Yagna Semesta Initiative

Meneliti Kearifan Lokal dalam Ritus Kebangru’an

Penelitian tentang Kebangru’an adalah perjalanan spiritual dan intelektual sekaligus. Ia mengajarkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan sebuah cara masyarakat menjaga keseimbangan kosmos: manusia, alam, dan leluhur.

Saya masih ingat pertama kali melangkahkan kaki ke Dusun Benyer, Desa Telaga Waru, Pringgabaya. Suasana dusun itu terasa berbeda sejak awal. Udara sejuk, suara gemericik air dari Mualan Benyer, dan keramaian warga yang berkumpul di sekitar embung memberi kesan bahwa tempat ini bukan sekadar ruang publik, melainkan ruang sakral. Bagi masyarakat Sasak, Benyer adalah pusat kehidupan—tempat roh leluhur bersemayam, sekaligus sumber air yang memberi kehidupan. Saya datang dengan rasa ingin tahu, namun juga dengan kerendahan hati, sebab yang hendak saya pahami bukan sekadar fenomena budaya, melainkan kearifan yang hidup di tengah komunitas.

Sebagai seorang musisi dan pengajar, saya terbiasa membaca simbol-simbol dalam bunyi dan tubuh. Tetapi di Benyer, saya belajar membaca simbol dari air, tarian, dan kesurupan. Ritus Kebangru’an yang saya saksikan bukanlah pertunjukan formal. Ia adalah pengalaman batin, di mana musik tradisional Sekaha dimainkan terus-menerus hingga salah satu peserta jatuh dalam keadaan bangru’—kesurupan yang diyakini sebagai medium komunikasi dengan leluhur. Saya menyaksikan bagaimana tubuh yang dirasuki roh bergerak, bagaimana suara-suara asing keluar dari mulut mereka, dan bagaimana masyarakat di sekitarnya merespons dengan penuh penghormatan.

Amaq Uchan, tokoh Ritus Kebangru’an (dok. Yuga Anggana 2022)

Saya mendekati tokoh adat dan para tetua kampung, mengajak mereka berbincang tentang asal-usul ritus ini. Dari cerita-cerita mereka, saya menangkap bahwa Kebangru’an bukan sekadar “kesurupan” dalam pandangan medis, melainkan sebuah jalan penyembuhan dan penguatan komunitas. Air dari Mualan Benyer menjadi unsur penting—bukan hanya sebagai simbol penyucian, tetapi juga sebagai bukti bahwa alam dan spiritualitas tak bisa dipisahkan. “Air ini bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk jiwa,” kata salah seorang tetua kepada saya. Kalimat itu terus terngiang dalam benak saya.

Dalam setiap kunjungan lapangan, saya membawa catatan, kamera, dan rekaman suara. Tetapi yang lebih penting adalah membawa telinga dan hati untuk mendengar. Saya belajar bahwa penelitian etnografi tidak hanya soal mencatat apa yang terlihat, melainkan merasakan ritme kehidupan masyarakat. Duduk di tepi mata air, menyaksikan anak-anak bermain, ibu-ibu mencuci, dan di sisi lain para tetua menjalankan ritus, membuat saya sadar bahwa Mualan Benyer adalah ruang yang mempertemukan keseharian dan kesakralan.

Pengumpulan data

Proses penelitian ini tidak saya batasi hanya dalam bentuk tulisan akademis. Saya percaya, sebuah tradisi akan lebih hidup jika diceritakan dalam berbagai medium. Karena itu, saya menulis artikel ilmiah, menyusun draf buku, sekaligus menggarap film dokumenter tentang ritus Kebangru’an. Saya juga mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama tokoh adat, akademisi, dan seniman. Dalam forum itu, saya melihat bagaimana sebuah ritus tidak hanya penting bagi masyarakat yang menjalaninya, tetapi juga bisa menjadi bahan refleksi bagi kita semua tentang relasi manusia dengan alam.

Bagi saya pribadi, penelitian tentang Kebangru’an adalah perjalanan spiritual dan intelektual sekaligus. Ia mengajarkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan sebuah cara masyarakat menjaga keseimbangan kosmos: manusia, alam, dan leluhur. Saya melihat bagaimana air, musik, dan tubuh bisa berpadu dalam sebuah pengalaman sakral yang sarat makna. Dan saya percaya, selama masyarakat masih menghormati air dan menjaga ritusnya, maka warisan ini akan tetap hidup—menjadi penopang identitas sekaligus pengingat bahwa modernitas tidak boleh memutuskan ikatan kita dengan yang suci.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *