Saya nggak tahu sejak kapan musik folk mulai betah nongkrong di kafe ber-AC. Tapi malam itu, Kamis, 16 Oktober 2025, Kava Coffee & Eatery 2.0 di Mataram mendadak jadi tempat “subversif” di kota ini.
Biasanya, Kava itu surganya para corporate survivor—orang-orang yang hidup di antara kerja kantoran, proyek pemerintahan, dan ambisi personal. Mereka nongkrong pakai kemeja, baju dinas, buka laptop, ngetik proposal, atau rapat kecil sambil ngopi empat puluh ribuan. Tapi malam itu suasananya lain. Lampu diredupkan, panggung kecilnya disulap jadi ruang akustik yang hangat, dan empat pengkarya musik dari empat penjuru Lombok naik ke panggung. Masing-masing membawa satu alat musik, satu lagu, dan ragam cerita.
Ada Pe Wira dari Lombok Timur, Sanggaboemi dari Lombok Utara, Pamela Paganini dari Lombok Tengah, dan saya sendiri—Yuga Anggana, dari Lombok Barat (karena alamat KTP memang masih di situ).
Konsepnya sederhana: satu orang, satu instrumen, satu kisah. Unplugged session. Tapi justru di situ letak kekuatannya. Di tengah dunia yang makin bising dan serba digital, kita butuhkan cuma suara dan kata yang jujur.

Kava yang Biasanya Riuh, Malam Itu Jadi Syahdu
Saya cukup sering main di Kava—nongkrong juga bermain musik bersama band secara reguler, jadi tahu betul biasanya seperti apa suasananya: ramai, penuh obrolan, kadang bahkan penontonnya lebih berisik dari band-nya. Tapi malam itu lain. Orang-orang duduk lebih tenang, mata mereka tertuju ke panggung. Seolah sedang diajak untuk benar-benar mendengarkan—dan mungkin, berpikir sedikit.
Saya sudah akrab dengan Sanggaboemi dan Pamela. Keduanya penulis lirik yang serius tapi nggak sok puitis. Bahasa mereka lembut, penuh metafora, tapi menggigit. Saya pernah ikut menggarap lagu mereka—Telah Madona Ia milik Sanggaboemi dan Pulang milik Pamela.
Pamela tampil sederhana, cuma dengan keyboard dan senyum yang tenang. Suaranya lembut, liriknya seperti puisi yang jatuh pelan ke hati. Sementara Sanggaboemi tampil lebih eksperimental. Di bawah kakinya ada pedal looper yang bikin satu orang terdengar seperti satu band. Suaranya tinggi, teatrikal, dan cukup kuat buat bikin beberapa penonton yang tadinya sibuk buka Instagram, tiba-tiba berhenti scroll.


Lirik Lugas dan Kritik yang (Tak Sengaja) Naik Kelas
Kalau Pamela dan Sanggaboemi bermain di ranah estetika, saya dan Pe Wira justru memilih tanah yang lebih keras. Lagu-lagu kami nggak puitis-puitis amat, malah cenderung blak-blakan. Kami bicara tentang rakyat kecil, tentang lingkungan, tentang hal-hal yang sering diabaikan tapi justru paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pe Wira, misalnya, nyanyi tentang sampah dan kebersihan, tentang semangat sosial di komunitas kecil. Liriknya lugas—kayak orasi, tapi dengan petikan gitar.
Saya sendiri bawain beberapa lagu soal sawah, soal budaya tradisi dan dua di antaranya: Mae dan Tikus.
“Mae” bercerita tentang seorang tenaga kerja wanita—buruh perempuan yang kerja di pabrik, menafkahi bapaknya yang renta dan ibunya yang jadi pembantu, sementara adiknya ngamen di jalanan. Sampai akhirnya ia berangkat ke negeri jauh, dan mati disiksa majikannya.
Sementara Tikus—yang saya garap bersama kelompok musik lintas provinsi: Surobuldog & Begal Cinta—lahir dari keresahan tentang kota: tentang senja yang kehilangan syahdunya, purnama yang tertutup gedung tinggi, gerimis yang tak lagi romantis karena bau bangkai tikus di tepi jalan, sampai percakapan para aktivis sosial di kafe mewah seperti malam itu:
Kamu membual tentang mimpi-mimpi di atas negeri
Tidur tak bangun-bangun
Kelaparan dibicarakan di kafe
Hidup itu, itung-itungan laba
Begitulah penggalan lirik Tikus yang saya nyanyikan malam itu.
Dan menariknya, semua itu kami nyanyikan di tempat yang harga americano-nya bisa bikin orang nelan ludah dua kali. Di depan pengunjung kelas menengah ke atas yang bisa jadi belum pernah benar-benar melihat sungai penuh sampah atau merenungkan tikus mati di pinggir jalan serupa buruh mati disiksa majikan di luar negeri sana. Tapi di situlah menariknya—lagu-lagu “kiri” dinyanyikan di tempat “kanan”. Musik rakyat naik kelas, bukan karena dijual mahal, tapi karena akhirnya bisa menembus ruang yang biasanya steril dari obrolan tentang rakyat.

Menyusup ke Alam Bawah Sadar Pengunjung
Saya nggak berharap pengunjung Kava tiba-tiba berubah jadi aktivis sosial dan lingkungan setelah itu. Tapi saya percaya musik punya cara halus buat menyusup ke kepala orang.
Mungkin saat mereka lagi nyeruput kopi, sepotong lirik dari Mae atau Tikus nyangkut di pikiran. Besoknya, siapa tahu mereka jadi lebih memperhatikan bocah kecil penjual tisu di lampu merah atau mikir sebelum buang tisu sembarangan.
Sebagian pengunjung memang masih sibuk dengan gawainya, tapi tak apa. Musik, seperti air, selalu menemukan celah.
Kadang cuma satu baris lirik yang bisa nempel di kepala. Kadang cuma satu nada yang bikin seseorang tiba-tiba mikir, “Iya juga, ya…”
Dan mungkin, itulah bentuk soft resistance paling lembut di dunia: menyusupkan kesadaran sosial lewat lagu di tempat yang menjual caramel macchiato.

Musik Sebagai Jembatan Sosial
Buat saya, Sound of Kava malam itu jadi semacam eksperimen sosial kecil.
Apa jadinya kalau lagu tentang rakyat kecil dinyanyikan di depan orang-orang yang hidup nyaman di kota?
Apa jadinya kalau keresahan tentang sungai kotor dibawakan di depan kursi empuk dan meja estetik tempat kopi disajikan?
Jawabannya: nggak ada yang langsung berubah. Tapi sesuatu bergerak pelan-pelan.
Kesadaran nggak selalu lahir dari seminar atau pamflet. Kadang, ia tumbuh dari lagu yang tanpa izin menetap di kepala.
Dan kalau malam itu ada satu-dua pengunjung yang pulang dengan pikiran baru—tentang bumi, tentang masyarakat, atau tentang dirinya sendiri—buat saya, itu sudah cukup.
Kami sudah menang. Bukan di panggung, tapi di hati orang-orang yang (mungkin) baru sadar kalau musik bukan cuma hiburan. Ia bisa jadi cermin, bahkan tamparan halus.

Mari Nyusup Pelan-Pelan
Setiap lagu punya misi. Ada yang dibuat untuk bikin orang joget, ada juga yang diciptakan untuk bikin orang merenung.
Malam itu, kami memilih yang kedua.
Karena kalau musik bisa bikin seseorang berhenti sejenak lalu berpikir—walau cuma lima detik—tentang sampah yang ia buang, tentang sikapnya di kota, atau tentang nasib orang kecil—itu sudah lebih berarti daripada seribu tepuk tangan kosong.
Dari ruang kecil bernama Kava itu:
menyuarakan keresahan sosial tak selalu harus lewat megafon di jalanan.
Kadang cukup lewat gitar akustik, secangkir kopi, dan keberanian untuk menyusupkan kesadaran kecil ke ruang yang tak pernah menyangka sedang dikritik.
Catatan:
Sound of Kava digelar berkat kolaborasi banyak pihak—Kirikanan Event, Kingsmaker, Pepadu Badjang, Gigaorganizer, dan tentu Kava Coffee & Eatery 2.0 sebagai tuan rumah.
Acara ini juga didukung oleh sejumlah media partner: Konser Lombok, Harian Musik Lombok, Noise Tenggara, Lombok Urban Society, dan banyak jaringan kreatif lainnya yang ikut menjaga semangat musik independen tetap hidup di Lombok.
Foto: Ghifenk