Yagna Semesta Initiative

Catatan Ulasan Singkat untuk Talkshow pada Momen Release Party Apple ‘N Snake – Paris Hasan, 3 Juni 2023, Rumah Gabah Lombok

Kekuatan utama dari musik Paris Hasan mungkin terletak pada penggunaan motif berulang (ostinato) yang kuat dan konsisten.

Sepanjang pengetahuan saya, jenis musik yang dibawakan Paris Hasan tergolong unik di lanskap musik Lombok. Keunikan itu bisa bermakna positif—karena menghadirkan sesuatu yang baru dan orisinal—namun sekaligus bisa dianggap janggal atau tak lazim di telinga awam. Skiffle and Blues, dua istilah yang digunakan Paris Hasan sebagai penanda musikalnya, mungkin dimaksudkan untuk mempermudah pendengar dalam mengidentifikasi warna musik yang ia usung. Sebuah strategi yang menunjukkan kesadaran bahwa musiknya bisa jadi terasa asing bagi khalayak lokal.

Skiffle—yang awalnya berkembang dari tradisi folk Amerika, dipengaruhi oleh jazz, country, dan musik-musik pekerja—memang bukan genre yang lazim dikenal di Lombok. Blues, dengan akar spiritual dan sejarah panjang di kalangan imigran Afrika-Amerika, menjadi unsur lain yang memperkaya bunyi musik Paris. Namun, yang menarik, keunikan musik Paris Hasan justru tidak hanya pada keberaniannya memperkenalkan jenis musik yang asing, tetapi juga pada caranya melanggar batas-batas karakteristik genre itu sendiri.

1. Instrumen dan Kejanggalan yang Menguatkan Identitas

Musik Skiffle dikenal dengan kesederhanaan alat musiknya: papan cuci, ember, kotak rokok—semacam bunyi dari dapur yang dijadikan panggung. Paris Hasan jelas mengambil jalur berbeda. Dalam rekamannya, kita tidak menemukan suara alat-alat “seadanya” itu. Yang terdengar justru lapisan suara dari gitar akustik, cello, drum elektrik, bahkan efek vokal yang canggih. Meski pengaruh blues tetap terasa kuat, seperti dalam warna vokal dan petikan gitar yang mengingatkan pada Blind Lemon Jefferson atau Leadbelly, Paris Hasan menambahkan elemen-elemen musikal lain yang membentuk identitas bunyinya sendiri.

Salah satu contoh pertemuan yang tak lazim namun menarik adalah timbre cello akustik yang berpadu dengan dentuman kick drum elektrik. Kejanggalan ini—yang mungkin dalam kamus lain akan dianggap “cacat produksi”—justru menjadi kekuatan khas. Demikian pula penggunaan stik kayu dalam permainan drum stroke roll yang menyerupai teknik dalam musik Bluegrass dan country, turut memperkuat identitas bunyi yang eklektik.

2. Sound Design: Dari Hingar Bingar ke Perenungan

Sound design dalam karya Paris Hasan juga bergerak menjauh dari semangat pesta ala Skiffle. Musiknya cenderung lembut, reflektif, dan melankolis. Tonalitas minor, tempo andante yang mengalir lambat seperti langkah orang berjalan, dan pilihan nada melodi yang terkesan mengajak untuk merenung—semuanya menyatu membentuk suasana yang kontemplatif. Ini lebih dekat dengan nuansa spiritual dalam gospel blues ala Rev. Gary Davis—terlebih Paris juga memainkan gitar model serupa dengan sang legenda blues tersebut.

3. Ostinato dan Earworm: Motif yang Mengikat Pendengar

Kekuatan utama dari musik Paris Hasan mungkin terletak pada penggunaan motif berulang (ostinato) yang kuat dan konsisten. Dalam musik Italia, teknik ini disebut ostinato: satu tema dominan yang dimainkan terus-menerus dengan sedikit variasi motif. Pada lagu Apple ‘N Snake, putaran chord G G | A# A# | F F | C A# menjadi motif utama yang mengalir tanpa banyak perubahan. Variasi hanya muncul pada tingkat tempo atau intensitas permainan. Jenis struktur ini juga sering diasosiasikan dengan drone music, yang memanfaatkan bunyi panjang dan repetitif untuk menciptakan suasana mendalam, bahkan psikedelik.

Efek dari teknik ini adalah earworm: kondisi di mana motif lagu terus berputar di kepala pendengar, bahkan setelah lagu berakhir. Dan ini tidak hanya terjadi di satu lagu. Hampir semua komposisi Paris Hasan dalam album ini menggunakan pendekatan serupa. Maka wajar bila para pendengar terjebak dalam pusaran sonik yang melankolis namun adiktif sepanjang durasi album.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *