Beberapa hari sebelum tanggal 7 November 2025, saya menerima pesan undangan untuk menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bertajuk “Musik & Audio: Suara yang Bercerita.” Acara itu digelar oleh komunitas Kampus Indie, bertempat di Artcoffeelago Common Labora, sebuah kafe sederhana yang separuh ruangnya tampak seperti studio, separuh lagi seperti ruang tamu mahasiswa yang belum sempat dibereskan. Sejak menerima undangan itu, saya mulai sibuk dengan ritual khas menjelang tampil di forum semacam ini: membuka buka-buku yang sudah lama berdebu, berselancar mencari referensi di internet, lalu berakhir dengan tab-tab tak jelas yang lebih banyak berisi video kucing dan tutorial mixing. Saya mencoba memetakan apa yang sebaiknya dibahas, tapi makin dipikir, kepala saya justru makin penuh dengan suara-suara. Bukan suara inspiratif, tapi semacam dengungan white noise dari rasa bingung. Sampai akhirnya, seperti biasa, saya menyerah. Dan ketika semua teori terasa mentok, saya malah lebih banyak melamun.

Jadi kalau dilamunin, dunia ini sebenarnya studio besar yang berisi miliaran track audio yang saling tumpang tindih. Ada yang treblenya kebanyakan, ada yang bass-nya bocor, ada juga yang clipping tapi tetap pede upload ke Spotify. Kita semua hidup di tengah mixing project semesta dan Tuhan mungkin sedang duduk di kursi producer, pakai headphone planar, sambil mikir: “hmm, track manusia ini butuh EQ sedikit.”
Sebelum bisa ngomong, kita lebih dulu belajar mendengar. Sejak dalam kandungan, kita sudah akrab dengan soundtrack paling primal: detak jantung ibu. Mungkin karena itu setiap ketukan drum terasa begitu dekat dengan tubuh kita, semacam nostalgia biologis. Setiap beat seperti mengingatkan kita pada rumah pertama: rahim yang berdetak.
Hazrat Inayat Khan, seorang sufi sekaligus musisi (karena siapa lagi yang bisa serius membicarakan Tuhan sambil main sitar), pernah bilang:
“The knower of the mystery of sound knows the mystery of the whole universe.”
Barang siapa memahami misteri suara, ia memahami misteri semesta.
Kalimat itu dulu saya baca waktu masih mahasiswa seni musik. Dengan gegabah saya catat di binder kuliah teori dasar musik, bukan karena paham, tapi karena terdengar keren. Biar dosen nggak mengira saya cuma anak band yang kebanyakan delay.
Tapi makin lama saya bergelut di dunia musik dan audio, baru terasa betapa benar kata Khan. Dunia memang diciptakan lewat bunyi: kun fayakun, kata kitab, dan saya membayangkan itu seperti bunyi “KUN FAYAKUN”: getaran pertama semesta, suara paling purba yang mungkin masih bergema di frekuensi yang tak bisa kita dengar.
Satu nada biola bisa bikin orang menangis tanpa tahu kenapa. Satu ketukan kick drum bisa bikin orang lompat tanpa aba-aba. Musik bekerja langsung ke sistem saraf; tidak lewat rapat koordinasi, tidak minta izin ke logika. Ia langsung sambar ke dalam tubuh, bikin jantung ikut bergetar, pikiran mengawang, kenangan bangkit tanpa diundang.
Itulah kenapa saya percaya: musik bukan sekadar seni bunyi, tapi cara jiwa berbicara tanpa bahasa.
Kalau bicara soal bunyi, kita pasti ketemu istilah ajaib: warna suara. Dalam dunia audio, kita menyebutnya timbre. Tapi sesungguhnya, warna itu lebih dekat ke rasa.
Suara seruling, misalnya, bukan cuma lembut, tapi juga melankolis. Seolah ada seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu, lalu meniup udara kesedihannya lewat lubang kecil bambu. Sebaliknya, drum dan perkusi terasa vital, penuh tenaga, seperti pagi hari yang masih hangat dan belum tahu akan diisi masalah apa.
Saya sering merasa para sound designer itu seperti pelukis, hanya saja kanvas mereka adalah udara. Mereka mencampur frekuensi, mengatur ruang gema, menyeimbangkan resonansi demi menciptakan lanskap emosi. Satu reverb yang terlalu panjang bisa bikin adegan ceria jadi upacara kematian. Satu snare yang terlalu keras bisa bikin adegan sedih terdengar kayak konser marching band.
Saya pernah bikin musik untuk film pendek. Adegan pembukanya cuma seorang bapak duduk sendirian di beranda. Gambar diam, tapi kalau saya beri musik ambient minor, langsung terasa kesepian. Ganti ke gitar akustik dengan progresi mayor, suasana berubah jadi damai dan penuh penerimaan. Tambahkan drone frekuensi rendah seperti kipas rusak jadinya seperti menunggu kiamat kecil.
Dari situ saya sadar: musik dalam film bukan pendukung gambar. Ia penafsir gambar.
Hans Zimmer pernah bilang, tugas komponis adalah membuat penonton merasakan apa yang tak bisa diceritakan oleh gambar. Dan benar saja, musik itu seperti narator tak kasatmata — yang menentukan apakah patah hati itu terasa tragis, absurd, atau justru romantis.
Masalahnya, di zaman algoritma ini, kemampuan kita untuk benar-benar mendengar sedang menurun. Kita lebih sering memutar musik ketimbang mendengarkan musik. Ada perbedaan besar di situ.
Mendengarkan butuh kehadiran.
Memutar cuma butuh kuota.
Kita hidup di era di mana suara berubah jadi komoditas, bukan lagi pengalaman. Platform digital berlomba menyingkat perhatian kita jadi 15 detik, lalu menyebutnya content. Padahal suara itu sejatinya kontemplasi. Ia perlu ruang untuk diam. Dan sering kali, justru dalam diam itulah musik paling keras berbicara.
Saya teringat lagi ucapan Hazrat Inayat Khan:
“The voice of God is heard in the voice of the world.”
Suara Tuhan terdengar di suara dunia.
Kalau begitu, barangkali tugas kita sebagai musisi, produser, atau bahkan pendengar, adalah menjaga cara kita mendengar dunia. Bukan cuma yang keras, tapi juga yang halus: desir angin di pohon, langkah kaki di gang sepi, napas sendiri ketika semua gadget dimatikan.
Musik, buat saya, adalah jalan pulang.
Ia mengingatkan bahwa kita cuma serpihan frekuensi yang sempat diberi kesempatan untuk beresonansi di bumi.
Dan kalau Tuhan memang produser semesta, semoga Ia sedang tersenyum mendengarkan mixdown hidup kita, meski kadang masih overcompressed, kadang fals, tapi setidaknya… jujur.
Sekarang, orang lebih panik kalau speaker-nya mati ketimbang kalau hatinya hening. Dunia ini seperti tak tahan dengan keheningan. Semua ingin bicara, tapi jarang yang mau mendengar.
Padahal, musik yang baik selalu lahir dari diam yang sabar. Tak ada komposisi besar yang ditulis sambil berisik, bahkan Beethoven pun menulis dalam sunyi yang menyeluruh.
Kita hidup di zaman aneh: semua orang bisa jadi musisi asal punya laptop dan plugin bajakan. Tapi tak semua mau jadi pendengar yang baik. Semua berlomba bikin beat, tapi lupa mendengar napas di antara ketukan. Semua ingin viral, tapi tak ada yang ingin tulus.
Musik kehilangan ruang sakralnya karena kita menjadikannya template TikTok, bukan lagi doa.
Kalau Hazrat Inayat Khan hidup hari ini dan dengar lagu-lagu di FYP, mungkin ia akan menulis ulang kutipannya:
“Barang siapa memahami misteri autotune, ia memahami misteri dunia digital.”
Lucu, tapi juga tragis. Musik yang dulu diciptakan untuk menyembuhkan, kini malah bikin orang kehilangan fokus lebih cepat daripada buffering YouTube.
Tapi begitulah hidup, bahkan bunyi paling indah pun bisa berubah jadi noise kalau dimainkan tanpa rasa. Dan di tengah kebisingan itu, tugas kita cuma satu: tetap mendengar. Karena dari mendengar, lahir kepekaan; dari kepekaan, lahir empati; dan dari empati, lahirlah harmoni, baik dalam musik maupun kehidupan.
Jadi, kalau suatu hari kamu merasa kehilangan arah, coba diam sejenak.
Matikan notifikasi, lepaskan earphone, biarkan dunia bernapas tanpa filter audio. Dengarkan suara kipas, hujan di genting, atau detak jantungmu sendiri.
Siapa tahu di situ kamu menemukan lagi alasan kenapa dulu mencintai musik: bukan karena ingin didengar, tapi karena ingin memahami.
Dan ketika makna itu kembali, mungkin kamu akan sadar, kita semua ini cuma gema kecil dari orkestra semesta yang tak pernah berhenti bermain.
Tinggal pilih: mau ikut bernyanyi, atau cuma bikin noise.

Kurang lebih begitulah saya memaparkan hasil dari membaca beberapa potongan buku yang sempat saya buka, hasil selancar internet yang lebih sering nyangkut di artikel-artikel pinggiran, dan kalau jujur diakui, persentase terbesar berasal dari lamunan yang saya rangkai jadi kalimat agak meyakinkan. Semua itu saya ceritakan malam itu di Artcoffeelago Common Labora, di hadapan belasan orang yang duduk santai sambil menyesap kopi dan mengangguk seolah paham. Suasananya hangat, tapi juga sedikit absurd: saya bicara tentang “Suara yang Bercerita”, padahal yang paling banyak bercerita justru adalah dengung kipas, derit kursi, dan tawa kecil di pojok ruangan. Namun mungkin, justru di situlah letak maknanya bahwa setiap suara, sekecil apa pun, selalu menyimpan cerita yang menunggu untuk didengar.
foto: Jatisvara Mahardika