Kendaraan saya memasuki dunia seni sebenarnya hanya satu: musik. Saya jarang memasuki bidang lain sebagai medium. Pernah, tapi tidak sesering musik. Meski begitu saya tetap mencintai dunia kesenian dengan berbagai bidangnya, berbagai ekspresinya, dan berbagai dinamikanya. Maka saya selalu antusias mengikuti pembicaraan kesenian.
Sore itu saya sudah duduk manis di depan laptop lima belas menit sebelum kelas pertama Akademi Isin Angsat dimulai. Sialnya, sinyal seperti punya agenda sendiri. Video kelas online Gintani tersendat-sendat, suara datang terlambat, lalu tiba-tiba hilang begitu saja. Cara bicara narasumber pun menuntut kesabaran tingkat lanjut, kalimat-kalimatnya sering berhenti di tengah, diselingi jeda panjang dan “eee” yang menggantung seperti loading YouTube di resolusi 240p. Saya jadi merasa sedang mengikuti dua kelas sekaligus: kelas pengelolaan kolektif seni dan kelas menebak arah pembicaraan manusia.
Jadi saya akui sejak awal, kelas itu tidak saya ikuti dengan sempurna.

Tapi anehnya, justru dari situ beberapa kalimat malah menancap lebih kuat. Entah karena saya harus mendengarkannya dengan usaha ekstra, atau karena ide yang baik memang kadang datang dari sinyal yang buruk. Salah satu kalimat yang paling tertinggal adalah ini: penyelenggara adalah tamu sekaligus tuan rumah.
Kalimat itu terasa akrab. Bukan karena saya pernah membacanya, tapi karena saya seperti pernah mengalaminya diam-diam tanpa sempat memberi nama. Dan begitu mendengarnya, ingatan saya langsung loncat ke satu rumah kecil di perumahan padat di wilayah Meninting, Lombok Barat. Rumah dengan pintu yang nyaris selalu terbuka. Tempat orang-orang datang membawa gitar, puisi setengah jadi, kegelisahan hidup, ide-ide seni yang terlalu besar untuk ukuran ruang tamu, atau kadang cuma datang karena ingin duduk dan merasa tidak sendirian.
Itulah Komunitas Erkaem.
Erkaem lahir pada September 2016 dari pertemuan dua orang yang sama-sama gelisah terhadap keadaan seni dan ruang kreatif di sekitar kami: Ary Juliyant dan saya. Ary Juliyant adalah pegiat musik dan seni yang menamai gerakannya Gerakan Gerilya Kesenian, cara berkesenian yang tidak menunggu izin siapa-siapa. Ia telah lama mengabdikan dirinya pada dunia kesenian; kami sama-sama dari suku Sunda, namun ia telah tinggal lebih lama di Lombok. Dialah pemilik ruang dan pemantik banyak gagasan untuk setiap aktivitas di Erkaem. Saya secara spontan berupaya merancang dan menjalankannya.
Topik diskusi mau apa, narasumbernya siapa, posternya seperti apa, pentas kaki lima diisi siapa, Ary Juliyant menyerahkan semua itu pada saya. Tidak banyak yang tahu pembagian ini karena memang tidak pernah kami umumkan, bahkan tidak pernah kami lakukan secara terstruktur; ia kerap muncul di sela obrolan kopi. Tapi sebagian besar komunitas memang lahir dari kombinasi semacam itu: keresahan, nekat, dan sedikit kebingungan yang dirawat bersama.

Ary Juliyant kami sebut presiden. Saya direktur. Terdengar formal, padahal lebih sering dipakai untuk bercanda daripada menjalankan struktur organisasi sungguhan. Tidak ada SK kepengurusan. Tidak ada rapat resmi pembentukan. Tidak ada visi-misi yang dicetak di banner. Yang paling mendekati administrasi saat itu mungkin cuma catatan utang kopi.
Teman-teman yang rutin datang kami sebut partner berkesenian, atau mitra. Hubungannya cair. Orang bisa datang, terlibat, lalu menghilang beberapa bulan tanpa perlu surat pengunduran diri. Anehnya, semua tetap terasa baik-baik saja.
Sumber hidup kegiatan kami juga sederhana: patungan. Honor manggung dikumpulkan, lalu diputar kembali untuk membuat acara berikutnya. Uang tidak pernah kami anggap modal usaha, ia lebih dekat ke semacam solidaritas yang diberi bentuk praktis. Kalau ada yang punya uang lebih, ia membantu. Kalau sedang sama-sama bokek, standar konsumsi diturunkan, atau kami memajang kardus bekas air mineral bertuliskan: donasi kesenian, agar acara tetap jalan.
Dari pola yang serba spontan itu, salah satu yang paling saya ingat adalah Ekshibisi Spirit Bunyi. Awalnya sederhana: seorang musisi kontemporer dari Yogyakarta singgah di Lombok dan mampir ke Erkaem. Kami merancang sesi diskusi dan pentas musik semi-eksperimental sebagai cara menyambutnya. Idenya: siapa pun yang hadir boleh ikut bersuara, lewat medium bunyi apa saja. Tidak ada syarat alat musik. Tidak ada syarat keahlian. Yang penting datang dan bunyi.
Maka malam itu, halaman rumah yang sempit penuh oleh orang-orang yang berinisiatif mencari benda apa saja yang bisa dipukul, digesek, atau ditiup. Ada yang membawa panci dari dapur. Ada yang memukul-mukul kaki meja. Salah seorang menemukan kaleng biskuit kosong dan menggetarkannya dengan sendok. Tidak ada panggung, tidak ada jarak antara pemain dan penonton, sebagian karena memang konsep acaranya begitu, sebagian karena ruang tamu memang tidak muat untuk panggung. Saya masih ingat suara amplifier 10 watt pinjaman yang seharusnya cuma dipakai latihan di kamar: suaranya kasar, dekat, dan justru karena itu terasa lebih jujur daripada PA besar.
Banyak hal di Erkaem berjalan seperti itu. Rencana berantakan, hasil mengejutkan. Lalu kami pulang dengan keyakinan diam-diam bahwa kami sudah melakukan sesuatu yang penting, meski belum tahu apa namanya.
Kalau diingat-ingat lagi, ternyata banyak yang sudah kami lakukan sebenarnya memiliki konsep dan pola, hanya saja kami tidak menyadarinya. Secara tidak langsung kami bukan hanya membuat keramaian, tapi membuat tempat di mana orang bisa belajar berdiri sama tinggi, di mana gagasan-gagasan bertemu dan saling menggenapi tanpa sekat. Gintani menyebut hal-hal semacam ini sebagai intangible assets. Saya pikir itu deskripsi yang tepat. Kami cuma tidak pernah menyebutnya dengan nama yang berat-berat. Diskusi yang berantakan tetap meninggalkan sesuatu. Orang yang datang membawa gitar pulang dengan cara berpikir yang sedikit berbeda. Itu mungkin yang dimaksud Gintani.
Pada awalnya warga sekitar memandang kami dengan curiga. Wajar saja. Bayangkan ada rumah yang tiba-tiba ramai hampir tiap malam, penuh suara musik, orang asing keluar masuk, diskusi sampai larut. Dalam imajinasi sebagian tetangga, kami mungkin terlihat seperti kombinasi antara sekte seni, pos ronda gagal, dan tongkrongan pengangguran intelektual.
Pelan-pelan keadaan berubah. Beberapa warga mulai mampir, duduk di teras, mendengarkan musik, ikut tertawa saat diskusi melebar ke mana-mana. Ada Kang Yadi, penjual nasi uduk di pengkolan, yang awalnya cuma mengantar pesanan, lalu duduk sebentar, lalu duduk lebih lama. Kadang ia membawa anaknya yang ternyata senang membaca dongeng. Anak itu kemudian jadi rutin datang. Beberapa bulan kemudian ia ikut tampil di salah satu acara kami.
Saya tidak tahu apakah ia masih membaca dongeng sekarang. Tapi yang saya ingat, malam ketika ia pertama kali naik tampil, bapaknya berdiri di belakang dengan ekspresi yang susah saya jelaskan: campuran cemas dan bangga. Seperti orang yang baru sadar bahwa rumah ramai di samping warungnya itu ternyata bukan ancaman.
Di titik itulah kalimat Gintani menemukan bentuk nyatanya. Penyelenggara memang harus jadi tamu sekaligus tuan rumah. Komunitas tidak bisa cuma hadir sebagai pengisi ruang, ia harus bersedia masuk ke kehidupan sosial di sekitarnya, sambil tetap membuka pintu agar lingkungan ikut masuk ke dalam dirinya. Bahkan ketika yang masuk adalah seorang bapak penjual nasi uduk dan anaknya yang penasaran pada seni mendongeng.
Tapi ada satu hal yang sepertinya tidak pernah benar-benar kami kelola dengan serius: jejaring.
Dalam kelas itu, Gintani menyebut jejaring sebagai modalitas sosial. Relasi antarmanusia, katanya, bukan cuma hubungan pertemanan biasa, ia bisa jadi sumber daya, membuka peluang kerja sama, memperluas akses, memperkuat keberlanjutan komunitas. Bahkan menjaga komunitas tetap hidup ketika uang sedang tidak banyak.
Di situlah Erkaem punya lubang besar. Padahal jaringan kami sebenarnya luas—tiap orang membawa kemampuan dan koneksinya masing-masing. Ada yang punya akses ke komunitas musik, teater, media, kampus, sampai jaringan aktivisme. Tapi semua berjalan organik tanpa pemetaan. Kami terlalu menikmati dinamika pertemuan yang cair sampai lupa bahwa komunitas juga butuh ingatan dan arah.
Akibatnya perlahan terasa. Banyak anggota Erkaem berkembang lalu mendirikan gerakannya sendiri. Di satu sisi membanggakan, rasanya seperti melihat anak-anak tumbuh dewasa lalu membangun rumahnya masing-masing. Tapi di sisi lain, Erkaem sendiri mulai kehilangan ritme. Kegiatan masih ada, tapi lebih bersifat insidental. Tidak lagi punya denyut yang konsisten.
Kalau saya harus menunjuk dua hal yang paling sulit dijaga dalam komunitas berbasis pertemanan, jawabannya adalah konsistensi dan komitmen, dua kata yang gampang sekali diucapkan saat suasana lagi semangat, tapi jauh lebih rumit dijalani ketika hidup sehari-hari datang membawa tagihan, pekerjaan, hubungan asmara, dan kelelahan mental.
Bagian lain yang menarik sekaligus membuat saya ragu adalah ketika Gintani berbicara tentang keberlanjutan ekonomi kolektif. Ia menyebut bahwa Ace House Collective sebagai tempatnya bergerak, sudah mampu memberi penghasilan rutin kepada anggotanya, meski masih setara UMR. Saya mendengarnya sambil setengah kagum, setengah bertanya-tanya.
Saya tidak tahu banyak tentang Ace House. Tapi dari yang Gintani sampaikan, saya membayangkan mereka mungkin berangkat dari tempat yang mirip dengan Erkaem, komunitas kecil yang lahir dari pertemanan dan kegelisahan. Bedanya, Ace House sekarang sudah stabil. Ia bisa hidup dan menghidupi pengelolanya. Erkaem tidak.
Saya bisa menyebut alasan-alasan struktural: Yogyakarta punya kampus seni, kolektor, ruang alternatif yang sudah puluhan tahun terbentuk. Lombok belum. Pasar seninya belum ada. Literasi seni kontemporer masih bertumbuh. Saya bisa berhenti di situ dan menyimpulkan dengan damai bahwa setiap daerah harus menemukan bentuk kolektifnya sendiri.
Tapi sebenarnya saya tidak yakin pada penutupan damai semacam itu. Pertanyaan yang lebih liar muncul di kepala saya: apakah memang seharusnya Erkaem atau komunitas seperti Erkaem, bercita-cita menjadi seperti Ace House? Atau jangan-jangan kekuatan Erkaem justru terletak pada ketidakmampuannya menjadi institusi? Pada kecairannya, pada catatan utang kopinya, pada fakta bahwa ia tidak pernah jadi apa-apa selain rumah yang kebetulan terbuka?
Saya tidak punya jawaban. Mungkin Erkaem memang harus berusaha menjadi lebih stabil, dan saya yang kurang serius mengelolanya. Mungkin juga Ace House sebenarnya membayar harga yang tidak saya lihat dari jauh, harga yang dibayar setiap kolektif begitu ia mulai punya rekening, struktur, dan jadwal. Saya tidak akan pura-pura tahu.
Yang saya bawa pulang dari kelas Gintani akhirnya bukan rumus teknis atau panduan langkah demi langkah. Yang saya bawa pulang adalah kesadaran sederhana: selama ini Erkaem sebenarnya sudah punya fondasi. Kami saja yang tidak pernah menyadarinya sebagai fondasi.
Tawa-tawa larut malam itu ternyata bukan sekadar nongkrong. Diskusi yang berantakan itu ternyata tetap menghasilkan pengetahuan. Pertemanan yang cair itu ternyata juga membangun solidaritas. Kami cuma belum sempat membaca diri sendiri dengan cukup serius.

Rumah kecil itu sekarang lebih sering sepi. Pintunya masih ada, tapi lebih sering tertutup. Saya kadang berpikir: apakah komunitas seperti Erkaem memang harus berhenti pada satu titik supaya bisa dilanjutkan dengan cara yang lain, atau ia sebenarnya sedang menunggu seseorang berani menyalakan lampu terasnya kembali?
Saya belum tahu jawabannya. Yang saya tahu, Kang Yadi penjual nasi uduk itu masih berjualan di pengkolan. Setiap kali saya lewat, ia selalu menyapa, seperti tidak ada yang pernah benar-benar selesai.