Yagna Semesta Initiative

Musik Waran dan Rekontekstualisasi Tradisi Cilokaq

Pengetahuan saya tentang musik khas Pulau Lombok sebenarnya tidak begitu luas. Apa yang saya dengar dan simak selama ini sebagian besar masih terasa sebagai hasil adaptasi dari berbagai unsur musik luar yang melebur dengan lokalitas Lombok. Dua bentuk musik yang paling dikenal dan kerap dianggap mewakili tradisi Lombok adalah Gendang Beleq dan Cilokaq. Keduanya merupakan warisan budaya yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namun, dari segi bentuk, fungsi, dan cara penyajian, keduanya menyimpan perbedaan yang cukup mencolok.

Gendang Beleq menampilkan harmonisasi pola ritmis dari ansambel perkusi: gendang besar, seperangkat gamelan, hingga rincik yang dimainkan dalam formasi besar, bahkan bisa mencapai puluhan pemain. Musik ini biasa hadir dalam prosesi adat nyongkolan—sebuah iring-iringan pengantin dalam tradisi masyarakat Sasak. Tak heran jika bunyinya terdengar megah, riuh, dan penuh semangat. Konon, pada masa lampau, irama Gendang Beleq juga mengiringi pasukan kerajaan dalam perang—menjadi semacam terompet moral sekaligus pengobar semangat.

Sementara itu, Cilokaq menawarkan sesuatu yang lebih “membumi” dan intim. Ia adalah musik rakyat dengan nuansa Timur Tengah, ditandai oleh kehadiran instrumen gambus sebagai penentu melodi utama, didukung oleh jidur, suling, gitar, dan ketipung. Dalam perjalanannya, Cilokaq kerap dipadukan dengan orgen tunggal—keyboard elektronik yang mampu memprogram ulang aransemen. Berbeda dari Gendang Beleq yang memiliki peran sakral dan seremoni, Cilokaq lebih sering hadir sebagai musik hiburan, pengisi waktu senggang masyarakat. Tak banyak catatan yang menyebut fungsinya selain sebagai hiburan. Namun bagaimana jika musik rakyat seperti Cilokaq dihidupkan ulang dalam konteks yang berbeda—sebagai musik ilustratif untuk cerita rakyat?

Eksperimen semacam ini bisa kita temukan dalam karya Musik Waran garapan Muhammad Rizal. Proyek ini merupakan hasil alih wahana—cerita rakyat yang dikembangkan dalam bentuk film komik, kemudian dialihwahanakan lagi menjadi karya musik. Sebagian besar instrumen yang digunakan berasal dari Cilokaq: gambus, jidur, suling, gitar, biola, dan ketipung. Namun Rizal tidak menggunakan semua instrumen secara serentak dalam tiap komposisinya. Ia justru memecah dan mengelompokkan instrumen berdasarkan karakter bunyinya.

Dalam komposisi Amaq Botet Dait Kura-Kura, misalnya, Rizal hanya menggunakan instrumen kordofon atau alat berdawai. Sedangkan dalam Amaq Kedurek, bunyi-bunyi perkusif (membranofon) menjadi dominan—membangun ritme yang mengingatkan pada aktivitas menutu pare atau rantok. Dalam komposisi Amaq Tebobong Lekong, Rizal bereksperimen dengan menggabungkan gambus dan pad musik elektronik, ditambah timbre gamelan serta suling yang dimodifikasi dalam tangga nada salendro. Eksplorasi bunyi ini menunjukkan bagaimana Rizal menerjemahkan narasi dan visual dalam film komik Waran ke dalam dimensi musikal. Dengan kata lain, Musik Waran pada mulanya memang tidak berdiri sebagai karya musik mandiri, melainkan sebagai ilustrasi suara dari dunia visual dan cerita rakyat.

Namun seiring waktu, Musik Waran justru tumbuh sebagai karya yang utuh dan independen. Ia tidak lagi sekadar menjadi musik latar, melainkan memiliki nilai musikalitas dan estetika yang berdiri sendiri. Meski bertolak dari akar Cilokaq, Rizal tidak terjebak dalam bentuk-bentuk yang konvensional. Ia menciptakan pola-pola melodi baru, menjajarkan instrumen akustik dan elektronik, hingga menyusun komposisi progresif yang menampilkan pergeseran tema dan suasana dalam satu kesatuan karya—seperti dalam lagu Aring-Aring.

Dalam tangan Rizal, gambus tak lagi semata alat musik hiburan rakyat. Ia mengalami rekontekstualisasi, dihidupkan ulang sebagai instrumen ilustratif yang menyimpan narasi dan atmosfer. Bahkan lebih jauh, ia tumbuh menjadi medium ekspresi dalam wilayah musik absolut. Musik Rizal bergerak dari ars antiqua—warisan tradisi—ke arah ars nova—kreasi baru. Perjalanan ini membuka ruang bagi kemungkinan-kemungkinan inovasi berikutnya dalam lanskap musik tradisional Lombok.

Proses kreatif Rizal dalam mengerjakan Musik Waran jelas belum berhenti. Sebagai seniman yang berasal dari Lombok Utara, Rizal memiliki kedekatan emosional sekaligus kultural dengan cerita rakyat Waran dan musik Cilokaq. Waran dan Cilokaq bukan sekadar bahan riset, melainkan telah menjadi bagian dari dirinya. Setiap komposisi yang ia ciptakan adalah wujud dari imajinasi dan pengalaman batin yang berakar dalam konteks budaya yang ia kenal sejak kecil.

Tulisan ini disusun untuk acara Peluncuran & Bedah Musik Waran karya Muhammad Rizal di Yayasan Pasir Putih, Lombok Utara, 26 Desember 2023.

YA25122023

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *