Yagna Semesta Initiative

Saya Pernah Mengira Lagu Bisa Mengubah Dunia

(Catatan seusai membaca buku Musik Protes: Kilas Sejarah dan Studi Pendengar – Soni Triantoro)

Saya tidak membaca buku Musik Protes dalam sekali duduk. Buku itu saya cicil seperti orang mencicil ingatan, sedikit di sela menunggu, sedikit di antara perjalanan, sedikit sebelum tidur ketika pikiran belum benar-benar ingin beristirahat. Ada hari-hari ketika saya hanya membaca dua atau tiga halaman, lalu berhenti, bukan karena lelah, tapi karena merasa seperti baru saja diingatkan pada sesuatu yang sebenarnya sudah lama saya ketahui, hanya saja tidak pernah saya akui sepenuhnya.

Sebagai pemusik, saya tumbuh dengan keyakinan yang sederhana: lagu bisa mengubah dunia. Keyakinan itu tidak datang dari buku. Ia datang dari panggung-panggung kecil, dari wajah-wajah yang diam ketika sebuah lagu selesai dinyanyikan, dari tepuk tangan yang terasa lebih lama dari biasanya. Ada semacam perasaan heroik yang sulit dijelaskan. Perasaan bahwa apa yang saya lakukan, sekecil apa pun, adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri saya sendiri.

Perasaan itu mencapai bentuknya yang paling utuh ketika saya mengerjakan album ketiga saya, Di Mana Desa. Album itu lahir dari kegelisahan yang waktu itu terasa sangat nyata. Saya menulis tentang tanah, tentang desa, tentang orang-orang yang hidupnya semakin terdesak tanpa pernah benar-benar tahu oleh apa. Lagu seperti Bapakku, Pencari Rumput, dan Oh Desaku adalah cara saya berbicara tentang konflik agraria, meski saya tidak pernah menyebut kata “konflik” secara langsung. Saya hanya mencoba bercerita. Tentang seorang ayah. Tentang seseorang yang mencari rumput. Tentang desa yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi terasa akrab.

Di lagu lain, seperti Mae, saya bercerita tentang seorang pekerja migran yang meninggal jauh dari rumah, dan bagaimana kematiannya terasa begitu sunyi, seolah tidak cukup penting untuk menjadi perhatian siapa pun. Di Ternyata Kota, saya menulis tentang kota yang tumbuh terlalu cepat, meninggalkan terlalu banyak hal di belakangnya, termasuk mungkin, kita sendiri.

Waktu itu, saya percaya lagu-lagu itu adalah bentuk perlawanan.

Atau setidaknya, saya ingin percaya begitu.

Ada semacam kebanggaan yang diam-diam saya pelihara. Perasaan bahwa dengan menyanyikan lagu-lagu seperti itu, saya telah melakukan sesuatu. Bahwa saya tidak hanya menjadi penghibur. Bahwa saya berdiri di sisi yang benar dari sejarah, betapapun kecilnya posisi itu.

Tapi seiring waktu, perasaan itu mulai berubah.

Bukan karena saya berhenti percaya pada lagu-lagu itu. Saya masih menyanyikannya. Masih merasakan sesuatu setiap kali lirik-lirik itu keluar dari mulut saya. Tapi saya mulai bertanya-tanya: apa sebenarnya yang berubah setelah lagu itu selesai?

Saya ingat suatu malam, setelah menyanyikan salah satu lagu tentang desa, seseorang datang dan berkata bahwa ia sangat tersentuh. Kami berbicara sebentar, lalu ia pulang. Saya pulang. Dunia tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar berbeda. Tidak ada desa yang kembali. Tidak ada tanah yang kembali. Tidak ada apa pun yang kembali.

Mungkin, yang berubah hanya perasaan kami malam itu.

Dan mungkin, itu tidak cukup.

Atau mungkin, saya yang tidak benar-benar mengerti apa arti “cukup”.

Ketika saya membaca Musik Protes, saya menemukan sesuatu yang aneh: buku itu tidak memberi saya jawaban. Ia justru memberi saya bahasa untuk kegelisahan yang selama ini tidak pernah benar-benar bisa saya ucapkan. Salah satu gagasan yang paling mengganggu, sekaligus paling jujur, adalah ketika Soni memindahkan pusat dari musisi ke pendengar. Ia seperti mengatakan, secara halus, bahwa lagu tidak pernah benar-benar memiliki kekuatan apa-apa sampai seseorang mendengarnya, dan lebih dari itu, sampai seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu setelah mendengarnya.

Ini adalah sebuah interupsi yang cerdas terhadap narasi yang selama ini kita pelihara bersama: narasi tentang musisi sebagai pahlawan.

Kita tumbuh dengan nama-nama yang kita hafal seperti mantra. Kita percaya pada mereka. Kita percaya bahwa mereka telah mengubah sesuatu. Tapi buku ini mengajukan kemungkinan lain: bahwa mungkin, yang benar-benar mengubah sesuatu bukanlah mereka, melainkan orang-orang yang mendengarkan mereka.

Musik, dalam pengertian ini, bukanlah seruan dari atas ke bawah. Ia adalah sesuatu yang menemukan bentuknya justru dari bawah, dari pengalaman, dari kemarahan, dari kesedihan, dari hal-hal yang sudah ada sebelum lagu itu lahir.

Sebagai pemusik, ini adalah gagasan yang tidak sepenuhnya nyaman.

Ia seperti memaksa saya untuk melihat kembali semua lagu yang pernah saya tulis, dan bertanya dengan jujur: apakah lagu-lagu itu benar-benar sebuah perjuangan, atau hanya cara saya untuk bertahan dengan diri saya sendiri?

Saya mulai menyadari bahwa sering kali, lagu-lagu itu adalah bentuk katarsis. Mereka adalah cara saya memahami dunia yang terasa terlalu rumit untuk dijelaskan secara langsung. Mereka adalah tempat saya meletakkan kegelisahan, bukan tempat kegelisahan itu diselesaikan.

Dan mungkin, tidak ada yang salah dengan itu.

Soni juga berbicara tentang sesuatu yang ia sebut sebagai semacam efikasi politik—perasaan bahwa musik bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian, merasa bahwa kemarahannya valid, bahwa kesedihannya nyata. Saya mengerti ini. Saya pernah merasakannya, tidak hanya sebagai pemusik, tapi juga sebagai pendengar. Ada lagu-lagu tertentu yang membuat saya merasa lebih utuh, bukan karena mereka memberi solusi, tapi karena mereka memberi pengakuan.

Tapi di saat yang sama, ada kemungkinan lain yang diam-diam mengintai: bahwa perasaan itu bisa menjadi cukup dengan sendirinya. Bahwa kita bisa merasa telah melakukan sesuatu, padahal yang kita lakukan hanya mendengarkan.

Ini bukan kesalahan musik.

Ini mungkin hanya sifat manusia.

Salah satu hal yang paling saya hargai dari buku ini adalah keberaniannya untuk membumikan pembicaraan tentang musik protes pada sesuatu yang konkret: tanah. Bukan demokrasi sebagai konsep abstrak, tapi tanah sebagai sesuatu yang bisa disentuh, yang bisa hilang. Ketika membaca bagian-bagian itu, saya teringat kembali pada lagu-lagu di Di Mana Desa. Saya teringat pada alasan kenapa lagu-lagu itu ada.

Dan saya mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.

Mungkin, lagu-lagu itu tidak pernah dimaksudkan untuk mengubah dunia.

Mungkin, mereka hanya dimaksudkan untuk memastikan bahwa dunia, setidaknya, tidak sepenuhnya dilupakan.

Saya tidak lagi melihat musik sebagai perjuangan itu sendiri. Saya melihatnya sebagai bagian dari proses perjuangan, sebagai bahasa yang bisa membantu seseorang mengenali perasaannya sendiri, sebagai jembatan yang mungkin, suatu hari, akan dilalui oleh sesuatu yang lebih besar dari lagu itu sendiri.

Ini bukan posisi yang heroik.

Ini posisi yang lebih kecil.

Tapi mungkin, justru lebih jujur.

Saya masih menulis lagu. Saya masih akan menulis lagu. Tapi saya tidak lagi menulis dengan keyakinan bahwa lagu itu akan mengubah apa pun. Saya menulis karena saya tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan hal-hal yang saya rasakan. Saya menulis karena itu satu-satunya cara yang saya tahu untuk tetap tinggal di dunia ini tanpa sepenuhnya menyerah padanya.

Dan mungkin, di suatu tempat, seseorang akan mendengar lagu itu.

Dan mungkin, sesuatu akan terjadi.

Atau mungkin, tidak.

Dan untuk pertama kalinya, saya mulai merasa bahwa kedua kemungkinan itu sama-sama tidak apa-apa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *