Yagna Semesta Initiative

Odong-Odong, Kanvas, dan Jembatan Antargenerasi Seniman Mataram

Peristiwa ini telah berhasil memecah kebekuan komunikasi, kebekuan iklim berkarya, dan kebekuan proses kreatif.

Kerap kali, karya seni lahir bukan dari perayaan, melainkan dari kegelisahan yang tak kunjung reda. Begitulah awal mula lahirnya pameran lukisan “Mengurai Kebekuan” yang digagas oleh Pamong Budaya Ahli Madya Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Esti Ebhi Evolisa.

Ia tak memulainya dengan seminar, rapat, atau proposal yang kaku, melainkan dengan kerinduan — kerinduan pada teman-teman pelukis yang lama tak berkumpul dan tak lagi berproses bersama.

“Awalnya dari kegelisahan dan kerinduan pada teman pelukis karena lama tidak berkegiatan,” tutur Esti. Dari perasaan sederhana itu, ia merancang sesuatu yang di luar kebiasaan birokrasi kesenian: mengajak para pelukis naik odong-odong ke Pantai Batu Bolong, pada 29 September 2025, untuk melukis bersama.

Para pelukis diberi kanvas dan cat, dan di bawah terik matahari yang memantul di permukaan laut, mereka kembali menjadi anak-anak yang bermain warna dan garis.

Peristiwa itu menjadi tonggak penting yang kemudian diresmikan dalam bentuk Pameran Lukisan Bersama bertema “Mengurai Kebekuan”, di Taman Budaya NTB, 18-30 Oktober 2025. Tidak sekadar pameran, tetapi peristiwa sosial-seni yang berupaya menghidupkan kembali denyut nadi seni rupa Mataram yang sempat lesu.

Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Surya Mulawarman, menyambut gagasan ini sebagai sebuah terobosan segar, sebab menurutnya, “kita butuh penyegaran untuk mengembalikan aura seni rupa yang tengah mati suri, terutama bagi para pelukis senior.”

Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para perupa. Saat Esti mengunjungi mereka satu per satu ke rumah, wajah-wajah lama itu berseri-seri, dan banyak yang berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan, bahkan diusulkan menjadi kegiatan road painting” setiap tiga bulan sekali di berbagai titik wisata.

Kurator sekaligus pelukis dan penulis, Agus Fn, dalam catatannya menandai peristiwa ini sebagai momen penting dalam sejarah seni rupa Mataram. Ia menulis, “Odong-odong membawaku ke sini,” meminjam judul salah satu karya pelukis senior Soewito Mukarni. Odong-odong — kendaraan wisata sederhana — menjadi metafora tentang kebersamaan lintas generasi.

Para pelukis muda dan tua duduk berdampingan di atas kendaraan yang sama, menempuh perjalanan yang sama, menuju tujuan yang sama: pantai, cahaya, dan kanvas kosong. Dari situ, komunikasi yang selama ini membeku perlahan mencair.

Mereka saling bercanda, berbagi cerita, saling mengintip teknik dan cara pandang satu sama lain. Agus Fn menyebut momen itu sebagai “peristiwa seni rupa yang harus dicatat” karena berhasil memecah kebekuan komunikasi antar generasi.

Melukis bersama, kata Agus, bukan hanya soal obyek atau hasil akhir. Lebih jauh, itu adalah penciptaan suasana baru — semacam ruang batin yang memungkinkan seniman menghidupkan kembali gairah kreatif yang sempat padam.

Di bawah sinar matahari yang terik, para pelukis bekerja dengan totalitas khas perupa: masing-masing menafsirkan suasana pantai bukan sebagai lanskap visual, melainkan sebagai pantulan dari suasana batin.

Para Senior: Pilar dan Inspirasi

Pameran ini menghadirkan sejumlah pelukis senior yang telah mewarnai perjalanan panjang seni rupa Mataram. Di antaranya: I Gusti Lanang Putra, I Nengah Kisid, Tonie Mursajid, Artha Kusuma, Soewito Mukarni, dan Satarudin Tacik.

Gusti Lanang Putra menghadirkan dua sisi dari perjalanan seninya. Dalam karya tahun 2007, ia menantang diri dengan kompleksitas kampung di lereng Rinjani dengan teknik realis yang kokoh. Sementara karya terbarunya menampilkan figur-figur tradisi yang berpose dengan gawai di tangan — simbol pergulatan antara modernitas dan tradisi, antara nostalgia dan kebaruan.

Pelukis lain seperti Lingsarta meneguhkan diri dengan tiga karya bergaya naturalis realis yang kuat, mengingatkan publik pada semangat perintis seni lukis modern Lombok, Gusti Lanang Kebon. Sementara Tonie Mursajid dan Soewito Mukarni tampil dengan gaya ekspresif yang lepas, berlawanan dengan Nengah Kisid yang lebih impresif dalam menangkap cahaya dan suasana.

Ada pula Satarudin Tacik, yang dikenal dengan “teknik mantra”-nya — sebuah istilah yang menggambarkan spontanitas dan intuisi tinggi dalam berkarya. Artha Kusuma, dengan bahasa estetik yang lembut dan warna-warna gemulai, tetap konsisten menampilkan nuansa feminin dalam keteguhan prinsip.

Sementara itu, sang penggagas kegiatan, Esti Ebhi Evolisa, juga turut berpameran dengan gaya dekoratif bernuansa batik — bukan dengan teknik membatik sesungguhnya, tetapi dengan cara melukis yang menyiratkan filosofi batik: kesabaran, pengulangan, dan simbolisme. Ia membawa semangat tekstur dan motif dalam dunia lukis modern.

Demikian pula Lalu Syaukani, tampak mulai beranjak dari kemapanan, berusaha menemukan dirinya walaupun masih tampak ragu, terutama dalam olahan warna dan komposisi yang masih tampak gamang.

Segenerasi dengan Lalu Syaukani, muncul nama Agus Setiadi, Bambang Prasetya, Sarbini, Sukti, hadir dengan karya-karya realis dengan teknik yang menunjukkan tingkat capaiannya, yang berarti masih terus berproses untuk memberi warna dalam perkembangan dunia seni lukis NTB.

Selain itu Nyoman Sandiya hadir dengan gaya abstrak yang menyisakan pertanyaan sebagai teknik komunikasinya dengan apresiator.

Regenerasi dan Gairah Baru

Selain nama-nama senior, pameran ini juga diwarnai kehadiran generasi muda yang sedang mencari bentuk dan bahasa visualnya sendiri. Ada Zein Sasaki, Mahendra, Ratih, Muzhar, Nuraisah Maulida Adnani, Wiwik Awe, Misre, Mawardi, dan Putrahim. Mereka hadir dengan keberanian mengeksplorasi teknik dan tema yang beragam.

Zein dan Ratih masih mengeksplor obyek untuk menemukan gaya pribadi. Muzhar menampilkan karya dengan teknik mix media, menunjukkan semangat eksperimental yang terbuka pada kemungkinan baru. Nuraisah Maulida Adnani menghadirkan lukisan-lukisan simbolik dan imajinatif yang kuat secara konseptual. Wiwik Awe dan Misre bermain dalam ekspresionisme yang spontan, sementara Mawardi dan Putrahim menghadirkan karya yang cenderung ilustratif, mengingatkan pada seni naratif yang kaya kisah.

Di antara para pelukis itu, Mahendra dengan empat karyanya: tiga berjudul “Nusa Alam” dan satu “Pantai.” Ia mengusung konsep “Tapak Dara” — dua garis yang saling menumpuk, sederhana namun sarat makna. Garis horizontal merepresentasikan hubungan antar manusia, garis vertikal melambangkan relasi dengan Tuhan, sedangkan garis-garis kecil di bawahnya menjadi simbol hubungan dengan dunia abstraksi dan batin.

Konsep ini bukan hal baru baginya; Mahendra telah mengembangkannya sejak pameran tunggalnya di Taman Budaya NTB tahun 2001. Namun kini, konsep itu mendapat napas baru dalam konteks pameran bersama yang melibatkan lintas usia. Ia seolah menegaskan bahwa hubungan antarmanusia, dengan Tuhan, dan dengan semesta seni itu sendiri harus selalu dijaga keseimbangannya — baik di atas kanvas maupun di dalam kehidupan.

Mengurai Kebekuan: Sebuah Refleksi

Pameran “Mengurai Kebekuan” bukan sekadar ajang memajang karya seni rupa. Ia adalah refleksi sosial dan emosional dari dinamika kesenian Mataram, yang selama ini mengalami jeda panjang akibat pandemi, kesibukan pribadi, dan jarangnya wadah pertemuan antarseniman.

Di tangan Esti, odong-odong — kendaraan sederhana untuk wisata keluarga — berubah menjadi simbol pergerakan dan solidaritas seniman. Ia membawa pesan bahwa kesenian tak harus selalu dimulai dari panggung megah, cukup dari niat tulus dan ruang kebersamaan.

Kurator Agus Fn menutup catatannya dengan nada optimistis: peristiwa ini telah berhasil memecah kebekuan komunikasi, kebekuan iklim berkarya, dan kebekuan proses kreatif. Dalam keriangan perjalanan singkat menuju Batu Bolong, dalam tawa yang tumpah di bawah matahari, para pelukis menemukan kembali makna “bertemu” — bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin dan estetika.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa seni rupa bukanlah sekadar produk visual, tetapi juga cara manusia membangun hubungan: antara masa lalu dan masa depan, antara senior dan yunior, antara individu dan masyarakat.

Dalam konteks itu, “Mengurai Kebekuan” bukan hanya tema pameran, tetapi juga tugas kebudayaan — tugas untuk terus menghangatkan ruang-ruang dialog dan menjaga nyala api kreativitas agar tak kembali beku.

foto: dok. pribadi 2025

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *