Yagna Semesta Initiative

Dari Bincang Buku ke Komitmen Bersama: Jalan Awal Menuju Molang Maliq 2026

Buku Molang Maliq Mualan Benyer telah pulang ke rumahnya sendiri. Dan dari rumah itulah, jalan menuju Molang Maliq 2026 mulai dibuka.

Minggu sore, 29 Maret 2026, saya tiba di Sekretariat Perkumpulan Seni Menduli Selayar (PSMS) sekitar pukul 16.20 bersama Lian Haspalian. Di sana, beberapa tamu undangan sudah mulai berdatangan. Ada tokoh masyarakat, kepala dusun, pemuda-pemudi, dan warga Desa Telaga Waru. Suasananya hangat, sederhana, dan terasa akrab, seperti forum kampung yang memang lahir dari niat baik.

Acara dibuka oleh Akeu Surya Panji, Ketua PSMS. Seperti biasa, Akeu berbicara dengan semangat yang sangat ia punya sejak dulu: penuh keyakinan pada Menduli Selayar, pada kerja kebudayaan, dan tentu saja pada Molang Maliq. Saya sudah mengenalnya sangat dekat sejak 2016, jadi saya paham betul bagaimana ia bicara ketika sedang menjaga sesuatu yang ia cintai. Kadang saya bisa menebak arah sambutannya sebelum selesai. Sore itu, beberapa kali saya bahkan sempat menggodanya agar sedikit mempercepat, sebab matahari mulai turun dan saya tak ingin kehangatan forum habis oleh formalitas. Untungnya, Akeu peka. Sambutannya ditutup tepat waktu, dan mikrofon berpindah ke Pak Joen.

Kalau ada satu orang yang setiap kali bicara selalu membuat saya ingin lebih serius mendengar, Pak Joen adalah orang itu. Kami memang tidak selalu banyak berbincang panjang, tetapi saya selalu merasa kami punya kedekatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata resmi. Banyak gagasan yang saya bawa ke kampung, tentang seni, tentang masyarakat, tentang cara menjaga tradisi agar tetap hidup, rasanya tak akan pernah benar-benar berjalan tanpa dukungan beliau. Ada semacam rasa keluarga di sana. Dekat, tenang, dan saling percaya.

Samnutan dari Pak Joen, Sekdes Telaga Waru

Dalam sambutannya, Pak Joen menegaskan bahwa mata air Mualan Benyer adalah anugerah bagi Desa Telaga Waru. Karena itu, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dengan menjaga, merawat, dan melestarikannya. Ia juga mengingatkan bahwa tradisi dan ritual yang diwariskan leluhur bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan cara hidup yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Setelah itu, saya diberi kesempatan untuk berbicara tentang buku Molang Maliq Mualan Benyer. Saya menyampaikan bahwa ini bukan sekadar bincang buku. Buku itu lahir dari pengalaman bersama, dari gotong royong warga, dari perhelatan Molang Maliq 2024 dan 2025, dari langkah-langkah kecil yang pernah kami jalani bersama di Telaga Waru. Karena itu, bagi saya, buku ini memang harus pulang dulu ke rumahnya sendiri. Ia harus dibicarakan bersama masyarakat yang ikut menghidupkan ceritanya.

Saya juga menyampaikan bahwa buku ini tidak saya tulis hanya untuk mendokumentasikan acara. Saya menulisnya karena saya percaya kerja-kerja budaya tidak boleh habis sebagai keramaian sesaat. Molang Maliq, bagi saya, bukan hanya perhelatan budaya, tetapi cara sebuah desa mengingat dirinya sendiri: airnya, tanahnya, tradisinya, dan masa depannya.

Forum sore itu juga menjadi ruang untuk menyampaikan niat bersama menuju Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2026. Kami dari PSMS datang bukan untuk membawa keputusan sepihak, tetapi untuk memohon izin, restu, dukungan, dan arahan dari masyarakat. Sebab perhelatan seperti ini hanya akan berarti jika lahir dari musyawarah dan tumbuh dari gotong royong.

Dalam sesi tanggapan, beberapa suara penting menguatkan niat itu. Amaq Oci mengajak seluruh pihak untuk kembali bergotong royong menjaga kawasan mata air Mualan Benyer dan menghidupkan kembali semangat Molang Maliq. Salah seorang kepala dusun yang telah membaca buku tersebut menyampaikan usulan agar perhelatan 2026 tidak hanya berisi ritual dan pertunjukan, tetapi juga aksi nyata seperti penanaman pohon dan penuangan cairan ekoenzim.

Tokoh agama, Ustadz Marwan, juga memberi penekanan penting. Ia mengingatkan generasi muda untuk menjaga kesucian dan kesakralan kawasan mata air Mualan Benyer, sekaligus mengajak masyarakat untuk merawat kebersihan dan martabat ruang bersama itu. Pesannya yang paling membekas sore itu sederhana, tetapi dalam: “Terapkanlah pendidikan berbasis cinta di desa kita.”

Yang paling menggembirakan bagi saya justru datang dari dua orang pemuda. Mereka mengaku baru benar-benar memahami bahwa ada gerakan budaya seperti ini di desanya. Pada perhelatan sebelumnya, mereka hanya mendengar sekilas karena sedang menempuh pendidikan di luar daerah. Sore itu, mereka menyatakan siap dilibatkan, siap berkontribusi, dan siap bersinergi bersama PSMS serta pemerintah desa.

Di tengah forum, Pak Joen bahkan secara spontan membagikan sisa buku Molang Maliq Mualan Benyer kepada para pemuda dan tokoh masyarakat yang belum kebagian. Sebuah gestur sederhana, tetapi terasa akrab dan hangat, seperti cara kampung menjaga pengetahuan agar tidak berhenti di tangan segelintir orang.

Di akhir pertemuan, satu komitmen penting disepakati bersama: Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2026 akan kembali digelar. Bahkan lebih dari itu, semua sepakat bahwa pembersihan kawasan mata air tetap harus dilakukan, dengan atau tanpa anggaran.

Bagi saya, kalimat itu adalah inti dari semuanya. Sebab banyak rencana besar gagal bukan karena kurang ide, tetapi karena terlalu cepat menunggu syarat yang sempurna. Sore itu, masyarakat justru menunjukkan hal sebaliknya: kerja baik harus tetap berjalan.

Acara ditutup dengan foto bersama dan jamuan sederhana. Namun yang paling penting, forum itu tidak berhenti sebagai seremonial. Ia meninggalkan keyakinan bahwa air, tradisi, dan masa depan desa memang layak diperjuangkan bersama.

sesi foto bersama

Bincang buku itu mungkin selesai sore itu, tetapi percakapannya belum. Buku Molang Maliq Mualan Benyer telah pulang ke rumahnya sendiri. Dan dari rumah itulah, jalan menuju Molang Maliq 2026 mulai dibuka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *