Yagna Semesta Initiative

Antropologi Lesehan: Ilmu Keranjang Sampah yang Bikin Betah

“Tanpa antropologi,” katanya, “pembangunan cuma menara beton di atas lumpur.”

Kamis malam, 9 Oktober 2025.
Selepas Magrib, motor saya melaju ke kedai kopi Artcofeelago. Jangan bayangkan ini kedai kopi hipster yang jual flat white 50 ribuan per cangkir dan playlist-nya Bon Iver. Tempat ini lebih mirip ruang komunal: cat dindingnya sudah banyak terkelupas, karpet tipisnya mulai pudar, udara lembap, dan di sudut selalu ada aroma tembakau yang samar. Tapi di tempat beginilah biasanya ide-ide aneh lahir—dan kadang jadi sesuatu yang penting.

Malam itu saya sedang “berulah”.
Bersama beberapa kawan, kami bikin acara diskusi yang kami beri nama keren: Lingkar Riset Rinjani #1.
Temanya: “Ngopi Bareng Antropolog: Ngulik Cara Meneliti Budaya Tanpa Kaku.”

Judulnya memang terdengar agak akademik, tapi suasananya lebih mirip nongkrong bareng teman lama yang sedang curhat skripsi.

Sebagai penggagas, saya tentu grogi setengah mati. Takut nggak ada yang datang. Takut proyektor mati tertimbun debu. Takut tempe gorengnya keburu dingin. Takut acaranya kaku dan berakhir seperti seminar kampus yang pesertanya pura-pura nyatet padahal scroll TikTok.
Saya mikir, siapa juga yang mau mengorbankan Kamis malamnya buat ngomongin antropologi—ilmu yang sering disalahpahami, sering diabaikan, tapi diam-diam justru paling relevan di dunia yang makin absurd ini.

Motivasinya? Jujur aja: egois.
Saya ingin belajar antropologi biar nggak asal ngoceh soal budaya. Tapi di balik itu, ada ambisi lain: membangun jejaring peneliti budaya yang nggak cuma pandai ngomong, tapi juga bisa membaca realitas sosial dengan tajam.
Sebab bagi saya, karya seni dan gerakan sosial yang baik selalu lahir dari riset yang jujur.

Poster kegiatan diskusi Lingkar Riset Rinjani

Ketika Antropologi dan Kopi Tubruk Bertemu di Karpet Tipis

Begitu masuk ruang utama, suasananya langsung berubah.
Nyala lampu yang mulai redup menyoroti lingkaran lesehan di atas karpet legendaris—karpet yang sudah jadi saksi banyak diskusi absurd dari tahun ke tahun. Belasan orang duduk melingkar, membentuk oval yang tak sempurna. Di tengah, meja lipat kecil dengan laptop terbuka, kopi tubruk mengepul, aromanya bercampur asap rokok dari teras belakang.

Kamera untuk siaran langsung YouTube chanel Yagna Semesta Inisiatif berdiri siaga di tengah ruangan.
Nggak ada panggung, nggak ada podium tinggi, nggak ada MC formal.
Yang ada cuma suasana akrab—seperti ngobrol di ruang tamu teman kos yang kebanyakan buku dan kekurangan kursi.

Sekitar pukul delapan malam, sosok yang kami tunggu datang:
Dr. Ahmad Fauzan, S.Th., M.A., dosen antropologi dari Universitas Nahdlatul Ulama NTB. Kami memanggilnya Pak Ojan.

Saya sudah kenal beliau sejak 2015. Orangnya kalem, santai, tapi dalam. Bukan tipe akademisi yang sibuk menafsir Lévi-Strauss sambil mengernyit. Meski statusnya Wakil Rektor, malam itu ia datang lesehan bersila, disuguhi cuma tempe goreng, kopi, dan air putih.
Orang ini keren. Kalau ini bukan bentuk sejati humanity in practice, saya nggak tahu apa lagi. Seorang wakil rektor, menyandang gelar doktor, duduk lesehan dengan gestur yang begitu membumi.

Begitu waktu dan ruang saya serahkan sepenuhnya padanya, ia membuka dengan satu kalimat yang bikin semua kepala menoleh:

“Antropologi itu ilmu keranjang sampah,” ujarnya santai.
“Semuanya bisa masuk. Semua aspek kehidupan manusia bisa dikaji dengan kacamata antropologi.”

Kalimat itu seperti batu dilempar ke kolam sunyi—riaknya langsung terasa.
Beberapa peserta nyengir, beberapa mengernyit. Di pojok, aroma kopi tubruk seolah ikut menebal. Diskusi pun dimulai.

Real Fieldwork vs Ekspektasi: Saat Teori Bertemu Lumpur

Pak Ojan memulai dengan kisah lapangan.
Katanya, di kelas semua teori terdengar rapi. Tapi begitu turun ke lapangan, semuanya bubar jalan.

“Yang di buku itu ideal,” ujarnya sambil meregangkan kaki.
“Tapi di lapangan, apalagi di komunitas tertutup, strateginya harus lain.”

Ia bercerita pernah dua bulan di Pulau Sula, Maluku Utara. Untuk bisa mewawancarai narasumber penelitian, semua jalur dicoba: kepala desa, tokoh adat, pemuda lokal—gagal semua.
Sampai akhirnya ia pakai pendekatan tasawuf, beradaptasi dengan kultur masyarakat di sana, barulah pintu data mulai terbuka.

Peserta tertawa.
“Berarti jadi antropolog harus bisa jadi ustaz juga, ya, Pak?” celetuk seseorang.
Pak Ojan cuma nyengir. “Kalau perlu, iya.”

Lalu ia menjelaskan toolkit etnografi:
ada “buku monyet” buat catatan kilat di lapangan,
“buku kingkong” buat deskripsi tebal dan refleksi mendalam.
Dan yang paling penting: jangan pernah datang ke lapangan sambil pamer gelar.

“Kalau ketahuan kita peneliti,” katanya,
“malah susah dapat data. Lebih baik senyap, tapi datanya lengkap.”

Plot Twist Spiritual di Tengah Diskusi Metodologi

Sekitar sejam berlalu, suasana mendadak berubah.
Seorang peserta yang duduk di sudut ruangan tiba-tiba bersuara pelan, seperti dituntun kesadaran lain. Ia melantunkan ayat:

“Aku meliputi segala sesuatu… aku lebih dekat dari urat leher…”

Ruangan mendadak hening. Semua orang terkesiap kaget, pun dengan saya. Ini di luar rencana, tak ada dalam rundown acara. Si peserta itu mulai berorasi dengan teatrikal diiringi kawannya yang bermain gitar.
Suasana yang tadinya santai sambil menyeruput kopi kini terdiam.
Entah kenapa, momen itu terasa sakral.

Pak Ojan tetap tenang. Begitu pertunjukan dadakan itu selesai:

“Nah, ini contoh bagaimana spiritualitas dan ritual juga bagian dari kajian budaya,” ujarnya.
“Ini juga antropologi.”

Baru saat itu kami paham: “keranjang sampah” yang ia maksud bukan hinaan, tapi pujian.
Antropologi bisa menampung semua yang manusiawi—dari ritual sampai cinta, dari ekonomi sampai rokok yang dibakar di tengah diskusi.

Antropologi Masa Lalu vs Masa Depan

Seseorang nyeletuk, “Antropologi itu kan ngomongin masa lalu terus. Ilmu gagal, gitu?”

Pak Ojan tertawa kecil.

“Eh, tunggu. Steve Jobs dan Elon Musk itu juga antropolog, lho.
Mereka bisa memprediksi perilaku manusia masa depan, makanya produk mereka laku.”

Ruangan langsung riuh dengan tawa dan “ooooh” panjang.

Ia lalu menyinggung Van Baal, antropolog Belanda yang menciptakan istilah Wetu Telu di Bayan tahun 1940.
Interpretasinya—bahwa masyarakat Bayan hanya salat tiga kali sehari—menyebar luas sampai hari ini.
Padahal makna aslinya jauh lebih dalam: tiga fase kehidupan, tiga unsur pembentuk alam.

Begitulah etnografi: bisa jadi alat pemahaman, tapi juga alat kekuasaan.

Antropologi dan Kebijakan: Antara Lambat dan Terlambat

Menjelang akhir sesi, seorang peserta bertanya dengan nada nyolot:
“Kenapa hasil riset antropologi jarang jadi bahan kebijakan publik?”

Pak Ojan menjawab tanpa tedeng aling-aling.
Menurutnya, birokrasi antropologi itu terlalu sabar. Riset butuh waktu panjang, sementara proyek pembangunan dikejar target politik.
Namun justru di situlah fungsi antropologi: jadi alarm moral dan kultural agar kebijakan tak nyasar.

“Tanpa antropologi,” katanya,
“pembangunan cuma menara beton di atas lumpur.”

Ia lalu menambahkan,

“Sayangnya, antropolog hampir tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan kebijakan publik, apalagi hukum Indonesia.
Terakhir mungkin Koentjaraningrat yang benar-benar didengar. Selebihnya? Ya, nggak ada.”

Dua Jam yang Terasa 30 Menit

Dua jam berlalu tanpa terasa.
Diskusi yang disiarkan live di YouTube itu berakhir tanpa kesimpulan formal.
Tapi semua yang hadir tahu, mereka baru saja mengalami sesuatu yang langka: belajar tanpa tekanan, berpikir tanpa birokrasi.

Saya menutup acara sambil duduk bersila di tengah lingkaran:

“Program ini akan reguler, sebulan sekali. Formatnya tetap: lesehan santai, tapi dalam.
Dan tentu saja—live di YouTube channel Yagna Semesta Initiative.”

Beberapa peserta tetap duduk setelah kamera mati. Ngobrol kecil, tukar kontak, menulis refleksi di buku saku.
Bukan catatan akademik, tapi semacam kesadaran baru—jenis pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman, bukan dari PowerPoint.

Kenapa Kita Tak Perlu Grogi

Malam itu saya pulang dengan perasaan ringan.
Antropologi ternyata bukan ilmu yang bikin jarak, tapi justru ilmu yang membuat kita lebih manusia.
Ia adalah “keranjang sampah” dalam arti terbaiknya—tempat semua pengalaman, spiritualitas, dan percakapan kecil bisa berdiam bersama tanpa diskriminasi.

Dan di dunia yang makin kaku, ilmu yang lentur seperti ini justru paling dibutuhkan.
Ia mengajarkan bahwa memahami manusia bukan soal teori, tapi soal kesediaan untuk duduk lesehan, menyeruput kopi, dan mendengarkan cerita sampai larut malam.

Mungkin inilah hakikat riset sejati:
menjadi manusia di tengah manusia lain—tanpa grogi, tanpa pretensi, dengan karpet tipis sebagai saksi.

Jadi, sudah siap menggali “keranjang sampah” budaya di sekitarmu?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *