Malam itu, 3 Oktober 2025, Art Coffee Lago terasa seperti ruang tunggu pengakuan dosa — tapi versinya anak muda Mataram. Kilau lampu yang mulai redup, karpet tipis, meja lipat kecil, dan kopi yang aromanya menenangkan sekaligus memancing eksistensi. Sekitar 16 orang duduk melingkar. Saya datang agak telat, dan begitu menengok ke sekeliling, saya baru sadar:
Yang hadir malam itu mayoritas laki-laki. Hanya dua perempuan yang duduk di lingkaran, sibuk mencatat dan sesekali menatap gelas kopinya yang mulai dingin.
Saya sempat bergumam dalam hati, loh, kok bisa? Bukannya topik psikologi dan kesehatan mental biasanya lebih banyak diikuti perempuan?
Mungkin, di kota ini, laki-laki sedang belajar cara baru untuk menjadi “kuat”.

Cowok-Cowok, Kopi, dan Kecemasan yang Dipendam Rapi
Diskusi malam itu dibuka oleh Aies Aqrómy, narasumber yang santainya bisa menandingi barista yang sedang bercanda dengan pelanggan tetap.
“Coba tulis: aku ini siapa? Butuh apa? Bakatku apa? Visi hidupku apa?” katanya sambil bersandar di bantal.
Pertanyaan sederhana, tapi efeknya seperti dilempar granat ke dalam ruang introspeksi. Semua diam. Beberapa menunduk. Satu dua orang malah kelihatan gugup menulis, lalu menyobek kertasnya sendiri. Saya melihat seorang peserta meremas lembarannya lalu memasukkannya ke saku.
“Ah malu saya,” katanya sambil tertawa kecil.
Saya ikut tertawa, tapi juga merasa: ya, ini ironi. Di tengah kota yang riuh dengan konten self-love dan mindfulness, ternyata ketika disuruh jujur tentang diri sendiri, kita masih gagap. Kita terbiasa menampilkan versi terbaik di media sosial, tapi canggung ketika disuruh mengakui siapa kita sebenarnya.
Apakah Tekanan Kota Lebih Berat di Bahu Laki-Laki?
Fenomena laki-laki mendominasi diskusi psikologi ini bikin saya penasaran. Saya sempat menelusuri data—dan menemukan gambaran yang tidak sepenuhnya nyaman untuk diabaikan.
Di NTB, misalnya, ada lonjakan kasus gangguan kesehatan mental pada kelompok remaja: data pencatatan dinas menunjukkan sekitar 2.836 remaja (usia 15–18 tahun) teridentifikasi bermasalah dalam skrining pada 2024 — sebuah sinyal bahwa generasi muda di provinsi ini sedang butuh perhatian lebih.
Sementara itu, laporan lokal lain menyebutkan bahwa sampai pertengahan 2024 puluhan ribu warga NTB tercatat mengalami gangguan jiwa (angka yang dikumpulkan dari fasilitas kesehatan setempat mencapai puluhan ribu kasus), suatu gambaran skala yang membuat kita tak bisa lagi sekadar menepuk dada: “kita OK”.
Di Kota Mataram sendiri, penelitian kualitatif yang memetakan perspektif para pemangku kepentingan menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental adalah persoalan nyata yang dirasakan komunitas—dengan hambatan pendeteksian dini, stigma, dan akses layanan yang belum merata sebagai masalah utama. Studi kasus ini menekankan perlunya pendekatan lokal, bukan hanya menunggu rujukan ke rumah sakit besar.
Data-data lokal ini mempertegas hipotesis saya malam itu: mungkin bukan soal “psikologi memang lebih menarik bagi cowok”, melainkan soal keterbukaan dan kebutuhan. Laki-laki urban, yang selama ini dididik supaya ‘tahan banting’, ternyata juga butuh ruang untuk mengakui letihnya — dan ketika ada ruang seperti Kampus Indie, mereka datang.
Kenapa Peserta Gagap Menyebut “Siapa Aku”? (Fenomena Malu, Gengsi, dan Budaya)
Ketika Aies meminta kami menulis dan membacakan siapa kami, jawaban yang paling nyata bukanlah kata-kata, tetapi suhu tubuh ruangan: menciut. Kebanyakan tidak berani membacakan. Satu meremas kertas lalu memasukkan ke saku sambil bercanda, “ah malu saya.” Itu bukan sekadar malu panggung. Itu malu terhadap citra yang selama ini dipelihara: takut dianggap lemah, takut dilihat belum berhasil, takut visi yang kita ucapkan ternyata ‘terlalu biasa’.
Di sini budaya urban berperan besar. Ketika kota mengajarkan kita menjadi produk—brand yang harus konsisten tampil—kerentanan menjadi out of brand. Akibatnya, pengakuan jujur atas kerentanan dipasangi stigma internal: bukan hanya takut dinilai orang lain, tapi juga takut mengkonfirmasi sendiri bahwa kita belum memenuhi standar ideal yang selama ini kita pamerkan.
Budaya Urban, Kebudayaan Lokal, dan Potensi Solusi Berbasis Komunitas
Bicara solusi—termasuk solusi yang relevan untuk NTB/Mataram—tidak bisa lepas dari kedua sisi ini: (1) kapasitas layanan kesehatan jiwa formal, dan (2) modal sosial budaya lokal yang bisa dimobilisasi.
Di sisi layanan formal, Pemerintah dan layanan kesehatan sudah mulai bergerak: puskesmas di Mataram dilaporkan menyediakan layanan skrining kesehatan jiwa dan ada upaya pelatihan tenaga kesehatan jiwa komunitas pada 2024–2025. Inisiatif-inisiatif ini penting karena mendekatkan layanan ke masyarakat, mengurangi beban rumah sakit rujukan, dan mempermudah deteksi dini.
Di sisi komunitas dan kebudayaan, literatur kesehatan masyarakat dan praktik di lapangan menunjukkan keberhasilan pendekatan berbasis komunitas (community-based mental health): edukasi mental health di sekolah, pelatihan kecakapan hidup (life skills), kelompok dukungan sebaya, hingga program kesehatan jiwa yang “menyusup” ke dalam kegiatan budaya — misalnya melalui seni, musik, ritual komunitas, atau festival lokal — efektif meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, dan memberi ruang aman bagi ekspresi. Pendekatan ini juga sesuai dengan temuan yang merekomendasikan intervensi multikomponen yang memprioritaskan pencegahan, promosi, dan penjangkauan komunitas.
Untuk NTB/Mataram, ini peluang strategis:
- Integrasi budaya lokal dalam program kesehatan mental. Misalnya, mengaitkan dialog kesehatan jiwa dengan acara-acara kebudayaan (pagelaran musik lokal, ritual adat yang aman, workshop seni tradisi) sehingga topic “kesehatan jiwa” tidak terasa klinis tetapi lahir dari jaring sosial yang dipercaya komunitas. Indeks Pembangunan Kebudayaan NTB bahkan memberi kerangka untuk mengukur capaian kebudayaan yang bisa dimanfaatkan untuk menyinergikan program kebudayaan dan kesehatan. (data pengembangan kebudayaan provinsi menyediakan instrumen untuk memadukan dimensi ekspresi budaya dan ketahanan sosial-budaya ke dalam kebijakan publik).
- Ruang non-medis yang ramah laki-laki. Ruang seperti Kampus Indie (duduk lesehan, obrolan santai, kopi) adalah contoh micro-intervention yang menurunkan ambang malu — pendekatan ini bisa direplikasi dengan format yang berbeda (workshop musik, bengkel menulis, kelompok bermain olahraga sederhana) tapi tetap menyisipkan elemen refleksi dan tautan ke layanan profesional bila perlu.
- Pelatihan “champion” komunitas & kader budaya. Latih tokoh komunitas budaya, seniman, pengelola acara—agar mereka paham tanda gangguan mental, cara melakukan pendekatan peacemaker (pendekatan yang tidak menghakimi), dan jalur rujukan ke puskesmas/layanan. Program semacam ini sudah dilakukan di beberapa kabupaten NTB dengan kolaborasi lintas sektor.
Kaitannya dengan budaya urban: kota memberi tekanan, tetapi juga memberi infrastruktur sosial (kafe, komunitas seni, sanggar) yang bisa diubah fungsinya menjadi laboratorium kemanusiaan—ruang untuk latihan mengenal diri, bukan sekadar berjualan citra.
Setelah Diskusi Itu, Saya Melihat Kota dengan Cara Berbeda
Beberapa hari setelah acara, saya melihat banyak postingan tentang diskusi serupa di media sosial — tentang kesehatan mental, tentang perempuan, tentang keberanian membuka diri. Mataram yang dulu saya anggap terlalu tenang, ternyata punya denyut urban yang pelan tapi pasti membangun kesadaran baru:
Kesadaran bahwa di tengah kehidupan kota yang tampak santai, ada banyak orang yang sedang diam-diam berjuang melawan kesunyian batinnya.
Kota ini sedang belajar menjadi manusiawi.
Dan barangkali, Kampus Indie hanyalah salah satu pintu kecil yang membuka arah ke sana.
Menutup Malam dengan Harapan
Waktu itu Aies menutup diskusi dengan satu kalimat yang saya catat dalam hati:
“Yang kamu lawan bukan orang lain, tapi versi dirimu kemarin.”
Kalimat itu menempel di kepala saya selama perjalanan pulang. Saya menatap jalanan Mataram yang masih ramai, tapi entah kenapa terasa lebih tenang.
Mungkin karena saya tahu, di balik kafe, karpet tipis, dan gelas kopi yang dingin, ada ruang kecil tempat laki-laki belajar menjadi manusia — bukan mesin pencetak kesuksesan.
Dan di sanalah, menurut saya, letak makna paling urban dari semua ini:
bukan pada gedung tinggi atau lampu kota, tapi pada keberanian untuk mengenal diri sendiri, meski itu berarti membuka luka yang selama ini disembunyikan.
Kampus Indie: ketika kopi menjadi cermin, dan kota belajar mendengarkan dirinya sendiri.
Catatan sumber (beberapa rujukan lokal & temuan yang saya gunakan)
- Data skrining remaja NTB (2.836 remaja teridentifikasi masalah kesehatan mental, per laporan Oktober 2024). (detikcom)
- Laporan lokal yang memuat jumlah warga NTB terdiagnosa gangguan jiwa (angka terakumulasi pelaporan fasilitas kesehatan) dan diskusi layanan di daerah. (SUARANTB.com)
- Studi kasus kualitatif yang mengeksplorasi perspektif psychosocial pemangku kepentingan di Mataram (kasus lokal). (ResearchGate)
- Liputan tentang layanan skrining kesehatan jiwa dan program puskesmas di Mataram, serta pelatihan kesehatan jiwa komunitas (Bapelkes/Kemenkes lokal). (Lombok Post)
- Literatur dan review tentang pendekatan community-based mental health dan nursing/public health approaches yang merekomendasikan intervensi berbasis komunitas. (Jurnal Universitas Sebelas Maret)
- Indeks Pembangunan Kebudayaan Provinsi NTB sebagai kerangka pengukuran dan peluang integrasi program budaya-kesehatan. (Satu Data NTB)