Yagna Semesta Initiative

Seni Sebagai Katalisator Kebersamaan

Sementara seni yang rendah hati, yang mau mendengar dan berdialog, justru menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang. Dalam arti itu, Dende Tamari menjadi representasi dari kebudayaan yang inklusif—kebudayaan yang menyapa, bukan menggurui.

Dalam sambutannya—Sabtu (25/10)—pada malam pementasan Dende Tamari, Kepala Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Lalu Surya Mulawarman, menegaskan bahwa pementasan tersebut bukan sekadar pertunjukan teater. Ia menyebutnya sebagai “etalase seni pertunjukan yang menggabungkan lintas disiplin, membuka ruang dialog dan dialektika, serta menjauhkan kita dari arogansi kebudayaan.”

Kalimat ini terasa menggema jauh melampaui dinding Gedung Tertutup Taman Budaya NTB malam itu. Ia tidak hanya berbicara tentang Dende Tamari sebagai karya seni, tetapi tentang cara kita memandang seni sebagai proses sosial dan kebudayaan.

Kata “etalase” yang digunakan Surya Mulawarman menandakan bahwa Dende Tamari menjadi ruang perjumpaan antar-gagasan, antar-seniman, bahkan antar-masyarakat. Ia bukan panggung yang berdiri sendiri, tetapi jendela yang memperlihatkan bagaimana kesenian hidup, tumbuh, dan berinteraksi dengan realitas sosial di Lombok hari ini.

Surya Mulawarman – Kepala Taman Budaya Nusa Tenggara Barat

Di tengah arus globalisasi yang sering menyeragamkan ekspresi budaya, keberanian untuk menampilkan lokalitas dengan kesadaran estetis yang tinggi adalah bentuk perlawanan kultural. Dan Dende Tamari, di tangan Bengkel Aktor Mataram (BAM) yang dipimpin Kongso Sukoco, menjadi simbol dari perlawanan itu.

Surya Mulawarman dengan tepat menangkap semangat lintas disiplin yang ditawarkan Dende Tamari: sebuah pertemuan antara teater, musik, dan seni rupa. Dalam dunia teater kontemporer, keberanian menembus batas antardisiplin adalah langkah menuju bentuk seni yang hidup dan relevan.

Tidak ada lagi batas tegas antara aktor dan perupa, antara musik dan dialog, antara tubuh dan ruang. Semuanya menyatu dalam satu kesadaran artistik yang menghidupkan pengalaman penonton.

Membuka ruang dialog dan dialektika,” lanjut Surya Mulawarman dalam sambutannya. Frasa ini memberi penekanan bahwa Dende Tamari tidak berhenti pada bentuk estetika, tetapi bergerak ke wilayah etika dan intelektual.

Teater, dalam pandangan ini, adalah medan percakapan. Ia tidak menggurui, melainkan mengajak berpikir bersama. Dialektika yang dimaksud bukan sekadar debat ide, tetapi proses saling memahami antara seniman, penonton, dan kebudayaan itu sendiri.

Dalam konteks Bengkel Aktor Mataram, dialektika semacam ini sudah menjadi roh kerja kreatif mereka sejak awal berdiri. Setiap lakon yang mereka pentaskan bukan hanya upaya menghidupkan teks, melainkan juga proses membaca ulang realitas sosial di sekitarnya.

Dende Tamari, dengan akar kisahnya yang berkelindan antara mitos, sejarah, dan tragedi perempuan, menjadi cermin atas pergulatan manusia Lombok dengan tradisi, kekuasaan, dan kemanusiaan.

Ruang dialog itu juga tampak dari cara produksi artistik pementasan ini dibangun. Nama-nama seperti Winsa, Dende Dila, Wulan Eryana Sain, Bagus Maulana, Hawa Metha, Febri Febrian sebagai aktor; Reza Ashari sebagai stage manager; Mantra Ardhana sebagai sound designer; Zaeni Mohammad sebagai art director; Fathul Ajis sebagai lighting designer; dan Lalu Prima Wira Putra sebagai musisi (tradisi) —menunjukkan kerja kolaboratif lintas bidang yang serius.

Tiap peran menjadi bagian dari satu kesatuan gagasan. Tidak ada hierarki yang menindas kreativitas individu; yang ada adalah pertemuan pandangan dalam semangat kolektif. Melalui pendekatan ini, Dende Tamari menghadirkan pengalaman estetik yang tak sekadar indah, melainkan menggetarkan. Ia menantang penonton untuk berpikir, merasa, dan berefleksi.

Di sinilah ruang dialektika itu bekerja—antara teks dan konteks, antara tradisi dan modernitas, antara tubuh aktor dan tubuh sosial yang diwakilinya.

Menjauh dari Arogansi Kebudayaan

Salah satu gagasan paling menarik dalam sambutan Surya Mulawarman adalah ajakan untuk “menjauhkan diri dari arogansi kebudayaan.” Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat tajam.

Arogansi kebudayaan adalah sikap merasa bahwa satu bentuk seni, satu pandangan tradisi, atau satu sistem nilai adalah yang paling benar, paling tinggi, dan paling layak diakui. Dalam dunia seni, arogansi semacam ini sering menjelma dalam bentuk-bentuk elitis: menganggap seni hanya milik kalangan tertentu, atau bahwa estetika tertentu lebih luhur daripada yang lain.

Dende Tamari justru menolak itu semua. Ia membuka diri terhadap pluralitas. Kisahnya lahir dari konteks lokal Lombok, tetapi disampaikan dengan bahasa teater universal. Ia menyerap bentuk-bentuk ekspresi lokal, seperti motif busana Sasak, atau irama musik khas Lombok, namun tidak berhenti sebagai folklor.

Ia menjadikannya bagian dari wacana global tentang perempuan, kekuasaan, dan eksistensi manusia. Di sinilah letak keindahan sekaligus kerendahan hati teater BAM—mereka tidak berusaha memamerkan kebudayaan Lombok sebagai eksotisme, melainkan menawarkannya sebagai pengalaman kemanusiaan bersama.

Surya Mulawarman membaca pesan ini dengan tajam. Ia memahami bahwa seni, jika ingin berfungsi sebagai ruang perjumpaan, harus membebaskan diri dari superioritas kultural. Seni yang arogan hanya akan membangun tembok pemisah.

Sementara seni yang rendah hati, yang mau mendengar dan berdialog, justru menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang. Dalam arti itu, Dende Tamari menjadi representasi dari kebudayaan yang inklusif—kebudayaan yang menyapa, bukan menggurui.

Bagian terakhir sambutan Surya Mulawarman menegaskan bahwa “di sinilah seni menemukan maknanya sebagai katalisator kebersamaan.” Pernyataan ini bisa dianggap sebagai refleksi filosofis atas fungsi seni dalam masyarakat.

Seni bukan hanya hiburan atau tontonan, tetapi proses mempertemukan yang berbeda. Ia adalah katalis—sesuatu yang mempercepat reaksi sosial tanpa ikut hancur di dalamnya. Dalam pementasan Dende Tamari, fungsi katalitik itu terlihat jelas: ia mempertemukan seniman dan birokrat, akademisi dan mahasiswa, warga kota dan masyarakat desa, tradisi dan modernitas.

Katalisator kebersamaan juga bermakna bahwa seni memiliki kemampuan memperhalus perbedaan. Dalam dunia yang makin terfragmentasi oleh politik identitas dan ekonomi, seni menjadi medium yang meneguhkan empati.

BAM, dengan konsistensi mereka dalam mengolah tema-tema sosial dan kultural, telah menunjukkan bagaimana teater bisa menjadi ruang penyembuhan kolektif. Mereka tidak sekadar menampilkan penderitaan manusia di atas panggung, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap penonton adalah bagian dari persoalan dan kemungkinan penyelesaiannya.

Makna kebersamaan dalam seni semacam ini berakar dari pengalaman kolektif. Setiap pementasan BAM selalu melibatkan banyak elemen masyarakat—dari komunitas seni, pelajar, penikmat teater, hingga pemerintah daerah.

Ketika mereka berkumpul di satu ruang pertunjukan, batas-batas sosial seolah luluh. Semua menjadi penonton yang setara di hadapan karya seni. Dalam momen itu, teater tidak lagi sekadar tontonan, melainkan peristiwa sosial yang memulihkan rasa kemanusiaan bersama.

Sambutan Surya Mulawarman juga menegaskan posisi Taman Budaya NTB sebagai lembaga yang membuka ruang bagi dialog kreatif. Ia tidak sekadar tempat pertunjukan, tetapi wadah tumbuhnya ide, kolaborasi, dan kritik.

Dalam semangat itu, Dende Tamari menjadi contoh ideal bagaimana lembaga kebudayaan dan komunitas seni bisa saling memperkuat. Taman Budaya NTB menyediakan ruang, sementara BAM mengisinya dengan energi kreatif yang hidup.

Sinergi ini penting dalam konteks kebijakan kebudayaan di daerah. Banyak lembaga budaya yang hanya berfungsi administratif, tanpa roh artistik yang kuat. Namun, ketika kepala lembaga seperti Surya Mulawarman berbicara dengan kesadaran artistik yang mendalam, kita bisa melihat arah baru bagi kebudayaan daerah: kebijakan yang berbasis empati dan dialog, bukan kekuasaan dan formalitas.

Dende Tamari menjadi bukti bahwa ketika birokrasi dan seniman saling menghormati, karya besar bisa lahir.

Seni yang Menyapa, Bukan Menggurui

Sambutan Lalu Surya Mulawarman pada pementasan Dende Tamari adalah contoh bagaimana seorang pejabat kebudayaan berbicara dengan bahasa seniman. Ia tidak menilai seni dari sisi administratif, tetapi dari makna sosial dan filosofisnya.

Ucapannya—tentang lintas disiplin, ruang dialog, dan anti-arogansi budaya—mengandung pesan yang amat relevan bagi masa kini: bahwa seni adalah jalan menuju kebersamaan.

Dende Tamari, dengan segala kompleksitasnya, adalah perwujudan dari cita-cita itu. Ia mempertemukan disiplin seni, memperdalam percakapan lintas generasi, dan menghadirkan kesadaran bahwa di balik setiap lakon, ada cermin kehidupan yang menunggu ditatap bersama.

Maka benar apa yang dikatakan Surya Mulawarman: di sanalah seni menemukan maknanya—bukan pada gemerlap panggung atau tepuk tangan penonton, tetapi pada kemampuannya menyatukan manusia dalam kebersamaan yang tulus.

#Akuair-Ampenan, 26-10-2025

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *