Saya meyakini bahwa musik bukan hanya milik manusia. Harmoni hidup di mana-mana — di batu yang bergetar pelan saat terinjak, batang pohon yang bergesekan dengan angin, udara yang berdesir, bahkan tetes air yang jatuh dari daun. Musik adalah denyut yang membuat semesta berdetak. Dahulu itu hanya intuisi, kini ia menemukan pijakan ilmiah lewat riset tentang hubungan antara bunyi dan pertumbuhan tanaman.
Ada sesuatu yang purba sekaligus ilmiah di sana — sesuatu yang sudah lama dipahami masyarakat adat jauh sebelum istilah “bioakustik” dikenal. Mereka menyanyi bukan sekadar untuk menghibur, melainkan untuk berkomunikasi dengan alam.
Nyanyian di Mata Air
Beberapa tahun lalu, saya menghadiri ritual pembersihan mata air dan penanaman pohon di Pringgabaya, Lombok Timur. Masyarakat menyebutnya Nyembulaq — doa bersama sebelum membersihkan sumber air dan menanam pohon di sekitarnya. Tidak ada alat musik modern di sana. Hanya suara manusia bersahutan, melantunkan hikayat dan zikir dalam bentuk tembang pelan namun berdaya. Suara mereka berpadu dengan gemericik air dan desir angin dari hutan. Tembang menjadi penanda ritmis bagi gerak kolektif manusia dan alam — saat cangkul menyentuh tanah, bibit ditanam, doa dilangitkan. Bagi masyarakat Pringgabaya, melantunkan tembang bukan hiburan, melainkan cara berkomunikasi dengan bumi dan air.
Dari Tumpek Uduh hingga Nitip Tangkal
Tradisi seperti ini hidup di banyak tempat. Di Bali ada Tumpek Uduh, hari untuk memuliakan tumbuhan. Para petani menyiapkan sesajen di bawah pohon kelapa, pisang, atau mangga, disertai doa dan nyanyian lembut memohon agar mereka tumbuh subur. Bernyanyi di hadapan pohon bukan romantisasi, tapi bentuk penghormatan terhadap kesadaran hidup di dalamnya.
Di Kalimantan Timur, masyarakat Dayak Bahau dan Modang memiliki ritual Hudoq seusai menanam padi. Para penari bertopeng roh pelindung tanaman, menari dan bernyanyi di ladang untuk mengusir hama dan mengundang kesuburan.
Sebagai orang Sunda, saya mengenal Nyusur Bumi Nitip Tangkal — ritual pemuliaan pohon. Di sana, kidung dan jangjawokan dilantunkan agar pohon tumbuh subur dan membawa keberkahan.
Semua praktik itu berangkat dari keyakinan yang sama: alam memiliki roh, dan bunyi adalah bahasa untuk berbicara dengannya.
Sains yang Menyusul Kearifan
Sebagai orang yang bergelut pada bidang musik, saya melihat ritual-ritual itu bukan hanya budaya, tetapi juga pengalaman sonik. Frekuensi dan resonansi adalah jembatan komunikasi antara manusia dan lingkungan. Menariknya, sains kini meneguhkan apa yang dulu dianggap mistik.
Penelitian Royal Horticultural Society (2010) memperdengarkan suara manusia pada tanaman tomat. Tanaman yang mendengar suara perempuan tumbuh rata-rata 1,6 cm lebih tinggi. Alasannya bukan soal gender, melainkan frekuensi: suara perempuan berada di kisaran 165–255 Hz, laki-laki 85–155 Hz. Frekuensi yang lebih tinggi menstimulasi sel tanaman.
Penelitian di Korea Selatan menemukan bahwa frekuensi 125–250 Hz meningkatkan aktivitas gen penting dalam fotosintesis. Getaran stabil mempercepat pembelahan sel, memperkuat sistem pertahanan tanaman, bahkan memperbaiki metabolisme.
Rentang frekuensi itu setara dengan nada rendah gitar atau bariton manusia. Jika hutan mendengarkan nada-nada itu setiap hari, mungkin daun tumbuh lebih hijau, batang lebih tegak, dan bunga lebih lama mekar.
Teori resonansi menjelaskan bahwa setiap benda memiliki getaran alami. Bila disentuh oleh frekuensi yang sama, ia beresonansi dan menguat. Dalam skala ekologis, harmoni bunyi dengan alam bukan metafora, melainkan realitas biofisik.
Air yang Mendengar, Tanah yang Menyanyi
Sulit untuk tidak mengingat Masaru Emoto — peneliti Jepang yang meneliti kristal air. Ia menemukan bahwa molekul air membentuk struktur kristal berbeda tergantung pada bunyi dan energi emosional yang diterimanya. Air yang mendengar kata cinta membentuk kristal simetris indah, sementara air yang mendengar kebencian membentuk kristal kacau.
Eksperimennya memang dikritik, tetapi gagasan bahwa air adalah medium resonansi tetap menarik. Tubuh manusia dan tumbuhan sebagian besar terdiri dari air. Jika air bisa merespons bunyi, maka nyanyian manusia — terutama dalam ritual penanaman — bisa memengaruhi cairan di tanah dan batang tanaman. Lagu dan doa mungkin menjadi “pupuk suara” yang menumbuhkan kehidupan itu sendiri.
Ekologi Frekuensi
Dalam riset lapangan di hutan sekitar mata air Mualan Benyer, Lombok Timur, saya mengukur frekuensi bunyi alam. Hasilnya berada di kisaran 100–600 Hz — rentang yang sama dengan suara manusia. Hutan, rupanya, memiliki orkestra alami yang selaras dengan tubuh kita.
Namun saat suara gergaji mesin terdengar, grafik melonjak ke 3000–5000 Hz. Bunyi itu memotong harmoni seperti pisau di tengah simfoni. Saya mengerti mengapa dalam banyak kepercayaan, hutan yang ditebang dianggap “murka”: bukan semata karena pohonnya tumbang, tapi karena ritme hidupnya dirusak.
Musik, dalam konteks ini, bukan hiburan, melainkan instrumen menjaga keseimbangan getaran dunia. Nyanyian saat menanam pohon adalah sistem ekologis yang kompleks — ia menenangkan manusia, menyelaraskan ritme kerja, dan menciptakan frekuensi yang menstimulasi pertumbuhan, jauh sebelum istilah bioacoustics dikenal.
Tumbuhan yang Mendengar
Bidang bioacoustics kini berkembang pesat. Dalam cabang plant acoustics, Monica Gagliano (2012) menemukan bahwa akar kacang polong dapat “mendengar” getaran 220 Hz — setara nada A rendah dalam musik — dan tumbuh condong ke arah sumber bunyi.
Gagliano dan Stefano Mancuso kemudian mengembangkan studi tentang kecerdasan tumbuhan dan kemampuan mereka merespons lingkungan secara sonik, yang mereka sebut silent listening — pendengaran diam-diam tumbuhan.
Sebagai pemusik, saya merasa temuan ini seperti pembenaran ilmiah atas intuisi lama: musik berbicara lewat getaran, bukan hanya untuk telinga, tetapi juga untuk tubuh dan ruang. Saat saya memainkan gitar di kebun bambu, saya sering merasakan batang-batang itu ikut bergetar pelan. Mungkin mereka sedang menjawab.
Ritual sebagai Teknologi Bunyi
Ritual nyanyian dalam penanaman pohon di Indonesia, jika dibaca dari kacamata eco-acoustics, adalah teknologi ekologis yang canggih. Ia mengajarkan bahwa menanam bukan hanya kerja fisik, tapi juga kerja akustik dan spiritual.
Ketika masyarakat adat bernyanyi saat menanam, mereka menanam dua hal sekaligus: bibit pohon dan getaran bunyi ke dalam tanah. Secara ilmiah, getaran itu mungkin memengaruhi dinamika mikroorganisme, tekanan air di sekitar akar, atau reaksi kimia yang mempercepat pertumbuhan. Tapi lebih dari itu, nyanyian menciptakan kesadaran kolektif — bahwa manusia dan alam tidak terpisah, melainkan beresonansi bersama.
Nada yang Menumbuhkan Dunia
Saya membayangkan sebuah negeri di mana setiap penanaman pohon diiringi lagu. Bukan seremoni formal dengan pidato pejabat, melainkan nyanyian yang lahir dari hati orang-orang yang menanamnya. Lagu yang mengandung harapan dan doa — agar pohon tumbuh, air kembali jernih, dan bumi bergetar dalam nada yang selaras.
Sebab mungkin benar: bumi tidak hanya butuh air dan cahaya, tapi juga nada-nada yang membuatnya tumbuh.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di akun Instagram @medyahara.