Saya merasa belakangan ini dunia kreatif Lombok sedang bergerak ke arah yang lebih prestisius. Ini bukan sekadar perasaan sentimental seorang pelaku musik yang kebetulan tinggal di pulau ini, tetapi rangkaian peristiwa yang memang menunjukkan bahwa nama-nama dari Lombok kini semakin sering muncul dalam percakapan nasional.
Coba tengok beberapa program besar yang biasanya berlangsung di kota-kota utama. Beberapa agenda sastra nasional dan internasional justru digelar di Lombok melalui Sanggar Anak Gunung. Lalu teman-teman Akar Pohon terlibat aktif dalam Jakarta International Literary Festival (JILF). Mereka bukan hanya membuka booth sendiri, tetapi juga punya wakil dalam jajaran kurator: Kiki Sulistyo, nama yang sudah lama menjadi salah satu jangkar sastra Lombok, berdampingan dengan Evi Mariani dan Ronny Agustinus.
Di dunia rupa, kabar baik juga datang berturut-turut. Dua nama dari Pasir Putih, Lombok Utara, Alya Maolani dan M. Rusli, dipercaya menjadi kurator Pameran MTN Lab Residensi Jakarta. Dari sisi perupa, La Radek, seniman dari Praya, Lombok Tengah, ikut tampil di Galeri Nasional Indonesia dalam pameran yang melibatkan dua belas kurator dan dua puluh delapan seniman dari berbagai daerah. Pameran itu berlangsung selama sebulan. Lombok hadir di sana, di tengah percakapan seni rupa nasional, dengan caranya sendiri: tenang, konsisten, dan sulit diabaikan.
Dunia musik juga tidak tinggal diam. Lockblock dari Lombok Timur dan Dipsy Do dari Mataram lolos tampil di Soundrenaline 2025, sebuah panggung yang sudah lama menjadi salah satu tolok ukur penting bagi band-band alternatif di Indonesia. Dan ketika tulisan ini saya buat, Lingkar Seni Wallacea #5 sedang berlangsung di Lombok Barat. Forum ini mempertemukan pelaku seni budaya dari Gorontalo, Samarinda, Labuan Bajo, Kendari, hingga kota-kota lain di kawasan Wallacea. Pulau yang selama ini lebih sering dipromosikan lewat wisata dan keheningan gunungnya, pelan-pelan sedang menunjukkan wajah lain: sebagai ruang temu, ruang belajar, dan ruang tumbuh bagi banyak praktik seni.




Tentu masih banyak pencapaian lain yang belum sempat saya tulis, padahal layak dicatat.
Sayangnya, justru di situ masalahnya. Banyak hal penting di dunia kreatif Lombok jarang benar-benar terdokumentasi. Hampir tidak ada yang mengarsipkan, membahas, apalagi menuliskannya dengan serius. Dunia kreatif Lombok sering bergerak cepat, tetapi jejaknya mudah hilang begitu saja, seperti habis dipakai lalu dilupakan. Mungkin karena kita terlalu sibuk berkarya. Mungkin juga karena kita terlalu terbiasa menganggap semua itu biasa-biasa saja.
Karena itu saya menulis ini bukan karena merasa paling pantas, bukan pula karena saya datang dari tradisi kepenulisan seni. Saya berasal dari musik, dari panggung kecil yang selalu berisik, bukan dari meja para kurator atau akademisi. Tapi kabar-kabar yang berseliweran dari teman-teman pelaku seni terlalu sayang kalau dibiarkan lewat begitu saja. Termasuk kabar tentang Festival Teater Indonesia (FTI) 2025.
Ini bukan cuma soal beberapa pelaku seni dari Lombok yang tampil di panggung nasional. Ini tentang Lombok, tentang Nusa Tenggara, yang kini tidak lagi sekadar dilirik, tetapi mulai dirangkul dalam percakapan yang lebih besar. Percakapan nasional, bahkan internasional.
Beberapa waktu lalu saya melihat unggahan dari Insomnia Theater. Penggagasnya, Indra Saputra Lesmana, adalah kawan yang saya kenal cukup dekat. Kelompok teaternya terpilih tampil di FTI 2025 di Palu. Sementara Teater Lho, pimpinan Eko Wahono, yang juga kawan saya, akan tampil di FTI 2025 di Mataram.

