Calon Walikota Anti Brong

Dari ujung jalan besar, mula-mula hanya dengung. Lalu membesar. Lalu meledak. Braaang.....

Dari ujung jalan besar, mula-mula hanya dengung. Lalu membesar. Lalu meledak. Braaang.....

(Catatan seusai membaca buku Musik Protes: Kilas Sejarah dan Studi Pendengar – Soni Triantoro) Saya tidak membaca buku Musik Protes dalam sekali duduk. Buku itu saya cicil seperti orang mencicil ingatan, sedikit di sela menunggu, sedikit di antara perjalanan, sedikit…

Setelah satu gending selesai dimainkan, barulah gula rambut nenek diborong. Bahkan terdapat etika tak tertulis: gula tidak dijual sebelum musik selesai.

Bunyi Gula Gending bagi masyarakat Lombok pasti memanggil sesuatu—masa kecil, kampung halaman, atau wajah-wajah yang kini tinggal kenangan.

Pemajuan kebudayaan tidak harus elitis. Ia bisa tumbuh dari desa, dari obrolan warung, dari kerja gotong royong, dari musik, dari dapur, dari ritual yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Dari gerakan kecil itulah—gigs perumahan, panggung improvisasi, kolaborasi spontan—kurator Soundrenaline mulai memperhatikan

Membayangkan apa yang berkecamuk di kepala para peserta—anak-anak muda yang bisa meng-googling peraturan daerah kapan saja. Apa mereka tidak merasa sedang dibodohi?

Saya datang dengan harapan muncul rumusan tata kelola kebudayaan ke depan—sekecil apa pun. Tapi diskusi ini, seperti kebanyakan sarasehan budaya lainnya, bergeser menjadi ruang curhat tentang betapa ruwetnya urusan kebudayaan di tangan pemerintah.

Maka, di tengah semua cerita tentang seni rupa, sastra, musik, dan festival besar yang mulai menoleh ke Lombok, Insomnia Theater hadir sebagai satu bab kecil yang menegaskan bahwa Lombok bukan lagi pinggiran.

Mereka adalah gerakan kecil dari ujung timur yang hendak memperbaiki cara kota melihat musik dan cara musik melihat kota.