“Tok! Tok! Tok! Proses berkarya bertajuk Gula Gending 2.0 resmi kita mulai!”
Kalimat itu meluncur begitu saja, setengah serius, setengah bercanda, pada 25 Januari 2026 pukul dua siang. Kami berkumpul di Artcoffeelago Common Labora, sebuah ruang yang setia menjalankan fungsi asasinya: mempertemukan orang-orang yang percaya bahwa kebudayaan tidak pernah lahir dari kesunyian kerja individual. Di sana, kami duduk melingkar di meja-meja kecil yang lebih sering mendengar gosip kopi dan kegelisahan orang-orang. Tidak ada panggung, tidak ada mimbar. Hanya wajah-wajah yang sebagian sudah lama saling kenal, dan sebagian lagi masih menyimpan senyum canggung.

Bunyi yang Berjalan Kaki
Saya membuka pertemuan dengan sebuah tesis sederhana: Gula Gending adalah tradisi yang hidup, bukan sekadar bunyi nostalgia yang mampir sebentar lalu pergi. Di hadapan saya, telah berkumpul sebuah tim lintas disiplin: Asmarani Pamela Paganini (pemusik, rekan terdekat saya sejak 2022 dalam merawat isu-isu kebudayaan), Taufik Mawardi (dengan insting teater yang tajam), Wang Arzacky (pendefinisian ruang), Irma Septiana (regenerasi tari), Aies Aqromi (denyut budaya urban), hingga Catazkya yang saya tugaskan “berbicara” melalui lensa kamera.
Jujur saja, sempat ada secercah kecanggungan saat memaparkan ide ini. Mengangkat Gula Gending bisa dianggap “ringan” jika dibandingkan dengan kerja-kerja budaya saya sebelumnya yang bersentuhan dengan ritual sakral atau upacara adat yang kolosal. Gula Gending, sepintas lalu, hanyalah kotak seng penyimpan gulali rambut nenek yang dipukul penjualnya saat berkeliling kampung. Tidak ada kostum adat, tidak ada sesajen, tidak ada doa panjang. Hanya bunyi. Bahkan kotaknya lebih sering disebut rombong daripada sebuah instrumen musik.
Namun, keraguan itu segera luruh. Literatur menunjukkan bahwa alat ini sudah ada setidaknya sejak tahun 1980-an. Hingga hari ini, ia masih bisa ditemui di berbagai sudut Lombok. Artinya, Gula Gending tidak pernah mati. Ia hidup, berpindah, dan diwariskan. Ia tidak dipajang diam di museum, melainkan berjalan kaki dari kampung ke kampung. Secara musikal, ia telah mentradisi: sederhana, fungsional, dan diam-diam membekas.
Museum di Dalam Telinga
Sebagai orang yang akrab dengan dunia musik, saya meyakini bahwa bunyi adalah museum ingatan. Bunyi Gula Gending bagi masyarakat Lombok pasti memanggil sesuatu—masa kecil, kampung halaman, atau wajah-wajah yang kini tinggal kenangan. Bunyi selalu memiliki daya magis untuk mengaduk perasaan dan memanggil visualisasi masa lalu. Ekspresi musikal penjual Gula Gending, sesederhana apa pun, bekerja secara subliminal pada pendengarnya.
Diskusi sore itu berkembang menjadi dialog yang sehat, berputar, bersimpang jalan, namun bermuara pada satu kesepakatan penting: Gula Gending bukan mi instan. Ia memiliki konteks, sejarah, dan nilai yang tidak bisa ditebak hanya dari balik meja kopi. Maka, riset ke Desa Kembang Kerang: rahim dari tradisi ini yang menjadi syarat mutlak sebelum satu pun nada atau gerak diciptakan.
Indra Saputra Lesmana dari Teater Insomnia sempat hadir dan melemparkan pengingat yang membuat ruangan hening sejenak: yang perlu digali bukan hanya bagaimana Gula Gending dimainkan, tetapi apa maknanya bagi mereka yang menghidupkannya. Kalimat ini adalah tamparan lembut. Dalam kerja seni berbasis tradisi, kita sering terjebak mengolah bentuk, namun lupa bertanya untuk siapa dan dari siapa bunyi itu berasal.
Dari Imajinasi Menuju Tubuh Karya
Gula Gending telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada tahun 2024. Saya hadir langsung dalam sidang penetapan tersebut di Jakarta. Di sanalah imajinasi saya liar berlari: Bagaimana jika bunyi sederhana ini dikembangkan? Bagaimana jika ia berkelindan dengan orkestra, tari modern, instalasi rupa, dan teater?
Imajinasi yang saya endapkan sejak 2024 itu kini mulai memiliki “tubuh”. Ide-ide bermunculan di meja rapat. Wang membayangkan instalasi yang menjadi penanda ingatan di Kembang Kerang; Irma merenungkan posisi tari antara pelestarian dan modernitas; Taufik mendorong bentuk pertunjukan yang segar dan “pop” tanpa kehilangan esensi; sementara Aies merajut narasi publikasi di balik laptopnya.
Menjelang sore, pembagian peran disepakati tanpa drama. Saya sebagai ketua pelaksana sekaligus komposer, didukung oleh tim yang, saya sadari belakangan, memiliki kualifikasi luar biasa. Ada para magister lulusan luar negeri dan praktisi profesional yang rekam jejaknya sudah diakui secara internasional. Ada beban, namun ada tantangan besar: Bagaimana banyak kepala penuh pengalaman ini mengolah sesuatu yang dianggap sangat bersahaja?
.
Rapat ditutup tanpa tepuk tangan formal. Hanya suara sruput es kopi dan kunyahan tempe mendoan. Sebuah penutup yang jauh lebih jujur daripada seremoni mana pun. Saya sadar, rapat ini penting bukan hanya karena apa yang sudah diputuskan, melainkan karena kesediaan kami untuk mendengar satu sama lain.
Di dunia yang serba cepat, mungkin inilah kerja kebudayaan yang paling masuk akal: duduk, berbincang, beda pendapat sedikit, lalu pulang dengan keyakinan bahwa sesuatu sedang dirawat bersama, pelan-pelan, tapi sungguh-sungguh.