Tahap kedua dari kerja penciptaan karya Gula Gending 2.0 akhirnya benar-benar dimulai. Justru tahap inilah yang, bagi saya, terasa paling menentukan: riset dan observasi. Bukan semata mengumpulkan data, tetapi mencoba mendekati kembali Gula Gending sebagai pengalaman hidup, bukan hanya sebagai bunyi, melainkan sebagai ingatan kolektif yang selama ini berdiam di tubuh masyarakatnya. Maka pada pagi itu kami berangkat dari Kota Mataram menuju Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, sebuah wilayah yang kerap disebut dalam berbagai literatur sebagai salah satu ruang lahirnya musik dari rombong jualan gula rambut nenek.
Kami berusaha berangkat sepagi mungkin, meski pada kenyataannya ini adalah perjalanan perdana kami sebagai sebuah tim yang masih saling meraba. Tidak semua anggota sudah saling mengenal dengan akrab; sebagian bahkan baru pertama kali benar-benar bertatap muka saat rapat persiapan seminggu sebelumnya. Karena itu saya memilih mengemudi dengan santai: tidak ngebut, tidak agresif, tidak merasa sedang mengejar waktu atau target tertentu. Bagi saya kerja seni, terutama seni yang berangkat dari kebudayaan—tidak bisa tumbuh dari tubuh yang tegang. Ia membutuhkan suasana yang cair, obrolan-obrolan remeh, tawa kecil yang muncul tanpa rencana, serta jeda-jeda yang mungkin tampak tidak produktif, tetapi justru penting untuk membangun rasa.
Di sepanjang perjalanan kami berhenti beberapa kali. Untuk membeli jajan, sekadar membakar sebatang rokok, atau menyesap kopi favorit. Hal-hal sepele yang pelan-pelan menjelma menjadi semacam ritual pembuka. Dari situlah kecanggungan mulai mencair. Orang-orang mulai saling mengenal, bukan lewat latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja, melainkan lewat selera kopi, cara tertawa, dan kecenderungan bercanda masing-masing.

Sekitar pukul 11.30 WITA kami tiba di depan rumah Rawi. Sejujurnya, saya cukup terkejut. Selama ini kami hanya saling menyapa lewat WhatsApp, dan imajinasi saya tentang sosoknya ternyata meleset jauh. Di kepala saya, orang yang dengan penuh semangat merawat tradisi di desanya pasti berusia matang, atau setidaknya sudah melewati masa muda. Nyatanya, Rawi masih sangat muda, belum genap tiga puluh tahun. Wajahnya tampan, kulitnya cerah, rambutnya lurus dengan sedikit ikal, hidungnya mancung, giginya rapi, dan matanya cokelat, cukup mencolok. Tanpa sempat menimbang kata-kata, saya melontarkan komentar spontan, jujur tanpa filter. Ia tertawa lepas, lalu menjawab santai bahwa mungkin itu pengaruh darah Sumbawa yang mengalir di tubuhnya, ditambah kebiasaan hidup di dekat gunung.

Kalimat itu membuat saya terhenyak sejenak. Sebab saya datang ke Kembang Kerang Daya dengan asumsi bahwa Gula Gending yang tumbuh di wilayah ini sepenuhnya merupakan hasil kreasi masyarakat Sasak. Sebuah dugaan yang, belakangan saya sadari, terlalu sederhana untuk kenyataan yang jauh lebih berlapis. Kami kemudian masuk ke rumahnya yang sederhana, tetapi terasa hangat. Dari ruang itulah cerita mulai mengalir, perlahan namun dalam.
Rawi berkisah tentang masa perang Bali–Lombok, yang dalam catatan sejarah merujuk pada Ekspedisi Militer Belanda tahun 1894. Ia menjelaskan bagaimana masyarakat Sasak di Lombok Timur memiliki ikatan emosional dan keagamaan yang kuat dengan masyarakat Sumbawa. Pada masa itu, Sumbawa disebut menjadi pendukung pasif, terutama dalam hal penyediaan jalur logistik informal. Beberapa orang dari Sumbawa – yang dikenal sebagai ahli strategi perang – datang ke Lombok. Dari peristiwa itulah, kakek buyut Rawi dan sebagian besar masyarakat Kembang Kerang Daya mewarisi darah campuran Sasak–Sumbawa.
Ketika obrolan beralih ke Gula Gending, potongan-potongan cerita yang sebelumnya terasa tercerai mulai saling menyambung. Penjual gula rambut nenek memang belajar teknik pembuatan gulanya dari Jawa, hal yang sebelumnya sudah saya ketahui. Namun rombong gula yang kini dipukul, ditabuh, dan dimainkan sebagai alat musik, itulah inovasi lokal. Sebuah kreativitas yang lahir dari tangan para penjual gula di Kembang Kerang Daya.
Pada mulanya, rombong tersebut hanyalah kotak penyimpanan bahan jualan. Seiring waktu, ia berkembang menjadi dua kotak kecil di bagian depan yang jika dipukul menghasilkan bunyi nyaring, sekadar penanda kehadiran. Pada periode berikutnya, jumlah kotak itu bertambah menjadi enam: lima untuk menghasilkan nada, satu lainnya digunakan untuk menyimpan lap kain. Perlahan, alat jualan itu berubah fungsi menjadi instrumen musik.

Yang menarik, justru bunyi itulah yang kemudian menjadi daya tarik utama. Ketika seorang penjual datang dan mulai memainkan Gula Gending, satu kampung bisa berkumpul. Orang-orang menyaksikan pertunjukan kecil tersebut terlebih dahulu. Setelah satu gending selesai dimainkan, barulah gula rambut nenek diborong. Bahkan terdapat etika tak tertulis: gula tidak dijual sebelum musik selesai. Jika rombong rusak dan tidak lagi menghasilkan bunyi, penjual memilih libur. Pada titik ini, aktivitas jual beli bergeser menjadi pengalaman musikal. Seni menjadi poros utama, sementara ekonomi mengikut di belakang.
Rawi lalu mengenang masa kecilnya. Tentang seekor landak yang dikalungi lonceng kecil, dilepas, lalu dikejar anak-anak. Satu duri landak diambil, diserahkan kepada penenun kain sebagai alat tenun, kemudian ditukar dengan uang receh untuk membeli gula rambut nenek. Sore hari dipenuhi bunyi alat tenun, tawa anak-anak, dan denting gending dari rombong gula. Sebuah ekosistem kecil yang hidup dengan cara yang hari ini terasa hampir mustahil untuk dibayangkan ulang.
Tradisi ini, katanya, sempat menjadi tren. Para penjual berlomba bukan soal siapa paling laris, melainkan siapa paling ekspresif secara musikal. Para penabuh rombong Gula Gending saling bersahutan, mempertontonkan keterampilan perkusif mereka. Bunyi-bunyian itu bukan saling mengalahkan, melainkan berpadu. Namun waktu berjalan. Nilai ekonomi kembali mengemuka. Kini, banyak penjual memutar rekaman Gula Gending dari pemutar MP3. Tidak lagi dimainkan secara manual. Bunyi memang masih ada, tetapi tubuh, tenaga, dan ekspresi musikalnya perlahan menghilang.

Kami kemudian diajak berkeliling desa, menemui para pelaku Gula Gending sekaligus pembuat rombong. Dari sanalah kami menemukan satu simpul penting: Gula Gending tidak bisa dipisahkan dari nyesek, tradisi menenun kain. Dalam banyak keluarga, sang suami berkeliling menjual gula, sementara sang istri menenun di rumah. Selendang yang mengikat rombong Gula Gending adalah hasil tenunan sang istri sendiri. Gula Gending dan nyesek merupakan kerja bersama yang berlangsung turun-temurun.

Sebagian besar pelakunya kini telah sepuh. Banyak yang berhenti berjualan karena kondisi fisik yang tidak lagi memungkinkan. Rata-rata dari mereka memulai usaha ini sejak tahun 1970-an atau 1980-an. Ada pula yang tidak lagi mengingat tahun pastinya. “Pokoknya sejak zamannya Pak Soeharto,” ujar salah seorang di antaranya sambil tertawa.
Kami sempat menyaksikan langsung proses pembuatan gula rambut nenek, dari tahap awal hingga siap disantap. Pulang membawa dua kresek besar sebagai oleh-oleh. Safari kecil kami berakhir selepas Isya. Perjalanan kembali ke Mataram ditempuh dengan obrolan yang jauh lebih cair, tawa yang lebih lepas. Jika saat berangkat kami masih orang-orang yang saling menebak, di perjalanan pulang kami telah menjelma menjadi keluarga kecil yang berbagi cerita.

Di dalam mobil, saya berpikir: mungkin beginilah seharusnya kerja kesenian dimulai dengan jalan yang tidak diburu, bunyi yang tidak tergesa, dan kesediaan untuk mendengarkan masa lalu tanpa pretensi ingin segera mengolahnya menjadi sesuatu yang baru. Saya semakin yakin, tim ini akan tumbuh bersama dalam proses penciptaan Gula Gending. Semoga kami tidak hanya berhasil membuat karya, tetapi juga mampu menjaga sesuatu agar tidak benar-benar hilang.

dari kiri ke kanan (bawah): Pamela Paganini & Irma Septiana
fotografer: Catazkya & Rian Denata
foto: Catazkya