Yagna Semesta Initiative

Tradisi Pepaosan di Lombok Barat: Menyimak Hikmah dalam Lontar

Kabupaten Lombok Barat menyimpan khazanah manuskrip kuno berupa takepan—naskah beraksara Jawa Kuno yang dituliskan di atas daun lontar. Isi takepan mencakup beragam bidang kehidupan: sastra, agama, sejarah, hukum, politik, adat, dan lain-lain. Kebiasaan membaca naskah lontar ini dikenal sebagai Pepaosan, sebuah tradisi yang dulu menjadi pedoman penting sekaligus praktik harian masyarakat Lombok Barat.

Hampir setiap kecamatan di Lombok Barat memiliki komunitas pemaos (pelaku Pepaosan) yang masih aktif. Mereka rutin menggelar pelatihan, pembacaan tunggal maupun bersama, serta tampil dalam berbagai upacara adat untuk menjaga kelangsungan tradisi ini.

Ritus dan Peran Para Pemaos

Pepaosan lazim dipentaskan di berugaq¹, terutama saat acara kelahiran, ngurisan (potong rambut bayi/akikah), khitanan, pernikahan, hingga kematian. Idealnya ada tiga orang dalam satu kelompok:

  1. Penembang utama
  2. Penyambung tembang (melanjutkan bait)
  3. Penerjemah (menafsirkan makna naskah ke bahasa sehari-hari)

Ragam Tembang dan Kekhasannya

Para pemaos membacakan lontar dengan cara menembang—melagukan teks tanpa iringan musik. Terdapat enam jenis tembang pokok:

Jenis TembangKarakter Tangga Nada (umum)Nuansa
SinomMirip pentatonik salendroLembut, liris
AsmarandanaMirip salendroRomantis
DhandhangMirip pelogKhidmat
PangkurMirip pelogSemangat
DurmaMirip pelogTegas, dramatik
MaskumambangMirip salendroMengalun sedih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *