Sabtu sore, 10 Oktober 2026, sekitar pukul 16.30 WITA, saya kembali ke Segatrah, sekretariat utama Gawe Ninting di Mambalan. Beberapa hari setelah pembukaan, kebun itu terasa lebih akrab. Siba (Muhammad Sibawaihi) dari Pasir Putih sudah di sana bersama Mas Yoyo, Wira Aji, Raden Lanang, Naufal Akbar, Najib Anwar, dan Sajid Bachtiar.
“Selamat datang kembali, Kang Yuga,” sambut Siba. “Kita tunggu teman-teman yang lain, masih berkegiatan bersama Tim Jojan.”
Najib bergegas membuatkan kopi. Kami duduk melingkar di tengah kebun tanpa agenda, tanpa presentasi tentang metode kerja kebudayaan.
Siba malah bercerita tentang kawannya, Eman, yang selalu punya ide kreatif untuk setiap masalah. Hanya saja, kalau Pegadaian mengatasi masalah tanpa masalah, Eman lebih sering mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru. Detail-detail kisahnya membuat kami terpingkal-pingkal sampai azan magrib berkumandang.
Waktu itu saya tidak menyangka, lelucon tentang Eman akan kembali kepada saya beberapa jam kemudian, dengan cara yang sama sekali tidak lucu.
Saya mencatat sore itu bukan karena lucunya. Obrolan yang tampak tidak penting itulah yang membuat orang merasa tidak perlu tampil penting. Dalam suasana seperti itu, orang lebih berani menyumbangkan sesuatu.
Selepas magrib, para pemuda dan pemudi peserta Gawe Ninting berdatangan.
“Mumpung ada Kang Yuga, kita belajar proses membuat lagu,” kata Siba.
Sebuah Nama yang Terbawa dari Gol
Jujur saja, saya tidak membawa gagasan lagu apa pun dari rumah. Tidak ada komposisi yang saya siapkan, tidak ada rencana pulang membawa karya tertentu. Saya hanya ingin berbagi bagaimana sebuah lagu bisa bermula, dan apa yang mungkin terjadi ketika sekelompok orang mencoba mencipta bersama.
Maka saya bercerita tentang residensi saya sebelumnya di Dusun Gol. Saat menelusuri sejarah dusun itu, saya menemukan kisah tentang tokoh-tokoh penyebar agama yang berasal dari Mambalan.
Satu nama tertinggal di kepala saya: Lalu Gde.
Nama itu terdengar ganjil di telinga saya. Lalu lazim dikenal sebagai unsur nama laki-laki bangsawan Sasak, sementara Gde mengingatkan saya pada penamaan dalam tradisi Bali. Saya tidak tahu bagaimana dua unsur itu bertemu, dan ketidaktahuan itulah yang membuat saya ingin bertanya.
Ketika nama itu saya sebut, para peserta langsung mengiyakan. Lalu Gde ternyata cukup dikenal dalam ingatan warga sebagai salah satu tokoh sejarah Mambalan.
Siba bahkan sudah memegang beberapa lembar artikel tentang Lalu Gde. Dari sampulnya, tampaknya itu salinan dari kantor desa, karena tulisan “Kantor Desa” masih tertinggal di halaman depan. Saya senang melihatnya. Artinya, kisah ini tidak hanya hidup di mulut para tetua. Seseorang pernah menuliskannya, dan tulisan itu tersimpan di kantor desa, menunggu dibaca.
Percakapan kami tiba-tiba punya pintu masuk.

Mengumpulkan Ingatan sebelum Menyusun Cerita
Saya mengajak peserta melakukan hal sederhana: mengumpulkan apa saja yang mereka ketahui tentang Lalu Gde. Bahannya bisa dari cerita orang tua, ingatan yang samar, atau bacaan yang relevan. Setiap nama, tempat, peristiwa, dan potongan kisah ditulis sebagai kata kunci di papan tulis yang disiapkan Raden Lanang.
Kami sengaja tidak buru-buru memilah mana yang paling benar atau paling menarik. Tahap ini hanya untuk mengumpulkan.
Bagian inilah yang paling menyenangkan untuk disaksikan. Seseorang menyebut satu peristiwa, yang lain menambahkan detail, lalu yang lain lagi menghubungkannya dengan cerita dari keluarganya. Ingatan memancing ingatan. Potongan yang semula berserakan pelan-pelan membentuk kemungkinan sebuah kisah.
Setelah itu kami menyusunnya menjadi alur dengan beberapa pertanyaan. Apa yang terjadi lebih dulu? Siapa yang muncul? Di mana peristiwanya berlangsung? Mengapa tokoh ini terus dikenang?
Versi yang kami rangkai malam itu kira-kira begini. Lalu Gde muncul tiba-tiba dari permukaan air bah ketika hujan badai melanda. Seorang perempuan bertanya siapa dirinya, dan kisah pun bergerak ke sekitar mata air Renggung.
Di sana ia hidup sederhana, membuat layangan dan kincir angin dari bahan seadanya. Ia pandai membaca tanda-tanda alam dan memperkirakan apa yang akan terjadi. Ia mengobati warga yang sakit dan memberi petuah kepada mereka yang gelisah dalam kehidupan beragama. Dari situlah ia dikenang sebagai pendakwah Islam.
Namun, pengaruhnya membuat penguasa kerajaan cemas. Anak Agung khawatir perkumpulan orang-orang yang datang kepada Lalu Gede akan berkembang menjadi gerakan yang mengancam kekuasaannya. Kisah itu berakhir dengan penangkapan dan hukuman pancung.
Di titik itu saya teringat Eman. Kalau Eman mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru, Lalu Gde dalam cerita ini justru tampak seperti sosok yang mengatasi masalah tanpa masalah: menyembuhkan yang sakit, menenangkan yang gelisah, membaca alam sebelum bencana datang. Ironisnya, kemampuan semacam itulah yang membuatnya ditakuti. Bagi penguasa, orang yang bisa menyelesaikan persoalan warga tanpa melalui istana bukan lagi penolong, melainkan ancaman.
Lelucon sore tadi tiba-tiba terasa getir.
Itu tentu pembacaan saya, bukan bagian dari cerita yang dituturkan. Tetapi barangkali di situlah alasan kisah ini terus diceritakan turun-temurun. Ia tidak hanya mengenang seorang pendakwah, tetapi juga menyimpan pertanyaan tentang hubungan antara kearifan dan kekuasaan.
Saya juga perlu menegaskan satu hal. Cerita ini adalah ingatan kolektif, bukan otomatis fakta sejarah. Sejarawan Jan Vansina, yang lama meneliti tradisi lisan, mengingatkan bahwa cerita turun-temurun adalah sumber sejarah yang sah, asalkan dibaca dengan kritis. Setiap versi perlu dibandingkan, lapisan tambahannya dikenali, dan dicari tahu mengapa bagian tertentu dipertahankan.
Unsur ajaib seperti kemunculan dari air bah tidak perlu dibuang. Ia justru memberi tahu kita bagaimana masyarakat memaknai tokohnya. Untuk keperluan mencipta lagu, bahan kami sudah cukup. Untuk keperluan sejarah, pekerjaan kami baru dimulai.

Ketika Bahasa Ikut Menentukan Bunyi
Narasi itu kemudian kami padatkan menjadi bait-bait lagu. Kalimat yang terlalu panjang dipangkas dan peristiwa yang berulang disederhanakan. Kami mencari kata yang tidak hanya bercerita, tetapi juga bisa dinyanyikan.
Lalu kami menerjemahkannya ke dalam bahasa Sasak Mambalan, bersama-sama. Kami membicarakan pilihan kata, mengucapkannya berulang kali, dan mendengarkan bunyinya saat dinyanyikan. Ada kata yang bagus di atas kertas tetapi tersendat begitu masuk ke melodi. Ada pula ungkapan yang baru terasa hidup setelah diucapkan dengan logat sehari-hari.
Di titik itu saya menyadari bahwa menerjemahkan lirik bukan sekadar memindahkan makna dari satu bahasa ke bahasa lain. Bahasa ikut menentukan bagaimana sebuah cerita terdengar, dirasakan, dan diingat. Para remaja itu memegang pengetahuan yang tidak saya miliki, yaitu rasa bahasa ibu mereka.
Birama 6/8 dan Suasana Minor
Setelah lirik mulai terbentuk, saya mengambil perkusi dan memainkan pola ritmis dalam birama 6/8 dengan tempo agak lambat. Birama ini memiliki dua ketukan utama yang masing-masing terbagi tiga, sehingga menghasilkan rasa mengayun, seperti langkah yang tenang.
Sejak awal saya membayangkan lagu ini perlu terasa anggun dan cukup megah. Megah yang saya maksud bukan karena penuh instrumen, melainkan karena geraknya lebar dan tidak tergesa, seperti cara orang mengenang seseorang yang dihormati.
Siba mengambil gitar. Tanpa diskusi teori yang panjang, kami bersepakat membuka lagu dengan suasana minor. Kami memainkan, mendengarkan, mengulang, lalu mengubah bagian yang belum cocok.
Saya memancing pola ritmis, Siba merespons dengan akor, dan para peserta membaca lirik berulang kali sambil mengikuti melodi yang perlahan menemukan bentuknya. Sesekali kami berhenti untuk mengganti kata atau mengulang bagian tertentu. Bait, refrein, dan jembatan lagu terbentuk satu per satu.
Sekitar dua jam kemudian, lagu tentang Lalu Gde berdiri. Bentuknya masih mentah: ada lirik yang perlu diperiksa dan melodi yang masih bisa dikembangkan. Tetapi kerangkanya sudah ada. Kami menyanyikannya berulang kali, sekenanya. Ketika satu putaran selesai, kami bertepuk tangan untuk sesuatu yang dua jam sebelumnya belum ada.
Di tengah riuh itu, seorang peserta di sebelah saya bergumam pelan, matanya masih tertuju pada lirik di papan tulis.
“Jadi begini ya membuat karya lagu yang ideal. Menyenangkan.”
Saya menyentuh tangannya dan menjawab bahwa ini mungkin hanya salah satu dari sekian banyak cara. Bisa jadi mendekati ideal, setidaknya untuk kita, saat ini.
Saya sengaja tidak mengiyakan begitu saja. Tidak ada satu cara yang paling benar dalam mencipta lagu, dan saya tidak ingin malam itu menjadi resep baru yang harus diikuti. Tetapi gumaman itu membekas. Ia tidak memuji lagunya, yang memang masih mentah. Ia memuji prosesnya. Bagi saya, itu pengakuan yang lebih berharga daripada tepuk tangan untuk karya yang sudah selesai.
Siapa yang Berhak Menentukan Bunyi Sebuah Cerita?
Saya ingin berhenti sejenak pada satu pertanyaan yang sering mengganggu saya dalam kerja kebudayaan.
Kita terlalu sering membayangkan residensi sebagai seniman yang datang membawa gagasan, sementara masyarakat menyediakan bahan. Seniman mengambil cerita, lalu pulang membawa karya atas namanya sendiri. Dalam pola itu, masyarakat menjadi objek, sekadar sumber bahan mentah, bukan sesama pencipta.
Paulo Freire menyebut pola serupa dalam pendidikan sebagai “gaya bank”: guru menyetor pengetahuan, murid hanya menampung. Dunia seni punya versinya sendiri, dan kita jarang menyebutnya dengan jujur.
Malam di Segatrah berjalan berbeda. Tidak ada satu orang pun yang membawa seluruh bahan sejak awal. Saya membawa pengalaman bermusik. Siba membawa gitar, kepekaan, dan bahan bacaan. Para remaja membawa ingatan, bahasa, dan pengetahuan tentang kampung mereka. Raden Lanang menyediakan papan tulis.
Tanpa salah satunya, lagu itu tidak akan berbentuk seperti yang kami temukan. Gumaman peserta tadi memberi tahu saya bahwa mereka merasakannya juga: mereka tidak sedang membantu saya membuat lagu, tetapi sedang membuat lagu.
Namun saya juga harus jujur pada diri sendiri. Saya yang memilih birama 6/8. Saya yang membayangkan lagu ini harus anggun dan megah. Keputusan itu sangat menentukan watak lagu, dan semua orang mengikutinya. Kuasa seniman dalam ruang kolaboratif tidak hilang hanya karena kita duduk melingkar dan minum kopi bersama. Kuasa itu tetap ada, dan ia perlu disadari.
Grant Kester, kritikus seni yang menulis tentang praktik seni dialogis, berpendapat bahwa karya partisipatoris tidak hanya diukur dari hasil akhirnya. Ia juga diukur dari mutu percakapan yang memungkinkan karya itu lahir.
Bagi saya, ukurannya sederhana. Ketika lagu ini dikembangkan nanti, apakah para remaja merasa cukup leluasa untuk berkata, “Bagian ini tidak cocok, Kang”? Apakah mereka berani mengubah birama yang saya pilih? Jika ya, kolaborasi itu sungguh terjadi. Jika tidak, saya hanya memakai cara yang lebih ramah untuk tetap menjadi satu-satunya pengarang.
Keterampilan bermusik tidak otomatis memberi hak paling besar untuk menentukan bagaimana sebuah cerita dinyanyikan. Ia hanya salah satu kemampuan yang dipertemukan dengan kemampuan-kemampuan lain.
Lagu sebagai Awal Penyelidikan
Saya tidak tahu bagaimana bentuk akhir lagu Lalu Gde. Aransemennya mungkin berubah. Bagian cerita tertentu mungkin perlu dikoreksi setelah kami menemui lebih banyak orang.
Sebelum lagu ini dibawakan di depan publik, liriknya sepatutnya didengar dulu oleh para tetua dan keluarga yang menjaga cerita itu. Lalu Gde bukan sekadar tokoh dongeng, dan ingatan tentangnya adalah milik mereka.
Justru di situlah nilai malam itu bagi saya. Lagu ini tidak menutup cerita, tetapi membukanya. Kini para remaja punya alasan untuk mendatangi orang-orang yang masih menyimpan kisah Lalu Gde, membandingkan versi, dan menanyakan bagian yang belum kami pahami. Sebuah lagu ternyata bisa menjadi cara memulai penyelidikan.
Malam itu kami sedang mencari cara agar sebuah cerita tetap bergerak: dari ingatan ke papan tulis, dari papan tulis ke bahasa Sasak, dari bahasa ke bunyi, lalu kembali kepada orang-orang yang sejak awal menyimpannya.
Barangkali begitulah sebuah kampung menenun dirinya sendiri. Bukan karena ada yang mengetahui keseluruhan polanya, melainkan karena ada yang bersedia membawa satu benang, lalu mencari tahu kepada siapa benang itu bisa disambungkan.