Yagna Semesta Initiative

WIN DAY GUN

Ada benda-benda yang tidak diwariskan untuk dipakai, melainkan untuk memastikan seseorang tidak benar-benar hilang.

(Untuk Sanga Kurnia Adiguna)

Di parkiran kampus yang masih setengah mengantuk, suara Honda Win itu datang lebih dulu daripada pemiliknya.

Bukan bunyi yang meledak-ledak seperti knalpot anak-anak kota yang sering salah paham tentang keberanian, melainkan suara tua yang serak, mantap, sedikit keras kepala. Ketika motor itu berhenti di bawah pohon ketapang, cahaya matahari pagi yang lolos dari sela daun memantul pada stiker WIN DAY GUN di helm retro pemiliknya: tengkorak berhelm, sebatang rokok miring di mulut, huruf-huruf tebal yang terlalu percaya diri untuk sebuah klub motor yang anggotanya cuma satu.

Pemiliknya turun pelan, menepuk tangki biru muda yang catnya mulai kusam, lalu melepas helm seperti baru pulang dari perjalanan jauh. Namanya Sardi. Usianya dua puluh. Asal Dayan Gunung, Lombok Utara, daerah yang kalau disebut di depan orang kota sering dibalas anggukan sopan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak tahu itu di mana.

Ia menamai klubnya WIN DAY GUN, singkatan dari Honda Win Dayan Gunung. Logonya ia gambar sendiri di kamar kos: tengkorak berhelm retro, rokok miring, tampang sangar yang malah mirip orang kurang tidur. Ia cetak stiker, bikin kaus hitam, membuka akun Instagram, lalu menempelkan logonya di helm, buku gambar, kotak cat, sampai gelas plastik bekas kopi.

“Siapa ketuanya?” tanya seorang teman pada minggu pertama kuliah.

“Saya.”

“Anggotanya?”

Sardi menyalakan rokok, mengembuskan asap pelan, lalu menjawab dengan muka serius.

“Masih saya. Tapi kami solid.”

Sejak itu, orang-orang memanggilnya macam-macam: Ketua Umum, Komandan, Presiden Klub, kadang one man convoy. Sardi tidak tersinggung. Ia tahu, diejek dan diingat kadang cuma beda tipis.

* * *

Dari semua yang diwariskan almarhum bapaknya, motor itu yang paling lama bertahan.

Bapaknya dulu tukang serabutan yang bisa membetulkan apa saja, selama benda itu mau sabar dibongkar. Pagar, pompa air, radio, kompor, mesin semprot. Kadang hati orang lain juga, kalau sedang tidak terlalu keras. Dari lelaki itu, Sardi tidak mewarisi banyak hal selain kebiasaan membongkar, menyimpan baut dalam kaleng biskuit, dan keyakinan bahwa benda yang masih bisa diperbaiki tidak pantas dibuang hanya karena dunia sedang tergoda oleh yang baru.

Ia tidak pernah menyebut motor itu kenangan. Ia hanya tahu, dari semua barang peninggalan ayahnya, cuma mesin ini yang masih bisa diajak bicara.

Ia hafal suara rantai yang minta dilumasi, getaran halus di stang kalau karburator mulai rewel, napas mesin saat pagi terlalu dingin, dan bunyi kecil yang cuma muncul setelah hujan. Ia bisa menebak penyakit motor dari cara knalpotnya batuk. Di tangan Sardi, Honda Win itu bukan sekadar kendaraan. Ia lebih mirip anggota keluarga yang keras kepala, tapi masih sopan.

* * *

Di semester dua, jurusan seni rupa mengumumkan pameran karya akhir tahun. Temanya terdengar seperti sesuatu yang lahir dari tiga cangkir kopi dan satu seminar kebudayaan: Membaca Ulang Memori dalam Lanskap Visual Kontemporer.

Teman-teman Sardi langsung sibuk. Ada yang bicara soal instalasi interaktif, ada yang meminjam proyektor, ada yang bikin karya digital dengan sensor gerak, ada yang menumpuk layar bekas lalu menyebutnya kritik kapitalisme. Seorang anak semester atas berencana menggantung puluhan ponsel retak di langit-langit galeri dan menamainya Notifikasi yang Tidak Pernah Sembuh. Semua tampak sangat modern dan sangat siap difoto.

Sardi mengangkat tangan saat diskusi konsep.

“Saya mau pajang motor.”

Ruangan hening sebentar. Lalu dua orang tertawa, tiga orang menunduk menahan senyum, dan satu anak langsung mengetik sesuatu di ponselnya, entah catatan, entah bahan gibah.

“Motor?” kata Bu Ratri.

“Bukan motor saja, Bu. Motor, sandal sebelah, rekaman suara jangkrik, kaus klub, stiker, beberapa alat bapak saya. Jadi semacam instalasi gitu dah.”

“Instalasi atau bengkel?”

Beberapa mahasiswa terkekeh. Bu Ratri tidak.

“Galeri bukan garasi, Sardi,” katanya.

Kalimat itu tidak keras, tapi cukup rapi untuk membuat satu ruangan diam.

Sardi tidak menyerah. Minggu berikutnya ia datang lagi membawa proposal yang diketik tidak terlalu lurus, lengkap dengan sketsa layout, foto motor, dan judul karya: WIN DAY GUN: Mesin yang Menolak Punah.

Bu Ratri membaca lama. Kacamata beliau turun sedikit ke ujung hidung, lalu naik lagi.

“Konsepmu menarik,” katanya akhirnya. “Tapi kalau mau masuk pameran, kamu harus bisa membuktikan bahwa ini bukan sekadar kamu sayang motor.”

“Saya memang sayang motor, Bu. Tapi bukan cuma itu.”

“Buktikan.”

Setelah presentasi kecil yang membuat Sardi berkeringat seperti habis nanjak dari Gunungsari, izin itu turun dengan syarat yang terdengar seperti belas kasihan yang setengah hati.

“Masuk boleh,” kata Bu Ratri. “Pojok.”

Pojok itu sempit, dekat dinding belakang, sedikit jauh dari arus pengunjung, dan cukup tersembunyi untuk membuat sebuah karya cepat merasa salah alamat. Teman-temannya menganggap itu kode halus agar ia sadar diri.

“Ganti konsep saja, Hep![1] Masih sempat.”

“Bikin video mapping kek, minimal.”

“Motor beneran itu terlalu… kuno.”

Sardi mengangguk-angguk mendengar semua saran itu seperti pasien baik yang sedang mendengarkan resep. Lalu ia tetap pulang ke kos, membuka jok motornya, dan membersihkan bagian-bagian yang bahkan mungkin tidak akan dilihat siapa pun.

* * *

Yang paling sering menemaninya belakangan adalah Ariq.

Ariq satu angkatan, sama-sama anak Lombok Utara, bedanya ia lebih gampang menertawakan hidup. Tubuhnya kurus, bicaranya ringan, dan kameranya hampir selalu tergantung di leher. Ia tidak terlalu jago menggambar, tapi punya mata yang sabar untuk melihat hal-hal yang sering dianggap terlalu biasa untuk dipotret.

Ia sering datang sore-sore ke kos Sardi, membawa kopi sachet atau gorengan, lalu duduk di lantai sambil memotret.

“Ngapain motret saya terus?” tanya Sardi suatu malam, sambil menggosok karat kecil di dudukan spion.

“Dokumentasi.”

“Buat apa?”

“Kalau karyamu gagal, minimal prosesnya bisa jadi konten.”

Sardi melirik tajam. Ariq tertawa.

Yang dipotret Ariq bukan cuma motor. Ia memotret tangan Sardi yang belepotan oli. Baut-baut kecil di atas koran. Kaleng biskuit berisi mur. Kaus hitam WIN DAY GUN yang dijemur di jendela kos. Sandal jepit sebelah milik almarhum bapaknya, yang talinya pernah disambung kawat. Rekaman suara jangkrik dari halaman rumah Sardi di Dayan Gunung yang dikirim ibunya lewat ponsel pinjaman tetangga. Bahkan puntung rokok di asbak kaleng sempat masuk frame, seolah benda itu juga ingin ikut tercatat.

“Kenapa sandal itu harus ikut?” tanya Ariq.

Sardi diam sebentar.

“Karena waktu bapak meninggal, yang tertinggal paling dekat di pintu cuma sandal sebelah ini.”

Ariq tidak bertanya lagi. Kamera di tangannya turun pelan.

Di sore lainnya, saat Sardi sedang mandi, sebuah dompet tua jatuh dari atas lemari kos dan tergeletak terbuka di lantai. Ariq yang refleks memungutnya sempat melihat dua foto terselip di balik plastik bening: satu foto close-up almarhum bapak Sardi, kaku seperti foto KTP; satu lagi foto yang lebih tua, bapak dan anak sedang jongkok di samping Honda Win, tangan mereka sama-sama kotor oleh oli, kepala mereka sama-sama menunduk ke arah mesin. Di sela-sela dompet itu ada pula nota spare part yang sudah kusam dan hampir pudar. Tulisan tokonya nyaris hilang, tapi di sudut kertas masih tertinggal tiga sidik jari hitam kecokelatan, bekas oli yang sudah mengering sejak entah kapan. Ariq tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan semuanya kembali, lalu diam-diam memotret.

* * *

Menjelang hari pameran, motor itu akhirnya masuk galeri dengan bantuan empat mahasiswa, dua dosen yang pura-pura lewat tapi diam-diam ikut mengangkat, dan satu satpam yang sepanjang proses berkali-kali berkata, “Kalau oli netes, saya yang dimarahi.”

Motor diletakkan di pojok. Tangki biru muda menghadap agak serong. Di sebelahnya, sandal jepit sebelah di atas pedestal kecil. Kaus WIN DAY GUN digantung rapi. Stiker-stiker ditempel seperti arsip kecil. Rekaman suara jangkrik diputar pelan dari speaker mungil. Sardi menambahkan satu audio lain: suara mesin Honda Win miliknya yang direkam saat subuh.

Kalau dilihat dari jauh, instalasi itu memang tampak seperti benda-benda yang salah masuk ruangan.

Karya-karya lain memancarkan cahaya, layar, teks bergerak, sensor, proyeksi, bahkan satu ruangan gelap yang mengharuskan pengunjung memakai headphone demi merasakan kecemasan urban dalam ruang domestik. Di antara semua itu, pojok Sardi tampak seperti kampung yang nyasar ke mal.

Sore sebelum pembukaan, Sardi berdiri lama di depan pojoknya sendiri. Wajahnya tenang, tapi jari-jarinya sibuk merapikan hal yang sebenarnya sudah rapi.

“Sepi, ya,” kata Ariq, datang membawa tas laptop.

“Bagus. Jangkrik juga hidupnya sepi.”

Ariq meletakkan tas, mengeluarkan proyektor kecil, kabel, dan gulungan lakban kertas.

“Kau ngapain?”

“Bantu bikin orang noleh ke sini.”

“Saya nggak minta.”

“Kamu juga nggak minta dilahirkan.”

Sardi mendengus. “Mulai sok filsafat dia.”

Ariq tidak menanggapi. Ia menempelkan layar putih tipis di dinding belakang motor, mengatur sudut proyektor, mematikan lampu pojok sebentar, lalu menyalakan perangkat itu.

Tiba-tiba dinding hidup.

Muncul tangan Sardi yang mengelap tangki. Obeng di bibir. Asap rokok. Kaleng baut. Sinar sore di halaman kos. Sandal sebelah. Rekaman video pendek saat Sardi mencuci rantai. Close-up stiker tengkorak WIN DAY GUN yang mengilat. Lalu, sekilas, foto close-up almarhum bapaknya, kaku, lurus, seperti foto untuk urusan administrasi. Setelah itu muncul foto lain: seorang lelaki yang lebih muda, jongkok di samping Honda Win, sedang membongkar mesin bersama seorang anak kecil yang wajahnya masih terlalu polos untuk disebut Sardi, tapi jelas itu dia.

Gambar berikutnya lebih sebentar lagi: selembar nota spare part yang kusam, nyaris tak terbaca, dengan tiga sidik jari oli menempel di sudutnya seperti cap yang tak sengaja ditinggalkan tubuh. Lalu kembali ke video tangan Sardi yang sekarang sedang melakukan hal yang hampir sama: membuka baut, membersihkan karburator, menunduk dengan cara yang mirip.

Di akhir, muncul wajah Sardi sendiri, setengah tertutup bayang-bayang, sedang menatap motor seperti menatap sesuatu yang keras kepala tapi tak bisa ditinggalkan.

“Kalau orang nggak nengok yang sepi,” kata Ariq sambil merapikan fokus, “ya kita bikin dia noleh dulu.”

Sardi tidak langsung menjawab. Ia menatap dinding itu cukup lama, seperti baru sadar bahwa sesuatu yang selama ini ia rawat diam-diam ternyata bisa hidup juga di dalam cahaya.

* * *

Malam pembukaan, mula-mula orang datang karena cahaya.

Dari kejauhan, pojok itu tampak berkedip pelan di antara karya-karya yang lebih ribut. Orang melirik. Lalu mendekat. Mula-mula mereka melihat proyeksi: tangan kotor oli, sandal sebelah, wajah seorang anak laki-laki yang terlalu serius merawat sesuatu yang tak dianggap penting. Setelah itu, barulah mereka melihat motor.

Lalu kaus hitam.

Lalu stiker.

Lalu sandal jepit sebelah.

Lalu mendengar jangkrik.

Lalu suara mesin tua yang diputar pelan, seperti napas yang menolak benar-benar hilang.

Beberapa orang berhenti lebih lama ketika foto-foto itu lewat. Seorang perempuan muda mengangkat ponselnya, lalu menurunkannya lagi saat gambar nota kusam dengan sidik jari oli muncul sebentar di dinding, seolah ia baru sadar bahwa benda sekecil itu bisa menyimpan seseorang lebih utuh daripada batu nisan.

Seorang pengunjung berdiri cukup lama di depan sandal itu.

“Ini bagian paling sedih,” katanya pada temannya.

“Yang mana? Motornya?”

“Bukan. Sandalnya.”

Sardi mendengar percakapan itu dari belakang. Dadanya mendadak terasa sempit, seperti ada baut yang diputar terlalu kencang.

Bu Ratri datang belakangan. Beliau berdiri di depan instalasi itu tanpa bicara. Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan, tapi juga tidak lagi menyisakan keraguan. Ia melihat proyektor, lalu motor, lalu Sardi.

“Ini baru pameran,” katanya akhirnya.

Bagi Sardi, kalimat itu terdengar lebih mewah daripada nilai A.

Ariq, yang berdiri di sampingnya, berbisik, “Selamat, Ketua Umum.”

“Diam.”

“Tetap saya minta THR.”

Malam itu, akun Instagram WIN DAY GUN yang biasanya cuma disukai oleh Sardi sendiri, Ariq, dan satu akun jualan filter udara bekas, mendadak ramai. Ada yang memotret instalasinya. Ada yang menulis caption panjang tentang memori, ayah, benda-benda yang tersisa. Ada pula yang cuma menulis: Ini keren banget sih, siapa yang pajang motor di galeri?

Stiker WIN DAY GUN habis dibawa orang sebelum pameran selesai.

Sardi pulang dengan perasaan yang ganjil. Ada hangat yang tumbuh pelan di dadanya, tapi ada juga sesuatu yang terasa ikut bergeser. Ia melihat orang-orang memotret sandal bapaknya, membicarakan karat pada tangki, lalu pulang membawa potongan-potongan cerita yang selama ini cuma ia simpan sendiri.

Ia bangga. Sedikit.

Tapi malam itu ia juga paham: ada benda yang, ketika akhirnya dilihat banyak orang, tak pernah benar-benar kembali jadi milik satu orang saja.

* * *

Keesokan harinya, dua anak semester bawah datang ke parkiran sambil malu-malu.

“Bang,” kata salah satu dari mereka. “Kalau mau gabung klubnya bisa?”

Sardi menatap mereka sebentar, lalu menoleh ke motornya.

Untuk pertama kali dalam sejarah organisasi itu, WIN DAY GUN terancam punya anggota lebih dari satu.

“Bisa,” katanya, berusaha terdengar tenang. “Tapi seleksinya ketat.”

“Memangnya syaratnya apa?”

Sardi menyalakan rokok, memandang ke arah pohon ketapang, seperti sedang menyusun undang-undang negara kecil.

“Jangan cepat bosan sama yang tua.”

Anak-anak itu mengangguk. Entah paham, entah cuma hormat pada wibawa yang lahir dari jaket lusuh dan kepercayaan diri aneh.

* * *

Setelah semua selesai, setelah pengunjung pulang, setelah galeri kembali jadi ruangan biasa yang kehabisan gema, Sardi berdiri sendirian di pojok karyanya.

Proyektor sudah dimatikan. Jangkrik berhenti. Lampu putih memantul datar pada tangki biru muda.

Ia mendekat, mengusap debu tipis di jok motornya dengan gerakan yang jauh lebih pelan dari biasanya. Lalu ia mengambil sandal sebelah itu, memasukkannya kembali ke dalam tas dengan hati-hati, seperti sedang menyimpan sesuatu yang terlalu lama dipinjamkan.

Ia menyentuh stiker WIN DAY GUN di helmnya yang lecet. Lalu mengenakannya. Ia mendorong Honda Win itu ke halaman, lalu menyalakan mesin.

Suara tuanya bangun perlahan, serak, mantap, sedikit keras kepala.

Sardi menarik gas sedikit, lalu melepasnya lagi.

Suara itu memantul ke dinding galeri, ke halaman yang mulai sepi, ke malam yang turun pelan-pelan. Entah kenapa, untuk sesaat, ia merasa bapaknya belum benar-benar pergi. Mungkin cuma pindah ke bunyi yang harus dirawat.


[1] Panggilan karib; berasal dari kata Sahep/Sahib yang berarti sahabat dekat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *