Saya tertawa selama dua puluh menit penuh tanpa henti.
Tertawa sampai perut kram, pipi pegal, mata berair, dan napas seperti orang baru selesai sprint.
Padahal penyebabnya bukan hal mulia seperti nonton stand up comedy Pandji, atau menonton debat politik di televisi (yang sebetulnya juga lumayan lucu kalau ditonton dengan teh manis).
Saya tertawa karena satu hal: saya salah makan.
Malam itu, saya memakan nasi goreng milik kawan saya, Dira.
Padahal saya pesan rice bowl.
Tapi karena otak saya sudah seperti RAM penuh, saya makan saja makanan pertama yang mendarat di meja tanpa pikir panjang.
Saya buka bungkusnya, mencium aromanya, dan langsung melahapnya dengan nikmat seperti orang baru turun gunung.
Saya makan tanpa curiga, tanpa merasa bersalah.
Habis. Bersih. Tanpa sisa.
Beberapa menit kemudian Dira menatap meja, mencari-cari sesuatu.
“Mana nasi goreng saya?” katanya dengan nada bingung.
Saya spontan ikut menatap meja, berpura-pura ikut mencari barang hilang.
Begitu mata kami bertemu, semesta tiba-tiba menyalakan lampu spotlight ke arah saya.
Saya menatap bungkus kosong. Dira menatap saya tajam.
Dan saya sadar: saya memakan nasi goreng orang.

Yang terjadi setelah itu… gila.
Saya malah tertawa.
Saya minta maaf, tapi di sela kata “maaf” justru keluar tawa yang makin kencang.
Dira menatap saya seperti menatap orang kesurupan setan ketawa.
“Bangsat! Dimakan nasi goreng saya!” katanya.
Saya hanya bisa berkata, “Maaf Dira, sumpah gak sengaja…”
Lalu tawa saya meledak lagi.
“Anyink! Vangsat!” balasnya, kali ini dengan ekspresi gabungan antara marah, lapar, dan lelah.
Saya tahu, Dira lapar dan kecewa.
Tapi saya benar-benar tidak bisa berhenti menertawakan kebodohan saya sendiri.
Saya menertawakan fakta bahwa saya baru saja jadi pencuri nasi goreng paling tolol di dunia.
Mungkin dalam pikiran Dira, saya ini gila.
Dan mungkin dia benar.
Padahal kalau ditarik ke belakang, semua ini punya akar panjang.
Sudah berminggu-minggu saya hidup seperti laptop yang tidak pernah di-shutdown.
Saya memikirkan pekerjaan, keluarga, komunitas, yayasan, proyek dinas, band indie yang sedang kejar rilis album, sampai urusan laundry dan bahan kuliah mahasiswa.
Pikiran saya bercabang seperti pohon beringin yang tak pernah dipangkas.
Saya bahkan benci hari libur, karena kalau libur, kepala saya malah sibuk menghitung pekerjaan yang belum kelar.
Tubuh saya mulai protes.
Tidur berantakan, mood kacau, mimpi aneh, dan sering melamun di atas motor.
Kadang bisa nangis di dalam helm karena lagu di playlist pas banget dengan suasana hati.
Pokoknya hidup saya sudah kayak mi instan: cepat saji, penuh rasa, tapi bikin perut gak nyaman kalau kebanyakan.
Lalu datanglah Selasa, 11 November 2025.
Saya bangun kesiangan setelah begadang semalaman merekam lagu.
Pukul sebelas siang saya baru sadar bahwa dunia sudah setengah produktif tanpa saya.
Langsung saya mandi, membereskan laptop, menenteng bass, tas laptop di dada, laundry di tangan, dan berangkat ke luar rumah dengan kepala masih berdengung.
Sepanjang jalan pikiran saya cerewet sendiri: selesaikan surat menyurat komunitas, revisi materi kuliah, buat rencana studio baru, urus legal yayasan.
Pokoknya semua bercampur jadi satu.
Migrain pun datang dengan khidmat.
Malamnya saya main di Kava Café.
Saya salah chord, salah nada dasar, sampai salah teknik main bass.
Untung teman-teman masih sabar, walau beberapa kali saya lihat dahi mereka mengerenyit seolah berkata: “Ini bassist atau peserta audisi AFI 2004 yang nyasar?”
Begitu selesai manggung, waiter datang menawarkan makan.
Saya memesan rice bowl, yang lain pesan makanan masing-masing, termasuk Dira yang pesan nasi goreng.
Selesai makan, eh maksud saya, selesai saya makan nasi goreng Dira, kami ngobrol santai.
Om Beby, Dira, dan saya bahas rencana bikin studio rekaman profesional.
Obrolannya seru: tentang keyboard idaman, preamp, sampai compressor.
Kami habiskan tiga sampai empat batang rokok sambil berandai-andai jadi Rick Rubin versi Lombok.
Sampai akhirnya Dira berkata,
“Yo, mana nasi goreng saya?”
Saya diam.
Dan di situlah seluruh film tragedi malam itu diputar ulang oleh otak saya.
Lucunya, setelah Dira marah dan saya minta maaf, tawa saya justru makin meledak.
Sepanjang perjalanan pulang, saya tertawa di atas motor.
Sendirian, malam-malam, di jalan sepi.
Kalau ada orang lihat, pasti dikira saya habis kena breakdown.
Saya tertawa sampai air mata keluar.
Satu tangan pegang stang motor, satu tangan pegang perut karena kram.
Saking kerasnya tertawa, saya sempat istigfar takut nanti Allah menurunkan karma langsung dalam bentuk tiang listrik.
Begitu sampai rumah, saya melempar badan ke kasur dan mulai berpikir:
Apakah ini tanda-tanda gila?
Atau cuma burnout yang berubah wujud jadi tawa?
Setelah menenangkan diri, saya sadar satu hal:
Tawa itu bukan sekadar lucu. Itu semacam mekanisme pertahanan diri.
Sebuah cara tubuh melepaskan tekanan yang sudah menumpuk terlalu lama.
Mungkin kalau saya tidak tertawa malam itu, saya malah akan menangis.
Dan jujur, menangis karena salah makan nasi goreng orang bukanlah pilihan yang bermartabat.
Para psikolog menyebut ini sebagai defense mechanism – humor.
Tawa adalah cara otak mencegah diri sendiri dari kehancuran.
Tawa menjadi jeda.
Sebuah ruang aman di antara kesibukan yang terlalu padat dan kewarasan yang mulai retak.
Sekarang saya pikir, mungkin banyak orang dewasa di usia tiga puluhan ke atas yang pernah punya “versi nasi goreng” mereka sendiri.
Hal absurd yang kelihatannya sepele, tapi sebenarnya jadi alarm kecil bahwa kita kelelahan.
Bahwa otak kita butuh berhenti.
Bahwa mungkin, satu-satunya cara bertahan di dunia yang makin absurd ini adalah dengan menertawakan diri sendiri.
Malam itu, nasi goreng Dira menjadi saksi betapa lucunya manusia yang berpura-pura kuat.
Saya sadar, kadang kegilaan kecil adalah cara alam menyelamatkan kita dari kegilaan besar.
Tawa bukan tanda kehilangan akal, justru mungkin itu tanda terakhir bahwa kita masih waras.
Untuk Dira, kalau kamu baca ini, maafkan saya.
Nasi gorengmu memang lenyap, tapi percayalah, darinya saya menemukan sesuatu yang jauh lebih bergizi:
kesadaran bahwa tertawa adalah bentuk paling tulus dari bertahan hidup.