Catatan dari pembukaan Gawe Ninting di Mambalan
Jumat sore, 2 Oktober 2026, pembukaan Gawe Ninting di Mambalan berlangsung dengan susunan yang lazim: zikir dan doa di Raudhatul Jannah Mambalan, pengenalan profile setiap partisipan juga perilisan laman menyigininting. Yang tidak lazim adalah ujungnya. Warga tidak digiring ke panggung, melainkan berjalan kaki menuju Kali Meninting, tempat yang bagi banyak dari mereka sudah lama tidak didatangi.
Saya ingin memulai dari perjalanan itu. Di sanalah, menurut saya, kerja kebudayaan yang sesungguhnya berlangsung: bukan pada seremoni yang selesai ketika tenda dibongkar, melainkan pada keputusan sederhana untuk kembali menginjak tempat yang telah kita tinggalkan.
Saya juga ingin memulai dari sebuah kecurigaan. Frasa “melestarikan budaya” terlalu cepat memberi kita perasaan sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Begitu diucapkan, kita langsung sibuk mendaftar bentuk: tarian mana, ritual apa, pakaian apa, makanan apa. Budaya diperlakukan sebagai inventaris benda yang harus dijaga agar tidak rusak.

Kajian warisan budaya punya nama untuk kecenderungan ini. Laurajane Smith menyebutnya authorized heritage discourse: cara pandang yang menempatkan warisan sebagai benda bernilai yang ditetapkan ahli dan negara, lalu diserahkan kepada masyarakat untuk dijaga. Dalam kerangka itu warga, terutama anak muda, diposisikan sebagai penerima. Mereka disuruh mengenal, disuruh bangga, disuruh mencintai.
Masalahnya, cinta tidak bisa diperintahkan. Yang bisa diperintahkan hanyalah kepatuhan, dan kepatuhan biasanya bertahan sepanjang acara berlangsung.
Dari “kami tahu” ke “kami ingin tahu”
Di Mambalan, sebelas remaja mengambil jalan lain. Mereka mendatangi para tetua, mendengarkan, mencatat, belajar membuat film, lalu membangun laman menyigininting.id untuk menyebarkan apa yang mereka temukan tentang kampungnya.
Sikap dasar mereka bukan “kami tahu budaya Mambalan”, melainkan “kami ingin tahu Mambalan”. Bedanya tampak kecil di atas kertas, tetapi menentukan arah seluruh kerja. Pernyataan pertama berangkat dari klaim atas pengetahuan, dan cenderung berakhir sebagai pertunjukan. Pernyataan kedua berangkat dari pengakuan atas ketidaktahuan, dan membuka penyelidikan.
Di situlah inti argumen saya. Rasa memiliki terhadap kampung lebih mungkin tumbuh dari rasa penasaran daripada dari anjuran. Orang cenderung peduli pada apa yang pernah ia selidiki sendiri, karena di sana ia menanam waktu, pertanyaan, bahkan kebingungan. Kampung yang dikenal lewat pencarian menjadi milik si pencari; kampung yang dikenal lewat ceramah tetap milik penceramah.
Saya mengenal jalur ini dari pengalaman sendiri. Saya datang dari musik, lalu terseret ke riset, penulisan, dan kerja komunitas justru karena terlalu sering bertanya: tentang bunyi yang tidak dianggap musik, tentang ingatan yang hanya tersimpan di kepala seseorang, tentang tempat yang dilewati setiap hari tetapi tidak pernah ditanyakan sejarahnya.
Sungai yang menghilang dari ingatan
Raden Muhammad Rais, salah seorang tokoh masyarakat, menuturkan Meninting di masa lalu. Sungai itu tempat orang menangkap ikan dan udang, menanam kangkung, mengambil batu untuk bangunan, belajar berenang, mandi, dan beribadah. Ia ruang hidup bersama bagi warga dengan latar dan keyakinan yang beragam.
Hari ini sebagian besar fungsi itu hilang. Batu diambil bertahun-tahun. Hulu dibalak. Mata air yang dulu banyak kini lebih sering hadir sebagai cerita.
Namun detail yang paling mengganggu saya justru lain. Dua mantan kepala desa yang hadir mengaku sudah lama tidak datang ke sungai. Mereka kembali karena Gawe Ninting.
Ahli perikanan Daniel Pauly menamai gejala serupa shifting baseline syndrome: setiap generasi menganggap kondisi lingkungan yang ia warisi sebagai keadaan normal, sehingga kerusakan yang berlangsung pelan tidak pernah tercatat sebagai kehilangan. Sungai yang menyusut tidak terasa hilang bagi orang yang tidak pernah mengenalnya utuh. Yang lebih mencemaskan, ia juga bisa berhenti terasa hilang bagi orang yang dulu mengenalnya, asal mereka cukup lama tidak datang.
Di sini letak kerja pertama sebuah gerakan kebudayaan. Sebelum bicara penyelamatan, ia harus memulihkan perhatian. Sungai tidak bisa dibela oleh orang yang tidak lagi melihatnya.
Ketika pertanyaan membalik arah pewarisan
Raden Muhammad Rais juga mengatakan bahwa orang tua justru perlu belajar dari anak-anak muda. Kalimat ini layak dibaca lebih dari sekadar kerendahan hati.
Wacana tradisi kita terbiasa membayangkan pewarisan sebagai estafet satu arah: tetua memegang pengetahuan, anak muda menerima, lalu meneruskan. Model itu mengandaikan pengetahuan sudah utuh dan tinggal dipindahkan. Kenyataannya, pengetahuan lokal sering tersimpan dalam bentuk yang tidak pernah dirumuskan, karena tidak pernah ada yang bertanya.

Pertanyaan anak muda memaksa perumusan itu terjadi. Kenapa tempat ini disebut begini? Siapa yang dulu datang ke sini? Kenapa sekarang tidak lagi? Untuk menjawabnya, tetua harus melihat kembali apa yang selama ini dianggap biasa. Dalam proses itu, kedua pihak sama-sama belajar.
Tetapi pembalikan ini tidak boleh dirayakan berlebihan. Ia mudah menjadi retorika yang menyenangkan semua orang tanpa mengubah apa pun. Pertanyaan anak muda baru bernilai bila ia berani menyentuh yang tidak nyaman: siapa yang mengambil batu itu selama bertahun-tahun, siapa yang membiarkan hulu dibalak, keputusan siapa yang membuat warga berhenti turun ke sungai.
Ingatan yang jujur tidak hanya memperlihatkan apa yang hilang, tetapi juga bagaimana dan oleh siapa ia dihilangkan, termasuk oleh kita sendiri. Pertanyaan semacam itu jarang disambut tepuk tangan. Justru karena itu ia perlu diajukan.
Batas rasa penasaran
Saya perlu jujur pada argumen saya sendiri: rasa penasaran bukan jaminan. Setidaknya ada tiga cara ia bisa gagal.
Pertama, ia bisa tergelincir menjadi nostalgia. Cerita “dulu semuanya baik, sekarang semuanya rusak” terasa hangat, tetapi tidak menjelaskan apa pun. Perubahan di Meninting pasti punya sebab berlapis: kebutuhan ekonomi, pembangunan, cara hidup yang bergeser, generasi yang berganti. Yang perlu dicari bukan masa lalu yang ideal, melainkan pengetahuan lama yang masih berguna untuk membaca persoalan hari ini: mengapa mata air berkurang, mengapa sungai dipenuhi sampah, apa yang masih mungkin dilakukan. Ingatan yang dipakai untuk membaca masa kini berubah menjadi pengetahuan; pengetahuan semacam itu bisa berubah menjadi tindakan.
Kedua, ia bisa berhenti di arsip. Saya tidak percaya digitalisasi otomatis memajukan kebudayaan. Sebuah laman bisa menjadi kuburan baru bagi pengetahuan bila tidak ada yang membacanya, dan lebih cepat lagi bila domainnya berhenti diperpanjang. Mendokumentasikan cerita para tetua tetap penting, karena ada pengetahuan yang hanya hidup selama seseorang masih mengingatnya. Tetapi arsip semestinya pintu, bukan tujuan. Cerita tentang sungai harus membuat orang ingin turun ke sungai; cerita tentang seorang tetua harus membuat orang ingin menemuinya.
Ketiga, rasa penasaran bisa padam. Ia energi, bukan institusi. Sebelas remaja hari ini kelak akan bersekolah, merantau, bekerja, berkeluarga. Tanpa ruang yang menampung, entah pendamping, dukungan desa, atau regenerasi yang disengaja, Gawe Ninting berisiko menjadi peristiwa yang dikenang, bukan kebiasaan yang dijalani.
Karena itu, bagian akhir kegiatan hari itu menurut saya yang paling penting, justru karena paling tidak spektakuler. Setelah zikir, cerita, musik, dan berjalan bersama, warga menanam bibit pohon dan memungut sampah di sungai. Setelah semua simbol selesai, tetap ada sungai yang harus dibersihkan, ruang yang harus dirawat, orang yang harus diajak bicara, dan pekerjaan yang tidak pernah masuk poster acara.

Ukuran sebuah gerakan kebudayaan barangkali sesederhana ini: apa yang masih dikerjakan setelah acara selesai, dan siapa yang masih mengerjakannya tahun depan.
Latihan membaca kampung
Saya tidak tahu akan menjadi apa Gawe Ninting beberapa tahun lagi, dan saya kira memang tidak perlu tergesa tahu. Yang saya harapkan justru agar anak-anak muda Mambalan tidak terlalu cepat menemukan jawaban, sebab pertanyaan yang baik cenderung beranak. Dari sungai orang akan sampai pada mata air, dari mata air pada hutan di hulu, dari hutan pada pangan, dari pangan pada keluarga dan perpindahan. Di setiap simpul itu menunggu keputusan-keputusan yang membentuk kampung seperti sekarang.
Karena itu saya enggan menyebut Gawe Ninting sekadar kegiatan pelestarian budaya. Ia lebih tepat disebut latihan membaca kampung: kesediaan melihat tempat tinggal sendiri sebagai teks yang belum selesai dibaca, bukan warisan yang sudah selesai ditafsirkan.
Kita tidak kekurangan anak muda yang bisa disuruh mencintai kampungnya. Kita kekurangan ruang bagi anak muda untuk berkata, “Saya tinggal di sini, tetapi ternyata saya belum benar-benar mengenal tempat ini.” Kita juga kekurangan orang dewasa yang mau menemani mereka mencari tahu, termasuk ketika jawabannya tidak enak didengar.
Barangkali rasa memiliki memang tidak bisa diajarkan. Ia tumbuh, pelan-pelan, pada orang yang cukup lama memperhatikan.
