Saya menulis Molang Maliq Mualan Benyer bukan karena merasa punya jawaban, tetapi justru karena terlalu banyak pertanyaan yang tak bisa saya abaikan. Pertanyaan paling sederhana dan paling mengganggu adalah: mengapa mata air yang begitu penting bagi hidup sebuah desa bisa perlahan dilupakan? Bukan hanya dilupakan secara fisik, tetapi juga secara makna.
Kegelisahan itu datang pelan-pelan. Tidak meledak. Tidak dramatis. Ia tumbuh dari obrolan malam bersama para tetua, dari bunyi musik yang mengiringi orang-orang trance, dari ritual yang tampak sederhana tapi menyimpan lapisan nilai yang dalam. Saya sadar, apa yang saya saksikan bukan sekadar peristiwa budaya, melainkan cara hidup. Dan cara hidup seperti ini jika tidak dicatat akan mudah hilang, tergeser, atau direduksi jadi tontonan semata.
Menulis buku ini menjadi cara saya bertahan dari lupa.

Alasan Kuat di Balik Penulisan
Alasan terkuat menulis buku ini adalah kesadaran bahwa tradisi tidak sedang baik-baik saja. Ia sering dipuja sebagai identitas, tetapi jarang dipahami sebagai pengetahuan. Kita bangga menyebut ritual, tetapi gagap menjelaskan maknanya. Kita mempromosikan budaya, tetapi kerap lupa menjaga ruang hidupnya.
Molang Maliq Mualan Benyer saya tulis sebagai upaya menempatkan tradisi kembali ke tempat yang semestinya: bukan di etalase, melainkan di kehidupan sehari-hari. Bukan sebagai artefak masa lalu, tetapi sebagai sistem nilai yang masih bekerja mengatur relasi manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan yang transenden.
Saya juga menulis karena merasa punya tanggung jawab etis. Saya bukan penonton netral. Saya terlibat, belajar, dan ikut bergerak bersama masyarakat. Maka menulis menjadi bentuk pertanggungjawaban: kepada warga, kepada tradisi, dan kepada diri saya sendiri.
Mengapa Buku Ini Penting Ditulis
Buku ini penting ditulis karena ia berada di persimpangan yang jarang disentuh secara serius: ekologi, spiritualitas, seni, dan kerja komunitas. Banyak tulisan membahas salah satunya. Sedikit yang mencoba mengaitkannya sebagai satu kesatuan.
Di tengah krisis lingkungan, buku ini menawarkan perspektif alternatif: bahwa menjaga alam tidak selalu harus dimulai dari teknologi atau regulasi, tetapi bisa berangkat dari ingatan, ritus, dan kesadaran kolektif. Masyarakat Telaga Waru menjaga mata air bukan karena proyek, melainkan karena makna.
Buku ini juga penting sebagai contoh bahwa pemajuan kebudayaan tidak harus elitis. Ia bisa tumbuh dari desa, dari obrolan warung, dari kerja gotong royong, dari musik, dari dapur, dari ritual yang dijalani dengan penuh kesadaran.
Kesadaran atas Kekurangan Buku
Saya menulis buku ini dengan satu kesadaran penuh: buku ini tidak sempurna.
Kedekatan saya dengan komunitas membuat jarak kritis kadang menyempit. Saya lebih sering mencatat keberhasilan ketimbang kegagalan kecil. Saya memilih nada empatik, yang mungkin bagi sebagian pembaca terasa terlalu afirmatif. Ada konflik dan ketegangan yang bisa digali lebih dalam, dan saya sadar itu.
Bahasa reflektif yang saya pilih juga berisiko: ia bisa menghangatkan, tetapi juga bisa melelahkan. Saya sadar sebagian bagian bisa dipadatkan, ditegaskan, atau ditajamkan.
Namun saya memilih jujur pada posisi saya: saya menulis sebagai orang yang belajar, bukan sebagai hakim budaya. Kekurangan buku ini adalah konsekuensi dari pilihan itu.

Harapan Penulis
Saya tidak berharap buku ini dianggap kitab rujukan tunggal. Harapan saya lebih sederhana—dan mungkin lebih sulit: semoga buku ini memantik percakapan.
Saya berharap ia dibaca oleh anak muda desa yang sedang mencari alasan untuk mencintai kampung halamannya. Oleh akademisi yang ingin melihat praktik budaya dari dekat, bukan hanya dari teori. Oleh pegiat lingkungan yang ingin memahami bahwa alam tidak bisa dilepaskan dari makna. Oleh pembuat kebijakan yang ingin tahu bagaimana budaya bekerja dari bawah.
Jika buku ini bisa membuat satu orang saja berpikir ulang tentang cara memandang air, tanah, dan tradisi, buku ini sudah cukup bagi saya.
Mengapa Orang Perlu Membaca Buku Ini
Orang perlu membaca buku ini bukan karena isinya luar biasa, tetapi karena isu yang dibawanya mendesak. Kita hidup di masa ketika hubungan manusia dan alam semakin transaksional. Buku ini menawarkan cara pandang lain: relasi yang berbasis rasa, ingatan, dan tanggung jawab.
Bagi bidang kebudayaan, isi buku ini memberi contoh praktik pemajuan berbasis komunitas.
Bagi bidang ekologi, ia menghadirkan pendekatan kultural dan spiritual.
Bagi dunia akademik, ia menawarkan narasi lapangan yang hidup.
Bagi seni dan musik, ia menunjukkan fungsi seni sebagai penjaga nilai, bukan sekadar hiburan.
Kontribusi utama buku ini bukan pada jawabannya, tetapi pada cara bertanyanya.
Dan mungkin, di situlah letak pentingnya:
buku ini mengajak kita berhenti sejenak, menengok mata air bukan hanya yang di desa Telaga Waru, tetapi juga mata air dalam cara kita memandang hidup.
