Saat saya menulis catatan ini, usia si Marbun – Mariberkebun – belum genap setahun. Tapi kerepotan sudah mulai terasa dengan segala macam pergerakannya yang super cepat. Si Marbun, yang lahir di Bandung pada Maret 2013, seolah-olah tidak pernah mau berhenti melangkah. Bahkan kadang-kadang berlari mengejar apapun yang menjadi targetnya. Dalam posisi saya yang sedang menempuh studi di kota Solo, sementara Marbun tinggal di Bandung, repotnya bukan main mengurus segala macam tetek bengek-nya dari jarak jauh. Tapi saya justru bangga. Saya ingin tetap repot. Saya mencintainya. Hahaha…
Marbun lahir di Bandung dengan formasi lima orang: Gandul (rapper), Chimot (gitar), Candra (bass), Sam (drum), dan saya sendiri di posisi vokal sekaligus gitar. Lagu pertama yang kami garap berjudul “Banting TV”, direkam pada akhir Maret 2013 dan dipublikasikan via media sosial pertengahan April 2013. Sampai sekarang, lagu ini sudah diputar sebanyak 2.086 kali dan diunduh oleh 100 penikmat awal. Beberapa orang bertanya, “Kenapa sekarang lagu itu nggak bisa diunduh lagi?” Entahlah. Mungkin sudah mencapai batas maksimal.

Setelah “Banting TV”, Marbun lanjut menggarap “Pacul dan Arit” serta “Teknok-Rat”. Bermodal tiga lagu dan sedikit kenekatan, Marbun yang masih seumur jagung memberanikan diri tampil di event tahunan Braga Festival, September 2013. Ramainya pengunjung mungkin jadi faktor utama yang bikin followers Marbun naik drastis di berbagai platform media sosial. Padahal, saat itu kami baru saja bikin akun-akun medsos gratisan.

Braga Fest jadi semacam batu loncatan. Setelahnya, Marbun mulai menerima tawaran tampil dari berbagai tempat. Stage kedua kami loncat jauh ke Indramayu, diundang oleh komunitas Kirik Squad untuk ikut serta dalam event studio gigs mereka, 13 Oktober 2013. Penampilan kami malam itu berhasil didokumentasikan dalam video amatir yang merekam keriuhan crowd di sana.

Tanggal 27 Oktober, giliran event Music For Soul di Jalan Palasari, Bandung, yang kami gebrak. Sebuah kebanggaan tersendiri ketika Marbun didaulat jadi guest star, tampil sejajar dengan band legendaris Bandung Ragajimesin, juga band metalcore keren, Mental Disorder. Meski sempat grogi, kami menerima respek luar biasa dari mereka. Itu pelajaran besar buat kami—untuk selalu rendah hati dalam perjalanan musik ini.

Salah satu sahabat saya yang bekerja di bidang perfilman juga hadir di Braga Festival. Ia terpukau melihat Marbun berteriak dan melompat di panggung. Ia pun mengajak kami membuat klip sederhana untuk “Banting TV”. Mas Tanto dari 24apples memberikan ide dan menggarap konsep video klip tersebut. Tentu saja kami sambut dengan senang hati.


Sebelum klip itu tayang, sahabat saya di Tasikmalaya, Cesarabay, mengajak membentuk komunitas musik indie. Kami berhasil mengumpulkan enam band dari beragam genre dan membentuk komunitas bernama Non Block Crew. Untuk gigs perdana kami, tema “REGENERATIONS” dipilih. Sebuah pernyataan kecil bahwa musisi-musisi indie Tasik itu satu dan berkualitas. Gigs akhirnya digelar di sebuah kafe di Tasikmalaya, 16 November 2013. Marbun membawakan empat lagu malam itu. Meski kecil-kecilan dan para talenta ikut menyumbang dana demi keberlangsungan acara, saya nyatakan REGENERATIONS berhasil. Ini bisa jadi langkah awal revolusi musik indie Tasikmalaya.

Beberapa hari setelah party Non Block Crew, Marbun kembali ke Bandung. Klip garapan 24apples selesai diedit dan dipublikasikan tanggal 26 November 2013. Di waktu yang hampir bersamaan, lagu “Teknok-Rat” juga selesai mixing dan dirilis. Meski urutan pengerjaannya ketiga, lagu ini justru dirilis lebih dulu daripada “Pacul dan Arit”, karena menurut saya, temponya lebih pelan. Setelah “Banting TV” yang penuh energi, saya rasa Marbun butuh sedikit jeda sebelum kembali jingkrak-jingkrak. “Teknok-Rat” sendiri bercerita tentang kerakusan para koruptor.
Sebulan kemudian, barulah “Pacul dan Arit” dilempar ke publik. Konon, beberapa pendengar sempat merinding mendengarnya. Saya tak tahu pasti kenapa.
Perjalanan terus berlanjut. Saya tetap mondar-mandir Solo–Bandung naik si Lodaya, kereta favorit saya. Sam Awej, drummer kami, yang memang sudah akrab dengan progresif rock dan eksperimental sejak awal, mulai mengajak kami untuk eksplorasi musik lebih jauh. “Coba dengerin lagu ini,” katanya, hampir setiap nongkrong. Ia rajin merekomendasikan lagu-lagu yang menurutnya layak dijadikan referensi.
Suatu ketika, saya ketemu Argy—sahabat lama, kakak kelas saya di SMA, sekaligus gitaris jagoan. Ia menyimak karya-karya Marbun dan membagikan beberapa referensi musik yang menurutnya cocok buat kami. Sambil ngopi di warung kopi Tasikmalaya, “Tah sok atuh siga kieu yeuh,” katanya sambil menyodorkan playlist dari gadget-nya. Lagu-lagu itu bikin saya merinding. Keren banget. Argy bilang, itu “Djent”. Serupa progresif metal, tapi menurut saya ada nuansa post-rock dan shoegaze juga di dalamnya.
Saya copy lagu-lagu itu dan langsung presentasikan ke Marbun. Sudah kuduga, mereka antusias. Dalam waktu singkat, Sam, Oncom, dan Chimot mempelajari referensi baru itu. Kami pun memutuskan berpindah haluan menjadi Rap-Djent. Genre yang saat itu belum terlalu familiar di telinga pendengar musik sekitar kami. Saya beri nama genre itu: Usiksaawakawak.
Bulan Desember, kami kembali berkarya. Untuk uji coba gaya baru, Marbun meng-cover lagu “Pak Tani” milik Slank. Kami turunkan tuning gitar ke drop B, pakai sound dan ritme khas Djent. Hasilnya? Cukup bikin kami puas. Lagu ini dirilis bulan Desember 2013.
Masih di bulan Desember, beberapa sahabat musisi di Bandung mengajak Marbun bergabung membentuk komunitas baru. Maka lahirlah Garis Keras Rebel, diinisiasi oleh tujuh band beraliran keras. Kami menggelar gigs perdana pada 19 Januari 2014 di sebuah kafe Bandung. Marbun dan enam band lainnya bersatu, berteriak, melompat bersama. Saya percaya, komunitas seperti ini adalah jalan tikus terbaik buat musisi-musisi independen, terutama ketika industri musik formal sedang nyungsep. Semua yang hadir mengangguk setuju.

Pergerakan demi pergerakan yang Marbun jalani—pelan tapi pasti—telah menjaga bara semangat untuk terus berkontribusi di belantara musik. Dengan gaya santai tapi niat yang serius, Marbun tumbuh, merangkak, dan berkembang.
Saya menulis catatan ini di sela-sela waktu saya yang lagi on fire ngerjain tugas akhir kuliah. Di tengah-tengah rencana rekaman vokal untuk lagu baru Marbun yang kemungkinan akan berjudul “Pesan Akar Rumput”, bergenre Rap Djent Usiksaawakawak. Baiklah, wahai pembaca yang masih betah membaca kisah si Marbun, sampai di sini dulu. Saya harus mulai teriak-teriak lagi di kosan buat rekaman “Pesan Akar Rumput”.
Haaaaaps!!! \m/