang penasaran. Ada fotografer yang sedang bekerja, wartawan, peneliti, orang yang punya hubungan panjang dengan masyarakat Bayan, dan orang yang benar-benar ingin mengikuti rangkaian Mulud dengan sungguh-sungguh.
Termasuk saya dan beberapa kawan, yang datang membawa kepentingan sendiri: penelitian tentang Padi Bulu, dan beberapa foto yang kami perlukan sebagai dokumentasi untuk buku hasil penelitian.
Jadi ketika saya melihat orang sibuk memotret dan mulai merasa terganggu, pikiran saya berbalik menyerang saya sendiri. Tunggu dulu, bukankah kami juga membawa kamera? Bukankah saya juga menginginkan gambar para inaq menutu pare? Bukankah ketika beberapa wisatawan berdiri menghalangi sudut pengambilan gambar, saya juga kesal karena tidak mendapatkan foto yang saya butuhkan?
Nah, repot. Ternyata saya tidak bisa berdiri terlalu jauh dari persoalan yang sedang saya kritik.
Kami mungkin memiliki tujuan berbeda. Wisatawan menginginkan kenangan. Fotografer menginginkan gambar. Media membutuhkan berita. Peneliti membutuhkan data. Tetapi dari sisi seseorang yang berada di depan kamera, barangkali semua lensa terlihat sama. Kesadaran itu membuat saya sedikit malu.
Mungkin yang membedakan bukan keberadaan kameranya, melainkan hubungan kita dengan manusia yang berada di depannya. Apakah kita meminta izin? Apakah kita memahami apa yang sedang mereka lakukan dan untuk apa gambar itu akan digunakan? Apakah mereka tetap menjadi manusia dalam cerita kita, atau hanya menjadi ilustrasi untuk kata “tradisional”? Pertanyaan-pertanyaan itu, pada akhirnya, lebih mengganggu saya daripada keramaian tadi.
• • •
Ada pemandangan lain yang juga menarik. Anak-anak dan remaja Bayan. Sebagian datang berdandan, ada yang bergincu, ada yang tampil modis. Mereka membawa ponsel, memotret saudara sendiri, memotret tetangga yang sedang menjalankan ritual, sesekali berhenti di sebuah tempat lalu selfie.
Awalnya saya merasa aneh. Tetapi kemudian saya berpikir, memangnya kenapa? Mereka hidup pada tahun 2026. Apakah karena mereka lahir sebagai orang Bayan maka mereka harus berjalan tanpa ponsel supaya kita merasa sedang melihat masyarakat adat yang autentik? Apakah perempuan muda Bayan tidak boleh bergincu? Apakah anak Bayan harus terus mengenakan pakaian yang sesuai dengan imajinasi wisatawan tentang “orang adat”?
Kalau demikian, jangan-jangan masalahnya justru ada pada kita. Kita datang mencari Bayan yang telah kita bayangkan sebelumnya. Bayan yang kuno, yang eksotis, yang diam, yang berbeda dari kita. Kemudian ketika seorang anak Bayan mengeluarkan ponsel dan membuat video TikTok, kita kecewa. “Wah, sudah modern.”
Kalimat “sudah modern” itu kadang terdengar seperti ucapan belasungkawa, seolah seseorang baru saja kehilangan adatnya gara-gara membeli smartphone. Padahal bisa jadi anak yang sedang selfie itu memahami Mulud jauh lebih dalam daripada kita yang datang membawa kamera mahal dan buku catatan.
Romantisasi terhadap masyarakat adat juga berbahaya. Kita ingin mereka mempertahankan tradisi, tetapi diam-diam kita juga ingin mereka mempertahankan penampilan yang menyenangkan imajinasi kita tentang masa lalu. Kita meminta mereka hidup, tapi jangan terlalu berubah. Agak egois juga.
• • •
Dari sinilah pikiran saya melompat jauh, mungkin terlalu jauh, ke Mulud Adat Bayan dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang. Barangkali acaranya jauh lebih besar. Pengunjung puluhan ribu, hotel dan homestay penuh, UMKM tumbuh, panggung dan promosi semakin masif, media nasional datang, drone beterbangan, dan seorang pembuat konten berkata di depan kamera, “Guys, kalian wajib banget datang ke sini minimal sekali seumur hidup!”
Pemerintah mungkin akan sangat bangga. Mulud dianggap berhasil dilestarikan. Tetapi di tengah semua keberhasilan itu saya justru mempunyai pertanyaan yang agak mengganggu: mengapa generasi Bayan saat itu masih menjalankan Mulud? Pertanyaan sederhana, tetapi bagi saya sangat penting.
Saya tidak melihat masalah ketika ritual membawa manfaat ekonomi. Masyarakat adat juga manusia, punya anak yang harus sekolah, dapur yang harus tetap mengepul, rumah yang perlu diperbaiki. Saya malah merasa aneh kalau masyarakat adat diminta menjaga tradisi demi kepuasan kita, sementara manfaat ekonominya justru paling banyak dinikmati hotel, biro perjalanan, fotografer, media, dan pedagang dari luar. Kalau ada uang yang berputar karena Mulud, masyarakat Bayan semestinya menjadi pihak yang paling banyak merasakannya.
Masalahnya bukan uang. Masalahnya adalah ketika suatu hari uang berubah dari akibat menjadi alasan. Hari ini mungkin seseorang berkata, “Kami menjalankan Mulud karena ini penting bagi kehidupan kami, kebetulan wisatawan datang.” Tapi bagaimana kalau tiga puluh tahun kemudian kalimatnya berubah menjadi, “Kami harus mengadakan Mulud karena wisatawan akan datang”? Kelihatannya hanya bertukar posisi beberapa kata, padahal dunianya sudah terbalik. Pada kalimat pertama, ritual menghasilkan pariwisata. Pada kalimat kedua, pariwisata membutuhkan ritual.
• • •
Di situlah saya mulai khawatir pada sesuatu yang mungkin belum terjadi, dan saya ingin berhati-hati sebelum melangkah lebih jauh, sebab ini hanya bayangan saya sebagai orang luar, bukan ramalan tentang komunitas yang bukan milik saya untuk saya tentukan nasibnya.
Generasi penerus bisa saja tetap menjalankan semua prosesi dengan sempurna. Tahu pakaian apa yang harus digunakan, tahu kapan menutu pare, tahu bagaimana membuat ancak, bahkan mungkin jauh lebih terorganisasi dibanding sekarang. Tetapi ketika seorang anak bertanya, “Kenapa kita melakukan semua ini?”, jawabannya jangan-jangan, “Karena ini event tahunan,” atau “Karena sudah masuk kalender pariwisata,” atau yang lebih praktis, “Kalau ramai, dagangan laku.”
Tidak ada yang salah dengan dagangan laku, saya juga senang kalau dagangan orang laku. Tetapi kalau itu menjadi satu-satunya alasan sebuah ritual masih hidup, saya kira ada sesuatu yang perlu kita pikirkan bersama, karena kebudayaan bukan hanya soal apa yang dilakukan, tapi juga soal mengapa sesuatu masih perlu dilakukan.
Dan andaikan suatu hari nanti keramaian penonton benar-benar menjadi ukuran keberhasilan sebuah prosesi, saya membayangkan satu kalimat yang menurut saya mengerikan jika benar-benar terdengar: “Yang ini kurang menarik untuk wisatawan.” Sebab begitu kalimat itu menjadi pertimbangan dalam menentukan bagaimana ritual dijalankan, pertanyaannya telah berubah. Bukan lagi, “Apakah ini penting bagi kami?”, tapi “Apakah mereka menyukainya?” Pada titik itu masyarakat tidak hanya menjalankan adat, mereka mulai memainkan gambaran tentang adat yang diinginkan orang lain. Saya menuliskan ini bukan sebagai ramalan, hanya sebagai kekhawatiran yang mudah-mudahan tidak pernah perlu terbukti.
• • •
Tetapi saya juga tidak ingin menjadi terlalu muram. Bisa jadi semua kekhawatiran saya salah. Bisa jadi justru keramaian hari ini membuat seorang anak Bayan semakin penasaran dengan adatnya, ikut Mulud awalnya karena ingin bertemu teman, lalu diminta membantu, lalu bertemu wisatawan yang bertanya sesuatu yang ia tidak tahu jawabannya, lalu pulang bertanya kepada orang tua, lalu mendengar cerita, lalu suatu hari menyadari bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan pengetahuan yang sangat panjang.
Manusia memang tidak sesederhana teori sebab-akibat. Orang bisa datang karena uang lalu menemukan makna. Orang bisa menjaga tradisi sekaligus berjualan es teh. Saya rasa leluhur pun tidak akan marah hanya karena cucunya ingin mendapatkan penghasilan. Yang penting jangan sampai es tehnya menjadi alasan utama Mulud diselenggarakan.
Maka persoalannya mungkin bukan bagaimana membuat Mulud tetap berlangsung. Saya kira Mulud akan terus berlangsung. Persoalan yang jauh lebih penting adalah bagaimana memastikan makna ikut diwariskan bersama bentuknya. Apakah anak Bayan hari ini hanya diberi tahu, “Besok kamu ikut prosesi,” atau juga diajak duduk dan mendengar, “Mengapa kita melakukan ini?” Mengapa padi diperlakukan demikian, mengapa seseorang memiliki peran tertentu, mengapa ada ruang yang tidak boleh dimasuki sembarangan, apa hubungan semua itu dengan manusia, alam, keyakinan, leluhur, dan kehidupan mereka hari ini.
Dan terutama, apa artinya menjadi orang Bayan bagi seseorang yang hidup pada 2026, memakai smartphone, menonton Netflix, mendengar Spotify, membuat Reels, tetapi pada saat yang sama mewarisi sebuah dunia yang telah berjalan jauh sebelum semua itu ada?
Menurut saya justru di sanalah pekerjaan pelestarian yang sebenarnya. Bukan menjaga manusia agar tetap tampak seperti masa lalu, melainkan menjaga agar mereka tetap mempunyai hubungan dengan pengetahuan yang diwariskan masa lalu, sambil tetap berhak menjadi manusia masa kini.
• • •
Ketika saya kembali melihat para inaq menutu pare, bunyi alu masih terdengar.
Tok. Tok. Tok.
Mungkin bunyinya sama seperti puluhan tahun lalu. Saya tidak tahu. Yang saya tahu, hari itu bunyi tersebut dikelilingi suara lain: orang bercakap, pedagang, kendaraan, kamera, notifikasi ponsel. Dan di antara semuanya, orang-orang sibuk mencari sudut terbaik.
Saya tidak ingin menyalahkan mereka, sebab saya juga berada di sana. Saya juga mengambil gambar. Saya juga datang dari luar dan membawa kepentingan. Barangkali perbedaannya hanya satu: hari itu saya pulang membawa sedikit rasa tidak nyaman. Dan rasa tidak nyaman itu terus mengikuti saya, bahkan sampai nanti ketika saya duduk menulis laporan penelitian tentang Padi Bulu, memilih foto mana yang layak dilampirkan, dan menyadari bahwa pertanyaan yang sama akan menunggu saya di meja kerja saya sendiri.
Masalah terbesar tentu saja bukan Mulud Adat Bayan. Masalahnya adalah kita: yang datang membawa bayangan tentang bagaimana masyarakat adat seharusnya terlihat, yang senang menemukan sesuatu yang berbeda lalu buru-buru mengeluarkan kamera, yang menginginkan pengalaman autentik tetapi kadang kehadirannya sendiri justru mengubah pengalaman itu, yang ingin adat lestari tapi sekaligus menginginkannya mudah diakses, mudah ditonton, ada tempat parkir, ada toilet, ada sinyal, dan kalau bisa jangan terlalu jauh berjalan. Kita memang tamu yang banyak maunya.
Barangkali yang perlu dipikirkan ke depan bukan bagaimana membuat Mulud semakin mudah ditonton, melainkan bagaimana kita belajar kembali menjadi tamu. Kapan boleh mendekat, kapan harus menjaga jarak, kapan boleh memotret, kapan kamera sebaiknya diturunkan, kapan cukup melihat, kapan cukup mendengar, dan kapan menerima bahwa tidak semua hal harus kita bawa pulang.
• • •
Saya masih memikirkan lelaki yang berjalan menarik domba itu. Entah berapa kamera yang memotretnya hari itu. Mungkin fotonya sekarang sudah berada di puluhan ponsel, sebagian masuk Instagram, ada yang diberi filter, ada yang dibuat hitam putih, ada yang diberi caption tentang kearifan lokal. Saya tidak tahu apakah ia pernah melihat foto-foto itu, atau apakah ia peduli.
Tetapi saya membayangkan suatu hari nanti orang-orang akan kembali datang. Kamera kembali diangkat. Anak-anak Bayan tumbuh besar, generasi berganti, Mulud kembali dilaksanakan, wisatawan semakin banyak, pasar semakin ramai, foto semakin bagus. Dan mungkin pada suatu masa nanti kita akan mempunyai dokumentasi Mulud Adat Bayan yang luar biasa lengkap: jutaan foto, ribuan video, film dokumenter, buku, arsip digital, konten media sosial. Semua orang tahu bagaimana Mulud terlihat.
Tetapi saya berharap ketika hari itu tiba, masih ada anak Bayan yang tahu mengapa Mulud harus dilakukan, bahkan seandainya tidak ada satu pun wisatawan yang datang. Sebab kalau suatu hari alasan terkuat menjalankan ritual adalah agar orang lain datang menontonnya, saya tidak tahu apakah kita masih sedang melestarikan ritual, atau sedang melestarikan pertunjukan tentang ritual.
Saya juga tidak punya jawabannya. Saya hanya datang ke Bayan, melihat, ikut memotret, merasa ada yang mengganjal dan pulang membawa satu pertanyaan.
Sebenarnya, apa yang sedang kita lestarikan?
Bagus tulisan ini, hatur nuhun sudah menjadi mikir..
iya juga ya, seiring perubahan jaman dan kepentingan banyak orang, adat budaya itu di posisi yang mana? Sementara hal-hal kebudayaan sudah menjadi bagian dari industri pariwisata yang dipromosikan ke seluruh dunia dan menarik para wisatawan untuk datang. Kebutuhan ekonomi tentu saja menjadi bagian dari efek pelaksanaan kebudayaan, apalagi dengan sengaja dikemas untuk menjadi lebih menarik para wisatawan datang dan berkunjung..
Seharusnya jiga yg mendapatkan manfaat lebih itu ya masyarakat adat yang melaksanakan hal tersebut, tetapi apa iya?
Semoga masyarakat adat semakin betul betul menjaga tradisinya secara turun menurun, mewariskan semangatnya kepada generasi selanjutnya, ditengah tantangan perubahan jaman yg semakin modern..
Bener pisan, Kang. Saya kira manfaatnya juga tidak cukup hanya dihitung dari seberapa banyak uang yang beredar selama acara. Barangkali yang juga penting dilihat adalah apakah pariwisata turut memperkuat pengetahuan, posisi tawar, dan keberlanjutan hidup masyarakat pemilik tradisi itu sendiri. Sebab ketika adat menjadi destinasi, mudah-mudahan masyarakat adat tetap menjadi pemilik utama cerita dan manfaatnya, bukan perlahan sekadar menjadi bagian dari atraksi.
Terima kasih saya ucapkan kepada penulis, karna sudah mendeskripsikan bayan saat ini, Mulud Adat Bayan diadakan untuk melestarikan ritualnya dan itu akan tetap dilakukan sampai kapan pun, bukan karena event nasional, bukan juga karena pengunjung, melainkan karena ritual adat itu sendiri.
Sepakat. Mudah-mudahan yang lestari bukan hanya ritualnya, tetapi juga alasan mengapa ritual itu harus terus dilakukan. Tata cara bisa diwariskan, tetapi makna, nilai, pengetahuan, dan kearifan di belakangnya juga harus ikut sampai kepada generasi berikutnya. Sebab jangan sampai kita berhasil mewariskan “bagaimana”, tetapi perlahan kehilangan “mengapa”.