Yagna Semesta Initiative

Nyeloka: Saat Anak Muda Bayan Menulis Tradisinya Sendiri

Di tengah modernisasi yang kerap mengikis identitas, mereka memilih menulis. Dan bagi saya, itu adalah bentuk perlawanan yang paling indah.

Pagi itu, Minggu, 7 September 2025, Kampung Adat Karang Salah di Bayan dipenuhi suara riuh anak-anak muda. Udara pegunungan membawa aroma tanah basah dan wangi khas dari rumah-rumah adat. Di halaman kecil samping berugak dan rumah adat, Komunitas Yora Hero menggelar sebuah acara yang mereka sebut Nyeloka Buku Mulud Adat Bayan Dalam Goresan Penulis Muda.

Poster Nyeloka dari Komunitas Yora Hero

Buku yang menjadi pusat perhatian hari itu lahir dengan cara yang tak biasa. Oktober 2024, saya menerima drafnya—tulisan yang disusun hanya dalam lima jam pelatihan menulis, kemudian para penulis muda itu langsung turun mengikuti prosesi Maulid Adat Bayan dari awal hingga akhir. Mereka menyaksikan, mereka mencatat, mereka merasakan, lalu menulis pengalaman itu dengan caranya sendiri.

Hasilnya? Lima belas penulis, sebagian besar siswa SMA dan pemuda adat, menghasilkan teks yang berlapis-lapis: ada yang detail seperti laporan etnografi, ada yang mengalir seperti catatan harian, ada yang liris seperti doa. Semua menyatu dalam satu naskah yang jujur.

Sebagai orang yang dipercaya Komunitas Yora Hero untuk merapikan naskah tersebut, saya tahu benar bahwa penyuntingannya jauh dari kata sempurna. Ada struktur yang berantakan, istilah adat yang tak diberi glosarium, bahkan deskripsi prosesi yang berulang-ulang. Tapi di balik kekurangan itu, ada sesuatu yang lebih penting: keberanian.

Lalu Gitan memberikan tanggapannya (dok. pribadi 2025)

Keberanian anak-anak muda Bayan menulis tentang tradisinya sendiri.
Keberanian mereka merekam ritual yang diwariskan turun-temurun, lalu menuliskannya dengan bahasa mereka—bahasa generasi yang lahir di tengah gempuran modernitas, tapi tak ingin tercerabut dari akar budaya.

Dalam forum Nyeloka, para penanggap seperti Renadi dari Sekolah Adat Bayan, Lalu Gitan dari Geopark Rinjani, hingga AS Rosyid memberi banyak masukan. Ada yang menyoroti soal konsistensi istilah antara “Mulud” dan “Maulid”, ada yang menyarankan penambahan glosarium, ada pula yang mengingatkan agar penulisan ke depan lebih terarah kepada siapa buku ini ditujukan.

Namun semua sepakat pada satu hal: buku ini otentik. Ditulis oleh mereka yang hidup di tengah tradisi, bukan oleh orang luar yang hanya sesekali singgah. Karena itu, meski secara akademik naskah ini mungkin belum lengkap, dari segi kejujuran dan keberanian, buku ini sudah melampaui banyak batas.

AS Rosyid bahkan memberi pesan kepada semua siswa yang hadir hari itu: teruslah menulis. Karena buku tentang adat Bayan dari sudut pandang masyarakat lokal masih sangat sedikit. Dan kalian, katanya, sudah memulainya dengan langkah yang berani.

AS Rosyid memberikan motivasi menulis kepada peserta Nyeloka (dok. pribadi 2025)

Saya pulang dari Nyeloka dengan perasaan yang sulit dirumuskan. Ada bangga, ada haru, ada rasa syukur karena bisa menjadi bagian kecil dari perjalanan ini. Sebagai penyunting, saya tahu pekerjaan ini belum selesai. Tapi sebagai seorang yang mencintai budaya, saya melihat buku ini sebagai awal dari sesuatu yang lebih besar: kesadaran generasi muda Bayan bahwa tradisi mereka layak ditulis, layak dirayakan, dan layak diwariskan melalui kata-kata.

Di tengah modernisasi yang kerap mengikis identitas, mereka memilih menulis. Dan bagi saya, itu adalah bentuk perlawanan yang paling indah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *