Emang Lagu Lombok Harus Banget Viral kayak Tabola Bale & Stecu Stecu?

Tugas kami bukan meniru viralitas orang lain, tapi mencari cara penyebaran yang sesuai dengan diri kami sendiri.

Tugas kami bukan meniru viralitas orang lain, tapi mencari cara penyebaran yang sesuai dengan diri kami sendiri.

Padahal, kalau mereka ingin band-nya punya visi yang jelas, obrolan macam begini justru penting: soal manajemen, jejaring, dan profesionalitas.

Bagaimana mungkin kita tinggal di satu provinsi yang sama, tapi lagu satu sama lain saja tak kita kenal? Padahal, dari sanalah harmoni seharusnya berawal.

...dan saya tersenyum kecil. Mungkin memang benar, pendidikan yang baik selalu lahir dari hati yang penuh kasih.

Saya membayangkan sebuah negeri di mana setiap penanaman pohon diiringi lagu. Lagu yang mengandung harapan dan doa — agar pohon tumbuh, air kembali jernih, dan bumi bergetar dalam nada yang selaras.

Menyuarakan keresahan sosial tak selalu harus lewat megafon di jalanan. Kadang cukup lewat gitar akustik, secangkir kopi, dan keberanian untuk menyusupkan kesadaran kecil ke ruang yang tak pernah menyangka sedang dikritik.

Konferensi Musik Indonesia 2025 (KMI 2025) membawa setumpuk rekomendasi tentang masa depan musik nasional, saya membacanya dengan perasaan campur aduk—antara kagum dan waswas

“Tanpa antropologi,” katanya, “pembangunan cuma menara beton di atas lumpur.”

Gelaran perdana program Lingkar Riset Rinjani akan membuka ruang belajar santai tentang bagaimana meneliti budaya dari sudut pandang antropologi. Bersama Ahmad Fauzan, dosen antropologi dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, kita akan berbincang tentang bagaimana kebudayaan bisa dibaca, dipahami, dan diteliti bukan hanya sebagai objek, tapi sebagai kehidupan yang terus bergerak.

Di tengah kehidupan kota yang tampak santai, ada banyak orang yang sedang diam-diam berjuang melawan kesunyian batinnya. Kota ini sedang belajar menjadi manusiawi. Dan barangkali, Kampus Indie hanyalah salah satu pintu kecil yang membuka arah ke sana.