
Panggung Ada, Sistem Tidak: Krisis Tata Kelola Seni Pertunjukan di NTB
NTB sebenarnya tidak kekurangan seniman atau panggung, tetapi kekurangan tata kelola budaya yang berkelanjutan, terencana, dan berpihak pada pelaku seni.
Ruang khusus untuk suara-suara lain di luar penulis utama (saya!). Di sini, teman-teman dan rekan kolaborator berbagi pemikiran, pengalaman, dan tulisan mereka untuk menambah wawasan dan keragaman di website ini. Selamat menikmati perspektif baru!

NTB sebenarnya tidak kekurangan seniman atau panggung, tetapi kekurangan tata kelola budaya yang berkelanjutan, terencana, dan berpihak pada pelaku seni.

Rajah, bagi Bli Made, adalah cara untuk berkomunikasi dengan yang tak terlihat.

Diskusi di media sosial ini, yang dimulai dari satu kalimat otokritik sederhana, sejatinya telah membuka percakapan penting tentang masa depan seni tari NTB

Festival Seni Pelajar NTB 2025 sesungguhnya lebih dari sekadar ajang hiburan. Ia adalah investasi kultural jangka panjang yang berorientasi pada pembentukan generasi kreatif, berkarakter, dan mencintai kebudayaan daerahnya.

Peristiwa ini telah berhasil memecah kebekuan komunikasi, kebekuan iklim berkarya, dan kebekuan proses kreatif.

Sementara seni yang rendah hati, yang mau mendengar dan berdialog, justru menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang. Dalam arti itu, Dende Tamari menjadi representasi dari kebudayaan yang inklusif—kebudayaan yang menyapa, bukan menggurui.

Dalam satu jam pementasan, Hikayat Gajah Duduk berhasil menyalakan kembali percikan dialog antara rakyat dan penguasa, antara individu dan sistem, antara yang diam dan yang berani bersuara.

Dari tanah NTB yang kaya warisan, lahir masa depan kebudayaan Indonesia yang makmur, mendunia, dan berjiwa manusia

Kebudayaan tidak boleh hanya menjadi jargon pembangunan, tetapi harus menjadi napas yang menghidupi kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat NTB