Yagna Semesta Initiative

Menelusuri Pengetahuan dan Seni dari Timur: Road to Lingkar Seni Wallacea 2025 Resmi Dimulai

Melalui program Road to Lingkar Seni Wallacea 2025, para seniman, peneliti, dan pegiat komunitas dari berbagai daerah di Indonesia Timur berkumpul dalam ruang diskusi daring untuk menelusuri hubungan antara ekologi, spiritualitas, dan produksi pengetahuan lokal.

Mataram, Oktober 2025. Kawasan Wallacea kembali bergema dengan semangat seni, pengetahuan, dan gerakan budaya dari Timur. Melalui program Road to Lingkar Seni Wallacea 2025, para seniman, peneliti, dan pegiat komunitas dari berbagai daerah di Indonesia Timur berkumpul dalam ruang diskusi daring untuk menelusuri hubungan antara ekologi, spiritualitas, dan produksi pengetahuan lokal.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda pra-simposium menuju Lingkar Seni Wallacea 2025 (LSW 2025) forum budaya lintas wilayah yang berfokus pada praktik dekolonialisasi seni dan pengetahuan di kawasan Wallacea, yang meliputi Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua.

Rangkaian diskusi daring ini akan menghadirkan tujuh tema besar yang membedah kompleksitas sosial-budaya Wallacea, mulai dari tanah dan air, desentralisasi ruang seni, politik festival, rupa dan representasi visual, riset artistik, peran tubuh dan perempuan, hingga gerakan budaya di kawasan Timur. Setiap tema dirancang sebagai ruang lintas pengetahuan yang mempertemukan seniman, kurator, akademisi, aktivis, dan komunitas lokal dalam dialog yang terbuka dan partisipatif.

Membaca Wallacea sebagai Ruang Hidup

Diskusi perdana bertajuk “Tanah dan Air yang Bergerak: Dekolonialisasi Seni dan Produksi Pengetahuan Wallacea” akan digelar pada Selasa, 28 Oktober 2025 pukul 20.00 WITA melalui Google Meet dan YouTube Live Stream.
Sesi ini menghadirkan Dr. Ahmad Fauzan (Universitas Nahdlatul Ulama NTB), Venansius Haryanto, Ph.D. (peneliti asal Labuan Bajo), dan Berto Tukan (penulis dan peneliti lepas dari Larantuka) sebagai narasumber, dengan Mashur Khalid sebagai moderator.

Tema “Tanah dan Air yang Bergerak” mengajak publik untuk membaca kembali Wallacea bukan hanya sebagai ruang biogeografis, tetapi sebagai medan pengetahuan yang hidup, tempat seni, adat, dan spiritualitas berkelindan menjaga keseimbangan ekologis.
“Di sini kita belajar bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi, tetapi juga sebagai alat penyembuhan, pemulihan, dan perlawanan terhadap cara pandang yang menindas,” ujar salah satu kurator kegiatan dalam pengantar diskusi.

Seni, Tubuh, dan Ekologi Pengetahuan

Rangkaian Road to LSW 2025 berikutnya akan mengangkat tema-tema penting lain seperti “Desentralisasi Ruang, Distribusi, dan Produksi Seni”, “Rame-rame Festival-Festival Rame-rame: Untuk Apa dan Siapa?”, serta “Rupa Wallacea: Politik Melihat dan Dekolonisasi Visual dari Timur”.
Dua diskusi terakhir: “Tubuh, Pengetahuan, dan Ingatan yang Tidak Dikenali” serta “Gelagat Gerakan Budaya Timur: Antara Romantisisme dan Politik Pengetahuan” akan menjadi penutup yang reflektif, menggali peran tubuh perempuan, ingatan ekologis, dan gerakan budaya kontemporer di kawasan timur Indonesia.

Seluruh seri diskusi ini terbuka untuk umum, dan dapat diikuti melalui kanal resmi Lingkar Seni Wallacea. Kegiatan dilaksanakan secara daring agar memperluas akses bagi publik, komunitas, dan mahasiswa yang ingin belajar tentang ekologi pengetahuan, praktik artistik partisipatif, serta politik budaya dari perspektif Timur.

Menuju Forum Budaya Wallacea 2025

Rangkaian diskusi ini merupakan pemantik menuju Lingkar Seni Wallacea 2025, yang akan digelar secara luring pada 16–23 November 2025 di Lombok Barat dengan tema besar “Tembuku: Ruang Pertemuan Air”.
Forum tersebut akan mempertemukan puluhan seniman, budayawan, akademisi, dan pegiat lingkungan dari berbagai daerah untuk merumuskan arah baru kebudayaan Wallacea yang berakar pada tanah, air, dan pengetahuan lokal.

Melalui inisiatif ini, LSW berupaya menegaskan bahwa kebudayaan dari Timur Indonesia bukan sekadar “pinggiran”, tetapi pusat pengetahuan baru, tempat seni menjadi ruang belajar, berdaya, dan berdialog dengan alam.


Jadwal Diskusi Perdana
Tanah dan Air yang Bergerak: Dekolonialisasi Seni dan Produksi Pengetahuan Wallacea
Selasa, 28 Oktober 2025
20.00 WITA – selesai
Narasumber: Berto Tukan, Dr. Ahmad Fauzan, Venansius Haryanto
Moderator: Mashur Khalid
Google Meet: https://meet.google.com/res-thtc-xnk
YouTube Live: Lingkar Seni Wallacea


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *