Yagna Semesta Initiative

“Pak, Susah Banget Lagunya!” — Cerita dari Kelas Musik yang Melawan Lupa

Bagaimana mungkin kita tinggal di satu provinsi yang sama, tapi lagu satu sama lain saja tak kita kenal? Padahal, dari sanalah harmoni seharusnya berawal.

Saya masih ingat betul suasana kelas di awal-awal saya mengajar di Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini di Mataram. Udara siang itu lembap, kipas angin di langit-langit berputar malas seperti mahasiswa yang belum sarapan, dan tawa-tawa kecil mulai pecah di sudut ruangan. Seperti biasa, di antara obrolan dan guyonan, selalu ada sesi wajib: “menirukan logat teman.” Yang Sasak menirukan yang Bima, yang Bima menirukan yang Samawa, dan yang Samawa menirukan saya—dengan gaya Sunda yang katanya “lembek tapi lucu.”

Lucu sih, tapi kadang saya bingung, yang lucu itu logat saya atau ekspresi mereka pas menirukan?

Di balik tawa renyah itu, saya seperti mendengar sesuatu yang lain: semacam orkestra kecil dari bunyi-bunyi Nusantara. Semua tumpah ruah di ruang 7×9 meter yang kami sebut “kelas musik.” Kadang fals, kadang sinkron, tapi jujur.

Yang paling sering jadi bahan tawa waktu itu cuma satu huruf: “e.”

Bagi lidah saya yang lahir di tanah Sunda, huruf “e” itu jebakan fonetik paling kejam di dunia. Salah sedikit, bisa langsung ketahuan kampung halamanmu. Ada “e” yang datar, “é” yang ngelung, dan “ê” yang seperti senyum miring. Setiap kali mahasiswa saling menirukan pengucapan, saya sadar: di kelas ini, saya bukan cuma mengajar musik, tapi sedang menyaksikan pertemuan lidah-lidah yang membentuk Indonesia versi miniatur.

Dari situ kegelisahan saya tumbuh. Apakah perbedaan lidah ini cuma akan berhenti di tawa, atau bisa jadi pintu masuk buat mengenali siapa kita sebenarnya?

Pertanyaan itu muncul bersamaan dengan kenyataan lain yang agak bikin meringis: banyak mahasiswa saya lebih hafal lagu Fearless – LE SSERAFIM daripada “Inaq Tegining Amaq Teganang.” Irama dari Seoul mereka hafal luar kepala, tapi lagu dari kampung sebelah saja tak pernah mereka dengar.

Saya tidak menyalahkan siapa pun. Zaman memang sudah berlari, internet membuka jalan bagi semua orang untuk punya selera lintas benua. Tapi tetap saja, ada yang janggal ketika mahasiswa di Lombok bisa menirukan aksen Korea dengan fasih, tapi bingung kalau diminta menyanyikan lagu dari Sumbawa atau Bima.

Kadang saya iseng tanya di kelas, “Coba, siapa yang pernah dengar lagu dari suku lain di NTB?”
Hasilnya selalu sama: gelengan kepala serempak.
Yang Sasak tak kenal lagu Samawa, yang Samawa tak tahu lagu Bima, dan yang Bima malah pikir lagu Sasak itu serupa dengan lagu Bali.

Saya mendesah pelan. Bagaimana mungkin kita tinggal di satu provinsi yang sama, tapi lagu satu sama lain saja tak kita kenal? Padahal, dari sanalah harmoni seharusnya berawal. Bahasa dan tawa bisa jadi jembatan, tapi bisa juga jadi tembok halus yang memisahkan.

Saya lalu bertekad menjadikan kelas musik sebagai ruang kecil untuk meruntuhkan tembok itu.

Saya mulai bereksperimen. Kelas saya bagi jadi beberapa kelompok kecil. Campur semua: ada Sasak, Samawa, dan Mbojo dalam satu kelompok. Tugasnya sederhana tapi bikin dahi berkerut: “Cari, hafalkan, dan nyanyikan tiga lagu daerah dari tiga suku berbeda. Tapi ingat, pilih lagu yang bisa dinyanyikan anak-anak.”

Saya sengaja menambahkan syarat itu. Karena mereka calon guru PAUD, saya ingin mereka belajar bahwa mendidik anak bukan cuma soal huruf dan angka, tapi juga tentang menanamkan identitas. Saya ingin suatu hari nanti, anak-anak di Lombok bisa bernyanyi lagu Bima, anak-anak di Bima bisa menyanyikan lagu Sumbawa, dan anak-anak di Sumbawa ikut menyenandungkan lagu Sasak.

Kalau itu bisa terjadi, mungkin kita tak perlu lagi pidato panjang soal persatuan—karena harmoni sudah tumbuh dari telinga kecil mereka.

Tapi idealisme di kepala dosen sering kalah telak sama realita di lapangan. Minggu pertama presentasi: kacau. Gagal total. Sebagian mahasiswa datang tanpa hafal, sebagian lain menertawakan bahasa lagu yang terdengar “aneh.”

“Pak, susah banget bahasanya, melodinya juga lucu,” keluh mereka.

Saya cuma tersenyum, menahan geli. “Lagu Tabola Bale di TikTok kalian bisa hafal dalam semalam,” jawab saya, “berarti lagu ini juga bisa.”
Mereka tertawa, tapi saya tahu, di balik tawa itu ada rasa penasaran yang mulai tumbuh.

Dua minggu kemudian, suasananya berubah. Satu per satu kelompok maju, membawa daftar lagu yang mereka temukan: “Inaq Tegining Amaq Teganang” dari Lombok, “O Pio Ode Ode” dari Sumbawa, “Pasapu Monca” dari Bima, dan beberapa lainnya seperti “Kadal Nongaq,” “Poto Tano,” dan “Haju Jati.”

Mereka menyanyi dengan aksen patah-patah tapi tulus. Beberapa teman mencatat arti lirik, beberapa ikut bersenandung pelan. Kelas itu tiba-tiba terasa hidup. Ada tawa, ada kikuk, ada bunyi-bunyi baru yang mulai akrab.

Setelah semua tampil, saya ajak mereka berdiskusi. Mahasiswa dari Bima bilang, “Lagu-lagu Lombok banyak tentang sawah, sapi, dan bunga. Mungkin karena alamnya subur.”
Yang dari Sumbawa menimpali, “Kalau lagu Sumbawa banyak tentang kerinduan, mungkin karena banyak yang merantau.”
Yang dari Lombok menambahkan, “Lagu Bima itu seru, banyak nasihat dan perenungan tapi tetap enak didengar.”

Saya hanya tersenyum. Tak perlu membenarkan atau menyalahkan. Yang penting, mereka mulai membaca makna dari lagu-lagu itu. Mereka mulai sadar: setiap melodi adalah cerita tentang siapa kita.

Tawa soal perbedaan “e” di awal semester kini berganti menjadi senandung penghormatan pada setiap perbedaan bunyi itu.

Di akhir kelas, saya berkata ringan, “Minggu depan kita coba nyanyikan lagu dari luar NTB. Termasuk lagu wajib nasional. Tapi kita pilih yang jarang dinyanyikan, biar anak-anak nanti nggak bosan menyanyikan lagu upacara yang itu-itu saja.”

Mereka tertawa kecil, saya ikut tersenyum. Tapi di dalam hati, saya sedang berdoa.
Semoga dari ruang kelas kecil di Mataram ini, lahir generasi guru yang menanamkan cinta budaya lewat lagu-lagu sederhana. Sebab di tanah Sasambo ini, harmoni sejati bukan terletak pada keseragaman—melainkan pada kemampuan kita menyanyikan perbedaan, tanpa saling fals.

One comment

  1. Ucapan apresiasi kepada bapak yang sudah menulis cerpen ini sangat berkesan dan sangat keren. Sangat memotivasi agar kami bisa mengembangkan lagu-lagu daerah serta berbagai macam bahasa dari berbagai daerah. Biasanya kalau membaca sesuatu sangat berat, malas rasanya, dan bahkan cepet merasa bosan. Akan tetapi cerpen bapak yang dari awal pembukaannya saja sudah sangat membuat senang, menggelitik hati, dan sedikit senyum-senyum sendiri dari teks bapak hehehe. Banyak pelajaran yang bisa di ambil dari menteri-menteri bapak sampaikan, pokoknya seru dan tidak membosankan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *