Yagna Semesta Initiative

Kuncen sebagai Kurator

Saya mulai membayangkan, jangan-jangan yang paling dibutuhkan dunia seni hari ini bukan lebih banyak kurator. Tapi lebih banyak orang yang benar-benar bersedia tinggal, mendengar, dan merawat. Orang yang tidak perlu namanya ada di poster.

Saya pernah duduk di sebuah kafe kecil di Mataram yang papan menunya menulis “curated coffee experience” tepat di atas daftar harga yang naik dua ribu rupiah dari kafe sebelah. Rasanya sedikit lucu. Seolah hidup kita perlu dipilihkan dulu supaya terasa lebih bernilai, dan untuk dipilihkan itu kita harus bayar lebih.

Kata kurasi memang sedang ada di mana-mana. Curated playlist. Curated menu. Curated lifestyle. Saya tidak terlalu terganggu dengan luasnya pemakaian itu, sampai saya mulai bertanya-tanya apakah semakin luas kata itu dipakai, semakin tipis jugakah maknanya.

Malam itu di kelas keempat Akademi Isin Angsat bersama Agung Hujatnika, pertanyaan itu seperti mendapat tempat yang tepat untuk duduk. “Kang Jenong,” panggilan Sibawaihi sebagai moderator dalam kelas online itu, hampir membuat saya tertawa. Saya yakin Siba dan peserta lain tidak tahu bahwa jenong dalam bahasa Sunda artinya jidat yang lebar atau menonjol. Tapi saya menduga panggilan itu muncul dari plesetan Hujatnika, bukan karena jidat Kang Jenong memang jenong. Teuing ah.

Dengan logat Sunda Tasikmalaya yang sangat terasa, karena saya berasal dari kota yang sama, ia membuka kelas dengan satu kalimat sederhana. “Materi saya tidak terlalu teknis.”

Dan memang tidak teknis.

Poster Akademi Isin Angsat. (Dok. Instagram @mediapasirputih)

Justru terasa seperti sedang mendengarkan seseorang yang mencoba mengingatkan kembali sesuatu yang pelan-pelan hilang dari dunia seni hari ini. Bahwa kurasi pada dasarnya adalah kerja perawatan. Bukan sekadar memilih karya terbaik lalu ditempel di dinding putih galeri. Bukan sekadar menyusun line-up festival agar feed Instagram terlihat rapi. Bukan juga sekadar membuat narasi rumit yang kadang lebih sulit dipahami daripada karya itu sendiri.

Kurasi, kata Kang Jenong, adalah kerja mendengar, menemani, menghubungkan, dan menciptakan ruang agar karya, seniman, dan publik bisa saling bertumbuh.

Saya diam cukup lama di bagian itu.

Mungkin karena belakangan dunia seni terlalu sibuk mengejar bentuk. Sibuk mengejar visual. Sibuk mengejar jargon. Sibuk mengejar eksposur. Kadang kita lupa bahwa ada manusia di balik karya. Ada konteks yang tidak bisa dipindahkan begitu saja dari satu ruang ke ruang lain.

Kang Jenong menyebut istilah “budaya kurasi”. Sebuah gejala ketika kata kurasi dipakai di banyak bidang sampai maknanya perlahan menipis. Fashion memakai istilah kurasi. Desain juga. Arsitektur juga. Bahkan makanan. Di titik tertentu, kurasi akhirnya cuma dimaknai sebagai seleksi. Memilih mana yang layak tampil dan mana yang tidak.

Padahal sejarahnya jauh lebih rumit.

Ia bercerita tentang Alfred H. Barr Jr., tentang museum modern yang melihat karya seni seperti evolusi. Seolah seni bergerak linear menuju bentuk yang lebih maju. Lalu muncul nama Harald Szeemann, yang menggeser posisi kurator dari penjaga koleksi menjadi produsen wacana. Yang menarik, Szeemann sendiri bukan lulusan seni rupa. Ia datang dari teater, performance, lukisan, lalu jadi direktur artspace di Swiss. Dari situ praktik kuratorial mulai bergerak liar. Kurator bisa jadi asisten. Bisa jadi fasilitator. Bisa jadi kolaborator. Bisa jadi konseptor.

Dan mungkin di situlah masalah baru mulai lahir.

Karena ketika kurator semakin dianggap penting, pelan-pelan muncul apa yang disebut Kang Jenong sebagai “kurator bintang”. Kurator jadi terlalu dominan. Kadang lebih terkenal dari senimannya sendiri. Pameran terasa lebih menunjukkan ego kuratorial dibanding percakapan dengan karya.

Saya tidak banyak punya pengalaman bersinggungan langsung dengan figur semacam itu. Skala dunia seni di Lombok memang belum sebesar Yogyakarta atau Jakarta. Tapi saya pernah beberapa kali melihat dari jauh bagaimana sebuah pameran lebih sibuk bicara tentang konsep kuratorialnya daripada karya yang dipajang. Senimannya jadi semacam ilustrasi untuk teks pengantar yang panjang. Saya ingat keluar dari ruang pameran semacam itu dengan rasa yang aneh. Seperti baru saja membaca buku yang sampulnya jauh lebih tebal dari isinya.

Saya juga, jujur saja, kadang khawatir suatu hari saya sendiri bisa pelan-pelan bergeser ke arah sana. Ketika seseorang sudah lama bicara tentang karya orang lain, ada godaan tersembunyi untuk merasa lebih tahu dari pemilik pengetahuan aslinya.

Karena itu, di sesi tanya jawab, saya mengajukan satu hal yang sudah lama saya simpan. Kalau kurator independen awalnya lahir sebagai kritik terhadap museum yang kaku, apakah hari ini kurator independen justru berubah jadi institusi baru dengan otoritasnya sendiri?

Kang Jenong tertawa kecil sebelum menjawab. Katanya, konflik antara seniman dan kurator memang sudah lama terjadi. Ia bercerita tentang Biennale Jakarta 1993, ketika salah satu seniman memprotes dominasi kuratorial dengan tulisan pilox di dinding pameran. Ada juga sebuah film dokumenter tentang Istanbul Biennale yang memperlihatkan bagaimana kurator dan seniman bisa berdebat keras cuma soal display karya.

Saya membayangkan betapa anehnya dunia seni kadang-kadang. Orang yang seharusnya saling merawat justru sibuk saling menguasai.

Kang Jenong bilang, idealnya pameran adalah pernyataan bersama antara seniman dan kurator. Tapi praktiknya tidak selalu begitu. Apalagi ketika kurator senior bekerja dengan seniman muda. Posisi tawarnya sering timpang.

Kalimat yang paling saya ingat justru muncul menjelang akhir. “Kalau saya sih, sudah tidak penting nama saya ada di poster sebagai kurator.”

Entah kenapa kalimat itu terasa lega.

Mungkin karena hari ini terlalu banyak orang ingin terlihat penting di dunia seni. Terlalu banyak yang ingin jadi pusat wacana. Padahal yang paling penting mungkin justru bagaimana pengetahuan tetap hidup setelah acara selesai.

Kalau kurasi memang kerja merawat, lalu siapa sebenarnya yang paling lama melakukannya? Siapa orang-orang yang selama ini menjaga karya, ritus, dan ingatan tanpa pernah memakai kata kurator?

Di titik itulah Kang Jenong melontarkan tawaran yang menurut saya paling menarik malam itu. Kuncen sebagai kurator.

Saya langsung teringat banyak orang tua adat yang pernah saya temui di Lombok. Mereka tidak pernah menyebut dirinya kurator. Tidak pernah datang ke artist talk. Tidak pernah menulis pengantar pameran. Tapi mereka menjaga ingatan kampung. Menjaga ritus. Menjaga mata air. Menjaga cerita. Menjaga tata cara hidup.

Saya teringat seorang tetua di Bayan yang setiap kali saya datangi selalu duduk di tempat yang sama, di teras yang sama, dengan posisi tubuh yang nyaris tidak berubah. Ia tidak banyak bicara di awal. Ia menunggu pertanyaan yang tepat. Dan ketika pertanyaan itu datang, jawabannya bisa berlangsung berjam-jam, dengan urutan cerita yang tertata dan rujukan yang konsisten dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Saya tidak tahu sistem apa yang bekerja di kepalanya. Tapi saya tahu pasti, kalau ia tidak ada lagi besok, tidak ada satu pun katalog atau arsip digital yang bisa menggantikannya.

Mereka tinggal di tempat yang dijaganya.

Sementara kurator independen, kata Kang Jenong, sering lompat dari satu daerah ke daerah lain. Kadang mengambil sedikit cerita dari sana, sedikit simbol dari sini, lalu menyusunnya jadi pameran besar. Di situ sering muncul misrepresentasi.

“Kalau karya dari Padang,” katanya, “idealnya asisten kuratornya juga orang Padang.”

Karena pengetahuan tidak selalu bisa dipindahkan begitu saja. Ada hal-hal yang cuma bisa dipahami kalau kita tinggal cukup lama di dalamnya.

Saya jadi berpikir, mungkin selama ini saya sendiri terlalu cepat mengambil posisi sebagai penerjemah. Datang, mendengar, lalu pulang membawa sesuatu yang bisa diceritakan. Tanpa cukup bertanya apakah penjaga pengetahuan itu memang ingin diceritakan, dan oleh siapa.

Kang Jenong berkali-kali kembali pada satu kata. Care. Kerja kurasi adalah kerja merawat. Merawat percakapan, merawat konteks, merawat relasi, merawat kemungkinan hidup bersama. Empat hal yang sekilas terlihat sederhana tapi sebenarnya tidak ada satu pun yang gampang.

Di luar Zoom malam itu, angin Lombok mungkin masih sama seperti biasanya. Tapi kepala saya terasa sedikit berbeda.

Saya mulai membayangkan, jangan-jangan yang paling dibutuhkan dunia seni hari ini bukan lebih banyak kurator. Tapi lebih banyak orang yang benar-benar bersedia tinggal, mendengar, dan merawat. Orang yang tidak perlu namanya ada di poster. Orang seperti tetua di teras Bayan, yang menjaga sesuatu tanpa pernah merasa sedang menjaga apa pun.

Dan mungkin di situlah persoalannya menjadi lebih rumit. Karena malam itu, setelah kelas selesai dan Zoom ditutup, saya sadar sedang melakukan sesuatu yang juga ingin saya kritisi. Saya menulis tentang tetua di Bayan itu. Membawanya masuk ke dalam esai ini. Menyebut terasnya, cara duduknya, cara ia menjawab pertanyaan. Saya mengambil sedikit ingatan dari sebuah kampung, lalu membawanya keluar agar dibaca orang-orang yang mungkin tidak pernah benar-benar datang ke sana.

Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah ini juga kerja merawat?

Saya tidak tahu.

Tangkapan layar aktivitas kelas Zoom, 2026.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *