Yagna Semesta Initiative

Menemukan Rumah di R.A. Thariqul Izzah

...dan saya tersenyum kecil. Mungkin memang benar, pendidikan yang baik selalu lahir dari hati yang penuh kasih.

Sebuah Catatan, 20 Oktober 2025


Pagi ini, langit Mataram tampak lembut — tidak terlalu cerah, tapi cukup terang untuk menandai hari yang penting. Hari ini saya menarik kembali mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari lokasi mereka di R.A. Thariqul Izzah Mataram. Setelah tujuh minggu penuh dinamika, pembelajaran, dan cerita kecil yang membekas, tibalah saatnya mengucap pamit secara resmi.

Begitu memasuki halaman sekolah, saya kembali melihat warna-warni dinding yang dipenuhi gambar hasil karya anak-anak. Di tengah ruangan, para guru dan mahasiswa duduk berhadapan, sementara anak-anak tampak penasaran mengintip dari ruang kelas lain.

Suasana hari ini bukan hanya formal, tapi juga penuh kehangatan — semacam perayaan kecil atas proses belajar bersama yang sebentar tapi dalam.

Saya teringat kembali hari pertama penyerahan mahasiswa ke sekolah ini. Waktu itu, begitu saya memperkenalkan diri, Kepala Sekolah menyambut dengan kalimat yang membuat saya langsung merasa akrab. “Wah, ternyata urang Sunda!” ujarnya sambil tertawa kecil.
Saya pun spontan ikut tertawa. Rasanya seperti menemukan saudara jauh di tanah rantau. Kami pun mengobrol singkat dalam bahasa Sunda — bahasa ibu saya yang jarang sekali saya gunakan di Lombok.

Pertemuan perdana bersama Kepala Sekolah RA Thariqul Izzah saat penyerahan mahasiswa PPL UIN Mataram

Sejak saat itu, hubungan kami terasa cair. Saya memanggilnya dengan sebutan Umi, karena memang di hati terasa seperti memanggil “Emak.” Ia punya karakter khas perempuan Sunda: tegas tapi lembut, disiplin tapi penuh kasih. Dalam salah satu perbincangan santai, ia berkata, “Saya sering dianggap tegas sama mahasiswa karena saya anggap mereka cucu saya. Kalau saya biarkan mereka santai, nanti jadi calon guru yang lemah.”
Saya terdiam waktu itu. Kalimat sederhana tapi penuh makna. Dari situ saya tahu, pendekatan beliau terhadap mahasiswa tidak berhenti pada profesionalitas, tapi sudah sampai pada titik keibuan yang tulus.

Beliau bercerita juga tentang perjalanannya bersama sang suami — yang saya panggil Abi — merantau dari Jawa Barat ke Lombok bertahun-tahun silam. Mereka mendirikan yayasan pendidikan ini dengan penuh perjuangan, dari nol. Dari sebuah lahan kecil, lalu sedikit demi sedikit membangun ruang belajar, hingga kini menjadi salah satu RA yang dikenal aktif dan inovatif di Mataram. “Kami ingin anak-anak belajar dengan gembira, tapi tetap punya adab dan rasa hormat. Karena itu kunci pendidikan,” katanya.

Sesi foto bersama penyerahan mahasiswa PPL UIN Mataram kepada RA Thariqul Izzah

Sambutan Ibu Kepala Sekolah pagi ini kembali meneguhkan kesan itu.
Setelah memulai dengan puji syukur, beliau menyampaikan bahwa hari ini merupakan momen penting — penarikan mahasiswa PPL — sebuah penanda bahwa mereka telah menyelesaikan tugas belajar di lapangan. Beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak UIN Mataram, terutama kepada Dosen Pembimbing Lapangan, yang telah mempercayakan lembaganya menjadi tempat mahasiswa belajar praktik mengajar.

Namun yang paling saya kagumi adalah cara beliau menempatkan mahasiswa. Dalam sambutannya, beliau mengatakan:

“Kehadiran mahasiswa di sini bukan hanya membantu guru, tapi juga membangkitkan semangat kami untuk belajar lagi. Kadang, kalau tidak ada mahasiswa, guru bisa lengah, bisa lupa bahwa ia pun harus terus belajar.”

Kalimat itu disambut anggukan para guru. Ada kejujuran yang hangat dalam ucapannya — bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan dari yang tua ke yang muda, tapi juga sebaliknya: dari semangat muda ke pengalaman yang matang.

Beliau juga menekankan bahwa program PPL ini sangat penting karena memberi kesempatan sekolah untuk melihat langsung kualitas calon guru masa depan. Katanya, mahasiswa yang hadir kali ini memiliki semangat yang luar biasa, jauh lebih progresif dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang kami lihat ada semangat belajar yang tinggi, ada inisiatif, ada komunikasi yang baik antara mahasiswa, guru pamong, dan kepala sekolah. Ini yang kami syukuri.”

Kemudian beliau menambahkan satu hal yang menurut saya menjadi inti filosofi pendidikannya:

“Guru TK itu harus serba bisa — bernyanyi, bercerita, menari, apa saja. Dari sinilah kita belajar jadi orang yang kreatif, supaya bisa membentuk karakter anak dengan cara yang menyenangkan.”

Beliau menutup sambutannya dengan nasihat yang khas dari hati seorang pendidik sejati:

“Luruskan niat kalian untuk menjadi guru yang baik. Profesi guru itu mulia, insyaAllah kalau niatnya karena Allah, keberkahan akan selalu menyertai.”

Suara beliau terdengar lembut tapi menggetarkan. Saya melihat beberapa mahasiswa yang tampak berkaca-kaca. Saya pun ikut terharu.

Lalu tiba giliran saya berbicara. Saya memulai dengan salam dan puji syukur, lalu saya sampaikan betapa bersyukurnya saya bisa menjadi Dosen Pembimbing Lapangan di R.A. Thariqul Izzah. Saya katakan bahwa sebelum datang ke sini, saya sudah sering mendengar reputasi baik sekolah ini — dari mahasiswa yang meneliti, maupun dari dosen lain yang dulu juga menjadi DPL. Tapi baru kali ini saya bisa membuktikannya sendiri.

Saya sampaikan bahwa saya kagum dengan lingkungan belajar yang hidup, penuh kreativitas dan kolaborasi. Saya melihat bagaimana guru-guru di sini membimbing mahasiswa dengan sabar dan serius, memberi mereka kesempatan untuk belajar langsung dalam berbagai kegiatan pembelajaran.

Saya juga menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Ibu Kepala Sekolah dan seluruh guru pamong atas pendampingan yang begitu tulus. Saya bilang, “Program PPL di tempat ini bukan hanya memberi mahasiswa pengalaman mengajar, tapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalitas.”

Saya sempat menyebut satu hal yang menarik perhatian saya selama mendampingi mahasiswa, yaitu adanya “Buku Pintar” yang dibuat oleh pihak sekolah. Buku itu bukan sekadar dokumen internal, tapi berisi panduan implementatif dalam pembelajaran anak usia dini — mulai dari cara mengajar yang efektif, kegiatan kreatif untuk menstimulasi perkembangan anak, hingga nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan sejak dini.

Saya katakan, “Buku seperti ini jarang ada di sekolah lain. Ini bisa menjadi inspirasi dan bahan kajian yang sangat menarik untuk mahasiswa, bahkan bisa dijadikan tema penelitian skripsi.”

Setelah itu, saya memohon maaf jika selama PPL ada perilaku mahasiswa atau ucapan saya yang kurang berkenan. Saya juga meminta maaf jika kehadiran kami mungkin sempat merepotkan para guru, meski saya yakin, semua itu adalah bagian dari proses belajar bersama.

Menutup sambutan, saya berkata,

“Dengan penuh hormat, saya mohon izin untuk menarik kembali mahasiswa bimbingan saya, agar mereka dapat melanjutkan pembelajaran di kampus. Semoga semua pengalaman di R.A. Thariqul Izzah menjadi bekal berharga untuk melangkah ke masa depan sebagai guru yang profesional dan berakhlak mulia.”

Usai acara, kami sempat duduk bersama di bagian belakang menyaksikan tampilan karya-karya kreasi mahasiswa. Ibu Kepala Sekolah berbagi cerita ringan tentang perjalanan mereka mendidik anak-anak dan membangun sekolah ini. Saya merasa seperti sedang berbincang dengan orang tua sendiri — banyak nasihat, tapi juga banyak tawa.

Saat saya berpamitan, beliau menepuk pundak saya sambil berkata, “Pak Yuga, lain kali jangan lupa mampir lagi. Rumah ini terbuka untuk siapa pun yang datang dengan niat baik.”
Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab, “InsyaAllah, Umi.”

Dalam perjalanan pulang, saya teringat lagi kata-kata beliau di awal pertemuan: “Mahasiswa itu cucu saya.”
Kini saya paham betul maksudnya. Pendidikan memang selalu bersandar pada cinta — dan cinta itu bisa membuat jarak antara dosen, guru, dan mahasiswa hilang sama sekali. Yang tersisa hanyalah perasaan saling belajar dan saling menumbuhkan.

Hari ini, saya tidak hanya menarik mahasiswa kembali ke kampus, tapi juga membawa pulang pelajaran tentang makna pendidikan yang sejati: bahwa mendidik bukan hanya mengajar, tetapi menumbuhkan — dan menumbuhkan itu selalu berawal dari hati.

Sesi foto bersama seusai penarikan mahasiswa PPL UIN Mataram di RA Thariqul Izzah Mataram

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *