
Panggung Ada, Sistem Tidak: Krisis Tata Kelola Seni Pertunjukan di NTB
NTB sebenarnya tidak kekurangan seniman atau panggung, tetapi kekurangan tata kelola budaya yang berkelanjutan, terencana, dan berpihak pada pelaku seni.

NTB sebenarnya tidak kekurangan seniman atau panggung, tetapi kekurangan tata kelola budaya yang berkelanjutan, terencana, dan berpihak pada pelaku seni.

Teriakan itu pecah dari kamar mandi Pak Muksin tepat ketika Bu Ramlah baru saja mengibaskan mukena di pagar. Nadanya bukan seperti orang terpeleset, bukan pula seperti orang digigit ular. Lebih mirip seseorang yang baru sadar ada bencana, hanya saja belum tahu bentuknya.

Ada benda-benda yang tidak diwariskan untuk dipakai, melainkan untuk memastikan seseorang tidak benar-benar hilang.

Dari ujung jalan besar, mula-mula hanya dengung. Lalu membesar. Lalu meledak. Braaang.....

(Catatan seusai membaca buku Musik Protes: Kilas Sejarah dan Studi Pendengar – Soni Triantoro) Saya tidak membaca buku Musik Protes dalam sekali duduk. Buku itu saya cicil seperti orang mencicil ingatan, sedikit di sela menunggu, sedikit di antara perjalanan, sedikit…

Setelah satu gending selesai dimainkan, barulah gula rambut nenek diborong. Bahkan terdapat etika tak tertulis: gula tidak dijual sebelum musik selesai.

Bunyi Gula Gending bagi masyarakat Lombok pasti memanggil sesuatu—masa kecil, kampung halaman, atau wajah-wajah yang kini tinggal kenangan.

Dari gerakan kecil itulah—gigs perumahan, panggung improvisasi, kolaborasi spontan—kurator Soundrenaline mulai memperhatikan

Maka, di tengah semua cerita tentang seni rupa, sastra, musik, dan festival besar yang mulai menoleh ke Lombok, Insomnia Theater hadir sebagai satu bab kecil yang menegaskan bahwa Lombok bukan lagi pinggiran.

Mereka adalah gerakan kecil dari ujung timur yang hendak memperbaiki cara kota melihat musik dan cara musik melihat kota.