Empat malam berturut-turut, 18–21 Oktober 2025, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat berubah menjadi ruang perayaan bagi pecinta teater. Teater Kamar Indonesia (TKI) sukses menggelar pementasan Hikayat Gajah Duduk (HGD), sebuah lakon yang ditulis oleh almarhum Imtihan Taufan dua dekade silam namun masih berdetak relevan hingga hari ini.
Sejak malam pertama, pertunjukan itu sudah menarik perhatian banyak kalangan. Namun pada malam terakhir, suasananya benar-benar meledak: antrean panjang mengular sejak sore, tiket ludes, dan bahkan sebagian penonton rela lesehan demi bisa menyaksikan pertunjukan yang disebut-sebut sebagai salah satu momentum terbaik teater NTB tahun ini.

“Jumlah penonton khususnya tadi malam melebihi kapasitas yang kami persiapkan. Karena malam terakhir pertunjukan, penonton sampai rela lesehan karena tidak kebagian kursi,” ujar Naniek I. Taufan, Pimpinan Produksi Teater Kamar Indonesia, dengan nada lega sekaligus haru.
Gedung dengan kapasitas 250 kursi itu, di hari terakhir, menampung hampir 350 penonton. Dalam empat malam pementasan, total penonton mencapai sekitar 1.100 orang — angka fantastis yang hanya terpaut sedikit dari rekor mereka tahun 2009 melalui Sandiwara Merah Jambu yang harus dipentaskan enam malam untuk menjangkau 1.200 penonton.
Antusiasme semacam ini menjadi bukti bahwa gairah menonton teater di Mataram dan NTB tidak pernah benar-benar padam. Bahkan, bisa dibilang semakin menguat ketika teater hadir dengan tawaran yang segar: sebuah narasi kuat yang dibungkus dengan eksperimen bentuk dan sentuhan lokal yang hidup.
Hikayat Gajah Duduk adalah bukti bahwa publik siap menyambut teater yang tak sekadar “memainkan cerita,” melainkan mengajak berpikir, tertawa getir, dan merefleksi.

Naskah Lama, Napas Baru
Ditulis oleh mendiang Imtihan Taufan pada 2005, Hikayat Gajah Duduk sesungguhnya adalah karya yang menertawakan sekaligus menelanjangi wajah kekuasaan. Ia bukan kisah tentang gajah dalam arti literal, melainkan alegori tentang mereka yang berkuasa dan memilih “duduk”—menetap terlalu lama di singgasananya.
Taufan, yang dikenal sebagai penulis teater berkarakter tajam dan satir, menulis lakon ini sebagai bentuk refleksi terhadap sikap manusia ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan: bagaimana mereka yang semula idealis, perlahan terjebak dalam kerakusan, dan bagaimana rakyat sering kali hanya menjadi penonton dalam drama kekuasaan yang tak berkesudahan.
Sutradara Syahirul Alim menangkap semangat itu dengan kejelian yang mengagumkan. Alih-alih menampilkan Hikayat Gajah Duduk sebagai drama politik kaku, ia menghidupkannya dengan sentuhan kemidi rudat — sebuah seni tradisi Lombok yang dikenal lincah, ritmis, sekaligus penuh warna. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya estetika pertunjukan, tapi juga menegaskan semangat lokalitas yang menjadi ciri kuat TKI.
Pertemuan antara teks satir modern dengan tradisi kemidi rudat membuat pertunjukan ini menjadi semacam perayaan antara tradisi dan gagasan kontemporer, antara suara rakyat dan simbol kekuasaan yang dijungkirbalikkan dengan humor dan ironi.
Ketujuh aktor utama memainkan peran mereka dengan energi yang luar biasa. Syahirul Alim sendiri turun ke panggung sebagai Kalangkabo, sang pejabat yang angkuh sekaligus lucu dalam kebodohannya. Murachiem tampil sebagai Karta, ajudan setia yang menyimpan kepentingan terselubung. Kelly Jasmine Suntawe menghadirkan sosok Eksisa, istri Kalangkabo, yang elegan namun penuh intrik.
Sementara Sumarta memerankan ajudan Eksisa, Vino Sentanu dan Zakiyudin tampil sebagai juru kabar yang memancing tawa sekaligus menggugah, dan Nash Jauna sebagai Teriak Mardika — representasi suara rakyat yang lantang namun sering tak didengar. Delapan aktor pendukung, mahasiswa Sastra Pertunjukan FKIP Unram, melengkapi atmosfer panggung yang semarak.
Mereka semua bukan sekadar memerankan karakter, tapi menghadirkan cermin bagi kenyataan. Setiap dialog diucapkan dengan intonasi tajam, namun dibalut humor yang membuat kritiknya terasa lebih dalam ketimbang menyakitkan. Inilah kekuatan teater: ia menggoda sekaligus menampar, mengajak tertawa sambil berpikir.

Estetika Pertunjukan: Simfoni Antara Tradisi dan Kritik
Salah satu daya pikat Hikayat Gajah Duduk terletak pada kesederhanaan yang elegan. Tata artistik garapan Akmal tidak berlebihan — panggung hanya diisi dengan beberapa properti simbolik, namun pencahayaannya (oleh Bagus Livianto) mampu mengubah suasana secara dramatis dari adegan ke adegan.
Musik yang dimainkan oleh kolaborasi Teater Kamar Indonesia dan Sanggar Rudat Terengan di bawah arahan maestro Zakaria menjadi denyut utama pertunjukan. Bunyi rebana dan vokal Rudat yang ritmis menciptakan suasana yang magis sekaligus ironis; suara rakyat yang bersenandung di tengah ketimpangan.
Rias dan kostum karya Rinda dan Agung juga memberi warna tersendiri: karikatural namun komunikatif. Para aktor tampil seperti figur dalam komik politik—menyindir tanpa perlu berteriak.
Hal ini membuat pertunjukan berjalan satu jam tanpa terasa membosankan. Tiap transisi adegan dibingkai dengan kesadaran musikal dan koreografis, seolah antara gerak, bunyi, dan makna telah dirajut menjadi satu kesatuan naratif yang utuh.

Menariknya, pertunjukan ini berhasil menjaga keseimbangan antara humor dan keseriusan. Penonton tertawa, tetapi tawa itu menggema seperti gema cermin yang menampar. Ada rasa getir dalam kelucuan, ada kemarahan yang disembunyikan dalam satire. Begitu lampu panggung padam dan tepuk tangan membahana, penonton tidak langsung beranjak.
Butuh waktu hampir tiga puluh menit hingga mereka benar-benar meninggalkan ruang pertunjukan — sebagian memilih naik ke panggung untuk berfoto bersama para aktor. Dalam momen itu, panggung tak lagi menjadi milik para pemain; ia menjadi ruang bersama, tempat penonton dan seniman menyatu dalam euforia yang sama: teater sebagai pengalaman hidup bersama.
“Hikayat Gajah Duduk membuat saya ingin kembali naik panggung,” ujar Sukran, salah seorang penonton malam terakhir. Ia bukan satu-satunya yang merasakan getaran semacam itu. Banyak penonton, terutama generasi muda, mengaku merasa tersentuh oleh kekuatan naskah dan keberanian pertunjukan ini. Kritik yang disampaikan bukan dalam bentuk caci maki, melainkan dalam ruang intelektual yang subtil dan menggugah.
“Yang dikritik tidak bisa marah,” kata Sukran sambil tertawa, “karena semuanya disampaikan dengan cerdas dan elegan.”
Memang, HGD adalah semacam cermin besar tempat semua orang bisa melihat bayangannya sendiri: pejabat, aktivis, akademisi, bahkan seniman. Tak heran jika penontonnya datang dari latar yang beragam — dari mahasiswa hingga pejabat daerah, dari wartawan hingga pegiat sosial.
Mereka semua larut dalam pengalaman yang sama: tertawa, merenung, dan bertepuk tangan bersama. Inilah kekuatan teater — ia menjembatani perbedaan, menghapus sekat, dan menghadirkan ruang refleksi bersama.
Saepullah Sapturi, Ketua Teater Kamar Indonesia, menyebut kehadiran penonton yang heterogen ini sebagai bentuk kemenangan teater atas sekat sosial.
“Kami senang semua bisa hadir untuk ikut menonton HGD,” ujarnya. Bagi Teater Kamar Indonesia, teater bukan sekadar hiburan, melainkan wahana untuk memulihkan ruang publik: ruang berpikir, berdialog, dan bercermin.
Menatap ke Depan: Menyebarkan Semangat Teater yang Hidup
Kesuksesan Hikayat Gajah Duduk bukanlah akhir, melainkan titik tolak baru bagi Teater Kamar Indonesia. Naniek I. Taufan menyebut bahwa mereka tengah bersiap untuk melakukan tur ke berbagai daerah, memenuhi sejumlah undangan pementasan.
“Rencana selanjutnya Teater Kamar Indonesia adalah terus membangun atmosfer berteater pada apresian yang lebih luas,” katanya dengan penuh semangat.
Langkah ini penting bukan hanya untuk memperluas jangkauan karya, tetapi juga untuk meneguhkan posisi TKI sebagai salah satu kelompok teater paling konsisten di NTB. Sejak berdiri, mereka tak pernah berhenti berproses, melahirkan pertunjukan yang memadukan kekuatan teks, tradisi, dan keberanian berpikir kritis.
Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika wacana publik kerap dibanjiri oleh narasi dangkal dan hiburan instan, keberadaan teater semacam ini menjadi oase intelektual yang menyejukkan.
Hikayat Gajah Duduk mengingatkan kita bahwa teater bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan. Ia adalah cara untuk menatap kenyataan, menertawakan absurditas kekuasaan, dan pada saat yang sama, mengembalikan makna kemanusiaan di tengah dunia yang kian bising.
Ia menjadi hikayat tentang keberanian untuk tetap duduk — tapi bukan dalam arti pasrah, melainkan dalam arti berpikir, merenung, dan mencari makna.
Malam demi malam, tepuk tangan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB bukan sekadar tanda apresiasi. Ia adalah gema dari kesadaran kolektif: bahwa seni, terutama teater, masih punya daya untuk menggerakkan hati dan pikiran. Dalam satu jam pementasan, Hikayat Gajah Duduk berhasil menyalakan kembali percikan dialog antara rakyat dan penguasa, antara individu dan sistem, antara yang diam dan yang berani bersuara.

Dan di tengah segala hiruk pikuk zaman yang sering melupakan seni sebagai sarana perenungan, Teater Kamar Indonesia telah membuktikan bahwa teater bukanlah relik masa lalu — ia hidup, tumbuh, dan terus menemukan relevansinya.
Seperti kata Naniek, semoga pertunjukan ini “menjadi refleksi, perenungan sekaligus inspirasi bagi semua pihak untuk bijaksana dalam mengelola kekuasaan.”
Dengan demikian, Hikayat Gajah Duduk bukan hanya sebuah pertunjukan yang sukses memecahkan rekor penonton, tetapi juga sebuah peristiwa kebudayaan — tempat di mana teater kembali menemukan maknanya: sebagai cermin, kritik, dan perayaan manusia.

#Akuair-Ampenan, 22-10-2025
Sangat bagus dan ini adalah cara mngkeritik yang elegan