Yagna Semesta Initiative

Sabun Hijau Menjelang Lebaran

Teriakan itu pecah dari kamar mandi Pak Muksin tepat ketika Bu Ramlah baru saja mengibaskan mukena di pagar. Nadanya bukan seperti orang terpeleset, bukan pula seperti orang digigit ular. Lebih mirip seseorang yang baru sadar ada bencana, hanya saja belum tahu bentuknya.

Teriakan itu pecah dari kamar mandi Pak Muksin tepat ketika Bu Ramlah baru saja mengibaskan mukena di pagar. Nadanya bukan seperti orang terpeleset, bukan pula seperti orang digigit ular. Lebih mirip seseorang yang baru sadar ada bencana, hanya saja belum tahu bentuknya.

“Habis!”

Sekali lagi, lebih keras.

“Ya Allah, habis!”

Dalam waktu kurang dari dua menit, gang kontrakan yang biasanya cuma ribut kalau ada tabung gas bocor atau pasangan muda bertengkar, mendadak siaga. Bu Ramlah yang pertama berlari. Dari belakangnya menyusul Adit, anak warung ujung gang yang selalu bergerak cepat kalau ada keributan, karena mengira semua keributan pasti bisa dijadikan konten. Pak Harun, ketua RT yang kebetulan sedang menyiram bunga kertas, ikut datang sambil masih menggenggam selang.

“Pak Muksin! Kenapa, Pak?” teriak Bu Ramlah sambil mengetuk pintu rumah kontrakan.

Dari balik pintu, terdengar bunyi ember tersenggol dan dentang gayung yang jatuh, lalu suara Pak Muksin pecah menembus keheningan

“Sabunnya habis!”

Hening jatuh sejenak.

Pak Harun menoleh ke Bu Ramlah. Bu Ramlah menoleh ke Adit. Adit menahan tawa dengan cara menggigit bibir bawah sampai mukanya merah.

“Sabun?” kata Pak Harun, memastikan ia tidak salah dengar.

“Sabun hijau!” teriak Pak Muksin dari dalam, kali ini dengan kemarahan yang membuat kata hijau terdengar seperti nama musuh bebuyutan.

Bu Ramlah meletakkan tangan di dada.

“Ya ampun, saya kira Bapak pingsan.”

Pintu dibuka dengan gerakan yang lebih dramatis daripada perlu. Pak Muksin muncul dengan handuk melilit pinggang, bahu masih berbusa sebagian, wajah kusut, rambut basah menempel di pelipis. Di telapak tangannya, ia mengangkat sesuatu yang nyaris tak bisa disebut benda lagi: serpih tipis sabun hijau daun wangi, bening kehijauan, licin, menempel seperti daun yang salah musim.

“Ini,” katanya, dengan nada orang yang sedang menunjukkan barang bukti pembunuhan. “Tinggal begini.”

Adit tak kuat lagi. Ia membalik badan, pura-pura batuk, bahunya terguncang.

Bu Ramlah mendekat, menyipitkan mata. “Lho, tinggal beli lagi, Pak.”

Pak Muksin menatapnya seperti menatap orang yang baru menyarankan menimba laut pakai gelas plastik.

“Kalau ada, saya tidak teriak.”

Seisi gang mulai berkumpul. Dua ibu yang sedang mengupas bawang ikut muncul dari pintu. Seorang bapak yang baru pulang dari masjid berdiri sambil mengangkat sarung. Anak-anak kecil menyelinap di sela kaki orang dewasa. Dalam hidup gang itu, mereka sudah melihat banyak hal: orang kesurupan setelah putus cinta, ayam hilang yang ternyata tidur di atas lemari, sepeda motor dibawa kabur mantan menantu. Tapi lelaki setengah baya yang panik karena sabun hijau habis dua hari menjelang Lebaran, itu baru pertama kali.

“Pakai sabun lain dulu kek,” kata Bu Ramlah.

Pak Muksin menggeleng dengan cepat.

“Nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Nggak bisa ya nggak bisa.”

Pak Harun, yang dari tadi berusaha menjaga wibawa situasi, maju selangkah.

“Pak Muksin, sabun itu sabun. Yang penting bersih.”

Pak Muksin memandangnya dengan wajah muram.

“Kalau semua yang wangi itu sama, buat apa orang bikin banyak merek?”

Adit terkekeh. “Om, malah ngajak debat pemasaran.”

Pak Muksin tidak menanggapi. Ia menatap serpih sabun di telapak tangannya seperti menatap sesuatu yang dulu utuh dan kini tinggal alasan untuk marah.

Sabun hijau daun wangi itu bukan sabun mahal. Di warung mana pun biasanya ada. Bentuknya batangan, warnanya hijau bening seperti sirup yang gagal jadi minuman, aromanya tajam, dingin, sedikit getir, sedikit manis. Menjelang Lebaran, ada barang-barang yang tiba-tiba memperoleh kehormatan musiman: ketupat plastik, sarung, parfum Arab, sirup merah, dan, entah bagaimana, sabun hijau daun wangi.

“Biar saya carikan di warung,” kata Adit. “Kalau cuma sabun, gampang.”

“Yang hijau, kemarin gak ada” kata Pak Muksin cepat. “Coba, daun wangi. Yang batangan. Bukan cair. Bukan yang ada lidah buayanya. Bukan yang lemon.”

Adit memberi hormat asal-asalan. “Siap, komandan sabun.”

Ia melesat ke warung ujung gang.

≈ ≈ ≈

Pak Muksin masuk lagi meninggalkan orang-orang yang masih berkerumun, ia ke kamar mandi, tapi tidak benar-benar mandi. Ia berdiri lama di depan rak plastik yang menempel miring di dinding, memandangi tempat sabun berlendir yang kini cuma menyisakan jejak hijau pucat. Ia menempelkan serpih sabun itu ke telapak tangan, mengusapnya pelan, berharap masih ada sedikit busa yang bisa menolong. Sabun itu luruh seperti ingatan yang terlalu sering disentuh.

Dulu, Lina selalu bilang ia terlalu berlebihan soal sabun.

“Bukan berlebihan,” jawab Pak Muksin tiap kali. “Ini soal cocok.”

Lina tertawa, lalu biasanya memasukkan tiga batang sekaligus ke dalam lemari kecil dekat kamar mandi. Ia hafal mereknya, hafal bentuk bungkusnya, hafal warung mana yang paling sering kehabisan. Bahkan kadang, sebelum Pak Muksin sadar stok di kamar mandi tinggal satu, Lina sudah pulang membawa dua batang baru dari toko seberang jalan.

“Tahun depan kita beli banyak sekalian,” katanya pernah, suatu Ramadan yang sekarang terasa seperti cerita orang lain. “Kalau habis menjelang Lebaran, yang ribut sekampung nanti.”

Pak Muksin dulu ikut tertawa. Ternyata Lina benar. Yang ia salahkan cuma satu: waktu itu ia masih ada untuk menertawakan.

≈ ≈ ≈

Adit kembali kurang dari sepuluh menit kemudian, mukanya masih ceria seperti pembawa kabar baik.

“Habis, Om.”

Pak Muksin keluar lagi dengan kaus oblong dan sarung, rambut masih basah setengah, mata langsung menyipit.

“Habis gimana?”

“Ya habis. Tinggal yang ungu sama yang putih.”

“Bukan itu.”

“Iya, makanya saya bilang habis.”

“Warung Bi Narti?”

“Udah.”

“Warung depan gang?”

“Udah.”

Bu Ramlah menyela, “Saya punya sabun cair wangi mawar. Sabun mahal ini. Mau?”

Pak Muksin menoleh pelan, seolah baru saja dihina.

“Sabun mawar buat mandi menjelang Lebaran?”

Bu Ramlah tersinggung. “Emang kenapa dengan mawar? Wangi.”

“Wangi, Bu. Tapi bukan itu.”

“Ya sabun tetap sabun. “

Pak Muksin menarik napas panjang.

“Bukan soal mahal. Ini soal cocok.”

Kalimat itu keluar seperti mantra yang sudah dipakai bertahun-tahun.

Orang-orang mulai saling pandang. Di gang-gang sempit, semua orang pura-pura paham selama itu bisa dipakai untuk ikut bicara.

“Pak Muksin itu memang kulitnya sensitif, ya?” kata salah satu ibu-ibu

“Iya, bisa jadi biang keringat,” sahut yang lain. “Cuaca panas begini.”

“Atau gatal-gatal,” timpal ibu yang dari tadi belum selesai memotong bawang.

Seorang anak kecil yang entah sejak kapan sudah berdiri paling depan ikut menyela, “Kalau sabunnya habis, bisa bikin masuk angin?”

“Masuk angin dari mana?” kata Adit.

“Dari kamar mandi.”

Beberapa orang tertawa.

Anak itu belum menyerah. “Kalau kerasukan bisa?”

Adit mengangkat alis. “Bisa.”

“Serius?”

“Kalau setannya cocok sama wanginya.”

Pak Harun berdeham, berusaha mengembalikan martabat pagi.

“Sudah, sudah. Kita cari saja. Masih ada minimarket dekat jalan besar.”

Pak Muksin sudah melangkah lebih dulu.

“Saya ikut.”

“Ya iyalah ikut,” gumam Bu Ramlah. “Masa kami yang mandi.”

≈ ≈ ≈

Mereka berangkat seperti rombongan kecil yang hendak menjemput pengantin, bedanya yang dicari cuma sabun. Matahari pagi mulai naik dan panas dua hari menjelang Idulfitri punya watak yang khas: belum siang, tapi sudah membuat orang merasa dosanya lebih cepat berkeringat. Di kanan-kiri gang, orang sibuk dengan urusan hari raya. Ada yang menjemur karpet, ada yang mencuci sarung, ada yang menata toples, ada yang menurunkan kardus sirup dari motor. Bau santan, minyak goreng, dan cat pagar bercampur di udara. Dari kejauhan terdengar pengeras suara masjid sedang menguji mikrofon dengan suara batuk dan cek satu dua yang tak pernah selesai.

Pak Muksin berjalan cepat, lebih cepat dari lelaki seusianya yang biasanya kalau ke warung saja berhenti dulu untuk mengomentari harga cabai. Sarungnya disingsingkan, sandal jepitnya memukul aspal. Di belakang, Adit memotret diam-diam sampai Bu Ramlah menepuk kepalanya.

“Jangan direkam, kurang ajar. Nanti viral.”

“Justru itu, Bu. Judulnya: Lelaki Hampir Gagal Lebaran Karena Kehabisan Sabun.”

“Kalau kamu unggah, saya yang pertama komentar.”

Minimarket pertama kosong. Kasir muda mengangkat bahu, bilang stok habis dari kemarin. Pak Muksin menatap rak sabun yang berderet penuh: ungu, putih, biru, oranye, lemon, charcoal, aloe vera, semuanya tampak siap menyelamatkan siapa pun kecuali dirinya. Bu Ramlah mengambil satu sabun cair berbungkus emas, menawarkan sabun melati. Pak Muksin menciumnya. Ia diam. Lalu mengembalikan.

“Ini bukan.”

“Ya iya bukan, namanya juga melati.”

Pak Harun menghela napas.

“Pak Muksin, bersih itu bukan urusan aroma.”

Pak Muksin menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu wajahnya tampak benar-benar letih.

“Kadang-kadang,” katanya pelan, “ada yang tak bisa diganti cuma karena sama-sama wangi.”

Tak seorang pun menjawab.

Mereka pindah ke minimarket kedua. Hasilnya sama. Toko kelontong besar dekat perempatan, sama. Seorang penjaga toko menyarankan pesan online. Pak Muksin menatapnya datar.

“Lebaran dua hari lagi.”

“Oh.”

“Kalau datang setelah Lebaran, itu sama saja seperti payung datang setelah hujan selesai.”

Penjaga toko itu mengangguk sopan. Mungkin paham, mungkin tidak.

≈ ≈ ≈

Menjelang siang, rombongan pencari sabun itu pecah. Bu Ramlah pulang karena harus menggoreng bawang. Pak Harun dipanggil istrinya untuk mengangkat galon. Tinggal Adit yang masih ikut, sebagian karena iba, sebagian karena hidupnya memang sedang kosong.

Mereka berhenti sejenak di bawah pohon flamboyan yang daunnya tinggal separuh. Jalan besar ramai oleh motor yang membawa kardus, karung, dan anak-anak yang tampak terlalu gembira untuk panas seterik itu. Di depan toko pakaian, manekin-manekin berdiri dengan baju koko dan gamis. Seorang anak kecil merengek minta pistol gelembung. Di pinggir jalan, dua orang perempuan memilih toples sambil menawar harga seperti sedang menegosiasikan nasib.

Pak Muksin memandang semua itu dengan rasa muak yang tidak bisa ia jelaskan.

“Om,” kata Adit akhirnya, “jujur, saya baru tahu ada orang segitunya sama sabun.”

Pak Muksin tidak langsung menjawab. Matanya masih di keramaian jalan.

“Dari dulu saya pakai itu.”

“Sejak kapan?”

Pak Muksin mengangkat bahu.

“Sejak saya belum tahu kalau orang bisa pergi.”

Adit tidak mengerti, tapi cukup sopan untuk tidak bertanya.

≈ ≈ ≈

Dulu ia juga pernah ikut sibuk begini. Membeli ketupat plastik yang akhirnya tidak dipakai. Membeli sirup yang terlalu manis. Membelikan sandal baru untuk anak-anak yang selalu kebesaran seminggu kemudian. Lina akan mengomel kalau ia salah beli ukuran baju. Anak bungsunya pernah menyembunyikan sabun hijau di bawah wastafel cuma karena ingin melihat ayahnya panik. Mereka tertawa sampai malam ketika akhirnya sabun itu ditemukan menempel di belakang ember.

“Bapak kalau sabunnya hilang, lebih ribut dari orang kehilangan STNK,” kata Lina waktu itu.

Sekarang kamar mandinya terlalu rapi. Tak ada mainan plastik mengambang di ember. Tak ada handuk kecil yang basah karena dipakai dua anak sekaligus. Tak ada suara orang mengetuk pintu sambil bilang, “Ayah, lama.”

Yang ada hanya dirinya, sebuah rak plastik miring, dan hari raya yang sebentar lagi datang seperti tamu yang terlalu kenal dekat.

≈ ≈ ≈

Setelah zuhur, Pak Muksin pulang tanpa hasil. Gang sudah lebih sepi. Orang-orang kembali ke urusan masing-masing, tapi berita tentang dirinya jelas sudah beredar. Di depan rumah kontrakan, dua ibu yang lewat menatapnya dengan campuran iba dan hiburan. Salah satunya berbisik cukup keras untuk terdengar.

“Itu, yang sabunnya habis.”

Seolah-olah ia baru selamat dari bencana nasional.

Di teras, Bu Ramlah menunggunya sambil memegang kantong plastik.

“Saya belikan yang hijau juga,” katanya cepat, seperti menawarkan damai. “Memang bukan daun wangi. Ini ada lidah buaya. Warnanya mirip.”

Pak Muksin menatap kantong itu beberapa detik. Ia tahu Bu Ramlah baik. Ia tahu perempuan itu mungkin rela berkeliling dua warung tambahan demi menolong tetangga yang pagi tadi bikin satu gang batal santai. Tapi kebaikan orang lain kadang datang dalam bentuk yang tak bisa dipakai.

Ia mengambil sabun itu. Membuka bungkusnya pelan. Menciumnya.

Aroma buatan, segar, manis, licin.

Bukan.

“Terima kasih, Bu,” katanya akhirnya, suaranya serak. “Tapi ini bukan yang biasa.”

Bu Ramlah mendecak pelan.

“Pak Muksin, Bapak ini kadang-kadang ya…”

Ia tidak melanjutkan. Mungkin karena melihat wajah lelaki itu. Mungkin karena tiba-tiba ia sadar ada sesuatu yang tidak lucu lagi.

“Kalau berubah pikiran, pakai saja,” katanya sambil meletakkan sabun itu di kursi plastik. “Yang penting mandi.”

Pak Muksin mengangguk.

≈ ≈ ≈

Sore turun dengan cara yang khas menjelang Lebaran: lebih berisik, lebih sibuk, dan entah kenapa selalu terasa seperti semua orang sedang menuju seseorang. Anak-anak mulai bermain petasan kecil di ujung gang. Bau bawang goreng menyebar dari rumah ke rumah. Dari masjid, suara tadarus terdengar terbata-bata lalu lancar lalu hilang tertutup motor lewat. Langit memucat pelan, seperti kain yang terlalu sering dicuci.

Pak Muksin duduk sendirian di teras. Sabun pengganti dari Bu Ramlah masih terbungkus setengah di atas kursi. Ponselnya tergeletak di meja plastik. Beberapa kali ia membukanya, lalu menutup lagi.

Ia sempat membuka chat adiknya. Terakhir kali mereka bicara delapan bulan lalu: kabar singkat dan tautan ceramah dari pengajian suaminya yang sudah lama membuat mereka seperti dua orang yang tinggal di negara berbeda meski nomornya masih sama. Ia mengetik: Selamat Idulfitri duluan. Lalu menghapusnya.

Ia membuka galeri. Ada foto anak-anak yang sudah lama tak diperbarui. Ada video lama ketika Lina sedang membungkus kue dan marah karena ia merekam dari sudut yang membuat dapur tampak berantakan.

Ada satu pesan terakhir Lina yang tidak pernah ia hapus, bukan karena ingin dibaca ulang, tapi karena menghapusnya terasa seperti membenarkan bahwa semuanya memang salahnya. Lina pergi tujuh bulan lalu, setelah sebuah percakapan yang berubah menjadi ruang saling tuduh, tempat dua orang yang pernah saling mencintai sama-sama yakin bahwa yang lainlah penyebab hancurnya rumah tangga mereka. Anak-anak ikut bersamanya. Pintu ditutup dengan suara yang sejak itu tak pernah benar-benar selesai terdengar.

Ada satu foto yang entah kenapa masih tersimpan: sebatang sabun hijau di pinggir wastafel, dan tangan kecil anak bungsunya yang penuh busa.

Ia menutup ponsel.

Tak semua kehilangan datang dengan pintu dibanting. Ada yang datang seperti stok barang yang pelan-pelan menipis sampai suatu pagi kita baru sadar raknya kosong.

≈ ≈ ≈

Menjelang magrib, ia akhirnya masuk ke kamar mandi.

Ruang itu sempit, lembap, dan akrab dalam cara yang menyedihkan. Ember biru, gayung merah, rak plastik miring, handuk lusuh tergantung di paku. Di sudut lantai, air menggenang tipis. Cahaya dari ventilasi jatuh miring, membuat dinding berjamur tampak lebih tua dari umurnya.

Sabun lidah buaya dari Bu Ramlah ia letakkan di rak, masih utuh. Ia tidak menyentuhnya.

Tangannya bergerak sendiri ke tempat sabun lama. Di sana, menempel pada tatakan plastik berlendir, masih ada sisa yang tadi pagi ia kira sudah habis. Serpih yang lebih tipis dari kuku, nyaris bening, tapi masih hijau. Ia congkel pelan dengan ujung jari. Sabun itu nyaris hancur, tapi belum sepenuhnya menyerah.

Pak Muksin menatapnya lama.

Lalu ia mendekatkannya ke hidung.

Aromanya masih ada.

Tipis. Lemah. Hampir habis. Tapi ada.

Dan entah bagaimana, hanya dengan itu, kamar mandi sempit di kontrakan panas itu mendadak dipenuhi hal-hal yang sudah lama pergi.

Ia mencoba mengingat ibunya. Tapi tidak ada. Bukan karena lupa, melainkan karena tidak pernah sempat ada yang bisa diingat. Ibunya meninggal waktu ia masih terlalu kecil untuk menyimpan wajah, terlalu kecil untuk ingat bau sabun di lengannya, terlalu kecil untuk tahu bahwa kehilangan pertama adalah yang paling diam.

Yang ada adalah neneknya. Perempuan tua yang memotong sabun batangan jadi dua dengan pisau dapur tumpul supaya lebih awet sampai hari raya. Yang menyuruhnya mandi dua kali sehari meski air sumur dingin. Yang tahu persis kapan stok sabun tinggal satu batang dan selalu punya gantinya di laci bufet coklat yang pintunya tidak pernah benar-benar menutup rapat. Nenek yang meninggal waktu ia baru mulai tahu cara mencukur kumis, dan meninggalkan rumah papan berdinding tipis itu dalam keheningan yang terasa seperti akhir sebuah bahasa.

Lalu kakaknya, Mbak Surti, yang sepuluh tahun lebih tua dan selama beberapa tahun menjadi ibu kedua yang tidak pernah minta disebut ibu. Yang mengambil alih kebiasaan nenek tanpa diminta: selalu ada sabun cadangan di lemari, selalu tahu kapan ia mulai rewel karena hal-hal kecil. Mbak Surti yang jatuh sakit dengan cara yang sama seperti ibunya dulu, seolah tubuh perempuan-perempuan dalam keluarganya sudah lama menyimpan perjanjian dengan penyakit yang sama. Yang meninggal tiga bulan sebelum pernikahannya, terlalu cepat untuk sempat menaruh sabun baru di kamar mandi rumah yang baru.

Lalu Lina.

Lina yang pulang membawa tiga batang sabun dari warung sambil mengeluh harga naik. Lina yang tertawa melihatnya panik kalau stok tinggal satu. Lina yang, bahkan setelah mereka sering bertengkar dan saling tuduh hal-hal yang mungkin tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah, masih sempat meletakkan satu sabun baru di lemari kamar mandi tanpa bilang apa-apa, mungkin karena tangan bisa menyimpan kebiasaan yang hati sudah tidak sanggup lagi.

Pak Muksin menutup mata.

Aroma itu begitu kecil, tapi sanggup membuka semua pintu yang selama ini ia tahan rapat-rapat.

Di luar, dari arah dapur-dapur yang mulai ramai, tercium bau kolak dan gorengan yang naik ke udara. Suara piring. Suara kursi digeser. Suara anak-anak yang berlari masuk rumah. Sebentar lagi azan magrib. Sebentar lagi orang-orang akan duduk bersama di meja yang sama, membuka puasa dengan hal-hal kecil yang sudah disiapkan sejak sore.

Pak Muksin duduk perlahan di lantai kamar mandi.

Bukan karena pusing. Bukan karena lemah.

Hanya karena lututnya mendadak tidak pandai lagi menyangga apa-apa.

Serpih sabun itu masih ia pegang erat-erat, seolah kalau ia lengah sedikit saja, seluruh hidupnya akan larut bersama busa yang tak sempat jadi. Bahunya bergerak pelan. Kepalanya tertunduk. Air dari keran yang belum ditutup rapat menetes satu-satu ke ember, bunyinya kecil, sabar, seperti seseorang yang tak ingin ikut campur.

Lalu azan magrib pecah dari masjid, panjang, penuh, memenuhi udara sore yang sudah berubah warna. Disusul azan dari musala ujung gang. Lalu dari speaker rumah seseorang yang terlalu semangat. Di luar, dunia mulai berbuka. Dunia mulai makan. Dunia mulai ramai dengan suara orang-orang yang masih punya meja untuk dituju.

Tak ada yang melihatnya.

Mungkin Bu Ramlah sedang menggoreng bawang sambil bercerita pada suaminya bahwa tetangga mereka nyaris bikin satu gang geger cuma karena sabun. Mungkin Adit sedang menulis caption yang akhirnya ia batalkan karena mendadak merasa tidak enak.

Takbir masih jauh, dua malam lagi. Tapi Pak Muksin sudah tidak bisa menunggu lebih lama. Ketika sabun hijau itu habis, ia sadar bahwa yang membuatnya panik sejak pagi bukanlah sabun itu. Ia panik karena untuk pertama kalinya ia mengerti: Lebaran kali ini, ia tak punya rumah untuk pulang. Rumahnya masih ada, tetapi pulangnya sudah lama hilang. Tak ada orang yang tahu itulah yang membuat pikirannya kosong dan langkahnya berputar-putar dari satu toko ke toko lain hanya untuk menunda pengakuan paling sunyi itu.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia menangis tanpa suara di kamar mandi sempitnya sendiri, sementara di luar sana malam berbuka tumbuh seperti cahaya di rumah-rumah orang lain.

— selesai —

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *