
Setiap malam, setelah rolling door toko ditutup dan Pak Hendra pulang dengan mobil pick-up-nya, Prayitno mandi sebentar di kamar mandi belakang, ganti kaus oblong, kemudian duduk di kursi plastik biru depan toko. Kadang ia menyeduh teh manis, kadang kopi saset, kadang hanya air panas kalau dompet sedang puasa tanpa niat. Lalu ia membaca koran bekas yang dibawa dari warung nasi padang sebelah. Berita dua tiga hari lalu, tidak penting. Menurut Prayitno, kebanyakan berita memang baru hanya di tanggal.
Ia duduk menunggu. Bukan tamu, bukan kabar, apalagi masa depan. Ia menunggu sesuatu yang lebih kecil, tapi lebih mengganggu dari masa depan.
Dan hampir setiap malam, sesuatu itu datang.
Dari ujung jalan besar, mula-mula hanya dengung. Lalu membesar. Lalu meledak.
Braaang.
Suara knalpot brong. Kadang satu motor, kadang dua, adang rombongan. Kadang lewat cepat seperti sedang dikejar penagih utang, atau sengaja dipelankan seperti ingin memastikan seluruh penghuni jalan mendengar, bahwa pemiliknya baru saja berhasil membeli kebisingan.
Setiap kali suara itu lewat, Prayitno tidak pernah melonjak. Ia tidak memaki keras-keras. Tidak menendang kursi, juga tidak menutup telinga seperti anak kecil.
Ia hanya mengangkat kepalanya pelan.
Menatap ke arah suara.
Melihat jam dinding kecil yang tergantung miring di dekat etalase.
Menunggu sampai suara itu hilang.
Lalu masuk ke dalam toko, membuka laci meja kasir, mengambil buku tulis lusuh bergaris, dan mencatatnya.
≈≈≈
Saya mengenal Prayitno sudah sebelas tahun, dan selama itu saya belajar satu hal: tidak semua orang marah dengan suara keras. Ada orang-orang tertentu yang justru marah dengan sabar. Prayitno termasuk golongan itu. Dan, kalau boleh jujur, kemarahan model begitu jauh lebih menakutkan.
Saya bekerja di toko yang sama, bagian depan, melayani pembeli dan menghitung nota. Sudah sebelas tahun juga, tapi tiap malam saya pulang. Dulu masih ngontrak, sekarang nyicil rumah kecil. Letaknya cuma dua gang dari toko. Cukup dekat untuk jalan kaki kalau malas macet, tetapi cukup jauh untuk tidak mendengar knalpot yang sama seperti yang didengar Prayitno.
Pak Hendra memberi Prayitno kamar kecil di belakang gudang, bekas ruang penyimpanan ember cat yang kemudian dikosongkan, diberi kipas angin tua, ranjang besi, dan sebuah rak kayu yang miring sebelah.
“Lumayan lah,” kata Prayitno dulu, waktu pertama kali saya lihat kamar itu. “Daripada hidup numpang di cita-cita orang.”
Ia memang begitu. Ucapannya kerap terdengar seperti orang yang terlalu lama bicara dengan tembok.
* * *
Saya pernah melihatnya mencatat.
“Jam berapa?” tanya saya suatu malam.
“Bukan cuma jam.”
“Terus?”
“Karakter.”
Ia menulis sambil mengernyit, seperti dokter memeriksa hasil rontgen.
Suatu kali, saat ia ke kamar mandi belakang dan lupa menutup laci, saya membuka buku itu. Di halaman pertama, dengan tulisan tangan yang mulai pudar, tertulis:
Satu hari. Satu Perda. Satu ketenangan.
Di halaman-halaman berikutnya, ada catatan-catatan aneh.
21.17 – arah utara ke selatan – bunyi kayak kaleng dipukul setan.
22.41 – dua motor – terlalu miskin untuk sunyi.
00.08 – remaja – suara lebih panjang dari masa depan.
19.55 – mandek depan lampu merah – tampak bangga.
Saya tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan.
Saat ia keluar dari belakang, rambutnya masih basah dan handuknya melingkar di leher, ia menatap saya seperti orang yang memergoki istrinya selingkuh.
“Baca?”
“Saya kira buku utang.”
“Lebih penting dari itu.”
“Ini laporan intelijen?”
“Ini bukti,” katanya.
“Bukti apa?”
Bahunya turun sedikit. “Kota ini sakit, Ron.”
Saya sudah lama paham, kalau Prayitno menyebut knalpot brong, perdebatan tidak lagi berguna. Orang yang menanggapinya hanya akan menambah otot pada dendam yang sudah ia rawat terlalu lama.
≈≈≈
Prayitno berasal dari sebuah desa kecil di Jawa. Namanya pernah ia sebut, tapi lidah saya yang lahir dan besar di sini tidak pernah berhasil menghafalnya dengan benar. Setiap kali saya coba mengucapkannya, ia tertawa kecil dan bilang saya memutilasi nama kampungnya.
Nama lengkapnya sendiri dulu sempat bikin lidah saya kelu. Entah kenapa, ‘Prayitno’ selalu terasa terlalu panjang, seperti kata yang belum selesai diucapkan. Selain itu, saya selalu merasa kata itu dekat dengan ‘Priyayi’. Bisa saja orang tuanya memang berharap ia jadi ningrat atau ia memang punya darah biru, saya tidak tahu. Ia jarang bercerita panjang; kisah hidupnya paling-paling hanya ia bagi seperempat saja, itu pun kalau suasana hatinya sedang bagus. Atau jika ceritanya tidak terpotong oleh suara knalpot brong. Yang jelas, kini ia cuma pekerja, buruh di toko bangunan kecil di pinggir jalan kota. Sama seperti saya. Akhirnya saya ambil jalan pintas dan memanggilnya ‘Nit’. Terdengar pas untuk orang yang masih ‘kecil’. Lama-lama, semua orang ikut memanggilnya begitu.
Soal desanya, yang saya ingat hanya suasananya: jalanan sepi selepas Isya, sawah di pinggir kota, pasar yang tutup sebelum malam betul-betul datang, dan suara jangkrik yang, menurut dia, “punya sopan santun.” Ia bilang, di tempat asalnya, malam tidak pernah merasa perlu membuktikan apa-apa.
“Kalau ada motor bunyinya keras?” tanya saya dulu.
“Ya ada.”
“Terus?”
“Ya biasane orang kampung menatap pemiliknya kayak menatap orang yang salah didik.”
Saya tidak pernah benar-benar mengerti keresahan itu. Saya lahir di kota ini, tumbuh dengan keriuhannya, dan lama-lama menganggap suara keras bukan lagi gangguan, tapi kebiasaan. Sementara Prayitno membawa ukuran berbeda dari tempat yang bahkan namanya saja tidak bisa saya hafal, dan ukuran itu tidak pernah ia tukar, bahkan setelah sebelas tahun.
Ada orang-orang yang bisa tinggal lama di suatu tempat tanpa pernah benar-benar menetap di dalamnya. Prayitno tampaknya salah satunya. Ia bekerja di sini, makan di sini, tidur di sini, batuk di sini, bahkan hampir jatuh cinta di sini. Tapi diam-diam ia tetap membawa kesunyian dari tempat asalnya, lalu kecewa setiap hari karena kota ini seolah menolaknya.
≈≈≈
Ia pernah dekat dengan seorang perempuan bernama Lilis. Bukan pacaran resmi, tapi sudah cukup dekat untuk saling mengantar pulang, cukup dekat untuk berbagi foto menu murah di WhatsApp, cukup dekat untuk mulai membicarakan harga kontrakan dan cicilan lemari plastik. Lilis bekerja di toko jilbab dua ruko dari tempat kami. Orangnya sabar, wajahnya tidak mencolok, tapi menenangkan. Kalau tertawa, ia menunduk. Saya pikir mereka akan jadi pasangan yang masuk akal: sama-sama pekerja keras, sama-sama tidak menuntut banyak, sama-sama tahu hidup tidak menyediakan kemewahan selain bertahan.
Ternyata saya terlalu optimistis.
“Kenapa putus?” tanya saya, waktu itu.
Prayitno lama diam. Lalu menjawab, “Bukan putus.”
“Yaudah, kenapa batal jadi bersama?”
Ia mengaduk kopinya terlalu lama. “Dia capek.”
“Capek apa?”
“Capek aku marah.”
“Kamu marahnya kan cuma sama knalpot,” kata saya.
“Itu masalahnya,” katanya.
Lilis tidak menjelek-jelekkan Prayitno. Justru itu yang bikin kisahnya lebih menyedihkan.
“Mas Prayitno itu baik,” katanya. “Tapi lama-lama rasanya kayak hidup sama orang yang tiap malam menunggu sesuatu yang dia benci.”
“Maksudnya?”
“Kalau motor itu lewat, dia bisa berhenti ngomong. Tengah kalimat. Tengah ketawa. Tengah makan. Seolah-olah itu lebih penting dari semua yang ada di depannya. Aneh!”
≈≈≈
Saya tidak bisa membantah. Saya pernah melihatnya sendiri. Suatu malam kami sedang main catur di emperan toko, posisi saya unggul jauh, tinggal dua langkah lagi menang. Tiba-tiba dari ujung jalan terdengar suara motor yang meraung seperti sengaja diciptakan untuk menguji kualitas iman.
Prayitno menahan bidaknya di udara.
Diam.
Menoleh.
Mendengar.
Lalu menaruh bidak itu kembali, berdiri, masuk ke toko, dan mencatat.
Saya menunggu hampir semenit.
“Giliran siapa?” tanya saya saat ia kembali.
Ia duduk lagi. “Orang kalau hidupnya jelas biasanya tidak perlu terdengar sejauh itu.”
“Giliran siapa?” ulang saya.
“Giliran kota ini untuk bertobat.”
“Nit, kota ini tidak akan bertobat. Saya saja yang lahir di sini belum tobat-tobat.”
Prayitno tidak tersenyum. “Kamu lain. Kamu sudah menyerah duluan.”
“Namanya adaptasi.”
“Namanya kalah.”
Begitulah Prayitno. Kadang saya tidak yakin ia sedang bercanda atau sedang menyusun kitab.
≈≈≈
Pak Hendra menganggap Prayitno pegawai terbaiknya. Jujur, tidak banyak omong saat kerja, teliti mencatat stok, tidak pernah menggelapkan uang receh. Tapi Pak Hendra juga menganggap satu hal lain: Prayitno “agak terlalu banyak waktu luang di kepala.”
“Kalau saja energinya buat cari istri, mungkin sekarang anaknya dua,” kata Pak Hendra suatu sore, sambil menghitung nota semen.
“Dua anak belum tentu lebih tenang, Pak,” kata saya.
Pak Hendra tertawa. “Tapi dia malah perang sama knalpot.”
“Musuh besar memang sering datang dari hal kecil, Pak.”
Pak Hendra mendengus. “Terserahlah, yang penting dia bertahan, jualan lancar.”
≈≈≈
Prayitno pernah mencoba jalur resmi. Ia pernah mengadu ke RT, waktu anak kos sebelah memasang knalpot baru dan tiap malam memanaskan motor lima belas menit penuh semangat seperti sedang menyiapkan roket. RT hanya tertawa.
“Namanya juga anak muda, Mas”
Ia pernah menegur bengkel di ujung jalan yang terkenal bisa “bikin napas motor lega”, istilah yang menurut Prayitno terdengar seperti promosi rumah sakit untuk psikopat.
“Mas, bisa jangan tes malam-malam?” katanya sopan.
Anak bengkel yang rambutnya dicat cokelat memandangnya dari atas sampai bawah, lalu berkata, “Kalau mau sepi, pindah ke kuburan aja, Mas.”
Prayitno pulang dengan wajah datar. Justru itu yang membuat saya ngeri.
“Marah?” tanya saya.
“Tidak.”
“Tapi?”
“Mulai paham.”
“Paham apa?”
Ia menyalakan rokok, sesuatu yang ia lakukan hanya kalau benar-benar kesal.
“Orang kecil boleh benar, Ron. Tapi kalau bukan pejabat, suara kita angin lalu”
Malam itu ia menulis lebih lama dari biasanya. Besoknya, di buku lusuh itu, saya lihat ia menambah satu kalimat di bawah slogan lamanya.
Keluhan tidak cukup. Harus ada kuasa.
≈≈≈
Sejak itu, obsesi Prayitno naik tingkat. Bukan lagi sekadar mencatat. Ia mulai menyusun pasal-pasal. Benar-benar pasal. Dengan nomor, ayat, bahkan keterangan denda.
Suatu malam, sambil menunggu hujan reda, ia membacakan beberapa pada saya seperti orang membacakan puisi di acara kampus.
“Pasal 1,” katanya, “setiap warga berhak atas malam yang tidak dihina.”
Saya tertawa.
Ia melotot. “Serius.”
“Lanjut.”
“Pasal 2: suara kendaraan bermotor tidak boleh terdengar seperti ejekan kepada orang yang sedang lelah.”
Saya tertawa lebih keras.
“Pasal 3: setiap modifikasi knalpot yang bertujuan pamer akan dikenakan denda sosial dan finansial.”
“Denda sosial itu apa?”
“Disuruh berdiri di perempatan pakai papan: Saya tidak bisa dicintai tanpa suara keras.”
Saya hampir jatuh dari kursi.
Ia tidak tertawa.
“Nitno!, kamu ini kalau jadi wali kota berbahaya.”
“Minimal wakil.”
“Kalau jadi presiden?”
“Lebih cepat selesai.”
“Nit, kamu tahu berapa cicilan rumah saya per bulan? Itu lebih menguras iman daripada semua knalpot di jalan ini.”
Prayitno melirik. “Makanya jangan kredit.”
“Makanya jangan perang sama knalpot.”
Kami sama-sama diam. Hujan masih turun.
Saya berpikir, satu-satunya alasan Prayitno belum gila adalah karena hidup terlalu miskin untuk memberi ruang pada kegilaan penuh waktu.
≈≈≈
Tahun berganti. Orang-orang datang dan pergi. Anak bengkel yang dulu mengejeknya, sudah menikah dan membuka usaha cuci motor. Lilis entah pindah ke mana. Pak Hendra sempat kena asam urat lalu sembuh. Toko bangunan menambah rak baru. Jalan depan makin ramai. Tapi ada dua hal yang tidak berubah: Prayitno tetap duduk di kursi plastik tiap malam, dan knalpot brong tetap lewat seperti kutukan yang rajin.
Lalu, pada tahun kesebelas inilah, terjadi sesuatu yang menurut saya lebih ironis daripada berita politik mana pun.
Prayitno membeli motor.
Bukan motor baru. Motor bekas, catnya kusam, bodi kanan tergores, spion kiri beda merek. Tapi baginya itu pencapaian besar. Ia menabung hampir dua tahun. Tidak makan malam beberapa kali. Menahan beli sandal baru. Menolak mudik Lebaran. Semua demi motor itu.
“Biar gampang kalau Pak Hendra suruh antar barang,” katanya.
“Biar gampang kalau cari jodoh juga,” kata saya.
“Jodoh tidak datang karena kendaraan.”
“Kadang iya.”
“Kalau datang karena motor, nanti perginya juga karena kredit.”
“Kamu lebih anti-kredit dari bank syariah.”
Ia tidak menjawab. Tapi saya lihat ia hampir tersenyum.
Pak Hendra senang. “Bagus. Besok servis dulu di bengkel ujung jalan. Biar enak dipakai.”
Saya melihat wajah Prayitno berubah sedikit. Bengkel ujung jalan. Bengkel itu.
“Yang lain saja, Pak,” katanya pelan.
“Yang dekat itu saja. Saya sudah kenal. Agar lebih murah”
Ia tidak membantah lagi. Ada kalanya orang terlalu lelah untuk melawan takdir, apalagi kalau takdir itu disuruh atasan.
Sore hari kami dorong motor bekas itu ke bengkel. Anak bengkel yang sekarang jaga bukan yang dulu. Masih muda. Kumisnya tipis. Tangannya hitam oli.
“Servis biasa, Mas,” kata Prayitno.
Anak itu memeriksa sebentar, lalu berkata, “Knalpotnya mampet sedikit. Biar sekalian saya beresin. Biar napasnya lega.”
Kalimat itu.
Saya menoleh ke Prayitno. Ia jelas mendengarnya. Tapi mungkin karena capek, atau malas ribut, atau merasa tak ada yang perlu dijelaskan kepada dunia yang keras kepala, ia hanya mengangguk kecil.
Kami menunggu hampir empat puluh menit. Prayitno duduk di bangku kayu, diam. Tidak merokok. Tidak main ponsel. Hanya melihat lalu lintas seperti orang yang sedang menonton musuh lama menua.
Lalu anak bengkel itu selesai.
“Coba, Mas.”
Prayitno berdiri. Menerima kunci. Menatap motornya bagai hewan yang baru diadopsi. Ia putar kunci. Menekan starter.
Dan dunia, yang tampaknya memang tidak pernah bosan mengolok-olok orang sabar, langsung tertawa.
BRAAANGGGG.
Suara itu memantul ke ruko-ruko, menabrak tiang listrik, menyentak dua ibu yang sedang beli gorengan, membuat seorang bocah menoleh kagum. Seorang pemuda yang nongkrong di depan konter pulsa bersiul.
“Wih! Mas Nit sekarang motornya sangar!”
Anak bengkel tersenyum bangga. “Gimana, Mas? Lega, kan napasnya?”
Saya menoleh ke Prayitno.
Ia diam.
Tangannya memegang stang terlalu erat. Berurat.
Wajahnya tidak marah. Tidak malu. Tidak juga bangga. Wajahnya seperti wajah orang yang baru saja mendengar vonis untuk kejahatan yang tidak pernah ia lakukan.
“Mas?” tanya anak bengkel.
Prayitno menelan ludah. Saya bisa melihat lehernya bergerak pelan.
“Bisa… dibalikin?”
“Lho?”
“Bisa dibalikin seperti semula?”
Anak bengkel tertawa, mengira itu candaan.
“Mas, ini justru enak.”
“Bisa dibalikin?” ulang Prayitno, kali ini lebih pelan.
Anak bengkel berhenti tertawa. “Bisa sih… tapi…”
“Tolong.”
Pemuda di konter pulsa masih tersenyum geli. Dua ibu tadi saling pandang. Lalu lintas tetap berjalan, seperti biasa, tanpa minat sedikit pun pada tragedi kecil seorang lelaki berusia tiga puluh enam tahun yang baru saja mendengar kebenciannya keluar dari barang pertama yang benar-benar ia miliki dengan susah payah.
Kami menunggu lagi.
Sore turun pelan-pelan.
Ketika knalpot itu akhirnya dikembalikan, suara motor Prayitno kembali biasa saja. Tidak gagah. Tidak garang. Tidak terdengar seperti ancaman. Hanya motor tua yang mau bekerja.
Prayitno menyalakannya sekali lagi. Suaranya pendek. Wajar. Hampir sopan.
Ia menarik napas.
Untuk pertama kalinya hari itu, bahunya turun.
≈≈≈
Dalam perjalanan pulang ke toko, ia mengendarai motornya pelan. Saya dibonceng di belakang, membawa plastik spare part. Angin sore menyapu wajah. Dari kejauhan, masih ada beberapa motor lewat dengan suara yang terlalu percaya diri.
Saya kira ia akan bicara. Mengutuk. Mengeluh. Membuat teori baru. Ternyata tidak.
Sampai di depan toko, ia memarkir motornya rapi di samping tumpukan semen, mematikan mesin, lalu duduk di kursi plastik biru seperti biasa.
Malam mulai naik.
Saya duduk di sebelahnya.
“Capek?” tanya saya.
Ia mengangguk.
“Nyaris jadi pengkhianat tadi.”
Saya tertawa kecil.
Ia tidak.
Lalu, setelah lama diam, ia berkata, “Ron.”
“Ya?”
“Aku pikir… mungkin yang bikin aku kesal bukan suaranya.”
“Lalu?”
Ia menatap jalan besar yang lampu-lampunya mulai menyala satu-satu.
“Mungkin karena selama ini aku iri.”
“Iri?”
“Sama orang-orang yang bisa datang ke mana-mana dan langsung terdengar.”
Saya tidak langsung menjawab. Di depan kami, malam merayap seperti biasanya. Sebuah truk lewat. Seorang penjual sate mendorong gerobak. Seorang anak kecil menangis di warung seberang.
“Nit,” kata saya akhirnya.
“Ya.”
“Saya dengar kamu. Tiap malam, sebelas tahun. Itu tidak sedikit.”
Prayitno diam.
“Tapi kamu memang susah didengar,” lanjut saya. “Suaramu terlalu pelan. Di sini orang biasanya baru noleh kalau berisik.”
Ia melempar koran bekas ke arah saya.
Saya tangkap, tertawa.
Ada semacam kesedihan baru yang duduk di antara kami malam itu, lebih halus daripada kebisingan, lebih berat daripada semen sak satuan. Tapi kami sudah terlalu lama berteman untuk tidak tahu: ada jenis kesedihan yang memang lebih nyaman dibiarkan duduk, tidak diusir, tidak juga diundang bicara.
Tak lama kemudian, dari ujung jalan, terdengar lagi suara yang kami kenal baik.
Braaang.
Prayitno mengangkat kepala.
Refleks lama.
Menatap.
Mendengar.
Lalu, untuk pertama kalinya selama saya mengenalnya, ia tidak masuk ke dalam toko. Tidak membuka laci. Tidak mengambil buku tulis. Tidak mencatat apa pun.
Ia hanya menghela napas.
“Biarkan,” katanya.
Saya menoleh. “Serius?”
“Serius.”
“Bukunya pensiun?”
Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak lucu, tapi juga tidak sepenuhnya kalah.
“Belum,” katanya. “Cuma… mungkin malam ini aku lagi capek jadi wali kota. Yang belum terpilih.”
Saya tertawa. Kali ini ia ikut.
Kecil sekali. Hampir tak terdengar.
≈≈≈
Di dalam toko, buku lusuh itu masih ada di laci meja kasir. Di halaman pertamanya, kalimat yang mulai pudar: Satu hari. Satu Perda. Satu ketenangan. Dan di halaman-halaman berikutnya, catatan-catatan seorang lelaki yang memelihara kemarahannya sendiri, kecil, telaten, seperti sesuatu yang terus dirawat tanpa pernah benar-benar tumbuh.
Malam makin larut. Teh di gelasnya tinggal ampas manis. Koran bekas terlipat di paha. Jalan besar masih ramai. Sesekali motor bersuara keras lewat seperti biasa, merasa dirinya penting.
Prayitno tidak bergerak.
Hanya menatap ke depan, ke arah lampu-lampu, debu, toko-toko yang tutup, dan kota yang tak pernah benar-benar mau mengerti.
Di sebelah saya, Prayitno menyesap sisa tehnya yang sudah dingin.
Lalu berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada saya:
“Kalau aku jadi wali kota, tetap aku tertibkan.”
Saya tertawa sampai batuk.
Ia tersenyum lagi.
Dan untuk beberapa menit sesudahnya, sebelum iblis berikutnya lewat, kota itu terasa hampir bisa dimaafkan.
— selesai —