Yagna Semesta Initiative

Molang Maliq Mualan Benyer: Dari Keresahan Menjadi Perhelatan

Molang Maliq Mualan Benyer adalah bukti bahwa perubahan besar bisa berawal dari hal kecil: dari keberanian untuk membersihkan mata air.

Semuanya berangkat dari kegelisahan sederhana ketika menatap mata air Mualan Benyer—pusat kehidupan masyarakat Desa Telaga Waru—yang tampak kotor dan terbengkalai. Air yang seharusnya menjadi simbol kesucian justru dipenuhi sampah plastik dan lumut yang menumpuk. Saya merasa ada yang hilang, bukan hanya dari fisik kolamnya, tetapi juga dari kesadaran kolektif masyarakat yang dulu menjaganya dengan penuh hormat. Dari sanalah saya mulai membayangkan, mungkinkah pembersihan mata air bisa kembali menjadi gerakan budaya?

Sebagai peneliti yang sebelumnya menekuni ritus Kebangru’an, saya tahu betul bahwa kawasan ini bukan sekadar sumber air. Ia adalah ruang sakral, ruang spiritual, dan ruang budaya yang sarat makna. Di sekitar mata air inilah dulu musik dan tarian Kebangru’an lahir, menjadi bagian dari ritus penyembuhan, dan tumbuh sebagai kekuatan sosial yang menyatukan warga. Saya merasa, menghidupkan kembali tradisi bukan hanya soal dokumentasi, tetapi juga aksi nyata.

Maka saya memulai langkah kecil: menggagas forum masyarakat. Jujur saja, di awal banyak wajah yang dingin menatap saya. Wajar, karena saya bukan orang Sasak, bukan warga asli Telaga Waru. Siapa saya datang tiba-tiba, lalu bicara soal membersihkan mata air dan menghidupkan ritual yang sudah lama ditinggalkan? Namun saya memilih untuk sabar. Dari satu tokoh ke tokoh lain, saya mendatangi mereka, mendengar cerita-cerita lama, dan perlahan membuka ruang percakapan. Sampai akhirnya, forum itu benar-benar terwujud: tokoh adat, pemerintah desa, para seniman dari Perkumpulan Seni Menduli Selayar, dan masyarakat berkumpul untuk pertama kalinya membicarakan mimpi bersama.

Dari forum itulah muncul beragam ingatan kolektif tentang ritual-ritual yang pernah hidup di sekitar mata air. Ada Nyembulaq, cara tokoh adat menyapa alam sebelum membersihkan kawasan. Ada Ngorasan, ritual menguras dan membersihkan kolam mata air. Ada pula Potong Sapi, Besuq Menik (mencuci beras), hingga doa bersama yang dahulu kerap digelar sebagai wujud syukur. Mendengar nama-nama itu disebut satu per satu, saya merasakan getaran yang aneh: seperti sedang membuka pintu masa lalu yang hampir terkunci rapat.

Forum sosialisasi dan diskusi gagasan Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2024

Dari titik itu, gagasan saya berkembang. Saya tidak ingin hanya menggelar pembersihan kolam lalu selesai. Saya ingin ritual-ritual itu kembali dihidupkan, bukan sekadar untuk romantisme masa lalu, melainkan untuk meneguhkan kembali hubungan manusia dengan alam, dengan Tuhan, dan dengan sesama. Maka saya memberi nama perhelatan ini Molang Maliq Mualan Benyer—sebuah gerakan memulai kembali, dari mata air.

Tahap demi tahap kami susun bersama. Pertama, pembersihan kawasan mata air dilakukan dengan gotong royong: warga membawa sabit, ember, dan sapu lidi, sementara para pemuda menebar cairan ekoenzim hasil olahan sampah organik. Kami juga menanam bibit pohon di sekitar kawasan untuk menjaga ekosistemnya. Kedua, rangkaian ritual adat digelar kembali, dipimpin oleh para tokoh spiritual. Dari Nyembulaq yang sederhana namun penuh khidmat, hingga Potong Sapi yang diakhiri dengan begibung, makan bersama dalam satu wadah, yang membuat semua orang merasa setara. Ketiga, kami mengisi kawasan itu dengan pentas seni: qasidah, hadrah, musik kontemporer, hingga pertunjukan inovatif Kebangru’an yang memadukan tradisi dengan eksplorasi seni baru. Keempat, kami menggelar bazaar UMKM, memberi ruang bagi industri rumah tangga desa untuk menampilkan produk-produk mereka.

Sesi rehearsal seni untuk Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2024

Bagi saya, ini bukan sekadar festival. Molang Maliq adalah laboratorium budaya hidup, tempat di mana nilai spiritual, sosial, ekologis, dan ekonomi bertemu dalam satu ruang. Dan yang paling penting, perhelatan ini benar-benar lahir dari masyarakat untuk masyarakat. Saya hanya menjadi pemantik; selebihnya, api dijaga oleh warga sendiri.

Dukungan datang dari berbagai pihak. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menempatkan perhelatan ini dalam kerangka Strategi Pemajuan Kebudayaan, memberi legitimasi bahwa apa yang kami lakukan di desa kecil ini punya arti lebih luas. Hadir pula pejabat dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Kabupaten Lombok Timur, serta tokoh-tokoh seni budaya dari luar desa. Namun meski ada dukungan besar dari luar, yang dominan tetaplah partisipasi masyarakat Telaga Waru sendiri. Mereka lah yang bekerja, berdoa, bernyanyi, menari, dan berbagi dalam satu kesatuan.

Saya percaya, manfaat perhelatan ini jauh melampaui batas desa. Bagi dunia pendidikan, ia menjadi ruang belajar nyata tentang ekologi, tradisi, dan kehidupan sosial. Para mahasiswa, peneliti, dan seniman bisa menjadikannya sumber pengetahuan yang tak tertulis di buku. Bagi pariwisata, ia menawarkan model wisata budaya yang jujur, yang tidak sekadar menjual atraksi, tetapi menyajikan pengalaman spiritual dan sosial yang autentik. Bahkan bagi seni itu sendiri, Molang Maliq membuka ruang kolaborasi baru: bagaimana tradisi bisa diolah tanpa kehilangan akarnya.

Ketika akhirnya perhelatan ini digelar untuk kedua kalinya pada tahun 2025, kali ini diorganisir langsung oleh pemerintah desa bersama Perkumpulan Seni Menduli Selayar, saya merasa lega. Artinya, gagasan yang dulu hanya kegelisahan pribadi kini telah menjelma menjadi milik kolektif. Bukan lagi sekadar acara, melainkan gerakan budaya desa.

Bagi saya, Molang Maliq Mualan Benyer adalah bukti bahwa perubahan besar bisa berawal dari hal kecil: dari keberanian untuk membersihkan mata air. Dari situ, lahirlah ruang perjumpaan, ritual, seni, ekonomi, dan solidaritas. Dari air, kita belajar memulai kembali.

Video dokumentasi Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2024 (video oleh: Yandre Dwi Saputra)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *