17 November 2025, udara Mambalan terasa cukup bersahabat untuk sebuah panggung kecil.
Saya tiba di Sagatrah, kedai kopi yang bagi saya selalu tampak seperti posko darurat para seniman Lombok, tempat orang-orang datang bukan hanya untuk ngopi, tapi juga untuk menyelamatkan diri dari kehidupan yang terlalu biasa. Malam itu saya hadir untuk mengisi Panggung LSW 2025.
Di poster, nama saya berdampingan dengan Mr. Yoi, Minus Tulang Rusuk dari Samarinda, dan Bunyi Waktu Luang dari Labuan Bajo. Poster itu beredar di WhatsApp dengan semangat khas panitia acara yang sedang percaya diri: malam itu, Bunyi Waktu Luang akan berkolaborasi langsung dengan Minus Tulang Rusuk. Sementara saya, selain tampil solo, juga dijadwalkan mengiringi Mr. Yoi. Ya, begitulah. Dalam hidup ini, saya rupanya ditakdirkan bukan cuma jadi musisi, tapi juga sopir cadangan Yoiakustik.
Tapi sejujurnya, fokus saya malam itu bukan pada panggung saya sendiri. Tapi sejujurnya, fokus saya malam itu bukan pada panggung saya sendiri. Dari semua nama yang tercetak di poster, ada satu yang terus mengganggu kepala saya sejak beberapa hari sebelumnya: Bunyi Waktu Luang.

Saya pertama kali mendengar nama mereka dari Sibawai, orang Pasir Putih yang wajahnya selalu tampak seperti baru saja memenangkan sayembara puisi. Katanya, duo dari Labuan Bajo itu akan datang sebagai bagian dari rangkaian Lingkar Seni Wallacea 2025. Aden dan Rendra, dua nama yang belakangan saya pahami bukan cuma musisi, tapi semacam penggerak budaya dari timur Nusantara.
Sebelum tanggal 17, kami sempat duduk cukup lama di Sagatrah. Obrolan mengalir seperti kopi hitam yang lupa diaduk: pahitnya pelan, tapi terasa sampai ke belakang kepala. Kami bicara tentang ekosistem musik di Labuan Bajo, Lombok, dan jalur-jalur tak resmi yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya lewat komunitas, panggung kecil, dan pertemanan.
Tapi ada satu hal yang membuat saya benar-benar berhenti sejenak.
Aden bercerita tentang bagaimana mereka sedang membangun semacam budaya tandingan di Labuan Bajo.
“Kami belajar tur,” kata Aden. “Pengen jalan-jalan ke tempat yang ada aktivitas komunitas, termasuk LSW ini. Jadi input buat kami juga. Jadi pengalaman kolektif.”
Saya mengangguk sambil pura-pura tenang, padahal kalimat itu seperti menampar saya dari dalam.
Banyak musisi datang ke sebuah kota untuk tampil. Untuk promosi. Untuk jual merch. Untuk pulang dengan dokumentasi yang bisa diunggah seminggu penuh. Tapi mereka datang untuk belajar.
Di situlah saya merasa ada yang berbeda.
Ini bukan jenis musisi yang sekadar ingin hadir di panggung. Ini jenis musisi yang sedang membangun dunia.
Aden melanjutkan sambil memutar cangkir di tangannya.
“Kami dari dulu dibilang folk. Ada yang bilang folk alternatif. Ada juga yang bilang bukan folk sama sekali. Ya sudah, biarin aja. Bunyi Waktu Luang kami bikin dari 2015. Cuma ya, kami ini agak lambat berkarya. Kontemplasinya lama. Tapi kami sering bantu teman-teman produksi karya.”
Saya tertawa.
Lambat berkarya kadang justru pertanda baik. Itu biasanya ciri orang yang benar-benar memikirkan apa yang sedang ia lakukan. Yang lebih mengkhawatirkan justru musisi yang terlalu cepat rilis, terlalu rajin update, lalu tiga bulan kemudian lenyap seperti iklan pop-up yang tidak sengaja kita klik.
Labuan Bajo dan Ambisi Mengganggu Dominasi Pop
Obrolan makin dalam ketika Aden bercerita soal Labuan Bajo.
“Di sana tuh pengaruh reggae besar,” katanya. “Datangnya dari barat termasuk Lombok. Ada juga hiphop. Musik tumbuh baru 20 tahun terakhir. Budaya mencipta lagu? Baru beberapa tahun. Yang umum itu cover, remix.”
Saya langsung teringat pemandangan serupa di banyak kota pesisir. Musik pop sering dianggap satu-satunya standar baku. Selain itu? Tenggelam. Makanya saya tepuk meja pelan ketika Aden bilang:
“Di Labuan Bajo, musisi lokal itu ya selalu yang pop. Yang lain tak kelihatan. Kami mau mengganggu itu.”
Nah ini dia: kalimat emas.
Mereka membuat Pesta Kampung, panggung yang mengharamkan cover dan mewajibkan original song. Tiga tahun berjalan. Mereka sedang membangun budaya mencipta, bukan hanya budaya membawakan karya orang lain. Dan itu dilakukan di kota wisata yang setiap malammu bisa jadi sekadar repetisi reggae dan pop untuk memuaskan telinga turis.
Di sini lah saya mulai sadar: Bunyi Waktu Luang adalah penanda zaman di Labuan Bajo. Mereka menolak tunduk pada stereotip musik pesisir. Mereka menggarap jalur samping: musik sebagai arsip budaya, sebagai perlawanan lembut, sebagai cara menyuarakan ekologi dan gejolak sosial.

Bawa Kolong dan Kemandirian Timur
Ketika obrolan masuk ke urusan produksi, Aden bilang, “Semua kami lakukan sendiri.”
Studio mereka bernama Bawa Kolong Records.
Nama yang langsung saya suka sejak pertama kali mendengarnya. Terdengar seperti ruang rekaman yang lahir di bawah rumah panggung, dari tempat yang sederhana, rendah hati, tapi penuh nyawa. Dan memang begitu rasanya. Ada semangat kemandirian yang kuat di sana. Semacam keyakinan bahwa musik tidak harus lahir dari fasilitas mewah untuk bisa jujur.
Rendra kemudian menimpali dengan cerita yang tak kalah menarik.
“Saya dari kecil dekat dengan rock. Festival di Bima banyak rock. Tapi di Bajo kebanyakan terpapar reggae.”
Mendengar itu, saya seperti diberi petunjuk kecil tentang mengapa musik mereka terdengar agak sulit dimasukkan ke satu laci.
Dan jawabannya saya temukan malam itu, di atas panggung Sagatrah.
Penampilan Bunyi Waktu Luang: Rock dalam Kostum Folk
Ketika Bunyi Waktu Luang mulai bermain, saya langsung menangkap satu keganjilan yang justru indah: mereka disebut folk, tapi yang saya dengar tidak sepenuhnya folk.
Ada sesuatu yang lebih liar di sana.
Ada progresi gitar yang tidak biasa. Ada keberanian mengeksplorasi bunyi. Ada dinamika yang membuat dua gitar terasa seperti satu orkes kecil. Musik mereka intim, iya, tapi tidak jinak. Ada lapisan rock yang samar tapi tegas. Ada energi yang membuat saya merasa sedang mendengar sesuatu yang akrab, tapi sekaligus asing.
Saya teringat Efek Rumah Kaca. Saya teringat Pandai Besi.
Ada jejak-jejak itu, tentu saja. Dalam cara melodi vokal memimpin lagu. Dalam pilihan bahasa yang puitis tapi tidak berlebihan. Dalam tema-tema yang terasa punya isi, bukan sekadar bunyi-bunyian cantik untuk menutupi kehampaan.
Tapi mereka punya sesuatu yang membuatnya berbeda.
Labuan Bajo.
Itu bukan sekadar latar geografis. Itu hadir sebagai cara pandang.
Mereka bukan cuma musisi. Mereka adalah juru cerita dari tanah kelahiran. Lirik-lirik mereka membawa jejak komodo, gunung, laut, saudara purba, lanskap Flores, juga gejolak yang datang bersama pariwisata, perubahan ruang, dan krisis ekologi. Kalau beberapa band kota besar menulis tentang metropolitan dan republik, Bunyi Waktu Luang menulis tentang pesisir, daratan Manggarai, mitologi lokal, dan bagaimana sebuah tempat bisa berubah terlalu cepat di hadapan orang-orang yang lahir di dalamnya.
Dan mungkin, justru di situ saya paling tersentuh.
Bukan semata karena petikan gitar Rendra. Bukan hanya karena cengkok vokal Aden. Meski keduanya memang memikat. Yang paling membekas buat saya adalah cara mereka memandang musik sebagai jalan pulang.
Pulang ke budaya.
Pulang ke orang-orang.
Pulang ke ruang yang sedang berubah.
Dari obrolan dan penampilan malam itu, saya merasa seperti mendapat dorongan kecil dari arah pelabuhan. Semacam bisikan yang pelan tapi jelas: suatu hari saya harus ke Labuan Bajo.
Bukan sebagai turis.
Bukan untuk foto-foto, lalu pulang sambil bilang lautnya indah.
Tapi sebagai musisi. Sebagai orang yang ingin menyentuh cerita-cerita yang tumbuh dari tanah itu. Mendengar bagaimana sebuah kota berbicara lewat orang-orang yang tidak rela kotanya dijelaskan hanya oleh brosur wisata.
Karena ketika musik bisa menjelaskan sebuah kota, menjelaskan perubahan sosial, menjelaskan hubungan manusia dengan alam, saat itulah musik berhenti menjadi hiburan semata.
Ia menjadi kesaksian.
Dan Bunyi Waktu Luang, bagi saya, adalah salah satu buktinya.
Saat panggung Sagatrah malam itu usai, saya pulang dengan satu pikiran yang terus tinggal di kepala:
Bunyi Waktu Luang bukan sekadar duo musik.
Mereka adalah gerakan kecil dari ujung timur yang sedang berusaha mengubah cara sebuah kota memandang musik, dan mungkin juga mengubah cara musik memandang kota.
Mereka membawa pulang wacana. Membawa pulang pengetahuan. Membawa pulang keresahan. Lalu mengolah semuanya menjadi lagu.
Dan sejujurnya, saya berharap suatu hari bisa berdiri di panggung yang sama dengan mereka, bukan hanya sebagai rekan sepanggung, tapi sebagai sesama pengusul masa depan. Orang-orang yang, dengan cara masing-masing, percaya bahwa sebuah kota bisa tumbuh lewat bunyi.
Semoga.