Yagna Semesta Initiative

Air Palem, Burung Hantu, dan Pohon Kamboja: Dari Mitos ke Estetika Baru

Dalam dunia seni, transformasi adalah ruh yang bergerak melintasi batas bentuk. Ia menjelma dari satu medium ke medium lain—dari teks menjadi visual, dari kata menjadi suara, dari sunyi menjadi pentas. Inilah yang terjadi saat sebuah novel diadaptasi menjadi naskah, lalu menjadi film. Atau ketika puisi menjelma lagu. Begitulah pula yang dilakukan oleh Jabo bersama SFN Labs dalam Air Palem, Burung Hantu, dan Pohon Kamboja—judul sebuah pementasan teater eksperimental pada tahun 2013 di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, yang kini dihidupkan kembali sebagai pameran gambar di Komunitas Erkaem.

Saya mencoba mengeja ulang tiga kata itu: Air Palem, Burung Hantu, dan Pohon Kamboja—bukan sekadar sebagai deretan kata, melainkan sebagai tanda. Dalam benak saya mengalir pemikiran Roland Barthes yang meneruskan teori tanda Ferdinand de Saussure, bahwa dalam masyarakat, tanda-tanda tak hanya berhenti pada makna literal. Ia tumbuh jadi konotasi, lalu menjelma mitos, hingga mengkristal sebagai ideologi. Kita hidup dalam keseharian yang dibungkus mitos, yang pelan-pelan kita anggap wajar dan tak lagi dipertanyakan.

Air palem adalah tuak, minuman fermentasi tradisional dari getah pohon palem—lontar, kelapa, atau kurma. Di banyak komunitas adat Lombok, ia bukan sekadar minuman, tapi bagian dari ritus sakral. Burung hantu, dalam bayang banyak orang, adalah simbol kesepian, kegelapan, atau pertanda kematian. Dan pohon kamboja, paling sering tumbuh di makam, menjadi lambang yang sulit dilepaskan dari kesan sunyi dan kepergian. Jika tiga tanda ini dirangkai, maka konotasinya mengarah pada dunia yang muram—kematian, kesunyian, dan kegelapan.

Namun Jabo, dalam satu percakapan, menyatakan tafsir yang berseberangan. Baginya, air palem adalah pemantik ide, fermentasi tradisional yang merangsang lahirnya gagasan-gagasan estetis. Burung hantu justru simbol kontemplasi yang soliter, lambang kebijaksanaan seperti dalam mitologi Yunani dan Romawi. Dan pohon kamboja adalah pohon yang menjatuhkan bunganya dalam keadaan segar dan wangi, menebarkan aroma kehidupan meski di antara kematian. Maka Air Palem, Burung Hantu, dan Pohon Kamboja bukan tentang gelap, melainkan tentang terang yang lahir dari sunyi.

Apa yang dilakukan Jabo adalah praktik dari Mythologies milik Barthes—sebuah kritik ideologi atas mitos dalam budaya massa. Ia membongkar konotasi yang selama ini dianggap ajek dan mewariskan pembacaan baru atasnya. Ia melakukan dekonstruksi atas tafsir yang sudah mapan, lalu menanamkan pemaknaan lain yang lebih subur secara estetis maupun spiritual. Dan dalam pameran gambar ini, pembongkaran itu mewujud sebagai visual, sebagai tanda-tanda baru yang mengajak kita berdialog lebih dalam.

Dekonstruksi ini sejalan dengan apa yang sejak lama dilakukan Komunitas Erkaem. Gerakan mereka—yang mereka sebut sebagai “gerilya kesenian”—bukan sekadar pencarian bentuk baru, melainkan strategi kebudayaan: cepat, tepat, efisien, dan penuh kejutan. Dalam ruang urban yang bersinggungan dengan jalur wisata dan industri kreatif, Erkaem memilih jalan yang tak konvensional: melawan arus, avant-garde, dan memprovokasi publik untuk terus berpikir, mencari, menggugat, dan mencipta.

Kolaborasi antara SFN Labs dan Komunitas Erkaem adalah praktik gotong royong dalam medan seni—sebuah upaya membangun semesta kreatif yang tak hanya menyentuh, tapi juga menginspirasi. Dalam skema Barthes, kolaborasi ini diharapkan menumbuhkan mitos baru—sebuah ideologi kebudayaan yang membentuk karakter manusia dan peradaban yang lebih peka serta penuh imajinasi.

Selamat menikmati pameran gambar Air Palem, Burung Hantu, dan Pohon Kamboja—sebuah perjalanan menuju katarsis, sebuah perayaan dari tafsir yang dibalikkan dan mitos yang dilahirkan ulang.

Yuga Anggana
Lombok Barat, 17 Oktober 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *