Saya ngamen di kafe beberapa malam dalam seminggu. Dari awal kami sudah sepakat, band ini cuma main lagu-lagu pop 2000-an. Soalnya, pengunjung kafe kebanyakan generasi milenial menengah ke atas, yang masih hafal lirik Sheila on 7 tapi sekarang sudah jadi manajer perusahaan atau dosen. Tapi ada satu hukum tak tertulis yang selalu menang di meja rikues: kalau di antara kertas permintaan lagu terselip “lembaran merah”. Ya, yang bergambar Soekarno itu, kami tak pernah nolak.
Dari situlah saya kenal lagu-lagu viral yang tadinya asing di telinga saya. Tabola Bale, Stecu Stecu, dan sejumlah sound-on-repeat lain yang entah kenapa bisa bikin tiga generasi di kafe itu kompak angkat ponsel dan ikut goyang. Saya masih ingat malam pertama lagu Stecu Stecu di-request. Awalnya kami cuma nyengir karena belum tahu akor-nya. Tapi setelah dengar di YouTube, kami langsung paham: ini bukan sekadar lagu, ini semacam “ritual kebersamaan” di dunia maya.
Entah sejak kapan dua lagu itu begitu sering mampir di timeline saya. Kadang muncul di Facebook, kadang di Instagram Reels, kadang malah nyelip di status WhatsApp sepupu yang kerja di Jakarta. Di setiap scroll, selalu ada potongan video orang berjoget dengan backsound dua lagu itu, seolah-olah seluruh Indonesia sedang ikut satu pesta besar dari arah timur.

Sebagai musisi yang kini tumbuh di Lombok, saya merasa senang sekaligus sedikit iri. Senang karena musik dari wilayah timur akhirnya tembus ke pusat perhatian nasional. Tapi iri, karena saya tahu betul banyak musisi NTB, termasuk kawan-kawan saya sendiri, yang punya kemampuan serupa, bahkan lebih kompleks secara musikal, tapi tak kunjung viral.
Beberapa bulan belakangan, teman-teman saya, yang bukan musisi, sering nanya, “Kenapa sih, kok lagu dari Lombok nggak bisa viral kayak Tabola Bale atau Stecu Stecu?” Pertanyaan itu kayak batu kecil di kepala saya—nyut-nyut tiap malam. Sampai akhirnya saya pikir, ya sudah, saya tulis saja sekalian.

1. Membuat Lagu Itu Gampang, Tapi Viral Itu Rumit
Kalau cuma bikin lagu seperti Tabola Bale atau Stecu Stecu, saya yakin teman-teman Lombok bisa. Serius. Mudah. Secara musikal, dua lagu itu memakai formula pop timur yang sudah akrab di telinga: ritme 4/4 yang ceria, melodi repetitif, hook yang gampang diingat, dan bahasa lokal yang kuat.
Harmoni dan tangga nadanya juga nggak rumit, kebanyakan main di nada mayor yang otomatis bikin suasana bahagia. Saya dan kawan sering bilang, ini jenis lagu yang kalau diputar di sound system kampung, orang-orang langsung joget tanpa perlu dikomando.
Jadi bukan di situ letak tantangannya. Tantangannya justru di satu hal: bagaimana lagu itu bisa menular.
2. Penyakit Menular Bernama Viralitas
Saya pernah baca bahwa algoritma TikTok bekerja seperti penyakit sosial: semakin banyak orang menirukan satu lagu, semakin cepat lagu itu menyebar. Hook yang kuat, durasi pendek, dan potensi jadi meme adalah bahan bakarnya. Dan di situ Tabola Bale dan Stecu Stecu menang telak.
Dua lagu itu bukan cuma enak didengar, tapi juga punya momentum sosial. Ada rasa bangga di kalangan orang timur, Flores, Kupang, Maluku, melihat bahasa dan logat mereka muncul di For You Page. Setiap unggahan TikTok atau video lucu pakai sound “ste-cu ste-cu” terasa seperti perayaan identitas.
Di Jakarta dan kota besar lain, komunitas orang timur jumlahnya banyak. Mereka jadi semacam amplifier sosial yang mempercepat penyebaran lagu.
Saya mulai curiga, mungkin ini yang belum dimiliki oleh Lombok.
3. Diaspora yang Berbeda Arah
Kalau ditelusuri, orang NTB memang banyak merantau. Tapi arahnya bukan ke Jakarta, Bandung atau Surabaya, melainkan ke luar negeri: Malaysia, Jepang, Korea, sampai Timur Tengah. Saya bahkan punya teman yang merekam musik tradisional Kebangru’an dari Lombok Timur, tapi pendengarnya justru banyak di Malaysia, bukan di Mataram.
Band besar dari Lombok, Amtenar, juga baru pulang dari tur di Jepang. Mereka diundang oleh komunitas masyarakat Lombok di sana. Bayangkan, orang Lombok di Jepang bisa mengundang band dari kampung halamannya untuk konser. Artinya diaspora Lombok hidup, tapi menyebar ke arah lain, bukan “jalur darat” ke kota besar Indonesia seperti orang NTT atau Maluku, melainkan “jalur udara” ke luar negeri.
Sama-sama kuat, tapi pantulannya beda. Yang satu menyebar lewat feed lokal di Indonesia, yang satu lewat grup WhatsApp di Malaysia.

4. Musik yang Viral Bukan Cuma Soal Nada, Tapi Soal Rasa Bersama
Jadi, lagu bisa viral bukan hanya karena nadanya enak, tapi juga karena orang merasa terwakili olehnya dan ia punya “posisi” dalam lagu tersebut.
Tabola Bale dan Stecu Stecu bukan sekadar lagu, tapi penanda identitas. Orang timur yang merantau merasa dekat dengan nada-nada itu. Setiap kali mendengar lagu itu, mereka seperti pulang sebentar, meski cuma lewat earphone.
Sementara musik dari Lombok, meski kaya secara musikal, dari pop Sasak, dangdut modern, sampai reggae dan rock alternatif, masih sering terjebak di lingkar komunitas kecil. Belum ada “gelombang emosional bersama” yang bikin orang merasa punya lagu itu.
Kalau ngomongin soal viralitas, sebagai orang yang sering memroduksi musik, saya kadang merasa bersalah. Kami terlalu sibuk mikirin chord yang rumit, lirik yang puitis nan dalam, atau aransemen yang canggih—tapi sering lupa membangun narasi sosial di sekitarnya. Padahal, di zaman scroll tanpa henti kayak sekarang, narasi justru sering lebih penting daripada nada.
5. Soal Pusat dan Pinggiran
Kita juga harus jujur: pusat industri musik Indonesia masih di Jakarta dan Jawa. Label, media, dan influencer banyak berpusat di sana. Lagu-lagu pop dari timur bisa menembus karena dianggap “unik dan eksotis”, sementara lagu pop dari Lombok sering berada di posisi ambigu, nggak cukup eksotis untuk dianggap beda, tapi juga nggak cukup dikenal untuk dianggap arus utama.
Kita ini seperti musisi yang duduk di tepi panggung: terdengar, tapi tidak disorot. Dan posisi itu membuat kita harus kerja dua kali lipat. Tidak hanya bikin lagu bagus, tapi juga bikin orang peduli.
6. Mungkin Viral Itu Tidak Perlu
Di tengah semua renungan itu, saya mulai mengingat kembali sebuah prinsip bahwa viral bukan satu-satunya tujuan. Musik Lombok punya ruang spiritualnya sendiri. Dari gendang beleq yang megah sampai pop Sasak yang sederhana, semuanya menyimpan napas lokal yang kuat.
Tugas kami bukan meniru viralitas orang lain, tapi mencari cara penyebaran yang sesuai dengan diri kami sendiri. Bayangkan kalau lagu-lagu Lombok lebih sering tampil di panggung kecil, di video dokumenter, di kanal YouTube komunitas, atau di ritual budaya. Mungkin ukuran keberhasilannya bukan dari jumlah views, tapi dari seberapa dalam orang merasa terhubung setelah mendengarnya.
Karena kalau dipikir-pikir, viral bisa hilang dalam seminggu. Tapi lagu yang jujur bisa hidup bertahun-tahun di hati orang.
7. Secuil Harapan
Sebagai musisi Lombok, saya tidak ingin berhenti di rasa iri atau minder. Justru dari Tabola Bale dan Stecu Stecu, saya belajar bahwa musik bisa jadi alat untuk menyalakan kebanggaan kolektif.
Tugas kami bukan meniru formula mereka, tapi menulis ulang formula kami sendiri. Kami punya bahasa yang khas, logat yang unik, ritme yang berbeda, dan pengalaman diaspora yang kaya. Kami punya cerita tentang para pekerja migran di Malaysia, tentang anak muda di Mataram yang bermimpi lewat musik, tentang laut dan gunung yang diam-diam merekam perjalanan kami.
Kalau semua itu bisa jadi lagu, mungkin viral atau tidak, musik Lombok akan menemukan jalannya sendiri. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, ada orang Jakarta bikin video TikTok dengan sound lagu Sasak—dan tanpa sadar, mereka sedang ikut menari di dalam cerita kami.