Saya sempat melihat Eko dan tim Teater Lho berlatih di Sanggar Tari Taman Budaya NTB, meski tidak sempat berbincang banyak soal lakon yang mereka siapkan. Dengan Indra, saya sempat bertemu. Sudah lama kami tidak bercakap panjang. Biasanya hanya bertukar pesan singkat lewat WhatsApp atau saling menimpali di media sosial.
Beberapa bulan lalu kami sempat berdiskusi soal program Taman Budaya NTB yang menurut Indra tidak berpihak pada keadilan sosial bagi seniman. Ada indikasi nepotisme, katanya. Saya sepakat bahwa kritik terhadap UPT pemerintah memang penting, tetapi tetap harus dibangun di atas data yang jelas agar tidak berubah menjadi tuduhan yang bias. Indra menulis kritiknya, meski menurut saya agak tergesa, dan akhirnya memicu perdebatan yang cukup panas.
Tapi itu urusan lain.
Saya tetap mengagumi Indra. Bukan karena ledakan emosinya, karena banyak seniman memang masih sering hidup di fase itu, tetapi karena keberaniannya menyampaikan kegelisahan. Bagi saya, seni yang matang semestinya menghaluskan watak, mengendapkan ego, dan menjernihkan nalar. Banyak pelaku seni masih bergulat di tahap-tahap awal itu. Indra kadang masih meledak, tetapi ia terus bekerja. Ia punya gagasan, dan ia berusaha mengeksekusinya dengan serius. Itu yang saya hargai.

Indra bercerita bahwa Insomnia Theater akan mementaskan “Siklops 2125”, adaptasi dari cerpen “Siklops” karya Kiki Sulistyo yang terbit di Tempo tahun itu. Salah satu kalimat yang menempel di kepala saya berbunyi begini: “Dulu, sebelum republik ini pecah, dunia punya orang-orang yang menganggap langit bukan batas.” Kalimat itu diucapkan Azzam, salah satu tokoh dalam cerpen tersebut.
Nada distopia terasa kuat. Ceritanya tentang dua penjaga menara mercusuar di sebuah pulau perbatasan, hidup terasing seratus tahun setelah republik pecah. Saya melihat, entah disengaja atau tidak, Insomnia sedang mengangkat Lombok dengan caranya sendiri: mengadaptasi cerpen dari penulis Lombok, dipentaskan oleh kelompok teater dari Lombok, lalu dibawa ke panggung di Palu.
Pertunjukan Insomnia dijadwalkan pada 7 Desember 2025 di Gedung Kesenian Palu. Aktornya hanya dua orang. Sisanya adalah tim produksi yang berangkat dari Lombok. “Yang lain tim hore aja,” kata Indra sambil tertawa.
Tentu itu bercanda. Tapi seperti banyak candaan anak seni lainnya, selalu ada sedikit kebenaran di dalamnya. Tidak semua orang yang terlibat dalam produksi berkontribusi dalam porsi yang sama. Ada yang bekerja sampai lupa tidur, ada yang lebih banyak hadir sebagai energi pendukung. Dan dalam banyak kasus, itu juga penting. Kadang hadir saja sudah merupakan bentuk komitmen.
Boleng, penata artistiknya, bercerita bahwa latihan pementasan baru sekitar enam kali. Selebihnya waktu mereka habiskan untuk membedah naskah, mendiskusikan adaptasi, dan merevisi draf pertunjukan berkali-kali. Ketika saya tanya kenapa memilih cerpen itu, Indra menjawab sederhana: ia punya kedekatan personal dengan Kiki, dan itu membuat proses membaca ulang karya serta memindahkannya ke panggung terasa lebih cair. Dari tiga cerpen yang sempat ia pertimbangkan, “Siklops” adalah yang paling mudah ia bayangkan bentuk pentasnya.
Insomnia lolos melalui kurasi FTI 2025. Sekitar dua ratus kelompok teater mendaftar. Dari jumlah itu, dipilih enam belas kelompok melalui jalur open call, ditambah empat penampil tamu. Total dua puluh kelompok. Lombok masuk lewat pintu yang kompetitif itu.
Yang paling menantang, kata Indra, adalah membangun pemahaman tentang distopia. “Setiap orang harus memahami distopia sebagai tandingan utopia,” katanya. Dari situ, mereka memilih metode yang cukup ekstrem: dua aktor utama dikarantina dan tinggal bersama selama dua bulan di rumah kosong milik Indra.
Tujuannya bukan untuk sok eksperimental, meski anak teater memang kadang senang terdengar rumit. Mereka ingin mengejar suasana keterasingan yang sesuai dengan tema cerpen. Dua aktor itu dibiarkan hidup dalam ruang terbatas, saling berbicara, saling membaca keheningan, dan perlahan menyerap rasa terisolasi. Karantina itu sekaligus membantu dari sisi biaya, karena anggaran mereka pas-pasan dan semua peserta mendapat alokasi dana yang sama dari panitia.
Sebagai orang yang cukup berjarak dengan dunia teater, saya menganggap metode itu cukup nekat. Tapi justru di situ menariknya. Indra berani mengambil risiko demi penjiwaan karakter.
Untuk urusan artistik, properti besar akan disiapkan panitia di Palu, sementara beberapa properti kecil dibawa dari Lombok. Boleng mengerjakan tata artistik. Insomnia sendiri baru pertama kali tampil di luar Lombok sebagai kelompok. Mereka baru punya tiga karya, meski cukup sering mengadakan event teater. Karena itu, beberapa orang menyebut mereka “teater EO”.
Indra tertawa mendengar sebutan itu. Tapi ia juga mengakui bahwa manajemen teater di NTB memang belum ideal. Dengan sering menjadi penyelenggara acara, Insomnia justru sedang belajar membangun sistem: administrasi yang tertib, laporan yang rapi, kerja organisasi yang lebih terstruktur. Mereka punya aktor tetap, dan sekarang sudah masuk generasi keempat. Ke depan, Boleng direncanakan menjadi ketua kelompok, sementara Indra akan lebih fokus sebagai direktur artistik. Bagi saya, itu pertanda baik. Ada kesadaran untuk tidak sekadar berkarya, tetapi juga membangun fondasi.
Mereka mendapat dana produksi dari FTI. Awalnya, mereka memilih Mataram atau Jakarta sebagai lokasi pementasan. Namun panitia pusat menempatkan mereka di Palu, dengan pertimbangan konsep artistik yang dianggap lebih cocok untuk ruang di sana. “Tanya mau apa nggak? Ya sudah kami ambil,” kata Indra.
Biaya transportasi dan produksi tentu jauh dari cukup. Tapi mereka tetap berangkat. Mungkin begitulah watak banyak kelompok seni independen di daerah: kalau terlalu lama menunggu cukup, kita tidak akan pernah berangkat.
Setelah tampil di Palu, mereka berencana membawa pertunjukan ini ke Taman Budaya NTB. Mereka mengincar sebuah mushola tua yang sudah dipenuhi jaring laba-laba dan debu. Ruang kumuh itu, bagi mereka, justru bisa menjadi properti alami yang sempurna. Saya suka cara berpikir seperti itu. Anak teater memang sering melihat kemungkinan artistik di tempat-tempat yang oleh orang lain dianggap rusak.
Di tengah semua cerita tentang seni rupa, sastra, musik, dan festival-festival besar yang mulai menoleh ke Lombok, Insomnia Theater adalah satu bab kecil yang menegaskan satu hal: Lombok bukan lagi pinggiran.
Ia sudah menjadi bagian dari peta kreatif Indonesia yang hidup dan terus bergerak. Tidak semua hal tercatat, tidak semua orang menuliskannya. Tapi langkah-langkah kecil seperti ini, kalau dirangkai satu per satu, menunjukkan bahwa kreativitas di Lombok sedang berada pada salah satu momentumnya yang paling menarik.
Dan mungkin, menulis seperti ini adalah cara kecil saya untuk ikut merawat ingatan itu. Semacam penanda bahwa kita ada, kita bergerak, dan kita layak dicatat.