Gelangsar Tak Main-Main: Pemudanya Ngeband, Sesepuhnya Bergenggong

Beginilah, pikir saya, seharusnya desa, pemerintah, dan pelaku budaya bergerak: tidak saling curiga, tapi saling menguatkan.

Beginilah, pikir saya, seharusnya desa, pemerintah, dan pelaku budaya bergerak: tidak saling curiga, tapi saling menguatkan.

Setelah Dira marah dan saya minta maaf, tawa saya justru makin meledak. Sepanjang perjalanan pulang, saya tertawa di atas motor.
Sendirian, malam-malam, di jalan sepi.

Kalau Hazrat Inayat Khan hidup hari ini dan dengar lagu-lagu di FYP, mungkin ia akan menulis: “Barang siapa memahami misteri autotune, ia memahami misteri dunia digital.”

Jika riset akademik masih jauh dari masyarakat, biarkan karya artistik yang lahir dari riset itu menjadi jembatannya.

Melalui program Road to Lingkar Seni Wallacea 2025, para seniman, peneliti, dan pegiat komunitas dari berbagai daerah di Indonesia Timur berkumpul dalam ruang diskusi daring untuk menelusuri hubungan antara ekologi, spiritualitas, dan produksi pengetahuan lokal.

Tugas kami bukan meniru viralitas orang lain, tapi mencari cara penyebaran yang sesuai dengan diri kami sendiri.

Padahal, kalau mereka ingin band-nya punya visi yang jelas, obrolan macam begini justru penting: soal manajemen, jejaring, dan profesionalitas.

Bagaimana mungkin kita tinggal di satu provinsi yang sama, tapi lagu satu sama lain saja tak kita kenal? Padahal, dari sanalah harmoni seharusnya berawal.

...dan saya tersenyum kecil. Mungkin memang benar, pendidikan yang baik selalu lahir dari hati yang penuh kasih.

Saya membayangkan sebuah negeri di mana setiap penanaman pohon diiringi lagu. Lagu yang mengandung harapan dan doa — agar pohon tumbuh, air kembali jernih, dan bumi bergetar dalam nada yang selaras.