Bangsa ini seharusnya sudah bisa berdamai dengan lemot-nya sinyal internet. Sudah lima tahun sejak pandemi, ratusan Zoom meeting dan Google Meet kita lewati, tapi tetap saja setiap kali forum daring dimulai, kita panik seperti emak-emak kehilangan token listrik. Suara delay, kamera buram, moderator hilang-timbul seperti siaran TV analog pakai antena kawat di dapur.
Saya mulai curiga, kalau nanti manusia sudah kolonisasi Mars pun, sinyal kita tetap akan disabotase oleh Indihome mistis yang hobi ngambek tiap hujan turun. Seperti biasa, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun selain pemerintah yang entah kenapa masih gagal memastikan sinyal merata dan mumpuni di seluruh pelosok negeri.
Hal-hal seperti mati listrik masih jadi misteri klasik: sekali padam, semua ikut tumbang—laptop, router, bahkan harapan untuk tetap terlihat profesional di layar. Kadang saya kepikiran, kalau uang kita semua ada di ATM, dalam bentuk angka digital, lalu listrik dunia mendadak mati, apa kita bakal balik ke sistem barter? Tukar beras sama rempah-rempah? Random banget pikiran ini. Tapi mungkin, justru di situ pelajarannya: kita memang perlu menyiapkan berbagai antisipasi kalau benar-benar mau serius dan lancar dalam urusan apa pun, termasuk urusan sinyal dan kesadaran digital.
Malam itu, Jumat, 31 Oktober 2025, saya duduk di depan layar laptop, mencoba terlihat lebih siap daripada yang saya rasakan. Saya jadi salah satu narasumber dalam diskusi bertema “Saling Silang Praktik Riset Akademis dan Artistik.” Sebuah tema yang di atas kertas terdengar canggih, tapi di praktik lapangan, sering berubah jadi saling silang sinyal dan saling silang miskomunikasi.

Beberapa hari sebelum acara, saya seperti mahasiswa yang hendak sidang skripsi: membaca TOR berkali-kali, membuka buku lama, menelusuri referensi daring, lalu berjam-jam mengotak-atik Canva demi menghasilkan PowerPoint yang sedap dipandang dan tak memalukan kalau di-screenshot. Sore hari sebelum acara, saya sempat memangkas rambut. Bukan untuk gaya, tapi agar tampilan saya di layar tidak menyerupai pengamen yang kelelahan. Hal-hal kecil begitu entah kenapa penting, seolah dengan rambut rapi dan template slide yang estetik, saya bisa lebih siap menghadapi kemungkinan crash system intelektual yang terjadi malam itu.
Saya tiba di Artcoffeelago Common Labora, ruang bersama bagi komunitas di Mataram, pukul 19.15 WITA, empat puluh lima menit lebih awal. Sengaja memilih tempat khusus yang sekiranya memiliki sinyal internet yang kuat. Saya memastikan jaringan stabil, kamera jernih, dan headset tidak mendesis. Lalu memesan secangkir americano untuk menenangkan dada yang berdebar.
Sekitar pukul delapan, M. Sibawaihi dariYayasan Pasir Putih menerima permintaan saya memasuki ruang Google Meet. Kami saling sapa, bercanda kecil. Perlahan peserta lain bergabung: Pamela Paganini, Mansyur Khalid, Zulkipli, Alya Maolani, Ahmad Ijtihad, dan Dr. Lanny Koroh. Ada sekitar dua puluh orang dari berbagai penjuru Wallacea: Kupang, Kendari, Maluku, Gorontalo, hingga Papua. Nama saya disandingkan dengan dua narasumber hebat: Dr. Lanny, akademisi dari Kupang, dan Alya, sutradara film yang aktif di Bale Data, unit arsip budaya di Lombok Utara.
Diskusi dimoderatori oleh Ahmad Ijtihad, kawan yang saya kenali cukup piawai mengarahkan diskusi, kalau saja sinyalnya tidak berperilaku seperti mahasiswa magang: datang sebentar, hilang lama, muncul lagi dengan suara seperti robot batuk. Ia sempat memperkenalkan kami, sebelum akhirnya menghilang dari layar. Sejak detik itu, forum berjalan seperti kapal tanpa nahkoda, semua tetap melaju, tapi tidak jelas siapa yang pegang kompas.
Dr. Lanny memulai dengan presentasi berjudul “Kolaborasi Budaya: Menyatukan Keberagaman untuk Kehidupan yang Lebih Baik.” Slide-nya muncul di layar, dan saya langsung tahu itu hasil generate AI. Saya bisa mengenali jenis template itu dari jarak dua bandwidth. Mahasiswa saya juga sering melakukannya ketika kepepet waktu presentasi. Tidak heran, tapi geli. Dalam hati saya mengeluh pada diri sendiri: “Ngapain kamu berjam-jam duduk depan laptop memilih warna font dan gradient background Power Poin kalau ternyata dunia ini sudah cukup dengan prompt: buatkan presentasi tentang kolaborasi budaya?”
Tapi yang membuat saya tidak bisa diam bukan cuma visualnya. Di bagian awal, sinya terdengar seperti salinan brosur kementerian: definisi kolaborasi budaya, langkah-langkah menjalankannya, sampai tips sukses yang terdengar seperti slogan pelatihan team building BUMN. Saya sempat bertanya dalam hati, ini forum akademik atau sesi motivasi pagi sebelum apel kerja? Tapi saya tetap mendengarkan dengan sopan—barangkali, di balik kebiasaan kita menertawakan klise, memang tersimpan kebenaran yang terlalu sering diulang karena tak pernah sungguh dijalankan. Saya yakin Dr. Lanny akan membawa pembahasan ini ke arah yang lebih dalam, setelah ritual pembuka tentang “kolaborasi budaya” itu selesai.
Namun baru sepuluh menit bicara, sinyalnya putus. Moderator ikut lenyap. Forum mendadak sunyi, seperti ruang meditasi yang kehilangan makna. Saya menatap layar, menunggu, seperti seseorang yang sedang buffering dalam eksistensi. Padahal saya punya harapan besar bisa berdiskusi dengan Dr. Lanny. Untung Siba sigap mengambil alih dan mempersilakan Alya berbicara.
Alya memaparkan kerja-kerja Pasir Putih, lembaga yang sejak 2010 merekam 12 terabyte arsip budaya Lombok Utara. Ia menjelaskan tentang Bale Data, yang menggali tradisi lisan dan menerjemahkannya ke karya artistik. “Kami menggali ingatan masyarakat, lalu menerjemahkannya menjadi karya,” katanya. Saya mencatat kalimat itu. Saya paham maksudnya, tapi juga tahu bahwa kalimat semacam itu sudah diulang ribuan kali oleh seniman di banyak forum.
Jujur saja, apa yang dilakukan Alya dan kawan-kawannya sebenarnya bukan hal baru. Hampir semua seniman independen di berbagai daerah menempuh pola serupa: riset kecil-kecilan lewat media, turun ke masyarakat, melakukan wawancara, lalu mengolah cerita itu menjadi karya. Atau sebaliknya, membuat sesuatu yang artistik dan estetik dari kerandoman imajinasinya, baru kemudian mencari maknanya belakangan.
Bedanya, Alya tidak sekadar memamerkan hasil, ia merayakan prosesnya. Ia tidak sedang menjual karya, melainkan menunjukkan jalan menuju karya itu. Dan di situlah, menurut saya, letak daya tariknya.
Meski begitu, ada satu pertanyaan yang terus mengganjal di kepala saya: “Bagaimana masyarakat yang kisahnya kalian gali benar-benar merasakan manfaat dari karya itu?”
Sebab jika hasil akhirnya hanya berputar di lingkaran seniman dan kurator, bukankah itu sekadar pesta kecil untuk orang-orang yang sama?
Tentu kritik ini bukan hanya saya tujukan kepada mereka, tapi juga kepada diri saya sendiri—karena saya pun masih sering terjebak dalam lingkaran serupa di praktik artistik saya.
Saya paham, karya seni, seperti halnya materi pembelajaran di sekolah, tidak selalu berdampak secara instan. Ia bisa mengendap pelan, bertahun-tahun kemudian baru muncul sebagai kesadaran, empati, atau perubahan kecil dalam diri seseorang. Dalam bentuk seperti itu, karya seni bekerja sebagai pesan subliminal yang membentuk karakter kita tanpa disadari.
Namun dalam konteks diskusi malam itu, saya lebih tertarik pada bagaimana karya ilmiah dan karya seni bisa berdampak nyata—langsung terasa oleh masyarakat yang menjadi sumber inspirasinya.

Lalu tiba giliran saya. Saya membuka dengan refleksi yang sudah saya siapkan dari awal:
“Ukuran keberhasilan karya artistik bukan pada seberapa sering tampil di media atau disorot lembaga, tapi sejauh mana masyarakat merasa memiliki peristiwa itu.”
Saya lalu bercerita tentang riset Ritus Kebangru’an tahun 2022, yang berkembang jadi buku, film dokumenter, dan tari kreasi. Tapi saya juga jujur: meski riset itu menghasilkan banyak produk, saya tetap gelisah. Riset akademik kita sering berhenti di laporan. Karya seni sering berhenti di panggung. Dua-duanya sibuk tampil, tapi jarang yang betul-betul hidup di masyarakat.
Kegelisahan itu menuntun saya pada riset lanjutan: riset Molang Maliq, sebuah riset bersama masyarakat, bukan tentang masyarakat. Fokusnya pada pengetahuan lokal tentang bagaimana konsep masyarakat terbentuk melalui praktik pelestarian alam berbasis budaya tradisi. Dengan pendekatan Participatory Action Research dan sejarah lisan, kami saling menggali ingatan kolektif tentang tradisi pembersihan mata air, mengonfirmasi dan memvalidasi pengetahuan lama dari potongan ingatan yang masih hidup di kepala warga. Kami menuturkan ulang cerita, menata kembali nilai, dan merangkainya menjadi ritual serta pertunjukan seni.
Dari proses itu lahirlah Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer perpaduan antara kerja bakti, ritual adat, dan pertunjukan. Sebuah praktik riset yang menjelma menjadi tindakan nyata; bukan sekadar laporan berdebu yang disusun untuk memenuhi tenggat akademik.
Saya menutup dengan kalimat yang sudah lama saya simpan untuk momen semacam ini:
“Riset bicara dengan kepala, seni bicara dengan rasa. Tapi kalau keduanya saling mendengar, pengetahuan jadi utuh: tidak cuma dimengerti, tapi dirasakan.”
Forum kemudian dibuka untuk tanggapan peserta, dan di situlah chaos intelektual resmi dimulai. Beberapa tangan terangkat, pertanyaan demi pertanyaan meluncur. Anehnya, sebagian terdengar seperti penanyanya sendiri tak tahu apa yang sedang ia tanyakan. Salah satu bertanya, “Mengapa karya seni dianggap bermakna di tanahnya sendiri?” Moderator yang baru saja berhasil tersambung kembali ke ruang Gmeet setelah sempat hilang sinyal sampai harus mengulang dan menafsirkan maksud pertanyaan itu beberapa kali. Tapi si penanya malah makin tersesat di kalimatnya sendiri, seperti orang membuka peta tapi lupa sedang mencari jalan ke mana.
Peserta lain mencoba menanggapi berdasarkan tafsir masing-masing terhadap pertanyaan yang samar itu. Akhirnya, saya pun ikut merespons sekenanya, membahas bahwa setiap wilayah punya bentuk ekspresi budaya yang bisa saja serupa, namun dimaknai berbeda sesuai riwayat sosial, kultural, dan religiusnya masing-masing. Tapi satu hal yang pasti di Indonesia: di manapun kita berada, ekspresi budaya selalu punya benang merah yang sama, menguatkan hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan alam, dan dengan sesamanya.
Yang membuat saya merasa berada di posisi paling aman adalah: forum ini nyaris tanpa gesekan. Semua orang berbicara seolah sedang menulis prasasti persahabatan penuh pujian, minim perbedaan. Tak ada yang berani menyoal, menentang, apalagi nyenggol argumen. Semua tampak sibuk menjaga suasana agar tetap adem-ayem, mungkin karena sebagian sudah saling kenal, atau takut dianggap tidak sopan di ruang yang katanya akademik. Padahal, diskusi tanpa perbedaan pendapat itu seperti kopi tanpa kafein, tidak berbahaya, tapi juga tidak membangunkan siapa pun dari kantuk intelektualnya.
Salah satu peserta menutup sesi dengan komentar yang terdengar seperti kalimat pamungkas sinis: bahwa harapan agar riset akademik bisa berdampak langsung ke masyarakat adalah “mimpi yang terlalu jauh.” Saya hanya tersenyum, senyum orang yang sudah terlalu lelah menjelaskan, tapi juga terlalu keras kepala untuk menyerah. Lalu saya menjawab pelan, “Kalau begitu, biarlah kita mulai dari mimpi. Karena kenyataan sekarang terlalu membosankan untuk dijadikan cita-cita. Jika riset akademik masih jauh dari masyarakat, biarkan karya artistik yang lahir dari riset itu menjadi jembatannya.”
Diskusi berakhir pukul 22.45 WITA. Kami saling berterima kasih, saling meminta maaf, saling memuji presentasi masing-masing dengan sopan. Saya menutup laptop, lalu menatap sisa kopi yang sudah dingin di meja. Rasanya sedikit pahit, entah karena suhunya, atau karena saya sadar, yang baru saja terjadi belum sepenuhnya menjadi saling silang praktik riset dan artistik, melainkan baru sebatas saling silang kesantunan akademik.
Namun saya tidak ingin menyebutnya sia-sia. Malam itu tetap berarti, karena mengingatkan saya pada satu hal penting: bahwa pekerjaan rumah terbesar kita dalam dunia kebudayaan bukan lagi soal sinyal internet, melainkan sinyal kesadaran. Bahwa kita perlu terus belajar membedakan antara “diskusi” dan “forum daring yang sekadar menjaga harmoni.”
Dan bahwa mungkin, riset yang paling jujur adalah saat kita berani meneliti kebiasaan kita sendiri: bagaimana kita bisa bicara panjang lebar tentang kolaborasi budaya, tapi tetap tak bisa berkolaborasi dengan sinyal, waktu, dan kejujuran.