Sebuah pesan masuk: “Yuga, jadi narasumber pelatihan musik di Desa Gelangsar, ya?”
Sederhana. Biasa. Tapi entah kenapa, rasanya seperti panggilan pulang. Bukan pulang dalam arti menenteng kopra dan oleh-oleh, tapi pulang pada sesuatu yang pernah membuat dada saya hangat: Genggong, musik tua yang bunyinya seperti menguap tapi sakral; dan tentu saja Gelangsar, desa yang masih bertahan membawa tradisi ketika tempat lain sibuk mengejar “konten estetik”.
Tahun 2021, saya pernah datang ke sini. Merekam Genggong. Mengabadikannya di YouTube. Hasilnya mungkin hanya ditonton segelintir orang yang tersesat di algoritma, tapi buat saya itu arsip yang tak bisa diulang. Dari sekian banyak desa yang saya telusuri, tinggal Bayan dan Gelangsar yang benar-benar menjaga napas tua itu. Jadi ketika undangan dari Dinas Pariwisata Lombok Barat itu datang di tahun 2025, rasanya bukan dinas yang memanggil saya, tapi Genggong itu sendiri, mengetuk ingatan sambil bilang:
“Hoi, pulang dulu sebentar.”
Membaca Ulang Jejak: Lombok Barat dan Saya
Ini bukan panggilan pertama. Tahun lalu saya juga diminta mengisi pelatihan musik di Kebon Ayu, Gerung. Bersama seorang pemusik tradisi, kami memfasilitasi eksperimen musik anak-anak muda sana. Dan seperti biasa, saya belajar satu hal besar: anak muda Lombok tidak kurang kreativitas yang kurang adalah orang yang percaya pada mereka.
Jejak saya dengan Lombok Barat sebenarnya cukup panjang. Jadi juri FLS2N bertahun-tahun, ikut menyusun PPKD 2018, merekam Pepaosan, menjadi tim perumus Gerakan Seniman Masuk Sekolah, sampai membuat dokumenter Perang Topat dan Tari Gandrung yang akhirnya disahkan menjadi Warisan Budaya Takbenda.
Saya pernah keliling banyak daerah untuk urusan kebudayaan. Lombok Timur. Lombok Utara. Mataram. Tapi rasanya berbeda ketika kembali ke Lombok Barat. Daerah ini adalah “rumah” saya dalam perjalanan berkesenian. Jadi ketika pemerintah daerah sendiri bilang, “Kami percaya sama kamu,” rasanya seperti mendapat angin segar di tengah dunia seni yang sering dianggap cuma “hobi diberi amplop kecil”.
Saya Tidak Pulang Sendirian
Dan satu hal yang tidak ingin saya lewatkan: saya bukan satu-satunya narasumber pelatihan itu.
Saya menggandeng Beby, seorang praktisi musik sekaligus personel band paling populer di Lombok: Amtenar.
Keputusan mengajak Beby bukan hanya soal kompetensi. Tapi karena saya tahu, kehadirannya bisa membakar semangat anak-anak muda Gelangsar. Dan benar saja begitu namanya disebut, aura ruangan langsung beda.

Siapa orang Lombok yang tidak tahu Amtenar?
Para pemuda Gelangsar hafal seluruh bait Stay With Your Love dan Lombok I Love You. Mereka tumbuh bersama lagu-lagunya. Dan kini, idola mereka berdiri tepat di depan mereka—bukan sebagai bintang panggung, tapi sebagai pelatih, mentor, kawan belajar.
Melihat wajah-wajah yang berbinar itu, saya merasa:
“Oke, ini akan jadi pelatihan yang tidak biasa.”
Gelangsar dan Kekhawatiran Dua Hari
Jujur, saya sempat panik. Dua hari untuk pelatihan musik? Dua hari untuk membangun karya dari nol? Dua hari mengolah tradisi setua Genggong?
Batin saya protes:
“Serius nih?”

Saya membayangkan skenario paling buruk: para pemuda belum pernah pegang alat musik, tune gitar saja makan waktu setengah pelatihan. Tapi ternyata dugaan saya meleset jauh.
Begitu bertemu, saya tahu: anak-anak ini cepat tangkap, ramah, dan punya musikalitas yang rapi. Bahkan di bawah tekanan waktu, mereka tidak menggigil, mereka justru excited.
Kami mulai menulis lirik tentang Gelangsar. Saya minta kertas, pulpen, dan imajinasi. Sepuluh kepala menyumbang diksi, dan hanya dalam setengah jam sebuah lagu muncul seperti kelahiran yang mulus. Ada hook “ea ea eo” yang lahir begitu saja, entah suara kambing bahagia atau tanda bahwa alam sedang ikut nimbrung.

Saya menahan tawa.
“Anak-anak ini punya rasa. Tinggal diarahkan sedikit.”
Mereka jamming. Reggae. Ska. Sore itu rasanya seperti melihat angin sendiri bergoyang. Lalu terpikir satu pertanyaan besar:
“Gimana caranya Genggong masuk ke sini?”
Hari Kedua: Semangat yang Menular
Pagi hari kedua, saya belum sempat duduk, mereka sudah siap tempur. Instrumen menyala. Energi pecah. Beby masuk dan langsung diserbu pertanyaan. “Bang, yang ini gimana?” “Bang, cocok nggak kalau begini?” Ia menjawab sambil tertawa lebar, betul-betul guru yang turun dari panggung, bukan dewa panggung yang menjaga jarak.
Di situ saya sadar: kehadiran Beby bukan hanya memotivasi. Ia memberi keberanian.
Keberanian yang sebelumnya belum mereka temukan.
Tantangan utama hari itu adalah mempertemukan dua dunia:
Genggong para sepuh yang ritmenya pakem dan tak bisa didesak,
versus
anak-anak band modern yang fleksibel dan penuh improvisasi.
Saya bilang, “Kalian yang menyesuaikan. Tradisi bukan yang mengikuti kalian.”
Dan mereka mau.
Mereka bisa.
Mereka hormat.

Para sepuh pun perlahan membuka ruang. Ada satu momen indah ketika dua generasi saling mendengarkan dalam diam. Musik bekerja seperti jembatan yang dibangun tanpa semen, tapi kokoh.
Lalu listrik mati.
Kami tertawa. Merokok. Minum kopi. Beberapa menit kemudian kepala desa dan Babinsa masuk sambil mendorong genset. “Gas! Lanjutkan!”
Sorak pun pecah.

Kepala desanya aktif sekali, bahkan bilang ingin meneliti Genggong dari perspektif komunikasi budaya. Saya spontan menimpali:
“Pak, ayo kita ajukan jadi Warisan Budaya Takbenda. Urus dokumentasi, hak cipta, semuanya.”
Beliau mengangguk, matanya berbinar.
Beginilah, pikir saya, seharusnya desa, pemerintah, dan pelaku budaya bergerak: tidak saling curiga, tapi saling menguatkan.
Musik sebagai Ruang Persatuan
Dua hari ini tidak hanya melahirkan satu lagu untuk Gelangsar. Ia juga menumbuhkan keberanian baru bagi pemudanya, perjumpaan hangat antara generasi tua dan muda, kolaborasi antara tradisi dan modernitas, serta hadirnya pemerintah desa yang betul-betul peduli. Dari Dinas Pariwisata pun terasa sebuah pengakuan bahwa musik desa bukan sekadar pelengkap acara, tapi masa depan yang bisa digarap serius.
Banyak desa menaruh musik di pojok perencanaan, dekat tempat sampah, jauh dari ruang keputusan. Tapi Gelangsar membalikkan cara pandang itu. Ia menjadikan musik ruang pemberdayaan, ruang penyembuhan, ruang belajar, sekaligus ruang pulang.
Dan buat saya pribadi, Gelangsar mengingatkan bahwa musik bukan hanya soal nada.
Ia adalah bahasa desa berbicara pada dirinya sendiri.
Bahasa tradisi yang menua tapi belum rela mati.
Bahasa pemuda mencari arah pulang.
Di tengah semua itu, ada Genggong, bergetar pelan, tapi penuh makna.
Di Gelangsar, Semua Rasa Menjadi Benar
Saat pulang, lagu yang kami buat terus mantul di kepala saya. Lirik tentang udara segar dan rasa yang benar itu ternyata bukan sekadar gimmick. Itu persis apa yang kami rasakan: desa kecil dengan kebanggaan besar; pemuda yang mencintai seni; tradisi tua yang masih bernapas; dan pemerintah desa yang tidak cuma hadir untuk foto, tapi betul-betul bekerja.
Saya pulang dengan kesadaran bahwa Gelangsar bukan hanya tempat saya mengajar.
Ia adalah tempat yang mengajari saya kembali bagaimana merawat suara-suara kecil yang sering kita abaikan.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti, getar Genggong dari Gelangsar akan melintas batas desa, bergerak ke Lombok Barat, NTB, bahkan Indonesia.
Karena suara yang dirawat dengan cinta selalu menemukan jalannya.